Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Olahraga Malam dan Olahraga Pagi



Roma memasuki kamar Tommy yang kini juga sudah menjadi kamarnya dengan wajah yang cemberut. Pasalnya Tommy sudah membuatnya sangat malu didepan mertuanya itu.


Ketika Tommy mengajaknya ke kamar ia meninggalkan Indah dan Prayoga dengan wajah tersenyum sambil tangannya merangkul lengan Tommy karena Tommy yang meletakkannya dilengannya. Tapi setelah ia menaiki tangga dan tak terlihat lagi oleh mertuanya ia segera melepaskan tangannya dari lengan Tommy lalu mendahului Tommy masuk ke kamarnya.


Tommy tidak menyadari kalau ucapannya tadi sudah membuat Roma sangat malu.


"Sayang, kamu kenapa?" Tommy yang merasa aneh dengan sikap Roma segera mengikuti Roma dari belakang.


Tapi Roma tidak menghiraukannya ia mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi. Lebih baik membersihkan diri dari pada harus berdebat dengan suaminya. Itu pikirnya. Lalu Roma mengunci pintu kamar mandi dari dalam. Ia sengaja menghindari Tommy karena kesal.


"Sayang–, dek kamu kenapa?" Tommy mengetuk pintu kamar mandi tapi Roma tetap tidak menjawabnya. Suara gemericik air lebih kuat dibandingkan dengan suara Tommy yang memanggilnya.


Tommy menghela nafasnya dengan berat lalu ia duduk disisi tempat tidur dan menunggu Roma sampai selesai mandi. Ia membuka tap nya memeriksa pekerjaan yang belum selesai.


Hampir setengah jam Tommy menunggu Roma, sesekali diliriknya pintu kamar mandi berharap Roma segera keluar dari dalam. Akhirnya dilihat juga istrinya itu keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang dililitkan dibadannya sehingga memamerkan kakinya yang jenjang dengan handuk kecil yang menutup rambutnya.


Tommy hanya memandang Roma yang membuka rambut panjangnya sambil mengusap-usap kepalanya mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dan itu berhasil membuat peliharaan Tommy meronta minta dilepas dari jeruji kain yang menghimpit dan mengurungnya. Roma sedikit membungkuk sehingga menampakkan belahan dadanya yang padat dan seksi.


Tommy masih tetap memperhatikan Roma yang mulai berjalan ke Walk in Closet mengambil piyama yang akan digunakannya. Tapi belum sempat ia mengganti bajunya Tommy sudah lebih dulu datang dan memeluknya dari belakang. Ia tak sanggup lagi untuk menahan godaan istrinya itu.


"Sayang kamu sengaja ya menggodaku?" Tommy mulai menciumi pundak dan tengkuk Roma.


"Mas lepas, aku mau pake baju dulu." Roma mencoba melepaskan tangan Tommy dari pinggangnya tapi dengan cepat tangannya sudah berpindah ke puncak gunung milik Roma.


"Mass–." Roma ingin marah tapi yang keluar dari bibirnya malah desahan kenikmatan yang diberikan Tommy.


"Iya sayang–." Tommy tidak menghiraukan rintihan Roma itu, justru ia semakin m lancarkan aksinya. Iya tahu kalau Roma juga menikmati permainannya. Tangan kanannya masih bermain di gunung kembarnya sementara tangan kirinya sudah berpindah ke bagian inti Roma.


""Lepas mas." Lagi-lagi Roma menahan tangan Tommy untuk menghentikan kegiatannya itu. Tapi tenaganya tak sekuat Tommy.


"Mas aaahhh–." Roma masih saja berusaha menolak tapi gerakan tubuhnya berkata lain. Ia juga menginginkannya, menikmati setiap sentuhan suaminya.


"Aaahhh–." Roma mencapai pelepasannya. Tommy membalikkan badan Roma menghadap padanya lalu dengan cepat ia ******* bibir Roma dan mengangkatnya kembali ke tempat tidurnya tanpa melepaskan pagutannya.


Tidak ada lagi penolakan dari Roma kini ia pun membalas ciuman suaminya itu. Rasa kesalnya pada Tommy hilang seketika. Tommy sangat pintar untuk mengendalikannya. Membalikkan keadaan yang seharusnya ia marah menjadi tidak marah lagi.


Kini tubuh mereka sudah sama-sama polos. Tommy segera memasuki peliharaan kesayangannya ke dalam sarangnya yang sebenarnya. Sarang yang bisa memberinya kenikmatan yang tiada taranya.


"Mass– Kenapa dicabut?" Roma terlihat kesal karena tiba-tiba Tommy menghentikan aksinya. Dirinya yang hampir mendapatkan puncak pelepasannya lagi tiba-tiba saja langsung terhenti membuatnya marah kepada Tommy.


"Tadi katanya ga mau–. Kita udahan aja yah Mas capek." Tommy tersenyum genit menggoda Roma.


Tiba-tiba saja Roma membalikkan tubuh Tommy dan duduk diatasnya. Entah mendapatkan kekuatan dari mana dia sehingga sekarang ia yang akan memimpin pergelutan mereka. Rasa nikmat yang sudah sampai diubun-ubun tiba-tiba saja terhenti membuatnya frustasi. Dimasukkannya milik suaminya itu kedalam miliknya lalu dengan perlahan ia mulai menggoyangkan pinggulnya. Dan semakin lama ritmenya semakin bertambah.


Tommy membulatkan matanya ia tidak menyangka kalau istrinya itu bisa seagresif itu bahkan Tommy begitu menyukainya. Roma semakin terlihat seksi saat bergoyang diatasnya.


Tommy melihat Roma sudah mulai kelelahan lalu ia kembali membaringkan Roma dibawah kungkungannnya dan mulai melancarkan aksinya kembali. Dan entah sudah berapa gaya percintaan yang mereka lakukan akhirnya setelah hampir dua jam melakukan olahraga yang nikmat itu mereka pun kelelahan dan tertidur dengan saling berpelukan.


▪️


▪️


▪️


▪️


▪️


▪️


Roma mengangkat tangan Tommy dari pinggangnya tapi tiba-tiba saja Tommy membuka matanya lalu mengeratkan pelukannya kembali.


"Mau kemana?" Tommy bertanya dengan mata yang masih terpejam. Rupanya dia masih sangat mengantuk tapi tangannya masih saja tidak mau dilepaskan dari tubuh Roma.


"Mas udah bangun?"


"Hmmm–." Tommy hanya bedehem dengan mata yang masih tertutup.


"Mas, lepas dulu tangannya aku mau pipis."


Tommy tak langsung melepaskan pelukannya ia membuka matanya lalu melihat Roma sambil tersenyum.


"Mas kenapa senyum-senyum begitu?" Roma merasa aneh melihat Tommy yang tiba-tiba tersenyum.


"Mas suka goyanganmu tadi malam." ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.


"Mas–." Roma memukul dada Tommy seandainya wajahnya tidak dibenamkannya di dada bidang Tommy tentulah Tommy dapat melihat wajahnya yang merah karena menahan malu.


"Kenapa?" tanya Tommy saat Roma masih berada dalam pelukannya.


"Jangan ngomong gitu, aku malu?" Tommy melonggarkan pelukannya dan melihat manik mata Roma dari dekat.


"Kenapa harus malu?"


"Ya malu aja–." Roma menundukkan kepalanya. Tapi Tommy memegang dagunya dan mengangkat wajahnya kembali.


"Kamu ga perlu malu sayang. Kita kan sudah sah sebagai pasangan suami istri."


"Iya tetap aja aku malu mas–, udah ahk ga usah ngomongin itu lagi. Lepas dulu aku mau pipis." Roma berusaha untuk duduk tapi Tommy kembali menariknya ke pelukannya.


"Mas lepasin dulu–." Roma mulai kesal karena Tommy tidak membiarkannya untuk pergi ke kamar mandi.


"Mas pengen ngulang yang kayak tadi malam lagi Sayang–." Tommy mencium bibir Roma lembut.


"Iiih, udah dong mas–. Aku mau mandi, terus mau bantu Mami siapin sarapan, aku ga enak dong mas nanti dibilang aku menantu yang malas." gerutu Roma. Karena yang ia tahu begitu banyak konflik menantu dan mertua karena hal-hal sepele seperti itu.


Kadang dibilang menantunya ngamar terus, ga tahu ngambil kerjaan rumah, ga tahu beberes rumah, ga tahu masak, nyuci dan lain-lain.


Makanya sebagian pengantin baru lebih memilih untuk tinggal dirumah sendiri atau bahkan ngontrak hanya untuk menghindari kesalahpahaman sepele yang pastinya akan terjadi dalam kehidupan sehari-hari.


"Mami ga kayak gitu orangnya. Terus kamu ga usah repot-repot buat sarapan karena dirumah ini sudah banyak pekerja yang mengerjakannya." ucap Tommy tetap dengan aksi tangannya yang tak berhenti bermain-main ditempat favoritnya itu.


"Tapi tetap aja aku merasa ga enak Mas–. Udah dong Mas, ayo bangun dulu." Roma menepuk tangan Tommy yang masih saja nakal merajai gunungnya.


Tommy pun bangun dari tidurnya dan langsung menggendong Roma ke kamar mandi. Di dalam sana Tommy kembali mengulang aksinya dan Roma pun tidak lagi dapat menolak keinginan suaminya itu.


Olahraga malamnya harus dilanjutkan dengan olahraga Pagi.


Ku tunggu jejakmu selalu Say 🤗