Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Tak Segampang buat Adonan Kue



Tommy sudah sampai di Mansion utama Keluarganya. Ia langsung memarkirkan mobilnya ke dalam garasi Mansionnya. Lalu membukakan pintu untuk Roma dan mengajak Roma masuk kedalam istana megah itu.


Itu bukan pertama kalinya Roma masuk ke Mansion itu, tapi ia masih saja sedikit canggung untuk berada disana.


"Sayang kalian sudah datang?" tanya Indah menghampiri Roma lalu memeluk Roma dan membawanya langsung ke meja makan.


"Kamu pasti sudah lapar kan? Tommy sepertinya jarang memperhatikan mu ya sayang? Kamu jadi terlihat kurus begini." Indah melihat Roma dari atas kebawah terus diulanginya lagi dari bawah keatas.


Roma begitu bahagia mendapat perhatian dari Indah Ibu mertuanya. Sementara Tommy merasa bingung dengan sikap Maminya yang kini sepertinya lebih memperhatikan Roma dibandingkan dengan dirinya.


"Sebenarnya anak Mami itu aku atau Roma sih?" Tapi Tommy juga merasa senang karena Indah bisa menerima Roma dengan baik. Apalagi setelah hampir terjadinya pelecehan pada Roma istrinya. Tommy tahu kalau Maminya itu sudah tahu insiden itu dari Papinya tapi Tommy meminta pada kedua orangtuanya untuk tidak mengungkit hal itu lagi didepan Roma.


"Mas Tommy perhatiin aku terus kok Mi, mungkin akunya aja yang kurang perhatian sama badan aku sendiri Mi." Roma merasa tak enak bila Indah menyalahkan Tommy suaminya.


"Ya sudah kita makan saja ya. Mami juga udah laper, kelamaan nungguin kalian." ucapnya lalu menyiapkan beberapa hidangan yang belum siap dimeja makan.


"Roma bantu ya Mi–." Roma mengikuti Indah ke dapur.


"Eee, ga usah sayang. Kamu duduk saja ya temani suami kamu disana. Mami biar dibantu sama Bi Asih aja. Lagian kamu pasti capek kan kerja seharian? Kelihatan dari wajahmu yang sepertinya kelelahan sekali." Indah membawa Roma kembali ketempat duduknya dan mau tak mau ia pun menuruti keinginan mertuanya itu.


"Aku tuh ga capek karena kerja Mi, tapi aku capek karena dikerjain terus sama anak Mami." Ingin rasanya Roma mengadu seperti itu kepada mertuanya itu.


"Tom, tolong panggilkan Papi di ruang kerjanya ya. Dari tadi udah sibuk dikantor sekarang malah sibuk lagi dirumah. Kerjaan kok ga ada abis-abisnya." Indah memang tak bisa melarang kegilakerjaan suaminya itu. Tapi walaupun demikian Prayoga selalu menyempatkan diri untuk berkumpul bersama keluarganya. Prayoga dan Indah seperti pasangan pengantin baru kemana-mana selalu berdua. Karena hanya Tommy anak mereka satu-satunya.


"Iya Mi." Tommy langsung berjalan kearah ruangan kerja Prayoga.


"Kalian jadi honeymoon kemana kemarin Sayang?" tanya Indah lalu duduk disebelah Roma.


"Ke Korea Mi." jawab Roma. "Maaf ya Mi, karena insiden yang dibuat Sandy jadi membuat Famillymoon kita gagal." lirih Roma sambil menundukkan kepalanya.


Indah menangkup wajah Roma. "Bukan salah kamu sayang, jangan di ungkit-ungkit lagi ya. Mami sendiri udah lupa sama kejadian itu dan Mami juga sudah memaafkan Zia karena sebetulnya itu bukan kesalahan Zia. Mami harap kamu juga ga membenci Zia yah, karena Zia juga sudah dimanfaatkan orang itu." tutur Indah.


"Sepertinya Mami sayang banget sama Zia."


"Iya Mi." sahut Roma pelan tapi Indah masih bisa mendengarnya.


Tak berapa lama Tommy dan Prayoga sudah bergabung bersama mereka dan mereka mulai makan malam bersama dengan tenang.


"Kalian masih tinggal di apartemen?" tanya Prayoga pada Tommy yang masih sibuk menyantap makanannya.


"Iya Pi. Kenapa Pi?" sahut Tommy sambil melirik kearah Prayoga.


"Rumah ini terlalu besar untuk ditinggali sama Mami dan Papi saja. Lagian Papi sama Mami juga kan sering keluar negeri. Sebaiknya kalian tinggal disini saja." Prayoga sebenarnya ingin istrinya itu ada temannya karena sebelum menikah saja Tommy sudah memilih untuk tinggal di apartemen. Prayoga tahu kalau Indah begitu kesepian apalagi kalau dirinya sibuk bekerja bahkan jika ia sampai lembur dikantornya. Waktunya banyak habis tersita karena bekerja.


"Kalau itu tergantung Roma saja Pi–, kalau Roma ga keberatan, aku setuju saja."


"Mas Tommy apa-apaan sih? Kenapa keputusannya jadi di aku?" Roma kesal tapi ia masih tersenyum tak ingin mertuanya itu menanggapi kalau dirinya keberatan untuk tinggal bersama mereka.


"Bagaimana sayang? Kamu mau kan tinggal disini?" tanya Indah dengan tatapan yang penuh harap.


"Sebenarnya Roma ga keberatan Mi, tapi jarak dari sini ke rumah sakit jadi lumayan jauh Mi." jawab Roma jujur, karena pastinya ia kan berangkat lebih pagi lagi dari biasanya ia berangkat kerja.


"Ya ga semudah itu juga Mas–, aku ga enaklah sama dokter Chris dan juga dokter-dokter lain yang berharap bisa menggantikan dokter Chris." ucap Roma jujur karena sepengetahuannya banyak dokter-dokter lain yang berharap bisa menggantikan dokter Chris bila tiba saatnya dokter Chris pensiun.


"Itu sudah kesepakatanku dengan dokter Chris dek–, dia hanya direktur sementara sampai akhirnya kamu siap untuk menjadi direktur disana." jelas Tommy lagi.


"Enggak mas, ga harus mengganti posisi dokter Chris, dia sudah lebih baik menjadi direktur disana. Aku ga apa-apa kok kalau harus berangkat bekerja tiap hari dari sini." Roma akhirnya mengalah karena tidak mungkin ia menggantikan posisi dokter yang sudah menjadi panutan di Rumah Sakit itu.


"Bener sayang kamu ga keberatan?" tanya Indah ingin memastikan. Ia senang mendengar Roma yang tidak keberatan untuk tinggal bersama mereka.


"Iya Mi, lagian kalau tiba-tiba aku jadi direktur aku juga ga enak sama rekan-rekan yang lain Mi, karena dirumah sakit ga ada yang tahu kalau pemilik Rumah Sakit itu adalah Mas Tommy."


"Ada, selain dokter Chris dokter Jefri juga tahu kalau aku pemilik rumah sakit itu." ucap Tommy cepat dan itu memang kenyataannya.


"Ya kan tetap aja mas, masih minim yang tahu."


"Sudah-sudah, Kalian tinggallah disini kalau masalah Roma, kamu bisa diantar jemput sama supir nanti. Ga usah nyetir sendiri." ucap Prayoga menengahi perdebatan mereka. Bukan perdebatan sebenarnya hanya mengutarakan pendapat mereka masing-masing saja.


"Ga usah repot-repot Pi, Roma masih bisa nyetir sendiri kok Pi." Roma menolak halus saran Prayoga untuk meminta supir yang mengantar jemputnya bekerja.


"Ga ada bantahan ya menantu Papi–." Prayoga berdiri lalu mengusap lembut rambut menantunya itu. "Sekarang kamu itu sudah tanggung jawab keluarga Prayoga dan Papi harap kamu nyaman disini seperti senyaman kamu berada dirumahmu sendiri. Kamu itu bukan hanya menantu dirumah ini tapi juga sebagai putri Papi dan Mami." Roma merasa terharu dengan perlakuan Prayoga padanya. Kasih sayang yang diberikan Prayoga tulus seperti bapaknya yang menyayanginya.


"Iya Pi." sahutnya pendek.


"Papi dan Mami berharap kalian selalu hidup rukun. Kalau ada perselisihan dalam rumah tangga itu biasa tapi jangan dibiarkan sampai berlarut-larut harus segera diselesaikan." Kini nasehat itu datang dari Indah yang duduk disampingnya. "Tommy sudah pernah sekali gagal dalam membina rumah tangganya. Dan Mami harap kamu adalah wanita terakhir yang mendampinginya nanti hingga kalian menua bersama. Sampai akhirnya kematianlah yang memisahkan kalian."


"Iya Mi."


"Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk bicara sama Papi atau Mami ya? Siapa tahu suamimu ini menyimpang lagi." sindir Prayoga sambil melirik kearah anak semata wayangnya.


"Papi–, aku ga akan seperti itu lagi." ucap Tommy tegas dan penuh keyakinan.


"Papi ga perlu omongan atau janji Tom–, Papi hanya perlu bukti." ucap Prayoga.


"Ok akan Tommy buktikan apa yang menjadi keinginan Papi." kata Tommy dengan penuh semangat.


"Emang kamu tahu apa maunya Papi?" tanya Prayoga dengan seringai liciknya.


"Ayo Sayang, aku mau buktikan sama Papi kalau aku bisa." Tommy tidak menjawab pertanyaan Prayoga. Ia sudah tahu apa yang menjadi keinginan Papinya itu. Sementara Roma yang pergelangan tangannya digenggam Tommy merasa bingung. Kini tubuhnya setengah ditarik oleh Tommy suaminya.


"Ayo kemana Mas? Emangnya Papi mau minta apa sama Mas Tommy?" Roma memandang Tommy dan mertuanya itu bergantian ia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Yang ia tahu ia menangkap kalau suaminya seperti ditantang oleh Ayah mertuanya.


"Papi mau kita kasih cucu secepatnya Sayang–." jelas Tommy.


Seketika itu juga wajah Roma langsung bersemu, bagaimana mungkin suaminya itu membicarakan hal itu dengan mudahnya didepan kedua orangtuanya.


"Hahaha." Prayoga tertawa lepas. Ia sangat senang karena Tommy bisa menebak apa yang menjadi keinginannya itu.


"Mas Tommy apa-apaan sih? Emang buat anak itu segampang buat adonan kue apa?" Roma kembali kesal pada Tommy suaminya.


Like Like Like yach 😍