
Author POV
Ken terlihat begitu bahagia melihat wanita yang dicintainya itu sudah kembali tersenyum. Sesekali diliriknya wanita itu yang terus menatapnya.
Mita menatap heran pada Ken yang terlihat seperti senyum-senyum sendiri sambil menikmati kopi buatannya.
"Kamu ada apa datang kesini?" Mita yang sudah merasa lebih tenang akhirnya menanyakan tujuan kedatangan Ken ke rumahnya.
"Kangen." sahut Ken tanpa melihat kearah Mita.
Wajah Mita bersemu, ia pun tersenyum tipis. Tapi Ken tidak melihat itu karena saat itu dia sibuk dengan benda pipih yang ada ditangannya.
"Kesini cuma main mau HP ya?" sindir Mita karena sedari tadi Ken hanya diam dan tak lepas dari ponselnya. Kesal juga dicuekin seperti itu.
"Bentar ya, nih, Bos kampret udah ngasih cuti tapi tetep aja nanya kerjaan ke aku." sahutnya lagi-lagi tak melihat pada Mita yang terus memperhatikannya.
"Kamu tuh kok ga sopan sih bilang bos kamu kampret?" Mita merasa aneh aja dengan sikap Ken yang seenaknya saja pada atasannya. Ia mengalihkan perhatiannya dengan menyalakan TV yang ada diruangan itu, sambil terus mengganti-ganti chanel yang akan ditontonnya tapi tak satupun dari sekian acara TV yang bisa menarik perhatiannya.
Ken meletakkan ponselnya diatas meja. "Tommy itu sahabat aku, jadi aku udah biasa ngomong begitu dengannya. Kalau dia dengar juga ga apa-apa." tutur Ken sambil menyeruput kopi yang ada ditangannya. "Oya, kencan yuk–. Kamu libur kan?"
Ken mengambil remote yang ada ditangan Mita lalu menekan tombol off dan otomatis TV yang sedang ditonton oleh Mita pun mati.
"Apa-apaan sih nih orang, tadi aja nyuekin gue sekarang mau balas nyuekin dia eh malah TVnya dimatiin seenak jidatnya." Gerutu Mita.
"Kamu libur kan Mita?" Ken mengulang pertanyaannya karena Mita belum juga menjawabnya.
"Enggak–." Raut wajah Ken langsung berubah. "Tadinya sih emang Off tapi sebelum kamu datang teman aku telpon minta gantiin shif-nya. Anaknya sakit katanya, aku mah ga tega aja nolak permintaannya apalagi soal anak, kasihan kan kalau lagi sakit tapi orangtuanya ga ada yang jagain. Suaminya juga lagi ke luar kota." Ken mengendus kesal, sepertinya rencananya akan mengajak Mita berlibur gagal total. Sia-sia juga ia sudah mengambil cuti.
Mita tersenyum melihat wajah Ken yang terdiam dan kesal pasalnya dia memang sengaja mau mengerjai Ken. Ia hanya mengarang cerita saja tentang apa yang dikatakannya pada Ken barusan.
"Tapi kalau kamu memaksa–, Emang aku bisa apa?" Wajah Ken yang tertunduk langsung terangkat dan menatap Mita, dengan cepat ia beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Mita.
"Kamu–, udah pintar ya mau godain aku?"
"Aauw ampun, ampun–." Mita tak berhenti tertawa karena Ken menghukumnya dengan menggelitiki perut dan pinggangnya.
Tanpa sadar dress Mita tersingkap keatas sehingga memamerkan kulit pahanya yang mulus. Ken langsung terdiam dan matanya tertuju pada paha Mita. Dengan perasaan malu Mita menurunkan dressnya dan menutupi pahanya yang terekspos.
"Maaf–." Ken tersadar dan langsung memeluk Mita. Tapi karena keindahan itu akhirnya membuat makhluk peliharaannya berhasil bangun dari tidurnya.
Akhirnya Fernando yang kena imbasnya untuk membantu menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda selama 2 minggu ini. Sebenarnya ia hanya tinggal memeriksanya saja karena semua pekerjaan itu sudah Ken bereskan.
Tok...tok...tok...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk–." ucap Tommy tanpa melihat siapa yang datang.
"Mas–." suara wanita yang sangat mendamaikan hati dan selalu dirinduinya.
Tommy langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Roma yang masih berdiri dipintu. Pasalnya ia terkejut melihat ruangan kerja Tommy yang seperti kapal pecah.
"Kamu sama siapa sayang?" tanyanya sambil mengecup kening Roma.
"Tadi dari Rumah Sakit nebeng temen yang kebetulan arah rumahnya melewati kantor Mas." Tommy memeluk bahu Roma dan membawanya ke bangku kebesarannya.
"Cewek apa cowok?" selidik Tommy.
"Cowok." sahut Roma jujur. Mata Tommy langsung terbelalak menatap tajam pada Roma. "Emang kenapa Mas?" tanya Roma yang tau kalau suaminya itu pasti tidak suka kalau dia datang bersama pria lain.
"Masih nanya lagi kenapa? Lain kali kalau mau datang bilang biar Mas jemput atau minta supir yang jemput kamu."
"Ya kalau bilang itu namanya ga supris Mas–." Roma sengaja menggoda Tommy agar Tommy tidak lagi marah padanya.
Cup.
Tommy mencium bibir Roma dengan lembut, tapi pagutannya itu sangat lama sehingga membuat Roma hampir kehabisan nafas. Tommy juga lupa kalau diruangan itu tidak hanya ada mereka berdua.
"Dasar Bos laknat, bisa-bisa ciuman didepan gue. Apa dia ga nyadar kalau gue masih ada diruangan ini?" gerutu Fernando dalam hati.
"Fer, kamu keluarlah. Makan siang dulu sana–." ucapnya tanpa melihat kearah Fernando. "Nanti akan ku panggil kalau aku membutuhkan bantuanmu lagi."
"Sekarang langsung main usir aja. Nasibbjadi bawahan ya koyok ngene iki."
Maaf Pendek. Tetep Like yach 😍