Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Masalah Lain



Tommy menarik tangan Roma keluar dari Restoran menuju basement dimana mobilnya terparkir.


"Lepas Bang, sakit–." Roma melepaskan tangannya.


Tommy tidak menjawab dirinya masih kesal dengan Roma yang berduaan dengan Pria lain. Tommy berdiri didepan mobilnya sementara Roma mengelus pergelangan tangannya yang sakit saat ditarik Tommy. Tommy mengeluarkan ponselnya dan menelpon Kendrick.


"Ken, sorry gue ga bisa ikut ketemu dengan klien itu. Lo urus semua sendiri ya."


"Ga bisa gitu Tom, Lo tahu kan kalau klien itu pengennya ketemu sama lo langsung. Lo ga bisa batalin pertemuan ini secara sepihak begini. Gue ga mau tahu. Pokonya Lo harus datang, gue tunggu walaupun lo terlambat. Atau batalin aja pertemuannya."


"Sial–." Gumam Tommy, Roma dapat melihat kekesalan diwajah kekasihnya itu. Tommy lupa kalau pertemuannya kali ini tidak bisa diwakilkan oleh siapapun.


Tommy melihat Roma. "Dek bisa ikut Abang?" Sebenarnya Tommy masih marah pada Roma tapi dia juga ga bisa membiarkan Roma pulang sendiri atau pulang bersama pria lain.


"Aku harus balik ke Rumah Sakit, jam makan siang udah hampir habis." jawab Roma ketus tanpa melihat pada Tommy.


"Romauly Badia Nasution bisa ga sih sekali saja kamu turuti permintaanku tanpa harus membantah." Tommy yang mulai tidak bisa mengontrol amarahnya menaikkan nada suaranya.


"Dan Bapak Tommy Sain Prayoga yang terhormat bisa ga sekali saja kamu hargai pekerjaanku." balasnya dengan nada suara yang tidak kalah tingginya.


Tommy mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mencoba menahan kembali emosinya dan juga rasa perih diperutnya yang sudah mulai terasa karena belum sempat makan siang.


Tommy kesal dan langsung menghubungi pihak Rumah Sakit dokter Christofel Afandi adalah dokter spesialis penyakit jantung sekaligus direktur Rumah Sakit Citra Medistra.


"Dokter Chris–." Tommy menyapa direktur Rumah Sakit miliknya tanpa basa-basi.


"Siapa yang ditelpon Bang Tommy? Apa mungkin dokter Christofel?" Batin Roma


"Ada apa Tuan?"


"Saya minta mau ijin satu hari saja. Tolong kosongkan jadwal praktek dokter Romauly Badia Nasution untuk hari ini."


"Apa? Bagaimana mungkin dia bisa seenaknya saja membatalkan jadwal praktekku? Dan bagaimana bisa Bang Tommy kenal dengan dokter Christofel?" Roma berkutat dengan pikirannya.


"Baiklah Tuan."


"Terimakasih." Tommy memutuskan panggilan teleponnya. Lalu ia menatap pada Roma.


"Siapa yang Abang telpon? Dan bagaimana bisa Abang berbuat semau Abang sendiri? Abang ga menghargai pekerjaanku sama sekali." Tommy langsung dihujani pertanyaan dari Roma. Ia menangis sambil memukul-mukul dada Tommy. Tommy memegang tangan Roma supaya berhenti memukul dadanya karena ia juga masih menahan sakit diperutnya.


"Ikut aku–." Tommy kembali menarik paksa tangan Roma dengan sisa-sisa tenaganya.


"Ga mau, lepas!"


"Roma, bisa ga sekali aja kamu nurut ga usah keras kepala kayak gini." bentak Tommy, tangannya mulai gemetaran ia menahan sakit perutnya yang semakin perih matanya mulai berkunang-kunang.


"Aku ga mau, aku mau pulang!" Roma kembali menghempaskan tangannya dari genggaman tangan Tommy dan berlari meninggalkan Tommy.


Brruuuk.


"Tommy–." teriak seseorang dari jauh.


Roma menghentikan langkahnya ia menoleh kebelakang dan melihat Tommy sudah terbaring dilantai basement.


Roma mendekati Tommy namun ia melihat seorang wanita sudah memeluk Tommy lebih dulu.


"Tommy, Tom bangun Tom–." Wanita itu terlihat panik lalu meminta dua orang pria yang bersamanya membantunya membawa Tommy masuk kedalam mobilnya. Sementara itu Roma hanya terdiam terpaku tanpa bisa berbuat apa-apa. Dan Roma tidak mengenali siapa wanita itu.


Dan kebetulan sekali mereka membawa Tommy ke Rumah Sakit Citra Medistra karena hanya Rumah Sakit itu yang terdekat dari mall tersebut.


Roma minta ijin pada dokter yang berjaga di UGD untuk masuk dan menemani Tommy.


"Dokter Uly, kami bisa menanganinya dok–." Dokter Jeffri merasa tidak senang saat Roma menerobos masuk ke dalam.


"Dia tunangan saya dok. Maaf saya bukannya mau mengganggu prosedur Rumah Sakit, saya hanya ingin berada disampingnya. Itu saja."


"Lalu wanita yang di depan tadi siapa? Wanita itu juga bilang kalau dia adalah tunangan pasien ini dok."


Deg...


Roma terkejut mendengar ucapan dokter Jeffri, dirinya tidak tahu kalau wanita itu mengaku sebagai tunangan Tommy.


"Apa benar dia tunangan Tommy? Siapa sebenarnya wanita itu?"


Roma merasa malu dengan dokter Jeffri dan beberapa perawat yang bertugas saat itu. Ia juga tidak tahu siapa wanita itu.


"Roma–." Tommy sadar dan melihat Roma yang sedang berbicara dengan Jeffri.


Jeffri yang mendengar Tommy memanggil nama Roma akhirnya percaya pada dokter seniornya itu.


"Dokter pasien sudah sadar." ucap salah satu perawat yang memasang infus Tommy.


Jeffri mendekati Tommy dan memeriksa kondisinya. Saat Jeffri belum selesai memeriksa Tommy tiba-tiba saja wanita yang mengantar Tommy ke Rumah Sakit itu langsung masuk dan memeluknya.


"Tommy– kamu sudah sadar?" Wanita itu melepaskan pelukannya lalu mengelus lembut wajah Tommy.


Roma hanya bisa menyaksikan perbuatan wanita itu. Roma kembali menahan rasa malu dihadapan Jeffri dan perawat jaga yang ada diruangan itu.


"Bella? Kamu kok disini?" Tommy bingung saat melihat Bella yang berada dihadapannya.


"Jadi Bang Tommy kenal dengannya?"


"Dok, sepertinya pasiennya sudah baik-baik saja. Kalau begitu saya permisi dulu." Roma permisi pada Jeffri sementara Jeffri merasa bingung karena setahunya Roma tidak dimintai bantuan atau pun melakukan apa-apa pada pasiennya.


"Apa pasien ini benar tunangan dokter Uly? Dan dia ketahuan selingkuh? Wah kasihan sekali dokter Uly." Batin Jeffri.


"Tapi sepertinya dia ingin dokter Uly." Batin Perawat yang menginfus Tommy.


"Cantikan juga dokter Uly. Dok, kalau dia ga mau sama dokter Babang mau kok sama dokter–." Batin perawat yang lain.


Tangan Tommy terangkat ingin memanggil Roma tapi Bella sibuk memeriksa kondisinya.


"Tolong berikan ini pada pasien di dalam." ucap Roma pada salah satu perawat jaga UGD tersebut.


Perawat itu pun mendekati Tommy dan menyerahkan kunci mobil Tommy. "Maaf pak, ini titipan dari dokter Uly."


"Terimakasih." Tommy menerima kunci mobilnya.


"Belum juga selesai masalah yang satu, ini udah datang lagi masalah yang lain. Gimana aku akan jelaskan sama Roma siapa Bella sebenarnya?"


Bantu Boom Like ya Readers yang baik hati dan tidak Sombong 😍