
Yang belum nikah Skip dulu yach š¤
Adegan 21+++
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Tommy sedang menenangkan istrinya yang ketakutan dan ditemani oleh Indah, mertuanya dan yang lainnya. Tak menyangka kalau malam pengantin mereka akan terganggu dengan adanya teror dari orang yang belum diketahui siapa pengirimnya.
Tentu saja tersangka utama adalah pelayan hotel yang mengantarkan paket itu ke kamar mereka. Barman dan beberapa dari pihak kepolisian segera men-cek kamera CCTV hotel.
Hotel itu adalah hotel milik keluarga Prayoga tidak mungkin pengirimnya itu bisa mengantarkannya tanpa bantuan dari orang dalam. Tapi siapa yang akan curiga? Karena terornya berbentuk kado untuk pernikahan mereka.
"Sudah sayang kamu jangan panik begitu. Kita pasti bisa menemukan pelakunya." Indah memeluk Roma yang masih ketakutan.
"Apa sebaiknya kalian pindah kamar saja?" tanya Prayoga.
"Ga perlu lah Pi, orang itu pasti ga berani datang lagi. Sebaiknya Papi dan Mami juga istirahat, biar masalah ini ditangani pihak kepolisian saja." ucapnya pada kedua orangtuanya yang juga tampak khawatir dengan kondisi Istrinya. "Kalian juga istirahat saja." ujar Tommy pada semua yang berkumpul dikamar mereka.
"Bilang aja lo mau enak-enak kan sama si Roma." begitulah arti tatapan tajam Ken yang melihat wajah sahabatnya itu.
"Iya, emang lo mau apa? Dasar jomblo akut." Tommy membalas tatapan Ken, seolah tahu apa yang dipikirkan sahabatnya itu.
Semua yang datang ke kamar pengantin Tommy mulai bubar satu per satu menyisakah Berta dan Togar.
"Bapak sama Mamak juga sebaiknya istirahat, ini sudah malam Pak. Mamak juga pasti capek kan melayani tamu-tamu undangan tadi." Tommy memanggil mertuanya itu sama seperti Roma memanggil kedua orangtuanya yang seharusnya dia harus memanggil Amang untuk ayah mertuanya dan Inang untuk Ibu mertuanya.
"Badi kamu jangan khawatir kalau ada apa-apa, cepat kasih tahu Bapak sama Mamak ya Boru." ucap Togar sambil mengelus rambut Roma. "Tolong kau jaga boru kami ini ya Amang hela." pesannya pada Tommy.
"Iya Pak, Tommy pasti akan jaga istri Tommy dengan baik."
Setelah mendengar jawaban dari menantunya itu akhirnya Togar dan Berta meninggalkan kamar mereka.
"Kamu jangan takut begitu dong dek. Disini kan ada Abang. Sebentar lagi pasti orang itu akan tertangkap." Ketika selesai mengucapkan kalimatnya ponsel Tommy berdering. Tertera nama Ken yang memanggilnya.
"Ada apa Ken?"
"Sandy, Sandy datang ke pesta lo tadi."
Deg.
"Apa? Sandy? Bagaimana bisa? Bukannya lo bilang dia sedang disingapura?" Roma kaget mendengar suara Tommy yang tiba-tiba meninggi.
"Siapa yang menelpon BangTommy? Kok sepertinya Bang Tommy kesal begitu?" Batin Roma.
"Sepertinya dia baru datang dari Singapura malam ini dan langsung datang ke resepsi pernikahan lo pas orang-orang yang jaga sedang menikmati makanan mereka." jelas Ken sambil melihat rekaman CCTV yang tertangkap wajah Sandy.
"Sial, jadi dimana dia sekarang?"
"Lo tenang aja, pihak kepolisian dan beberapa anak buah kita sedang melacak keberadaannya. Dan benar pelayan tadi itu orang suruhannya. Tapiā" Ken menjeda ucapannya saat menemukan ada keganjalan dari rekaman CCTV itu.
"Tapi apa?"
"Dari sudut CCTV yang ada didepan kamar Roma disini terlihat Sandy masuk ke kamar Roma dan keluar dengan ekspresi wajah yang senang." jelas Ken.
"Apa? Ke kamar siapa?"
"Bini Lo ogebā."
"Sialan Lo."
"Udah, lo tanyain bini lo sono, ngapain tuh si kutu kunyuk masuk kamar bini lo tadi."
"Oke. Kirim rekaman CCTVnya dan segera pecat pelayan itu dan beri dia hukuman yang pantas." Perintah Tommy tegas, ia begitu kesal kenapa bisa ada orang yang mau melakukan kejahatan hanya demi uang.
"Sandy siapa mas?" Roma yang tadinya hanya diam saja saat mendengar suaminya itu bicara ditelpon dengan asistennya membuatnya bertanya karena penasaran dengan pria yang disebut namanya Sandy itu.
Tommy membuka pesan video yang dikirim Ken padanya dan langsung memutarnya dan menunjukkannya pada Roma.
"Kamu kenal sama orang ini dek?" Tommy menyodorkan video yang di handphonenya.
"Kenal, dia salah satu pasienku Evan namanya."
"Apa? Pasienmu? Serius dek? Terus ngapain dia datang ke kamarmu tadi?" Tommy terperangah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Kenapa sih mas? Iya dia pasien aku. Tadi dia datang ngucapin selamat atas pernikahan kita."
"Sejak kapan dia jadi pasien kamu?"
"Udah 3 bulanan ini dia rutin konsul sama aku dua minggu sekali."
"Dia konsul tentang apa?" Tommy semakin penasaran saja dibuatnya. Dirinya ingin tahu untuk apa Sandy menemui Roma.
"Mas, itu privasi pasien, aku ga bisa omongin sama kamu mas."
"Tapi dia Sandy dekā, orang yang pernah nusuk kamu di London." ucap Tommy kesal karena Roma tidak mau memberitahu alasan Sandy konsultasi dengannya.
"Apa? Serius mas? Ahk, ga mungkin lah mas, mas salah orang kali." Roma menyangkal ucapan Tommy, dirinya tidak percaya dengan apa yang baru Tommy katakan pasalnya selama konsultasi dengannya pria itu tidak menunjukkan sesuatu yang mencurigakan untuk menyakitinya.
"Namanya Sandy Evan Baskaraā."
"Tunggu-tunggu, mas bilang namanya siapa?" Roma mengingat-ingat kembali nama yabg tertera di rekam medis pasiennya itu.
"Sandy Evan Baskara." Tommy mengulangi perkataannya.
"S. Evan Baskara, jadi benar dia orang yang sama dengan yang di maksud mas Tommy. Dia sengaja mendekatiku dengan penyamarannya sebagai Evan?" Roma menggumam tapi Tommy masih bisa mendengarnya.
"Iya dek, ga salah lagi dia ini orangnya. Mungkin dia sengaja mendekatimu untuk membalas dendam padaku."
"Emang dia dendam apa sama mas?" Roma menatap tajam mata Tommy.
"Mas akan menceritakan semuanya tapi janjinya kamu jangan marah."
"Tergantungā."
"Dek sekarang bukan saatnya bercanda. Kalau kamu ga mau dengerin mas, ya udah mas ga jadi cerita."
"Dih, gitu aja ngambek." cibir Roma.
"Mas serius nih dek."
"Iya, iya. Aku janji ga akan marah."
Tommy pun mulai menceritakan hubungannya dengan Sandy.
"Sandy itu orang yang udah nusuk kamu di London dulu. Sebelumnya dia itu kekasihku."
Deg.
"Jadi pria ini patner gaynya mas Tommy? Pantas saja alasannya mendekatiku sama seperti mas Tommy yang ingin sembuh dari kelainan sexualnya. Tapi benarkah dia mendekatiku karena ingin sembuh? Atau ada tujuan yang lain? Apa mungkin dia mendekati ku karena dia tahu aku kekasih Mas Tommy? Dan dia datang ke pesta pernikahan kami hanya pura-pura memberi selamat, padahal dia pelaku teror sebenarnya?" Banyak rentetan pertanyaan yang mengusik pikirannya.
"Dek, dekā." panggil Tommy yang melihat Roma tiba-tiba bengong.
"Hah iya, apa?" tanya Roma seperti orang linglung.
"Kamu dengar ga sih, mas cerita?"
Hah, Iya dengarā, maaf tadi aku ga fokus."
"Oke, Mas lanjutin. Dia itu mantan pacar mas dan karena dia juga aku terjerumus ke dunia yang tak seharusnya aku masuki."
"Mas memutuskan hubungan dengannya setelah mas memiliki perasaan lain yang tak seharusnya ada, kamu tahu kan kalau setelah bercerai dengan Zia, mas sempat suka sama Zia."
"Hmm aku tahu." jawabnya malas bila mengingat kejadian bodoh saat dirinya mengejar-ngejar Tommy yang jelas-jelas memiliki perasaan pada sahabatnya itu.
"Nah, saat itu dia ga terima kalau mas putusin dia. Sebenarnya yang jadi incarannya adalah Zia tapi naasnya kamu yang kena tusukannya."
"Terus dia mau apa sekarang? Aku harus gimana mas? Bukannya orang yang nusuk aku itu seharusnya masih dipenjara?" Roma mulai terlihat ketakutan.
"Dia bebas karena ada penjaminnya. Kamu tahu siapa orangnya?" Roma menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Rendi, dokter Rendi teman kamu itu, ternyata dia adalah sepupu Sandy. Mas baru tahu sebulan yang lalu saat Fernando menyelidiki kasus penculikan mu itu."
"Jadi aku harus gimana mas, aku takut dia akan datang konsultasi lagi nanti. Dan ga mungkin aku menolak pasien mas." Roma semakin gugup, takut kalau Sandy benar-benar akan datang menemuinya lagi.
"Kamu tenang aja sayang. Nanti biar mas yang akan mengurusnya." Tommy memeluk Roma dan membawanya untuk tidur karena sesuatu yang lain dari dirinya ada yang bangun.
"Kok bisa sih mas, kamu punya mantan jahat begitu?"
"Mas ga tahu dek, udah ya ngebahas orang lain. Mas mau ngebahas masalah kita aja." tangan Tommy mulai nakal, sebelumnya dia hanya memeluk Roma untuk menenangkan istrinya itu tapi tangannya mulai bergerilya merayap ke bukit kembar milik istrinya itu.
Roma mendesah, desiran darahnya mengalir sampai ke seluruh tubuhnya merasakan sesuatu yang lain dari suaminya itu. Rasa geli dan nikmat menyatu menjadi satu membuat tubuhnya menggeliat tak mau diam.
Tommy mencium bibir Roma dan dibalas oleh Roma yang sudah sah menjadi istrinya beberapa jam yang lalu. Malam pengantin yang seharusnya bisa dirasakannya sejak awal tadi jadi tertunda karena teror sialan itu. Kedua insan itu saling bercumbu, memadu kasih dan berbagi cinta satu sama lainnya.
Aktivitas yang sempat tertunda kini sudah dimulai kembali. Tommy melepaskan semua pakaian istrinya itu sehingga Tommy dapat melihat dengan jelas tubuh polos istrinya itu. Roma menyilangkan tangannya karena malu, ia menutupi dadanya yang sudah polos itu.
"Lepas dek, jangan ditutupi begitu."
"Aku malu masā."
"Ga usah malu, mas udah liat semuanya."
Tommy kembali mencium bibir Roma, memegang tangan Roma yang menutupi bagian favoritnya itu. Diciumnya semua bagian tubuh istrinya itu. Dari ujung kepalanya hingga ujung kakinya.
"Dek, mas udah ga tahan. Kamu tahan dikit ya."
Roma tidak menjawab dia hanya memejamkan matanya merasakan perih dibagian bawahnya. Roma meringis kesakitan. Tommy memulai penyatuannya.
"Tahan ya sayangā." Tommy menghujamkan miliknya membuat Roma menjerit, numun dengan cepat Tommy kembali mel*mat bibir istrinya itu.
Roma mulai tenang dan bernafas biasa, lama kelamaan rasa sakit yang dirasakannya berubah menjadi kenikmatan yang tiada taranya, yang biasanya orang bilang surga dunia.