
Setelah selesai menikmati makanannya Tommy dan Roma memilih untuk berjalan-jalan di pantai. Menikmati keindahan kepulauan Maldives.
Maldives identik dengan pantai-pantai indah, serta suasana alam yang tenang. Karena itu, negara kepulauan ini sering direkomendasikan sebagai salah satu tujuan wisata honeymoon terbaik.
Tommy dan Roma lalu duduk di bangku santai yang ada di pantai itu. Menunggu sang senja datang untuk menikmati sunset yang indah. Tak lupa mereka mengabadikan moment-moment bahagia itu. Roma sudah seperti model papan atas saja dibuatnya. Bergaya dan menikmati setiap jepretan-jepretan suaminya itu.
"Mas, gantian sini aku fotoin–." Roma meminta camera yang ditangan Tommy tapi Tommy tidak mau memberinya.
"Ga usah biar mas fotoin kamu aja."
"Kalau gitu aku mau foto bareng." rengek Roma.
Kebetulan Ken dan Mita lewat juga berjalan kearah mereka.
"Ken, tolongin gue." teriak Tommy, lalu Ken berjalan mendekat. "Tolong fotoin kita." ucapnya lalu memberikan sebuah camera digital kepada Ken.
"Kenapa muka lo suntuk gitu. Ini liburan bro, kenapa muka ditekuk begitu? Emang pasangan lo kurang cantik apa?" goda Tommy sambil melirik kearah Mita.
"Sialan lo–, jangan ngomong gitu dong. Ntar dia malu terus nolak gue. Apa lo mau liat gue gagal mulu kalau berurusan sama cinta?" ucapnya sambil melihat raut wajah Mita yang tiba-tiba merona kayak kepiting rebus.
"Terus kenapa muka lo anyep gitu?" tanya Tommy lagi. Bukan menjawab pertanyaan atasannya itu Ken malah menarik tangan Tommy sedikit menjauh dari Roma dan Mita.
Kedua gadis itu sedang asyik berfoto bersama dan saling bergantian memofo satu dan yang lainnya.
"Ada apa?" tanya Tommy semakin penasaran.
"Gue baru dapat informasi dari Fernando kalau ternyata Sandy ada disini." ucap Ken tanpa basa-basi.
"What??" suara Tommy mengagetkan kedua gadis itu.
"Pelanin suara lo O-on, apa lo mau bini lo dan yang lainnya tahu, terus khawatir?"
"Sorry-sorry gue kaget aja dengernya, kok bisa dia sampai kesini. Terus Fernando bisa melacak dimana keberadaannya sekarang? Gimana sih cara kerjanya FBI ini, masa ngurus orang sebiji aja sampe sekarang ga tuntas juga." gerutu Tommy.
"Gue udah kasih tahu Ipar lo Bang Barman, dan dia sudah menghubungi pihak FBI yang ada bekerjasama dengan negara ini. Mereka juga sudah mengirimkan beberapa orang untuk berjaga-jaga disekitar tempat ini. Tapi gue khawatir liburan ini akan berantakan karena mahluk itu."
"Apa sebaiknya kita kasih tahu Mami sama Papi juga apa ya? Sepertinya mereka harus tahu Ken." Ken berpikir keras apa yang harus dilakukannya tak mungkin ia membawa semua orang kembali ke negaranya.
"Gue rasa juga begitu. Cuma sekarang sebaiknya lo bawa bini lo ke bungalow sekarang. Disini tempat umum Tom, sulit untuk mereka menjaga kita dari jarak dekat." Ken melirikkan matanya kearah beberapa orang yang sudah melakukan penjagaan kepada mereka. "Gue sengaja suruh mereka ngikutin dari jarak jauh biar bini lo ga panik." sambungnya lagi.
"Oke, thanks bro. Lo juga sebaiknya aja Mita balik ke bungalow." Tommy menepuk pundak sahabatnya itu.
"Tapi sebelum balik lo fotoin kita dulu. Ntar bini gue ngambek lagi, kalau kita ga jadi foto bareng."
Ken mengikuti kemauan atasannya itu dan memoto mereka beberapa jepretan dan fose yang berbeda-beda.
"Kalau dipikir-pikir dari mana Sandy tahu kalau aku sedang honeymoon di Maldives?" Batin Tommy disela-sela mereka berfoto.
Tommy, Roma, Ken dan Mita pun kembali ke bungalow mereka, meskipun ada perdebatan sedikit karena Roma bersikeras ingin melihat sunset.
"Dari bungalow juga bisa kok dek kita liat sunsetnya dari kamar aja yah. Aku tuh sesak boker tahu dek." bujuk Tommy terpaksa membohongi istrinya, bilang kalau dirinya ingin BAB.
Dengan terpaksa dan wajah yang cemberut Roma mengikuti Tommy kbali ke bungalow mereka.
Tommy langsung masuk ke kamar mandi, berpura-pura BAB supaya istrinya itu percaya padanya kalau perutnya mules.
Baru saja Tommy masuk ke kamar mandi, tiba-tiba saja pintu bungalow mereka ada yang mengetuk. Roma berjalan membuka pintu. Dan betapa terkejutnya ia melihat seorang pria yang berdiri tepat didepannya. Pria itu tersenyum pada Roma dan Roma pun membalas senyumannya dengan senetral mungkin agar pria itu tidak curiga kalau Roma sudah mengetahui identitas aslinya.
"Evan–, kok kamu ada disini?" tanya Roma basa-basi dengan suara yang sedikit bergetar.
Bagaimana mungkin ia tidak takut melihat pria yang hampir pernah membunuhnya itu kini tepat berdiri didepannya.
"Oh itu, tadi pas aku jalan-jalan sama pacarku ga sengaja seperti melihat cewek mirip seperti dokter Uly, jadi aku ikuti dokter sampai kesini untuk memastikan kalau yang aku lihat itu beneran dokter Uly. Eh ternyata beneran dokter Uly." ucapnya seperti pertemuan mereka adalah pertemuan yang tidak disengaja. "Tadinya, takut aja kalau aku salah orang." ucap Evan alias Sandy memberikan alasan supaya gadis itu tidak curiga padanya.
"Saya ga disuruh masuk nih dok? Apa saya mengganggu acara honeymoon dokter?" tanya Sandy dengan senyum ramahnya.
"Ngapain lo kesini?" terdengar suara bentakan Tommy dari belakangnya dan itu menyadarkan Roma dari lamunannya.
Secepat kilat Sandy langsung melingkarkan tangannya dileher Roma sambil menodongkan pistol di pinggang Roma.
"Mas–." lirih Roma ketakutan.
"Kenapa? Lo takut kalau gue nyakitin bini lo ini?" sentak Sandy lalu mendorong tubuh Roma untuk masuk kedalam.
"Jangan main-main lo San, sedikit aja lo sakiti Roma, gue ga akan segan-segan lagi buat ngancurin lo." ancam Tommy.
"Disaat seperti ini pun lo masih aja ngebelain cewek ini. Apa istimewanya dia dibandingin gue Tom? Lo kenal dia baru sebentar Tom–." ucapnya sambil tersenyum sinis.
"Gue kesini cuma pengen ngomong sama Lo, Tom. Gue kangen sama Lo, hampir dua tahun gue dipenjara tapi ga sekalipun lo liatin gue." Sandy mengatakan semua unek-uneknya. Kerinduannya kepada pria yang berdiri didepannya itu membuatnya lupa kalau Roma sedang dalam Sanderanya.
"Lo tega menjarahin gue hanya karena cewek ini? Apa lo ga cinta sama gue lagi Tom? Apa hebatnya perempuan ini dibandingin gue Tom?" Sandy semakin lengah dirinya tak tahu kalau para pasukan FBI sudah berhasil masuk ke bungalow itu bersama dengan Barman, Bara dan Ken.
"Evan, kenapa kamu seperti ini? Kamu juga bisa sembuh sama seperti Mas Tommy, yang penting kamu punya niat yang kuat dan bersungguh-sungguh menjalani terapi kamu." Roma yang ketakutan memberanikan dirinya untuk bicara dan sepertinya ia salah, bukannya Sandy merasa senang mendengar ucapannya ia malah membentak Roma.
"Diem Lo, ini semua gara-gara Lo. Kalau aja lo ga kecentilan ngedeketin Tommy terus pasti Tommy masih milik gue sekarang." ucap Sandy sambil terus menekan senjatanya ke pinggang Roma.
"San, Sandy lo jangan sakitin istriku San, Pliss–."
Para petugas FBI itu tidak berani mendekati Sandy karena takut kalau Sandy akan menebak Roma.
"Hah? Istri lo bilang? Gue yang seharusnya jadi istri Lo Tom–." teriaknya. "Semudah itu Lo lupain gue? Sementara selama ini gue tersiksa. Mana janji Lo yang akan selalu setia sama gue? Dulu gue izinin Lo buat nikah sama Zia, tapi kenapa setelah lo cerai, lo malah pilih cewek sialan ini?" Sandy mulai meneteskan airmatanya. Terdengar jelas dari suaranya yang bergetar bahwa dirinya saat terluka.
"Maafin gue San, tapi gue ga bisa seperti itu lagi. Pliss lepasin istriku San." pinta Tommy berusaha mendekati Sandy.
"Diem lo!!! Lo jangan coba-coba deketin gue atau gue tembak bini lo ini." bentak Sandy sambil terus mendorong pistol yang ada ditangannya dipinggang Roma. "Apa lo kira gue begok? Gue tahu sekarang orang-orang dibelakang ini lagi sibuk berpikir gimana caranya menyelamatkan perempuan ini, iya kan?" Tommy kaget karena Sandy mengetahui kalau ada beberapa orang sudah berjaga dibelakangnya. Begitu pun dengan semua pasukan yang menunggu aba-aba dari Barman.
"Oke San, gue mundur tapi tolong jangan sakiti istriku." Tommy memundurkan langkahnya menjauh beberapa langkah dari tempatnya.
"Suruh mereka semua keluar–." teriaknya.
"Jangan macam-macam kamu, cepat lepaskan Badi kalau tidak aku ga akan segan-segan untuk membunuhmu." Bara yang sudah sedari tadi menahan dirinya akhirnya ikut bicara karena tidak tahan melihat adiknya itu ketakutan.
"Sebelum itu terjadi, anda akan melihat mayat adik anda dulu." Ancamnya tak kalah keras pada Bara.
"Disaat seperti ini pun lo masih tetep milih istri lo Tom. Apa lo bener-bener udah lupain gue? Ga adakah tersisa sedikit perasaanmu untukku."
Sandy sudah terkepung seluruh pasukan FBI yang ada dibungalow itu sudah menodongkan senjata kearahnya. Dirinya sudah terpojok tak ada lagi kesempatan untuknya melarikan diri.
"Letakkan senjatamu–!!!" seru Barman "Dan lepaskan Badi?"
"Kenapa di dunia ini tak ada yang mencintai aku seperti mereka mencintaimu, Tom–." Batin Sandy.
"Bang Bara, Bang Barman– tolongin aku!" Badan Roma bergetar hebat dirinya sangat takut karena semua orang mengarahkan senjata kepada dirinya dan Sandy. Mas Tommy–."
"Wanita ini benar-benar mencintaimu Tom–." lirih Sandy dalam hati ketika airmata Roma menetes ditangannya.
"Kamu tenanglah Badi kami pasti akan menyelamatkan mu." ucap Barman.
"Plis San, lepasin Roma." lirih Tommy.
"Apa yang Lo lakukan Tom–." teriak Sandy ketika melihat Tommy berlutut didepannya.
"Kalau lo marah dan dendam sama gue, lebih baik Lo bunuh gue aja San, jangan sakiti istriku."
Sandy semakin menggeram, ia mencengkram kuat bahu Roma. Gadis itu meringis kesakitan.
"Lo ternyata juga mencintai gadis ini Tom?" Mata Sandy berkaca-kaca dan seketika airmatanya menetes.
Sandy mendorong tubuh Roma kearah Tommy sehingga membuat gadis itu tersungkur kedepan Tommy. Dan
Dor... Dor... Doorrrr...
"JAAANNNGGGGAAAAANNNNN–." teriakan itu sudah terlambat, beberapa peluru sudah menembus jantung, kepala dan perutnya.
Maaf ya kemarin Author ga Update, kalau sempat hari ini nanti double Up 😊
Asalkan jangan Lupa Jempol-jompolnya 😍