
Mabuk laut tidak digolongkan sebagai suatu bentuk penyakit. Setiap orang normal sebenarnya bisa mengalami mabuk laut. Gejala awal mabuk laut sangat mudah untuk mengenalinya, biasanya kita akan sering menguap dan agak mengantuk. Kemudian mulai merasakan lemas, mual, muntah, berkeringat, banyak meludah, kulit tampak memucat, dan tangan terasa dingin. Sama seperti hal yang dialami Tommy saat ini.
Rencananya Roma datang ke Tomok hanya ingin berburu oleh-oleh. Tapi karena Tommy datang menemuinya dan Tommy juga mabuk laut akhirnya Roma memutuskan untuk menginap di Tomok. Karena tidak mungkin baginya untuk kembali ke Tuktuk.
"Bang Ucok, Terimakasih ya." Roma benar-benar sangat berterimakasih pada Ucok kalau tidak ada Ucok yang menjadi tour guide nya mungkin saja dirinya sudah nyasar kemana-mana. Apalagi di daerah itu tidak ada satupun yang ia kenal.
"Kamu tak perlu sungkan Roma, nanti kalau kamu butuh sesuatu. Kamu hubungi saja aku ya."
Lalu Ucok permisi untuk pulang beristirahat kerumahnya. Ucok aslinya tinggal di Ajibata tapi karena dirinya mendapatkan seorang tamu maka dia harus menginap ditempat yang sama dengan tamu yang dibawanya itu. Tapi bukan di hotel yang sama dengan tamunya. Ucok juga memiliki keluarga yang tinggal dibeberapa daerah yang sering dikunjungi Turis ataupun pelancong yang sering berwisata ke daerah sekeliling Danau Toba. Sehingga mempermudah untuknya menginap dirumah dirumah keluarganya.
Ucok membawa mereka kesebuah Villa yang dekat dari Tomok. Di Villa itu tersedia dua kamar tidur dan untuk makannya Ucok sudah memesankan makanan untuk makan malam mereka berdua.
Tommy masih terbaring ditempat tidurnya tubuhnya sangat lemas, Roma membiarkannya untuk beristirahat. Sedangkan dirinya memilih untuk membeli beberapa pakaian ganti untuk dipakainya. Karena semua barang-barangnya tinggal di Hotel tempatnya menginap sebelumnya.
Tommy terbangun dan mencari keberadaan Roma, tapi Roma tidak ditemukannya. Dia pun mengambil handphonenya dan menghubungi Roma.
Calling 📞AdisBa 😍
Tut... Tut... Tutt...
Tommy merasa lega saat mendengar sambungan telepon Roma tersambung. Karena sejak dua hari lalu Tommy tak bisa menghubungi Roma. Karena Roma sengaja menonaktifkan Handphonenya.
"Dek kamu dimana?" Tommy langsung bertanya kebaradaan Roma begitu Roma mengangkat teleponnya.
"Beli baju sebentar Bang. Ini juga udah sampe kok di Villa. Abang udah bangun ya? Kalau Abang lapar sudah ada makanan diatas meja. Abang lapar makanlah dulu."
"Abang mau kamu. Cepatlah kemari. Abang ga nyaman tinggal sendiri."
"Iya sabar." Roma memutuskan panggilan teleponnya.
Tak selang berapa lama Roma membuka pintu Villanya. Tommy yang memang sengaja berdiri dibalik pintu menunggu kedatangan Roma langsung memeluk Roma dari belakang.
"Aahkk..." Roma terkejut karena Tommy tiba-tiba memeluknya. "Bang Tommy, ngagetin aja. Lepas iih." Roma menepuk tangan Tommy yang melingkar dipinggangnya.
"Abang kangen dek–."
"Aku masih marah Bang–."
"Lepas Bang–." Roma melepas tangan Tommy dengan paksa. Tanpa melihat lagi kebelakang Roma meninggalkan Tommy lalu masuk ke kamar dan menguncinya.
Tommy tahu kalau Roma masih marah padanya. Tommy mendekati kamar Roma dan mengetuk pintunya.
"Dek–, buka dong dek. Abang kangen sama kamu." Tommy sudah berdiri didepan pintu kamar Roma.
"Apa? Kangen? Emang dia pikir aku ga kangen apa? Setelah menghilang entah kemana sekarang seenaknya saja dia datang tanpa merasa bersalah sedikitpun." Roma menggigit kepalan tangannya supaya Tommy tak mendengarnya menangis.
"Abang tahu Abang salah. Tapi mau sampai kapan kita salah paham terus. Dek, buka pintunya biar Abang jelaskan semuanya."
"Aku ga butuh penjelasan lagi dari Abang. Sekarang kita udah ga ada hubungan apa-apa lagi." teriak Roma dari dalam.
Entah kenapa Tommy merasa hubungan mereka seperti layang-layang yang harus ditarik ulur. Sulit rasanya untuk bersatu dengan gadis pujaannya itu. Ada saja yang menjadi penghalang saat mereka ingin bersatu.
Tommy menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Tommy menjambak rambutnya sendiri menyesali kebodohannya kenapa harus mengatakan putus pada Roma waktu itu. Apalagi kesannya saat mengucapkan kata putus pada Roma seperti kesan ingin melamar Roma.
"Romauly, Abang minta maaf. Abang tahu abang salah dan Abang sudah bodoh telah memutuskanmu waktu itu. Kalau memang kamu menganggap hubungan kita ini sudah berakhir maka baiklah, Abang tidak akan mengganggumu lagi. Cuma Abang minta sekarang keluarlah. Ayo kita makan, Abang lapar." Tommy sengaja dan terpaksa mengatakan itu supaya Roma mau keluar dari kamarnya.
"Saat seperti ini pun masih ingat makan. Tapi kalau aku ga keluar nanti Bang Tommy ga mau makan lagi? Dia kan ga boleh telat makan. Nanti lambungnya kambuh lagi. Apa sih yang aku pikirkan ini? Kenapa aku mengkhawatirkannya? Dia saja ga khawatir sama dirinya sendiri."
Roma sebenarnya serba salah dirinya masih marah pada Tommy tapi ia juga tidak mungkin membiarkan anak orang mati kelaparan karenanya.
Perlahan Roma membuka pintu kamarnya dan melihat Tommy masih berdiri didepan pintu kamarnya.
"Ok. Kita makan dulu. Setelah itu Kita pulang ke Jakarta." ucap Tommy dingin. Drinya tidak mau menjadi orang yang membuat Roma sedih lagi.
"Apa? Pulang? Abang sadar ga ini udah malam mana ada kapal?"
"Kita makanlah dulu." Tommy duduk di meja makan yang ada di Villa itu tanpa menatap Roma sedikitpun.
"Kenapa dengan Bang Tommy apa dia benar-benar ingin pulang malam ini juga? Apa hubungan ini benar-benar sudah berakhir? Kenapa Bang Tommy langsung menyerah begitu saja? Kenapa Bang Tommy ga berusaha lagi untuk membujukku?" Airmata Roma kembali menetes. Pikiran dan gerakan tubuhnya tidak sejalan. Sambil menangis ia tetap memakan makanan yang ada didepannya itu.
Roma tersedak karena menahan suara tangisnya agar Tommy tak tahu kalau dia sedang menangis.
"Minumlah–, makannya pelan-pelan saja. Ga ada yang akan merebut makananmu darimu." ucapan Tommy kembali terdengar datar.
Tommy tahu kalau Roma sedang menangis tapi dirinya juga tidak ingin membuat wanitanya itu merasa sakit hati karenanya lagi.
Mendengar ucapan Tommy membuat hati Roma semakin sakit. Tangisnya pecah dia berteriak kepada Tommy. "BANG TOMMY JAHAT."
Tommy terkejut langsung menatap pada Roma.
"Kamu kenapa Dek? Kenapa menangis? Abang minta maaf. Abang salah. Ia Abang akan turuti kemauan kamu, Abang tidak akan mengganggu kamu lagi. Tapi udah ya jangan nangis lagi."
Ingin rasanya Tommy memeluk wanita yang sangat dirindukannya itu. Menenangkannya supaya tidak menangis lagi.
"Bang Tommy jahat." Hanya kata itu yang terucap terus menerus dari bibirnya. Lalu berjalan mendekati tempat duduk Tommy yang bersebrangan dengan tempat duduknya. "Abang jahat." Roma memukul punggung Tommy.
Tommy berdiri dan menahan tangan Roma yang terus saja memukul punggungnya.
"Iya, Abang tahu Abang jahat sama kamu. Justru itu Abang ikhlas melepasmu kalau itu kemauan kamu."
"Abang jahat, kenapa Abang ga berusaha bujuk aku lagi? Abang mau nyerah lagi?Memangnya Abang bisa hidup tanpa aku? Abang bisa melupakan aku? Kalau Abang bisa hidup tanpaku kenapa Abang datang kesini?" Roma kembali memukul Tommy tapi bukan lagi punggungnya melainkan dada bidangnya.
Mendengar ucapan Roma hati Tommy pun tersenyum bahagia. Ia menarik tangan Roma yang terus saja memukulnya. Tommy membawa Roma kedalam pelukannya.
"Abang ga bisa hidup tanpamu dek."
Tommy melonggarkan pelukannya, langsung mencium bibir wanita yang sangat dirindukannya itu. Ciuman panas yang membuat Roma hampir kehabisan nafasnya. Hanya hitungan detik saja Tommy membiarkannya mengambil nafas lalu kembali menciumnya.
"Bang udah Bang, Aku ga tahan nih. Bisa bablas nanti Bang." Roma ingin mengatakan itu tapi bibirnya selalu tertutup karena ciuman mesra dan menuntut dari Tommy.
"Shit–, Junior udah ON banget." Tommy ingin melepaskan ciumannya tapi rasa rindunya menuntut untuk tidak melepaskannya. Tapi ia kembali teringat pada pesan Bara untuk menjaga kehormatan keluarganya.
"Sabar Jun, sampai nanti tiba waktunya saksi mengatakan Sah." Tommy menenangkan hati dan hasratnya sendiri.
Segitu dulu yah–, Lanjut besok kalau Author ga pura pura SIBUK 🤗