Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Berpisah



Tommy membuka pintu mobilnya setelah sampai disebuah mall besar. Lalu ia membuka pintu untuk Roma. Kemudian mereka berjalan bergandengan tangan.


Setelah antri membeli tiket dan beberapa cemilan dan minuman bersoda akhirnya teater dibuka dan mereka masuk kedalam gedung bioskop.


Roma begitu senang bisa kencan bersama Tommy. Meskipun kencan sederhana tapi sudah cukup menyenangkan baginya apalagi bagi yang Roma belum pernah kencan atau pacaran.


Menonton film romantis menjadi pilihan Roma. Sepanjang film ditayangkan Tommy hanya fokus pada gadis yang duduk disampingnya bukan pada film yang sedang tayang.


"Maafkan Abang ya dek. Abang tahu ini berat tapi Abang terpaksa melakukannya. Abang harap kamu mengerti dengan keputusan Abang ini. Berpisah denganmu tidak pernah terbesit dalam pikiranku. Ini ujian terberat yang pernah ku rasakan. Bahkan saat berpisah dengan Zia pun tidak terasa sesakit ini." Tanpa Roma sadari Tommy menangis dalam gelapnya gedung bioskop itu.


Tommy memeluk bahu Roma dan Roma pun menyandarkan kepalanya di dada Tommy. Menautkan jari-jari tangan mereka yang lain.


Setelah hampir dua jam, lampu bioskop menyala film pun berakhir dengan cepat Tommy menghapus airmatanya. Tommy tidak ingin Roma melihatnya menangis. Hari sudah hampir menjelang malam saat mereka sudah keluar dari gedung bioskop, matahari sudah tak terlihat lagi. Mereka berjalan menyusuri Mall itu, Tommy selalu menggandeng dan menggenggam tangan Roma dengan erat.


"Mau jalan kemana lagi Bang?"


"Dinner romantis ala sultan." jawab Tommy cepat sambil mencium puncak kepala gadis yang disampingnya.


"Serius? Abang kenal sama si Sultan? Emang apa bedanya dinner ala si Sultan sama dinner orang biasa? Setahuku Sultan itu biasa aja orangnya." Roma yang polos tentu tidak tahu bahasa-bahasa gaul saat ini, Ia berpikir kalau Sultan yang dimaksud Tommy itu adalah teman sekolahnya dulu. Selama ini dirinya hanya sibuk fokus dengan pasien, pasien dan pasien lagi sehingga kurang update dalam pergaulan masa kini.


"Ayo ikut Abang."


Tommy tidak menghiraukan omongan Roma, Ia menggenggam tangan Roma dan membawa Roma ke sebuah Restoran yang ada di mall itu. Sebelumnya Tommy sudah meminta bantuan Ken untuk mengosongkan Restoran itu selama 2 jam ke depan.


Ken sangat antusias ia mengira kalau Tommy berubah pikiran untuk berpisah dengan Roma dan akan melamar Roma malam itu dengan Dinner Romantis. Sehingga Ken menyulap restoran itu menjadi tempat yang sangat indah. Dengan berbagai dekorasi lilin dan bunga-bunga yang indah.


Tommy mengerutkan dahinya saat membuka restoran tersebut ia sangat bingung kenapa tempat itu berubah menjadi tempat yang sangat romantis.


"Apa yang sudah kau lakukan ini Ken?" Batin Tommy.


Sementara Roma sangat bahagia dirinya tidak menyangka kalau akan mendapat kejutan yang sangat indah dari Tommy.


"Terimakasih Bang buat kejutannya. Ini sangat luar biasa dan Indah sekali. Aku ga tahu kalau ternyata Abang romantis juga. Kapan Abang mempersiapkan semua ini?"


Tommy hanya tersenyum getir mendengar ucapan Roma.


"Bagaimana cara aku mengatakannya padamu dek? Ini adalah hadiah perpisahan dariku."


"Ayo masuk–." Tommy membawa Roma ke meja yang sudah tertata rapi dengan lilin diatasnya.


Beberapa pelayan langsung menghidangkan makanan di meja dan memainkan musik romantis untuk mereka malam itu.


"Ken kau sungguh keterlaluan. Mengapa kau buat ini menjadi makan malam romantis sementara aku akan mengucapkan kata pisah untuknya."


Roma terus saja tersenyum ia merasa sangat bahagia. Senyuman yang membuat hati Tommy merasa semakin sakit.


"Bagaimana mungkin aku tega menghilangkan senyuman itu dari wajahmu itu dek–."


Tidak ada banyak kata yang terucap dari bibir Roma, dirinya hanya tersenyum kagum pada apa yang terjadi malam itu. Menikmati makan malam romantis dengan orang yang sangat dicintai adalah impiannya selama ini.


Setelah selesai menikmati makan malamnya. Pelayan segera membersihkan meja mereka kemudian di ganti dengan menu dessert.


"Dek, ada yang ingin ku katakan padamu." Tommy terlihat gugup. "Sungguh berat rasanya, tapi aku harus melakukannya."


Roma menikmati puding yang baru saja dihidangkan oleh pelayan segera meletakkan sendoknya dan melihat pada mata Pria yang duduk di seberangnya itu.


"Apa Bang Tommy akan melamarku sekarang?" Senyuman yang tak pernah hilang dari bibirnya. Membayangkan Tommy akan mengucapkan kata-kata romantis.


"Bisa mengenalmu adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan kasih untukku. Ku lewati masa-masa sulitku hanya untuk bisa bersamamu. Berjuang melawan penyakit dan keluar dari lembah dosa yang selama ini ku perbuat. Aku mencintaimu Roma dan aku ingin selamanya bersamamu. Menua bersamamu adalah impianku saat ini." Tommy menghirup udara banyak-banyak, menarik nafasnya lalu menghembuskannya dengan berat.


Sakit yang Tommy rasakan melihat senyuman manis diwajah Roma tak tega rasanya menghapus senyuman itu. Tapi apalah daya, dirinya sudah tak mampu untuk melawan kehendak Abangnya itu.


"Abang tidak ingin melihat airmata menetes dari mata indahmu. Abang ingin kamu terus menjalani hari-hari mu dengan senyuman diwajahmu. Percayalah Abang selalu berjuang untuk kita." Tommy kembali menarik nafasnya dengan berat.


"Sebenarnya apa yang ingin Bang Tommy katakan padaku? Kenapa Bang Tommy berbicara seolah-olah ingin pergi jauh meninggalkan ku."


Tommy meraih tangan Roma yang duduk didepannya. Menggenggamnya erat seolah tidak ingin melepaskannya.


"Dek–, maafkan Abang ya. Abang harap kamu tidak marah dengan keputusan Abang ini. Mungkin akan terdengar Abang ini seperti laki-laki pengecut tapi untuk melepaskanmu ditengah jalan, itu juga Abang ga sanggup. Abang tidak ingin menyakitimu dan merusakmu karena keegoisan Abang." Airmata Tommy menetes dan Roma bingung melihat kenapa Tommy sampai menangis. Dan tidak terasa airmatanya pun ikut menetas.


"Sebenarnya apa yang ingin Abang katakan? Jangan membuatku takut begini Bang–." Perasaan Roma sudah mulai tidak karuan.


"Abang ingin hubungan ini kita akhiri disini saja."


Deg.


Hal yang tidak disangka-sangka akan terucap dari mulut kekasihnya itu.


"Apa maksud Abang? Abang bercanda kan Bang?" Roma berdiri melepaskan tangannya dari genggaman Tommy.


"Duduklah dulu." Tommy meraih kembali tangan Roma dan memintanya untuk duduk kembali.


"Maafkan Abang, Abang tidak sanggup menerima syarat yang diberikan Abangmu Bara. Dan Abang ingin kamu juga tidak menyalahkan Bara untuk hal ini. Abang yakin Bara juga menginginkan yang terbaik untukmu. Kalau kamu itu adalah jodoh Abang, percayalah Tuhan pasti akan mempertemukan kita kembali."


"Apa maksud Abang? Syarat apa yang Bang Bara minta dari Abang?" Roma tak dapat lagi membendung airmatanya. Dirinya tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Hayalan indah tentang lamaran yang didambakannya berubah menjadi kata perpisahan yang didengarnya dari kekasihnya itu.


"Maafkan Abang dek. Mungkin ini yang terbaik untukmu. Abang tidak ingin merusak masa depanmu hanya karena keegoisan Abang. Maafkan Abang." ucapnya lalu pergi meninggalkan Roma dan tidak menghiraukan Roma yang terus memanggilnya.


"Bang. Bang Tommy–." Roma menangis menatap punggung Tommy sampai Tommy menghilang dibalik pintu keluar.


"Ken tolong antarkan Roma pulang. Biar aku naik taksi saja ke bandara." ucap Tommy saat keluar dari Restoran itu. Tommy yakin kalau Ken pasti menunggunya disana.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu ini? Aku kira kau berubah pikiran. Ternyata kau hanya menuruti egomu saja."


"Kau lah yang salah Ken, aku hanya memintamu untuk mengosongkan tempat ini bukan memintamu membuatnya menjadi tempat yang romantis begini. Siapa yang ingin memutuskan kekasihnya ditempat romantis seperti ini. Dan kalau memang aku egois aku pasti akan menerima tantangan dari Bara. Tapi aku tidak ingin merusaknya Ken. Aku tak ingin membuatnya menjadi Janda diusianya yang masih mudah. Aku tidak ingin gagal untuk yang kedua kali. Tantangan Bara itu sungguh tidak masuk akal dan aku bukan Tuhan yang bisa membuat Roma hamil secepatnya. Semua orang ingin mendapatkan keturunan tapi untuk waktunya aku tidak bisa menentukan kapan waktunya. Jika dalam waktu 6 bulan Roma tidak hamil Bara memintaku untuk bercerai darinya. Dan aku tidak mungkin melakukan itu Ken. Jadi sebelum aku merusaknya lebih baik aku melepaskannya." ujarnya lalu meminta kunci mobil ken dan menggantinya dengan kunci mobilnya.


"Aku hanya mengambil koperku saja. Nanti kau bisa mengambil kunci mobilmu di pos security."


"Baiklah Tom."


"Dan tolong jangan kau beritahu pada siapapun kemana aku pergi bahkan pada Mami sekalipun. Jika kau lakukan itu, bersiaplah untuk angkat kaki dari perusahaanku."


"Aku mengerti."


Hai... Hai... Hai....


Maaf ya Author Lagi Busyyyy banget


Udah Up jangan lupa Like ya.


Ajakin teman, saudara, emak, bapak atau siapa aja untuk baca Karyanya Author ini.


Jika sudah di Klik Favorit jangan lupa Like setiap Episodenya yaa 😍