
Rumah Sakit Citra Medistra
Kesibukan saat bekerja sering membuat kita lupa akan waktu. Melewatkan jam makan siang itu juga sering terjadi. Roma sibuk diskusi dengan sesama dokter ahli psikologi mempersiapkan pengobatan pertamanya untuk pasien kelainan seksual. Dokter-dokter senior di rumah sakit itu tentu saja sudah pernah menangani pasien yang seperti itu sehingga dirinya harus lebih banyak belajar lagi dan mempersiapkan terapi apa saja yang sebaiknya ia gunakan untuk menangani pasien tersebut.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu dari luar ruangan Roma namun sebelum Roma mempersilahkan masuk, pintu sudah lebih dulu terbuka.
"Makan siang yuk–." Rendi sudah duduk didepan meja kerja Roma. "Masih sibukkah?" tanyanya lagi.
Roma melihat sekilas pada Rendi. Lalu membereskan beberapa berkas yang ada dimejanya.
"Hmmm, sebentar ya. Bentar lagi kelar kok." Roma menutup layar komputer yang ada dimeja kerjanya. "Udah, yuk– mau makan dimana?"
"Di mall Xx, katanya disana ada Resto Korean food yang baru buka, orang bilang makanannya enak."
"Ish, Orang bilang–." cibir Roma.
"Iya, makanya aku pengen coba bener apa enggak makanannya enak. Kamu mau kan?"
"Terserah lah, yang penting ada nasi. Aku laper banget butuh asupan karbohidrat yang banyak."
"Kok karbohidrat sih? Ga takut gemuk apa kamu?"
"Ya, kan nanti bakalan diproses menjadi energi. Lagi pula aku ga mentingin body yang penting kenyang."
"Ntar ga laku loh–."
"Biarin–, tapi aku begini aja kamu udah suka kan?" Roma menembak tepat sasaran, membuat Rendi salah tingkah.
"Ga usah Ge eR–, gue ga suka sama lo." Rendi menoyor kepala Roma dengan jari telunjuknya.
"Awas ya, ntar aku aduin sama cowok gue."
"Emang lo punya cowok?"
"Ya ad–."
"Ya ampun, kok aku jadi kangen dia ya? Bang Tommy lagi apa ya?"
"Tuh kan diam ga bisa jawab, berarti masih ada harapan kan buat gue."
"Hmm, tadi bilangnya ga suka–." ucap Roma ketus.
"Jelas dong gue ga suka sama lo kalau lo udah punya pasangan."
"Udah ah, jadi makan ga nih?"
"Oke ayuk."
"Ajak Dewi ya–."
"Ga usahlah, gue mau makan berdua sama lo. Ngapain ngajakin Dewi. Ga pengertian banget sih"
Roma keluar ruangannya lalu menghampiri Dewi, ternyata di stand perawat hanya ada Angel dan Sherly.
"Kalian lihat Dewi?"
"Lagi makan siang dok sama Derry di kafetaria."
"Yes, akhirnya dewi fortuna datang juga." Batin Rendi.
"Kalian udah makan siang?" tanya Roma pada kedua perawat yang sedang sibuk mempersiapkan obat untuk pasien.
"Hadeehhh pake nanya lagi. Udah napa kasih kesempatan buat gue makan bareng lo."
Selama ini setiap Rendi mengajaknya untuk makan berdua pasti Roma akan mengajak salah satu perawat ataupun dokter lain untuk ikut makan bersama mereka.
"Sudah dok–." jawab Angel dan Sherly serentak.
"Alhamdulillah–. Ternyata Dewi Fortuna memang lagi berpihak sama gue."
"Udah yuk, keburu macet." Rendi pun menarik tangan Roma.
Mereka menuju tempat parkir.
"Pake mobil gue aja. Ga lucu kan kita makan berdua aja tapi bawa mobil masing-masing."
Roma mengalah dan mengikuti Rendi masuk ke mobilnya.
...🍥🍥🍥...
Tommy POV
Seminggu sudah setelah pertengkaranku dengannya. Aku kesal padanya karena terus saja menanyakan masa laluku dengan Zia. Aku sadar kalau dulu aku sering tertangkap basah olehnya saat aku melihat Zia secara diam-diam.
Kesalahanku yang dulu membuat aku menyesal sudah melepaskan Zia begitu saja. Namun penyesalan itu memang selalu datangnya belakangan kalau datang duluan itu bukan penyesalan tapi pendaftaran. Hehe.
Aku tidak ingin mengungkit masa lalu itu. Sekarang aku ingin menjalani kehidupan baruku menata masa depan bersamanya. Tapi tidak mungkin aku ceritakan apa yang aku omongin dengan Bara padanya. Karena pastinya itu akan membuatnya terluka.
Tak sengaja aku melihatnya duduk bersama pria lain dan pria itu adalah Rendi. Pria yang pernah datang ke apartemennya dulu. Entah apa yang mereka ceritakan sampai mereka tersenyum dan tertawa bersama.
"Ken kita cari Restoran lain saja." Aku sengaja mengeraskan suaraku berharap dia melihat kearah ku dan menyapaku. Dan ku lihat dia cuek dan hanya melirik sebentar kearah ku.
"Tapi Tuan–." Ah, lagi-lagi Ken harus memanggilku dengan sebutan itu. Menjengkelkan sekali.
"Sudah berulangkali aku bilang, jangan panggil dengan sebutan itu kalau kita hanya berdua saja." bentakku keras.
"Sorry Tom, tapi kenapa kita harus pindah restoran? Bukannya tadi kamu bilang mau mencoba makanan korea?" Ternyata Ken belum melihat Roma disana.
"Hai Ken,–." Dia malah menyapa Ken. Kulihat Ken terkejut lalu tersenyum padanya.
"Kamu ada disini Nona?" Ken langsung menghampirinya. Aku langsung meninggalkan mereka disana.
...♨️♨️♨️...
Author POV
Roma terkejut mendengar suara Tommy ada direstoran itu. Tapi rasanya gengsi untuk menyapanya duluan. Ia masih sakit hati pada Tommy. Sebenarnya itu adalah kesalahannya karena sudah mengungkit masa lalunya. Tapi rasa penasarannya akan cerita yang terjadi diantara Tommy dan Bara membuatnya kesal karena Tommy belum juga memberitahukan pembicaraan mereka. Tommy seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
"Tuan mu sudah pergi Ken." ucapnya pada Ken saat melihat Tommy yang sudah pergi meninggalkannya. "Pergilah nanti kamu dimarahi lagi."
"Kalau begitu saya permisi dulu."
Ken menyusul Tommy yang sudah keluar dari restoran tersebut.
"Lo kenapa sih? Disana ada Roma, bukannya duduk gabung makan bareng malah pergi gitu aja. Kalau ada masalah itu sebaiknya di selesaikan bukan di hindari."
"Berisik Lo. Udah sana lo makan dulu terserah lo mau makan dimana."
"Terus Lo mau ngapain disini?" Ken merasa heran melihat Bos sekaligus sahabatnya itu masih berdiri didepan Restoran itu.
"Lah tadi lo yang nyuruh gue buat selesaiin masalah gue, sekarang malah ditanya lagi–." gerutu Tommy.
"Ya udah terserah Lo." Ken lalu pergi meninggalkan Tommy.
Saat Roma masih menikmati makan siangnya. Tak selang berapa lama setelah kepergian Ken, bunyi notifikasi pesan di ponsel Roma. Ia melihat ponselnya.
📥My Sain 💖
"Keluar sekarang."
📤 AdisBa 😍
"Ada apa? Aku belum selesai makan siang."
📥My Sain 💖
"Aku tunggu diluar. Keluar sekarang."
Read.
"Ada apa?" Rendi melihat Roma tampak gelisah.
"Ga apa-apa. Udah lanjut makan, biar cepat balik ke Rumah Sakit."
"Ada apa sih, datang-datang nyuruh keluar."
Ponsel Roma berdering
📞My Sain 💖 Calling....
"Ngapain juga nelpon segala."
"Udah diangkat aja, nanti marah lagi. Aku ga mau ya mukaku yang tampan ini tiba-tiba harus kena tonjokan dari pacarmu itu. " Rendi melihat Roma yang tampak ragu untuk mengangkat ponselnya.
"Kita lagi makan. Lagian kalau dia ada perlu seharusnya dia yang datang."
"Kalau begitu, boleh aku bawa Roma bersamaku sekarang?" Entah sejak kapan Tommy sudah berdiri disamping tempat duduk Roma. Ia menatap kepada Rendi seolah meminta ijin pada Rendi.
"Selesaikan urusan rumah tangga kalian. Uly, gue pulang duluan." Rendi berdiri menghempaskan serbet dari tangannya. "Karena lo sudah merusak acara makan siang gue, jadi gue minta Lo bayar makanannya." ucap Rendi pada Tommy ketus.
"Tapi Ren– Aku pulangnya gimana?" Roma menarik tangan Rendi saat Rendi beranjak dari tempat duduknya.
"Nanti aku yang antar." jawab Tommy cepat. Lalu melepaskan genggaman tangan Roma dari tangan Rendi.
Tommy menarik tangan Roma keluar dari Restoran setelah membayar makanan mereka.
"Lepas Bang, sakit–." Roma melepaskan tangannya.
Maaf ya Baru sempat Update sekarang, Segini dulu ya. Nanti malam kalau sempat Up lagi.
Asal Jangan Lupa Absennya ya.
Author cuma minta Like aja kok. Kan ga bayar 🤭
Kalau ada yang bermurah hati kasih Author bunga 💐 Dengan senang hati Author ucapkan Terimakasih 🙏😍 😊