Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Hanya Kecewa



Suasana menegangkan memenuhi ruangan bungalow tempat Tommy dan Roma menginap. Pasalnya mantan partner gay Tommy itu sedang menyandera istrinya.


Seseorang berlari sekuat tenaga untuk menengahi perseteruan antara Sandy dan juga pihak Tommy.


Dor... Dor... Doorrrr...


"JAAANNNGGGGAAAAANNNNN–." teriakan itu sudah terlambat, beberapa peluru sudah menembus jantung, kepala dan perut orang itu.


Wanita itu terjatuh berlutut ia terlambat untuk mencegah supaya tidak terjadi baku tembak antara Sandy dan pihak FBI.


"Zia–." ucap Tommy dan Roma bersamaan.


Wanita itu adalah Zia, ia melihat Sandy sudah terkapar berlumuran darah, dengan jalan berlutut ia menghampiri pria itu. Lalu mengangkat kepala Sandy ke pangkuannya.


"Kenapa kalian menembaknya?" teriak Zia, ia menangis sambil memeluk Sandy membuat Roma, dan yang lainnya bingung dengan sikap Zia.


"Why did you shoot him?" Zia mengulangi pertanyaannya kepada pihak FBI yang menembak Sandy.


"Maafkan aku Sandy, aku terlambat." pria itu tersenyum sambil menahan sakit akibat tembakan itu.


"Ma... ma-afkan aku–, dan Te-ri-ma-ka-sih." ucap Sandy terbata-bata, membuat Zia semakin menangis histeris.


"San–, Sandy. Buka mata Lo San." Zia menepuk-nepuk pipi pria itu tapi Sandy sudah meninggal akibat perdarahan dikepala, jantung dan juga perutnya.


"Aaaa.... Sandy maafin keluarga ku San. Aaaa..." Zia terus saja menangis.


Roma dan Tommy semakin bingung kenapa Zia sampai menangis sehisteris itu.


"Zia Lo kenapa menangis? Dia hampir saja membunuh Roma. Kenapa Lo malah menangisi dia?" Tommy tak dapat lagi menahan rasa penasarannya.


"Kenapa kalian menembaknya Kak?" Zia mengulang pertanyaan. "Dia kesini bukan mau menembak Roma, kak–."


"Apa maksudmu Zia?" Tommy semakin bingung. "Atau jangan-jangan kamu orangnya yang sudah memberitahu tempat ini kepadanya?" tanya Tommy ketika mengingat ucapan Ken saat mereka berjalan-jalan di pantai.


"Lo benar Tom, Zia yang sudah membocorkan tempat ini kepada Sandy." ucap Ken yang tiba-tiba datang.


"Apa kamu sudah gila dek?" teriak Zio yang juga baru datang bersama dengan yang lainnya.


"Mami ga nyangka kamu setega ini Zia, kamu mau mencelakai menantu Mami sendiri. Padahal selama ini Mami sudah anggap kamu seperti putri Mami sendiri." Indah pun merasa kecewa kepada Zia.


"Bukan, bukan begitu Mi, Kak, Zia bisa jelasin semuanya." Zia merasa dirinya sudah tersudut, rasa kecewa semua keluarganya padanya dapat ia lihat dari cara mereka memandangnya. "Om, percaya sama Zia–, Zia bisa jelasin semuanya Om." ucap Zia sambil melihat kearah Prayoga.


"Apa lagi yang mau kamu jelasin Zia, semuanya udah jelas." Tommylah yang sangat kecewa melihat mantan istrinya itu tega bekerja sama dengan Sandy untuk mencelakai istrinya.


"Berikan kesempatan Zia menjelaskan alasannya." tegas Prayoga.


"Dia ga ingin membunuh Roma Kak, Om–, senjatanya ini palsu, ini hanya senjata mainan." ucap Zia sambil memberikan senjata Sandy kepada Barman Abang Roma, karena Barman yang lebih dekat posisi berdirinya dari tempatnya. Semua orang langsung memandang Barman meminta kepastian dari Barman.


"Benar ini hanya senjata mainan." ucap Barman lalu memberikan barang bukti itu kepada pihak FBI.


Lalu mereka kembali menatap Zia, menunggu penjelasan dari wanita itu.


"Dia kesini hanya ingin minta maaf. Dia tahu kalau dia sudah salah selama ini. Tapi tidak ada yang percaya padanya." lirih Zia berusaha meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di tempat itu.


"Lalu bagaimana dengan teror kado itu Zia?" tanya Roma yang juga sangat kecewa kepada sahabatnya itu. Tapi dia juga penasaran kenapa sampai sahabatnya itu melakukan hal yang membuat semua orang kecewa padanya.


"Itu bukan dia yang melakukannya Roma, dia murni datang ke kamarmu hanya untuk mengucapkan selamat padamu karena dia tahu dariku kalau kamu akan menikah. Yang melakukan semua itu adalah Rendi dan pelayan itu adalah orang suruhan Rendi dan Rendi juga yang meminta kepada pelayan itu jika dirinya ketahuan maka dia harus menyebut nama Sandy yang telah menyuruhnya. Sandy dan Rendi memang sepupu tapi mereka tak pernah dekat. Hubungan mereka tak pernah harmonis bahkan Rendi jijik memiliki sepupu seperti Sandy karena Sandy itu Gay." jelas Zia.


"Bagaimana kamu bisa seyakin itu Zia?" tanya Chandra yang juga ikut kecewa melihat istrinya itu.


"Oh Tuhan–, bahkan suamiku sendiri ga percaya padaku?"


"Mas–." sedikit kecewa saat melihat pria itu juga seperti tidak percaya padanya. "Sudah hampir 6 bulan ini Sandy terus menghubungi ku. Bermula sejak dia masih dalam penjara. Seorang pengacaranya datang menemuiku. Dan dia mengatakan kalau Sandy ingin menemuiku. Aku menolaknya, tapi pengacara itu terus-menerus datang dan meminta pertolongan padaku. Ia memberitahu alasan kenapa Sandy ingin menemuiku. Dia juga ingin sembuh sama sepertimu, Kak–." lirih Zia sambil menetap Tommy.


"Tentu saja aku tak semudah itu percaya padanya. Tapi pengacara itu terus memohon dan akhirnya aku menemuinya di penjara. Aku tahu membedakan mana yang serius dan mana yang hanya ingin memanfaatkan keadaan. Tapi Sandy benar-benar ingin sembuh." ia menatap semua orang yang ada diruangan itu bergantian berharap mereka akan percaya padanya.


"Tapi karena aku sulit untuk menemuinya dipenjara akhirnya aku menjamin kebebasannya Kak." lirihnya lalu menundukkan kepalanya.


"Mami, maafkan Zia. Tapi dia benar-benar sudah berubah Mi. Apa salahnya kita memberikan kesempatan kedua buat orang yang ingin berubah dan bertobat Mi?"


Sebagian diantara mereka membenarkan ucapan Zia, karena Tommy juga mendapatkan kesempatan kedua untuk berubah dan meraih kebahagiaannya kenapa mereka tidak melakukan hal yang sama kepada Sandy.


"Tapi kenapa kamu harus menyembunyikannya dari kami semua Zia?" Chandra kasihan melihat istrinya itu dipojokkan semua orang tapi tak bisa dipungkiri kalau dia juga kecewa kepada istrinya itu.


"Mas–, bagaimana mungkin aku memberitahu kalian semua. Kalian pasti ga akan percaya kalau dia benar-benar ingin berubah."


"Aku sengaja merekomendasikan kamu Roma untuk jadi dokternya. Karena sebelumnya dokter Michael memintanya untuk menemuiku. Itulah sebabnya dia bersikeras ingin sembuh karena dia mendapat informasi kalau Kak Tommy bisa sembuh dengan terapi-terapi yang diterapkan dokter Michael kepada Kak Tommy."


"Apa?" Tommy kembali terkejut dirinya juga tidak menyangka kalau Sandy akan melakukan itu. Hatinya seperti tercubit rasa bersalah mulai dirasakannya.


"Apakah dia tidak mengatakannya padamu Rom?" tanya Zia pada sahabatnya itu.


"Iya, dia bilang kalau dokter yang merekomendasikan ku adalah kamu. Tapi saat itu aku bingung bagaimana dia bisa mengenalmu." jawab Roma.


"Jelas dia mengenalku dan aku mengenalnya Rom, karena dia orang yang melukaiku sebelumnya. Tapi aku rasa aku tak perlu menjelaskan hal itu disini."


"Jadi–." Roma tak meneruskan ucapannya ada perasaan bersalah melihat pria yang sudah terbujur kaku di pangkuan sahabatnya itu.


"Ia Rom, dia murni menemuimu karena dia ingin sembuh. Kalau masalah penculikanmu, itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan Sandy. Karena saat kamu diculik dia tidak ada di Indonesia."


"Benar, saat itu dia berada di Singapura." Ken membenarkan ucapan Zia.


"Penculikanmu itu murni karena Rendi dendam padamu karena kamu sudah menolaknya terus-menerus dan lebih memilih Kak Tommy." Zia menatap sahabatnya itu lalu menatap Tommy. "Dan dia menemui Bella dan mengajak Bella untuk bekerja sama karena Bella juga mendapat penolakan dari Kak Tommy."


"Bagaimana kamu bisa tahu semua itu?" tanya suaminya lagi.


"Karena saat Roma di culik aku juga curiga padanya dan aku langsung menghubunginya. Dia mengatakan dia tidak tahu apa-apa, malah dia membantu mencari dimana keberadaan Roma. Asal kalian tahu Fernando adalah sahabat baik Sandy. Dan yang merekomendasikan Fernando bekerja diperusahaan mu kak, juga Sandy. Dia sudah benar-benar berubah Kak."


"Apa???" Tommy dan Ken terkejut seakan tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


"Kalau kalian ga percaya, kalian bisa menghubungi Fernando dan bertanya padanya."


"Tapi kenapa kamu baru mengatakannya sekarang Zia?" Tommy mengusap wajahnya dengan kasar karena ia masih tak percaya kalau Sandy berusaha ingin berubah sepertinya. Perasaan bersalah semakin menyelimuti hatinya.


"Karena Sandy melarangku Kak. Karena dia tahu Kakak tidak akan percaya padanya begitu saja setelah apa yang dilakukannnya pada Roma dulu."


"Setidaknya kamu cerita padaku Zia." ucap Chandra dengan rasa kecewanya.


"Bunda tahu semua Mas, aku melakukan semuanya atas ijin Bunda." Zia merasa sudah cukup penjelasan yang diberikannya.


Sebelumnya Zia sudah menghubungi pusat darurat dari negara itu. Dan saat ini mereka sedang bersiap-siap membawa Jenazah Sandy ke Rumah Sakit.


"Aku tahu kalian semua kecewa denganku. Tapi untuk saat ini tolong izinkan aku pergi membawa pulang jenazahnya ke tahan air. Karena sesuai keinginannya jika terjadi sesuatu padanya ia ingin dikebumikan di tanah kelahirannya di kampung halamanya." tutur Zia lagi.


"Gue, ikut Lo Zia." Mita yang dari tadi hanya diam saja menyaksikan kesedihan sahabatnya itu membuatnya ikut bersedih. Ada rasa kecewa juga yang dirasakannya pada Zia tapi setelah mendengar penjelasan Zia rasanya begitu kejam jika semua orang menyalahkannya dan tak memberi kesempatan kedua kepada Sandy yang ingin bertobat.


Zia dan Mita mengikuti Ambulance yang membawa jenazah Sandy. Setelah melalui proses yang panjang akhirnya Jenazah Sandy dapat diterbangkan kembali ke Indonesia.


Zia menghubungi pengacara Sandy dan memberitahu keadaan Sandy saat itu. Zia juga meminta pengacara itu supaya menghubungi keluarganya.


"Sabar ya Zia." Mita memeluk Zia menguatkan sahabatnya itu.


"Makasih ya Mit, setidaknya diantara semua orang yang kecewa sama gue ada Lo yang percaya sama gue." Zia kembali menangis tak menyangka kalau keputusannya untuk menolong Sandy akan berakhir seperti ini.


"Gue yakin semua orang akan kembali mempercayaimu Zia. Kamu ga salah kamu hanya menjalankan apa yang diminta almarhum padamu."


"Gue ga masalah kalau semua orang benci dan ga percaya sama gue. Tapi yang gue sesalkan, suami gue sendiri juga ga percaya sama gue Mit." Zia kembali menangis dipelukan sahabatnya itu.


"Buka Mas, ga percaya sama kamu. Tapi Mas hanya kecewa. Kamu seperti menganggap Mas ga pernah ada buat kamu dan itu yang membuat mas kecewa sama kamu, karena kamu ga pernah cerita sama Mas." Chandra datang bersama dengan Ken.


Chandra tak mungkin membiarkan wanita yang dicintainya pulang sendirian. Sementara Ken selain karena dia diminta Tommy untuk membantu mengurus pemakaman Sandy dia juga memiliki tanggung jawab pada gadis yang diajaknya itu.


Author cuma mau bilang : "Jangan kecewakan Author dengan tidak memberikan Vote" 🤗