Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Roma Pulang Kerumah



Rumah Sakit Citra Medistra


Keesokan harinya, suasana berbeda dan menggemparkan Rumah Sakit Citra Medistra bagaimana tidak, biasanya rumah sakit itu dipenuhi dengan keramaian pasien yang berobat tapi untuk hari itu semua orang dibuat terkejut dengan penangkapan seorang dokter muda ahli bedah itu. Ya Rendi diringkus polisi setelah mereka mendapatkan bukti kuat tentang keterlibatannya dalam penculikan Roma.


Roma yang melihat langsung Rendi ditangkap polisi dengan tangannya yang diborgol sangat terkejut. Dirinya tak menyangka bahwa Rendi adalah pelaku dibalik penculikannya.


Saat polisi akan membawa Rendi tiba-tiba saja Roma berlari kearah mereka Roma menghentikan polisi dengan merentangkan tangannya. Dia berjalan mendekati Rendi dan menarik-narik kerah bajunya.


"Kenapa Ren? Kenapa lo lakuin itu sama gue? Apa salah gue sama lo?" Roma berteriak histeris tidak percaya kalau laki-laki yang sudah dianggapnya sebagai sahabatnya itu tega menusuknya dari belakang.


Rendi hanya diam dan tersenyum sinis, dirinya tidak menjawab pertanyaan dari Roma.


"Maaf, kami harus membawanya sekarang." salah satu petugas kepolisian itu melepaskan tangan Roma dari baju Rendi.


Tidak hanya penangkapan Rendi yang dibuat heboh, penangkapan putri tunggal dari pemilik perusahaan PT DIRGANTAR itu pun juga tak kalah menghebohkan seluruh karyawan perusahaan itu, mereka tidak menyangka kalau wanita cantik yang sangat dihormati diperusahaan itu adalah dalang penculikan sekaligus percobaan pembunuhan seorang dokter muda.


"Lepas–, lepaskan aku. Aku tidak bersalah." teriak Bella saat petugas polisi akan membawanya.


Semua orang yang melihat saat penangkapan Bella dikantornya itu. Sebagian karyawan ada yang mencibirnya dan ada juga yang bersimpati padanya. Ricardo Smith orangtua Bella sedang berada diluar negeri sehingga dirinya tidak tahu tentang penangkapan putrinya itu. Bella meminta pengacaranya untuk tidak memberitahukan pada Daddynya apa yang terjadi padanya saat itu. Entah apa yang akan Ricardo lakukan bila mengetahui putrinya melakukan tindakan percobaan pembunuhan kepada orang lain.


*


*


*


*


*


Para pengagum dokter Rendi pun tampak kesal dan merasa ngeri, mereka tak menyangka kalau dokter tampan itu sanggup melakukan tindakan kriminal yang melanggar hukum. Dan tak tanggung-tanggung yang menjadi korbannya adalah rekan sejawatnya sendiri, bahkan banyak yang mengira kalau sebelumnya Rendi itu adalah pasangan Roma, dokter yang dikenal dengan nama dokter Uly.


Sejak kemarin Tommy sangat khawatir pada kekasihnya itu. Dia setengah berlari menuju kamar Roma dirawat. Tidak ada lagi pengamanan polisi disana seperti yang Barman katakan padanya kemarin dan itu membuat Tommy khawatir.


Tommy membuka pintu dan dilihatnya Roma sedang duduk termenung disisi tempat tidurnya dengan tangannya yang sudah dilepas dari infusnya.


"Roma–."


Roma pun tersadar dan menoleh kearah suara yang memanggilnya itu.


"Bang Tommy." Ia langsung memeluk pria yang telah berdiri didepannya itu. Tommy pun membalas pelukan dari kekasihnya.


"Ku kira Abang ga bisa melihatmu lagi dek. Maafkan Abang yah–." Roma melonggarkan pelukannya lalu melihat netra kekasihnya itu.


"Aku baik-baik saja Bang." Ia pun tersenyum.


"Kamu ga tahu seberapa takutnya aku kehilanganmu. Aku melihatmu diculik tapi saat mereka membawamu pergi aku ga bisa berbuat apa-apa."


"Sudahlah Bang, jangan kita ingat-ingat lagi kejadian yang sudah berlalu. Waktu itu abang juga pingsan kan. Aku ga menyalahkan Abang jadi Abang ga perlu minta maaf dan merasa bersalah begitu." Roma mengusap-usap punggung tangan Tommy.


"Tapi semua ini karena salahku dek–, mereka ingin mencelakai mu karena dendam denganku."


"Ga Bang–, kenapa mereka dendam dengan Abang? Mungkin Rendi sudah lama membenciku dan pura-pura baik padaku. Dan dia dendam padaku."


"Atas dasar apa dia dendam padamu dek?"


"Dulu aku pernah menolaknya Bang." Roma tidak ingin menambah beban pikiran Tommy dan membuatnya semakin merasa bersalah.


"Ya sudahlah, kalau begitu kita pulang sekarang ya." ajak Tommy lalu membantu Roma untuk membereskan barang-barangnya.


"Ngomong-ngomong kemana para polisi yang menjaga mu?"


"Tadi setelah penangkapan Rendi, Bang Barman meminta mereka untuk kembali bekerja. Karena pelakunya sudah tertangkap Bang Barman sudah merasa aman makanya mereka dipulangkan."


"Terus Lae Barman sendiri kemana?"


"Ya kerjalah, masa jagain aku terus. Lagi pula ini sudah siang Bang, mana berani para penjahat itu datang siang-siang bolong begini." Tommy menautkan kedua alisnya merasa tidak puas dengan jawaban dari Roma.


"Kamu lupa dek? Kamu diculik itu juga siang hari loh. Jadi kamu juga harus tetap waspada. Jangan sepele begitu–." Tommy mengingatkan Roma untuk tetap berhati-hati.


"Iya Abaaang–." Roma mencubit pelan hidung Tommy. "Lagian disini banyak dokter dan perawat yang jagain aku."


...🔹🔹🔹...


Tommy melajukan mobilnya, tidak banyak kata yang terucap dari bibirnya. Dirinya kesal karena Roma selalu membantah ucapannya. Sementara Roma sibuk dengan ponselnya. Meminta Dewi untuk mengatur ulang semua jadwal pasien-pasiennya.


"Loh Bang, kok kita kesini?" Roma baru sadar kalau Tommy membawanya kerumah orangtuanya bukan ke Apartemennya.


"Mami pengen ketemu kamu. Sejak tahu kamu diculik Mami panik. Tadi malam pengen nyamperin kamu kerumah sakit tapi Abang larang karena Abang sendiri aja dilarang jagain kamu sama Lae Barman dan Bara apalagi Mami."


"Bukan melarang kali Bang, mungkin lebih tepatnya Bang Barman pengen Abang istirahat juga, kan Abang juga belum ada istirahat." Roma ingin meluruskan kesalahpahaman antara Tommy kekasihnya dengan Barman Abangnya.


"Ya udah kita masuk yuk." Tommy menggandeng tangan Roma males rasanya berdebat terus dengan kekasihnya itu.


Saat memasuki rumah Tommy ternyata bukan hanya Indah dan Prayoga saja yang menyambutnya. Disana sudah ada Zia dan Candra suaminya dan juga Zio dan Rara beserta anak-anak mereka.


"Wah, kenapa jadi rame begini?" tanya Tommy yang tidak tahu kedatangan sikembar Zia dan Zio.


"Roma–." Zia dan Rara menghampiri Roma lalu memeluknya bergantian.


"Aku ga dipeluk Zi?" Tommy sengaja menggoda Roma dan Candra. Dan benar saja Tommy langsung mendapat tatapan tajam dari Candra dan juga sebuah cubitan dipinggangnya dari Roma.


"Auuw...Bercanda dek–." Tommy mengusap kepala Roma. Lalu mengusap-usap perutnya yang dicubit Roma.


"Sayang kemarilah–." Indah meminta Roma untuk duduk disampingnya lalu memeluk Roma dan mencium wajah Roma bertubi-tubi.


"Syukurlah kamu tidak apa-apa sayang." Roma yang mendapat ciuman bertubi-tubi dari Indah hanya bisa tersenyum.


"Mami, udah dong–. Aku aja belum ada cium dia, ga enaklah kalau nanti aku cium bekas punya Mami." protes Tommy, dan sebuah pukulan pun mendarat di badannya.


"Dasar anak kurang ajar kamu, ngomong ga pake filter lagi." ucap Prayoga.


"Bagaimana ceritanya Tom? Kok bisa kalian sampai diculik begitu?" tanya Zio yang penasaran.


"Lo harus tuntut dan jerat mereka dengan hukuman yang setimpal dan jangan biarkan mereka keluar dengan jaminan. Gue ga mau berdamai dengan mereka. Dan gue ga mau kalau sampai mereka menyakiti Roma lagi." Perintahnya pada Zio yang adalah seorang Jaksa.


"Lo tenang aja. Nanti gue yang urus." ucap Zio mantap.


"Kamu bilang Bella itu anaknya Ricardo Smith?" tanya Prayoga yang teringat dengan cerita putranya sebelum menjemput Roma ke Rumah Sakit.


"Iya Pi–."


"Hmmmm–." Prayoga mengangguk-anggukan kepalanya.


"Papi kenapa? Apa yang akan Papi lakukan sama Om Ricardo?" Tommy pun penasaran melihat anggukan kepala Prayoga yang sepertinya merencanakan sesuatu yang tidak ia ketahui.


"Tidak ada, hanya saja Papi heran karena tadi siang dia sempat menghubungi Papi tapi tidak ada membahas masalah putrinya. Sepertinya dia belum tahu apa yang terjadi dengan putrinya." jelas Prayoga.


"Papi jangan mau kerjasama dengan keluarga mereka ya Pi, Mami pernah dengar kalau mereka itu selalu pakai kekerasan dalam berbisnis." Indah teringat perkataan suaminya kalau perusahaan Ricardo yang ada di Jepang sedang mengalami masalah dan Ia meminta bantuan dari beberapa perusahaan besar termasuk perusahaan suaminya.


"Belum ada kesepakatan Mi, Papi juga tahu apa yang harus Papi lakukan jadi Mami ga usah khawatir begitu." Prayoga menenangkan hati Istrinya.


"Zio, bantu anak Mami ya, hukum mereka yang seberat-beratnya." Indah yang merasa geram pada penculik yang sudah menculik calon menantunya itu menatap Zio dan berharap Zio akan membantunya.


"Mami tenang saja, Zio akan lakukan yang terbaik."


"Terimakasih Zio." ucap Indah tulus.


Tommy mendekati Zio dan meminta Zio untuk mengikutinya ke kamarnya. Zio pun menyusul Tommy ke kamarnya sementara mereka yang tinggal diruang keluarga itu sedang menikmati temu kangennya bersama Roma.


"Zio, gue minta lo selidiki siapa orang yang sudah menjamin kebebasan Sandy."


"Apa Sandy bebas?" Zio sangat terkejut, ternyata dirinya belum mengetahui tentang kebebasan Sandy.


"Iya sudah sebulan yang lalu."


"Ok Tom, lo tenang aja. Nanti pasti gue kabari lo." ucap Zio "Terus bagaimana bisa kalian sampai diculik?"


Tommy pun menceritakan semua kejadian yang sebenarnya mulai dari supir yang menyamar sebagai supir baru diperusahaannya, sampai orang yang memasang boom bunuh diri ditubuh Roma. Semua ia ceritakan tanpa ada satupun yang terlewatkan.