Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Di Uji



Rasa cemas dan kekwatiran yang saat ini Tommy rasakan. Menjalani proses untuk mendapatkan sebuah restu. Hanya keceriaan dan senyuman Roma yang dapat memberinya kekuatan dan semangat untuknya mengejar Restu dari saudara-saudaranya.


Perkara jodoh atau tidak, Perjuangkan saja dulu, mana tahu mereka memang ditakdirkan untuk bersama dalam ikatan halal yang telah Tuhan gariskan untuk mereka bersatu.


Saat ini Tommy sedang berhadapan dengan Bara. Dirinya meminta untuk bertemu dengan saudara kekasihnya itu.


"Halalkan aku secepatnya Bang–." Kata-kata Roma masih saja terngiang dalam telinganya.


Tommy mendatangi kantor tempat Bara bekerja. Dirinya tidak ingin meminta Bara untuk repot-repot menemuinya dan menyita waktunya. Ini adalah pertama dan terakhir kali Tommy akan memohon kepada calon Abang Iparnya itu.


"Ada apa kau ingin menemuiku?" suara Bara masih saja terdengar sinis ditelinga Tommy.


"Aku ingin meminta Lae untuk membatalkan syarat yang lae ajukan itu. Maaf lae aku tidak sanggup dan aku tidak mau gagal ditengah jalan lagi." ucap Tommy to the poin.


"Kalau begitu tinggalkan Badi, aku tidak ingin Badi terluka jika menikah dengan pria gay seperti mu."


Tommy mengepalkan tangannya, kata-kata Bara membuatnya kesal dan marah.


"Aku tidak gay lagi Lae, dan aku bisa buktikan itu."


"Aku tidak peduli–. Aku bisa mencarikan laki-laki yang lebih baik dan lebih sempurna untuk Roma."


"Baraaaa–." Tommy sangat geram ingin rasanya ia melayangkan tinjunya pada Bara.


Tommy berdiri lalu berjalan mendekati Bara. Kemudian ia menekuk lututnya dan berlutut dihadapan Bara. Bara terkejut melihatnya namun ia juga tidak meminta Tommy untuk berdiri.


"Aku mencintainya begitupun Roma mencintaiku." ucap Tommy lirih.


"Jika masa laluku adalah hambatan untukku bersatu dengannya maka ku ikhlaskan dia dengan yang lain seperti yang kau katakan kau bisa mencarikan pria yang sempurna untuknya. Aku berjanji setelah ini aku tidak akan lagi bertemu dengannya. Dan satu yang ku minta darimu, jika dia bertanya apa alasanku meninggalkannya aku ingin kau berkata jujur padanya. Bahwa kau takut aku akan melukainya dan tidak mampu membahagiakannya." Tommy menarik nafasnya dengan berat tidak ada lagi sapaan khas orang batak itu lagi dalam ucapannya.


"Aku sudah menceritakan padanya siapa Bella sebenarnya dan satu yang tak mampu ku katakan padanya yaitu syarat yang kau ajukan padaku. Setelah ini aku tidak akan lagi menemuinya. Dan aku ingin kau jujur padanya akan syarat yang kau ajukan padaku. Aku tidak ingin dia membencimu jika kata-kata itu keluar dari mulutku. Aku akan tetap mencintainya dan menunggunya. Jika memang kami tidak berjodoh aku sudah ikhlas. Dan bila kau berubah pikiran dan merestui hubungan kami, aku ingin kau sendiri yang datang padaku dan memohon padaku untuk menikahi adikmu itu." Tommy berdiri lalu meninggalkan Bara tanpa menatap wajahnya. Ia meninggalkan kantor tempat Bara bekerja. Dengan perasaan yang hancur.


*


*


*


*


"Ken siapkan tiket keberangkatan ku." pinta Tommy pada Kendrick saat mereka akan kembali ke kantornya.


Ken merasa kasihan pada atasan sekaligus sahabatnya itu. Ia berjuang untuk sembuh demi mendapatkan cintanya. Namun perjuangannya terhalang oleh restu. Dan sayangnya tantangan mendapatkan restu itu adalah Roma sendiri yang memintanya. Andai saja Tommy hanya meminta restu pada kedua orangtuanya pastilah sudah ia dapatkan sejak awal ia berkunjung kerumahnya. Namun berbeda karena Roma ingin semua keluarganya merestui hubungan mereka. Memang benar restu dari semua anggota keluarga itu penting namun jika sudah begini kejadiannya siapa yang harus disalahkan.


Penyesalan Tommy hanya satu pada Roma, yaitu kenapa Roma harus menceritakan aib dirinya pada Bara.


"Tiketnya sudah siap dan keberangkatannya malam ini jam 9 sesuai permintaanmu." Ken masuk keruangan kerja Tommy.


"Thanks Bro."


"Apa kamu serius akan meninggalkannya?" Ken duduk disofa diruangan Tommy.


"Aku tidak punya pilihan lain Ken, hanya ini cara satu-satunya untuk membuka pikiran Abangnya itu kalau adiknya itu hanya mencintaiku dan hanya ingin menikah denganku."


"Bagaimana kalau dia setuju menikah dengan paribannya itu?" Ken kembali mengingatkan Tommy bahwa ada orang lain yang juga ingin menikahi Roma.


"Jika dia adalah jodohku Tuhan pasti tidak akan menukarnya dengan yang lain."


"Apa yang membuatmu seyakin itu? kalau dia itu adalah jodohmu?"


"Entahlah–, aku hanya bisa berdoa saja. Semoga Tuhan akan mendengar dan menjawab doaku." Tommy berdiri lalu mengambil jasnya.


"Mau kemana?" Ken melihat Tommy akan pergi meninggalkan kantornya.


"Putusin Roma."


"Semoga aja pilihanmu ini tepat Bro, jika tidak kau pasti akan menyesal sudah melepaskannya." Batin Ken saat melihat Tommy sudah pergi dari ruangannya.


...♨️♨️♨️...


Rumah Sakit Citra Medistra


"Apa kamu mencari ini?" Tommy menyerahkan boneka panda pada gadis itu. Tapi gadis itu terlihat seperti ketakutan.


"Jangan takut, ambillah–, tadi Kakak menemukannya disana." Tommy menunjukkan tempat ia menemukan boneka panda itu.


Dengan perlahan gadis itu mengulurkan tangannya dan mengambil cepat boneka itu dari tangan Tommy.


"Terimakasih Kak–." ucap gadis itu pelan lalu berjalan cepat meninggalkan Tommy.


"Dokter Uly, Cinta tidak histeris melihat laki-laki. Bahkan dia mengucapkan terimakasih pada pria itu." ucap Dewi pada Roma yang ikut menyaksikan interaksi antar Tommy dan Cinta.


"Iya Dew, ini awal yang baik untuk Cinta, dirinya sudah menunjukkan kalau dia sudah ada kemajuan, tapi sebaiknya parlahan saja jangan langsung membuatnya terkejut. Untuk mendekatinya kita harus memberikan hal-hal yang disukainya. Mungkin tadi dia tidak histeris karena Bang Tommy memegang boneka yang dicarinya." jelas Roma.


"Dokter kenal dengan pria itu? Pacar dokter ya dok–." Dewi menyenggol bahu Roma dengan bahunya.


Roma hanya tersenyum lalu melambaikan tangannya pada Tommy saat Tommy melihat kearahnya.


"Aku tinggal ya dok, selamat kencan dokteerr." Dewi pun meninggalkan Roma. Dan kembali bekerja dan tentu saja tak lupa bergosip dengan teman-temannya.


"Kamu udah selesai kerjanya?" tanya Tommy ketika sudah berada didekat Roma.


"Sudah, tumben Abang kesini ga nelpon dulu."


"Sengaja mau buat kejutan sama kamu." Tommy menoel hidung Roma. "Kencan yuk–."


"Masih siang Abang–."


"Yang bilang ini malam siapa?"


"Emang mau kemana?"


"Abang pengen nonton sama kamu, pengen kencan ala-ala anak ABeGe. yuk–."


"Bentar, aku ambil tas dulu." Roma meninggalkan Tommy lalu masuk keruangannya mengambil tas dan membuka snellinya.


Tommy menggenggam tangan Roma menuju dimana mobilnya terparkir.


"Dek–." Tommy melihat Roma yang duduk dibangku penumpang disebelahnya.


"Hmmm–." Roma sibuk membalas pesan Dewi yang mengatakan kalau Cinta begitu senang hari itu.


"Kalau kamu punya daftar keinginan apa yang pengen kamu lakuin dalam waktu dekat ini?"


"Maksud Abang?" Roma sedikit tidak mengerti arah pembicaraan Tommy.


"Seandainya nih Abang beri kamu tiga permintaan kira-kira apa yang kamu minta sama Abang?"


"Hmmm apa yah?" Roma menggerak-gerakkan jari telunjuknya dipipinya. Tommy masih fokus dengan kemudinya sambil sesekali melirik kearah Roma.


"Yang pertama." Tommy melihatnya sekilas lalu memasang telinganya untuk mendengarkan permintaan gadis yang dicintainya itu. "Aku pengen Bang Tommy cepat-cepat nikahin aku."


Tommy tersenyum. "Terus–."


"Yang Kedua–." Tommy mendekatkan telinganya sambil tetap fokus menyetir. "Aku pengen Bang Tommy nikahin aku."


"Dan yang ketiga juga sama, aku pengen nikah sama Bang Tommy."


"Hahahaha–." Tommy memaksakan tawanya saat mendengar ucapan Roma. Ia sengaja membuat tertawa dibuat-buat hingga terbahak-bahak sementara hatinya pilu mendengar ucapan Roma yang pastinya tak akan bisa dipenuhinya dalam waktu ini.


"Abang juga maunya cepat-cepat nikahin kamu dek. Tapi maaf untuk saat ini Abang ga bisa. Saat ini cinta kita sedang di uji dan Abang juga ingin tau sebesar apa kamu menginginkan Abang."


"Kok ketawa sih Bang?" Roma cemberut "Emang lucu ya?"


"Iya, abis kamu aneh disuruh minta 3 permintaan malah cuma 1 permintaan yang disebut."


"Karena aku maunya memang cuma itu Bang–."


Do you Like?


Kalau Like jangan lupa Jempolnya ya 🤗