
Rasa bahagia yang dirasakan oleh Indah tiada taranya. Senyum yang selalu dilontarkannya ketika keluarga Roma menyambut kedatangan mereka hingga sampailah acara penghujung. Seperti mimpi yang menjadi kenyataan, dulu Indah juga merasa bahagia saat menghantarkan putranya itu meminang Zia, tapi rasa bahagianya kini melebihi rasa bahagianya yang dulu. Karena pernikahan Tommy yang dulu adalah sebuah kesalahan yang Tommy lakukan dengan menutupi rahasia besarnya namun tidak merusak sebuah hubungan antara orangtuanya.
Tapi kini Indah bahagia karena calon menantunya itu sudah mengetahui kelemahan putranya itu. Bukan hanya Indah yang berbahagia Pram juga merasakan hal yang sama seperti yang istrinya itu rasakan. Saat ini Pram sangat bangga dengan putranya semata wayangnya itu. Dan diantara kedua orang yang berbahagia itu Tommylah yang paling sangat beruntung karena dari sekian banyak gadis yang mendekatinya hanya Romalah yang mampu mengusik dan mengisi hatinya.
Tommy sangat bahagia dan beruntung karena Roma mau menerima segala kekurangannya. Meskipun diawalnya begitu banyak drama yang harus dihadapi Tommy saat meminta restu kepada saudara-saudara gadis yang menggugah hatinya itu.
Setelah lamaran berjalan dengan lancar, selanjutnya adalah hantaran yang disebut Manulak Sere. Pihak laki-laki yang datang bersama rombongan dengan membawa semua persyaratan-persyaratan yang diminta pihak perempuan pada saat lamaran tersebut. Pihak laki-laki dan perempuan akan berdiskusi dan berbincang-bincang. Kemudian berpantun atau bersyair.
Ke Gersik sudah ke Penang sudah
Kapan ndak ke Kedah, Kapan ndak ke Sumbawa
Jerisik sudah dipinang sudah
Kapan ndak kami bawa
Itu adalah salah satu syair yang sering digunakan ketika sedang melamar gadis batak Mandailing.
Pada saat manulak sere inilah pihak keluarga membicarakan kapan tanggal pelaksanaan resepsi pernikahan, apa saja yang diperlukan dalam acara adat pernikahan. Pesta pernikahan biasanya dilakukan di kediaman mempelai wanita dan kemudian di kediaman mempelai pria atau tergantung kesepakatan keluarga. Namun keluarga dari pihak Tommy ingin mereka melangsungkan acara resepsi pernikahan putranya itu di salah satu hotel milik mereka, selain itu mereka juga tidak ingin membebankan keluarga pihak mempelai wanita. Dan akhirnya kesepakatan pun didapat dan keluarga Roma setuju dengan apa yang diminta oleh keluarga Tommy.
Acara adat yang digunakan sebelum acara ijab kabul adalah menggunakan adat jawa, namun saat resepsi mereka akan menggunakan konsep pernikahan modern tapi tidak luput akan memakai pakaian adatnya Mandailing kemudian diganti dengan gaun pengantin modern.
"Tiba saatnya untuk kedua calon pengantin untuk menyematkan cincin." seorang MC memanggil kedua calon pengantin itu.
Tommy meraih tangan kiri Roma lalu menyematkan cincin dijari manisnya. Demikian juga Roma melakukan hal yang sama.
"Dek, ga bisa langsung sah sekarang aja ya?" bisik Tommy. Roma membulatkan matanya menatap pria yang berdiri disampingnya itu. Memasang senyum yang terpaksa.
"Karena acara penyematan cincin telah selesai, maka selesai pula lah rangkaian acara lamaran pada malam hari ini. Dan kepada para tamu undangan, kami persilahkan untuk mencicipi hidangan alakardarnya yang sudah tersedia."
Para sahabat Roma dan Tommy yang hadir turut memberi selamat kepada mereka.
"Selamat ya dokter Uly–." ucap dokter Jeffri.
"Selamat Tuan, Selamat dokter Uly." Christofel Afandi direktur kepercayaan Tommy juga turut hadir disana.
"Terimakasih dok–.' sahut keduanya.
"Selamat ya Tuan, Nona–." ucap Kendrick yang juga ikut hadir disana mengontrol keamanan acara lamaran Tommy berlangsung.
Zia menarik tangan Roma lalu mengajaknya berfoto bersama Rara dan meminta Chandra suaminya untuk menjadi fotografer mereka.
"Selamat yah Rom–." ucap Zia dan Rara lalu memeluk Roma bergantian.
"Akhirnya lo juga yang berhasil membuat Kak Tommy klepek-klepek." Zia menyenggol pinggang Roma dengan sikunya.
"Be Te We honeymoon nanti ajak kita-kita dong Rom. Ajakin Kak Tommy honeymoon ke Korea. Udah lama nih kita ga pernah kesana lagi." usul Rara yang sangat antusias.
"Masa gue honeymoon ngajakin kalian–." Tommy yang mendengar pembicaraan mereka langsung bergabung dengan Roma dan saudara-saudaranya itu.
"Ga apalah Kak sekali-kali, nginep gratis di hotel Kakak yang di korea." sahut Rara
"Lah Zia kan ada hotel juga disana." ucap Tommy yang mengingat kalau salah satu harta gono-gini yang Zia dapat dari pernikahannya adalah sebuah hotel mewah di negara penghasil ginseng itu.
Zia hanya tersenyum, karena sepertinya sahabat sekaligus kakak iparnya itu lupa tentang hal itu.
"Yang married kan Tommy kenapa gue yang harus bayar tiketnya." tolak Chandra sambil tersenyum mengejek.
"Sesekali boleh lah kita naik pesawat gratis kalau lo yang jadi pilotnya." sambung Rara.
"Itu mah nepotisme namanya, tapi kagak ada yang gratisan kalau naik dipesawat."
"Kalian tenang aja, tiket dan segala akomodasi Mami yang siapkan. Honeymoon kalian bukan ke Korea tapi ke Maldives." Indah yang dari tadi memperhatikan pembicaraan anak-anaknya itu akhirnya ikut nimbrung lalu membuat keputusan.
"Haaah? Beneran Mami?" teriak Zia dan Rara bersamaan mereka sangat antusias begitu mendengar kalau Indah yang akan menajdi donatur mereka. Sementara Roma hanya diam tersipu malu.
"Bener–, emang kapan Mami bohong?" Indah memeluk lengan Roma lalu mencium kening wanita yang sebentar lagi menjadi menantunya itu.
"Nanti Abang-abang dan Kakak ipar kamu juga boleh ikut sayang. Biar segala sesuatunya Mami yang siapkan." ucapnya pada Roma. "Dan kita naik pesawat pribadi aja, nanti Chanda yang kemudi ya Chan?" pintanya pada pria yang sudah dianggapnya sebagai menantunya itu.
"Siap Mami." Chandra mengangkat tangannya menaruh hormat pada Indah.
Dan tanpa mereka sadari beberapa dari keluarga Roma turut melihat keakraban mereka bahkan Togar dan Berta sangat bahagia melihat putri mereka disambut baik oleh pihak keluarga dari besannya.
Berta meneteskan airmatanya. "Ternyata boru kita si Badi begitu dicintai keluarga calon suaminya ya Pak–." ucapnya pada suaminya yang duduk disampingnya.
"Iya Mak, semoga saja Badi selalu bahagia." sambung Togar.
"Bapak sama Mamak ga usah khawatir, Bara sudah tahu kalau keluarga Tommy itu sangat menyayangi Badi, dan mereka tidak pernah sombong dengan apa yang mereka punya Mak, Pak. Tuan Prayoga adalah pengusaha ternama di Asia bahkan dimanca negara, tapi beliau tidak pernah merendahkan orang lain. Apalagi istrinya Nyonya Indah, beliau wanita berhati mulia. Mamak sama Bapak lihat sendiri kan betapa dia sangat menyayangi Badi." terang Bara dan dibalas anggukan kepala oleh kedua orangtuanya dan juga beberapa kerabat yang mendengar obrolan mereka.
"Iya nak. Kamu benar." Togar setuju dengan apa yang dikatakan putranya itu.
Acara lamaran Tommy pun selesai dan berjalan dengan lancar. Tinggal menunggu waktunya untuk menuju ke pelaminan.
Semua rombongan keluarga Tommy sudah kembali ke rumah mereka, berbeda dengan calon pengantin pria itu. Dirinya masih betah berbincang-bincang dengan keluarga Roma.
"Bang udah malem loh, Abang ga pulang?" Roma bertanya pada Tommy. Saat ini mereka sedang duduk berdua ditaman belakang rumah Roma.
"Kamu ngusir Abang dek?"
"Bukan ngusir Bang, aku takutnya Abang ga bisa bangun besok ke kantor."
"Besok hari minggu sayang–. Lupa ya?" Tommy menggamit hidung Roma.
"Eh iya ya? Kok aku jadi pelupa gini sih?" Roma mengusap kepalanya, ia salah tingkah lalu menyisir-nyisir rambutnya dengan jarinya.
"Oya Bang, apa ga ngerepotin Mami kalau nanti kita honeymoon nya rame-rame begitu?"
"Kenapa? Kamu risih? Maunya berdua aja sama Abang?" goda Tommy.
"Iiih apaan sih Bang–. Aku tuh ga enak aja sama Mami Bang. Pasti biayanya besar." Roma menyandarkan kepalanya dibahu Tommy.
"Kamu ga usah mikirin itu dek. Yang kamu harus pikirkan cukup Abangmu yang tamvan ini saja." goda Tommy sambil memainkan kedua alisnya.
Like Like Like 😍
Vote Vote Vote 🤗
Kembang dan Coffee juga boleh 😂