
Roma merasa mendapatkan titik terang setelah bertemu dengan Zia. Tanpa berpikir kalau hari sudah malam ia terus melajukan mobilnya menuju apartemen Kendrick sahabat sekaligus orang kepercayaan Tommy itu.
Roma menekan bell apartemen Ken dan tanpa menunggu lama pintu dibuka dan terlihatlah wajah Ken yang terkejut ketika melihat Roma sudah berdiri didepan pintu apartemennya.
"No-nona Roma, sedang apa Nona disini?"
"Apa aku boleh masuk?" Ken yang terkejut dengan kedatangan Roma ke apartemennya sampai lupa mempersilahkan Roma masuk.
"Maaf Nona, silahkan masuk."
Dan tanpa menunggu dipersilakan duduk Roma langsung duduk di sofa diruangan itu.
"Mau minum apa Nona?" tanya Ken menawarkan minuman kepada Roma sebagai keramahtamahannya.
"Ga perlu basa basi." jawab Roma ketus.
"Aku tahu apa tujuanmu jauh-jauh datang kesini Nona."
"Aku langsung ke intinya saja. Dimana Bang Tommy sekarang?" ucap Roma masih saja ketus.
"Maaf untuk itu saya tidak bisa mengatakannya Nona."
"Tuan sedang mengurus proyek di kantor cabang Nona."
"Aku ga tanya pekerjaannya, yang aku tanyakan dimana Bang Tommy sekarang?" tanyanya pelan sambil menahan amarahnya.
"Untuk itu, maaf saya tidak bisa mengatakannya Nona. Silahkan Nona menghubungi Tuan Tommy langsung."
Roma berusaha untuk tidak menangis didepan Ken. Ia sengaja berucap ketus dan keras, hanya untuk menutupi kegugupan dan risau hatinya.
"Kalau HP Bang Tommy bisa dihubungi aku ga perlu jauh-jauh datang ke apartemenmu ini. Cepat katakan dimana Tommy sekarang?" Roma meninggikan suaranya dan seketika itu pula tangis yang sudah berusaha ditahannya dari tadi akhirnya pecah.
"Maaf Nona, saya sudah berjanji pada Tommy kalau saya tidak akan memberitahu dimana keberadaannya saat ini."
"Maafkan saya Nona." Sebenarnya Ken tak tega melihat Roma yang sangat rapuh saat itu. Tapi dirinya juga tidak punya pilihan lain.
Roma meninggalkan apartemen Ken dengan hati yang kecewa. Dengan langkah yang gontai ia terus berjalan menuju tempat mobilnya terparkir.
Ken yang merasa bersalah mengikuti Roma diam-diam dari belakangnya. Ken melihat Roma menekan tombol kunci untuk membuka pintu mobilnya. Kemudian ia masuk ke dalam mobil. Ken dapat melihat dengan jelas tangan Roma bergetar, airmata yang menutupi pandangannya saat ingin memasukkan kunci mobil yang tak berhasil ia masukkan. Kunci itu terjatuh, Roma menangis meletakkan kepalanya diatas stir mobilnya.
Ken membuka pintu mobil Roma. "Keluarlah Nona biar saya yang mengantar Nona pulang."
Roma tidak peduli dengan ucapan Ken. Ia tetap memeluk stir mobilnya.
"Nona–." Ken menyentuh bahu Roma dengan tangan kirinya.
"Pergi... Pergi... PERRGGGIIIII...!!!" Roma berteriak histeris menatap Ken dengan linangan airmata dimatanya. Dan seketika itu pula pandangan Roma kabur, ia pingsan dibangku kemudinya.
"Nona–, bangun Nona. Nona–!!" Ken menepuk-nepuk pelan pipi Roma tapi Roma tidak sadar juga.
Ken membuka pintu belakang mobil. Lalu menggendong Roma keluar dari bangku kemudinya dan meletakkan Roma di bangku belakang.
Ken mengambil kunci mobil yang terjatuh lalu langsung membawa Roma kerumah sakit. Roma pingsan karena seharian itu dirinya tidak memakan makanan apapun. Bahkan setelah Tommy memutuskannya, dirinya tidak lagi berselera untuk makan.
Selain asam lambungnya yang naik. Roma juga didiagnosa menderita gejala tipus sehingga dokter memintanya untuk dirawat di Rumah Sakit.
Ken langsung menghubungi keluarga Roma, ia memutuskan untuk menghubungi Banu. Karena hanya nomor telepon Banu yang ia miliki. Itupun Ken menyimpannya karena kerjasama mereka pada usaha Showroom Mobil yang Tommy miliki.
...🍥🍥🍥...
Di Tempat Persembunyian Tommy
Meskipun Tommy pergi meninggalkan Roma tapi tak sehari pun bahkan tak sedetikpun dirinya bisa melupakan Roma. Ia selalu mendapatkan informasi tentang Roma dari Ken. Secara diam-diam Ken meminta salah seorang anak buahnya untuk mengikuti kemana pun Roma pergi dan apa saja yang dilakukan Roma semuanya dilaporkannya pada Tommy.
"Ken bagaimana keadaan Roma sekarang?" Tommy bertanya melalui panggilan video pada sahabatnya itu. Dirinya sedang bersantai disalah satu hotel miliknya di Korea.
Kalau saja Ken bisa jujur, dirinya ingin sekali memaki sahabatnya itu.
"Kalau kau masih peduli dengannya, pulanglah selesaikan masalahmu dengannya. Apa kau tidak kasihan padanya? Sekarang dirinya lebih sering melamun dan menangis. Sudah tiga hari dia dirawat tapi kenapa kau tidak mau pulang melihatnya?" Ken tampak kesal, apalagi setelah kepergian Tommy pekerjaannya jadi lebih banyak dari biasanya.
"Kalau aku pulang, akan sulit untukku melupakannya Ken." Jawabnya santai sambil menikmati makan malamnya.
"Tapi bagaimana kau akan lupa padanya sedangkan setiap hari kau selalu menanyakan kabarnya padaku."
"Hanya sampai dia sembuh. Aku hanya ingin tahu keadaannya hanya sampai dia sembuh saja."
"Kalau Lo pengen liat dia sembuh, cepat pulang dan selesaikan masalah kalian. Lo itu udah kayak anak kecil pake acara kabur-kaburan segala. Kalau ada masalah itu kalau bisa diselesaikan bukan dihindari." Ken geram dirinya pun tidak mau lagi bicara formal pada atasannya itu.
"Tapi dia ga baik-baik saja DODOL." Ken geram dan sengaja menekan kata terakhirnya.
"Lo makin lama makin ngelunjak ya Ken? Ntar gue pecat baru tahu Lo–." Tommy sengaja mengancam Ken. Tapi bukan Ken namanya kalau takut dengan ancaman Tommy.
"BODO–, ini terakhir kali gue kasih informasi tentang Roma ke Elo, kalau lo masih mau tahu gimana perkembangan kesehatannya silahkan lo cari tau sendiri dari keluarganya." Kendrick langsung memutuskan sambungan panggilan videonya.
"Kurang aja si Ken, makin lama makin ga bisa dihandalkan." gerutu Tommy karena Ken memutuskan panggilan teleponnya secara sepihak.
*
*
*
*
*
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan itu adalah salah satu pepatah yang kerap kali kita dengar. Meski terlihat mudah, tapi nyatanya masih banyak orang yang sulit melepaskan seseorang, terutama dengan orang yang ia cintai.
Merelakan berpisah dari Tommy yang telah mengisi penuh hati dan hidupnya merupakan hal yang sulit baginya.
Walaupun terasa amat berat, perpisahanlah yang mengajarkan keikhlasan dan kedewasaan dalam hidup kita.
"Badi–." Suara Bara menyadarkan Roma dari lamunannya. Ia menyeka airmatanya berusaha tetap tegar didepan keluarganya.
"Apa aku sudah keterlaluan ya? Aku tidak tahu kalau Badi akan semenderita ini." Bara merasa bersalah pada adiknya itu.
Siapa sih yang rela melepaskan adik perempuan satu-satunyanya untuk menikah dengan laki-laki yang pernah gagal dalam rumah tangganya apalagi penyebab perceraiannya adalah hal yang tak lumrah. Itulah yang dirasakan Bara ketika pertama kali tahu saat Roma mengatakan alasan kenapa Tommy bercerai dengan Zia istrinya sebelumnya.
Semua yang bersaudara pasti ingin melihat saudara-saudaranya bahagia. Bara tidak merasa bersalah telah mengatakan syaratbk itu pada Tommy yang membuatnya putus dengan adiknya itu.
"Bang Bara, ada apa Bang?" Bara duduk disamping Roma di tempat tidur rawat inap tempat Roma dirawat.
"Apa kamu baik-baik saja?" Bara sangat khawatir dengan adiknya itu, pasalnya Roma sering terlihat melamun.
"Aku baik Bang. Sepulang dari Rumah Sakit ini aku pengen cuti Bang." Roma sudah memantapkan hatinya. Dirinya akan merelakan hubungannya dengan Tommy seperti keinginan Tommy meskipun sebenarnya dirinya masih tak rela.
"Kau mau kemana?" Bara takut Roma melakukan hal yang bodoh dan merugikan dirinya sendiri
"Aku pengen liburan ke kampung aja Bang."
"Tapi keluarga kita ga ada lagi yang tinggal dikampung dek, semua sudah pada merantau. Siapa yang akan kau temui disana?"
"Aku pengen jalan-jalan ke Parapat aja Bang. Nginap disana beberapa hari aja." Pintanya pada Bara.
"Tapi Abang lagi sibuk-sibuknya sekarang, siapa yang akan menemanimu disana?"
"Aku bisa pergi sendiri Bang. Tolong jangan bilang sama Mamak dan Bapak ya Bang–. Aku cuma pengen nenangin pikiranku aja Bang."
"Kenapa harus ke Sumatera? Kenapa ga ke Jogja atau ke Bali aja?"
"Aku pengennya kesana Bang, udah lama ga jalan-jalan ke Danau Toba. Terakhir waktu aku masih SMP bareng Abang-abang semua."
"Ya sudah. Tapi kamu harus janji kalau ada apa-apa cepat hubungi Abang ya."
"Iya, aku pengen berangkat hari ini juga Bang."
"Tapi kamu masih belum sehat dek–."
"Abang ga usah khawatir, aku bisa merawat diriku sendiri Bang."
"Kalau memang kamu bisa merawat dirimu sendiri, kenapa kamu bisa sampai pingsan dan harus dirawat seperti ini?" Roma terdiam apa yang baru saja Abangnya katakan itu adalah benar.
"Aku janji Bang, aku ga akan melakukan hal bodoh lagi yang bisa merugikan diriku sendiri."
"Oke, biar Abang yang mempersiapkan keberangkatan mu."
Maaf telat Up 🙏 Semoga kalian syuka 😍
Jangan lupa untuk Like Vote dan coment ya.🤗
Terimakasih 🙏