Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Mual dan Muntah



Masih adakah diantara kita yang belum mengenal Danau Toba? Danau terbesar di Indonesia bahkan di Asia tenggara. Selain itu, Danau Toba juga merupakan danau terbesar kedua di dunia. 


Danau Toba adalah danau alami berukuran besar di Indonesia yang berada di kaldera Gunung Supervulkan. Danau ini memiliki panjang 100 kilometer, lebar 30 kilometer, dan kedalaman 505 meter. Danau ini terletak di tengah pulau Sumatra bagian utara dengan ketinggian permukaan sekitar 900 meter. (Sekian pengetahuannya ya kita balik ke cerita Roma 😊)


Sudah dua hari Roma berada di Kota Parapat. Sudah beberapa tempat wisata yang di jalaninya. Yang paling menarik perhatian Roma adalah kisah legenda tentang batu gantung yang menggantung di dinding tebing di tepi danau Toba. (Mau tahu kisahnya boleh di baca di mbah google ya)


Dihari pertama setelah sampai di daerah Danau Toba. Roma memilih seharian penuh untuk jalan-jalan mengelilingi danau terbesar itu. Dirinya bergabung dengan para wisatawan lainnya. Ada dari berbagai daerah luar kota ada juga turis mancanegara.


Setelah lelah menyusuri danau Toba, Roma dan para wisatawan lainnya memilih untuk menginap di Desa Tuktuk Siadong. Kawasan desa tepat berada di tepi tanjung kecil di Pulau Samosir.


Pemandangan indah danau Toba juga dapat dinikmati dari sana. Setelah dua hari puas berkeliling, kini saatnya Roma memanjakan dirinya berada di kamar hotel seharian tanpa keluar kamarnya.


Roma mencari seseorang tour guide yang membawanya berkeliling ke lobi hotel. Karena biasanya dia menunggu Roma disana.


"Bang Ucok nanti temani aku ke Tomok ya." pintanya pada tour guide yang membawanya berkeliling di Danau Toba.


"Siap, mau jam berapa kesana? Tapi sebaiknya sekarang saja, karena malam ga ada lagi kapal kesana."


"Oke. Tunggu sebentar aku siap-siap dulu ya Bang." Roma kembali ke kamarnya mengganti bajunya dan memakai jaket untuk menghangatkan tubuhnya. Udara desa Tuktuk sangat dingin apalagi bila sudah malam hari.


Setelah selesai mengganti bajunya Roma kembali menemui Ucok dan bersiap untuk pergi ke Tomok.


"Sudah siap?" tanya Ucok.


"Sudah Bang."


"Oke kita kemon–."


Ucok dan Roma berjalan kepelabuhanan menunggu kapal yang datang dari dari datang dari Ajibata ke tuktuk lalu tujuan ke Tomok.


"Romaaa–." terdengar suara seseorang memanggilnya saat Roma ingin melangkahkan kakinya masuk ke kapal.


Roma menoleh kebelakang mencari sumber suara itu tapi dirinya tidak menemukan siapa-siapa.


"Apa cuma perasaanku saja? Aku ga punya teman yang tinggal disini. Kira-kira siapa yang memanggil ku? Aahk mungkin ini memang perasaanku saja."


"Ayo tunggu apa lagi?" Ucok mengulurkan tangannya untuk membantu Roma naik ke kapal.


Tapi saat ingin menyambut uluran tangan Ucok Roma kembali mendengar namanya dipanggil.


"Romaa–." Suara itu benar-benar nyata terdengar ditelinganya. Ucok menatap tajam pada seseorang yang sudah berdiri dibelakang Roma.


Tiba-tiba saja airmata Roma menetes membasahi pipinya. Suara yang baru saja memanggilnya itu begitu sangat dikenalinya. "Ga mungkin itu Bang Tommy. Tau dari mana dia kalau aku disini." Hatinya menolak untuk menoleh kebelakang tapi tidak dengan tubuhnya. Ia menghapus airmatanya lalu melihat kebelakang.


Roma melihat pria yang begitu dirindukannya sekaligus yang membuatnya sakit hati tengah berdiri didepannya.


"Dek, mau kemana?"


Roma tidak menjawab pertanyaan Tommy. Dirinya justru berbalik dan langsung masuk kedalam kapal bersama dengan Ucok.


"Bang Ucok ayo kita masuk."


"Dek, Roma–." Panggil Tommy tapi tetap saja Roma tidak menghiraukannya.


Tommy yang baru saja sampai di tuktuk akhirnya harus naik kapal kembali untuk mengikuti kemana Roma pergi.


"Siapa Rom?" tanya Ucok.


"Ga kenal Bang." jawab Roma ketus.


"Tapi dia mengikuti mu."


"Biar aja, salah orang kali Bang."


"Abang ga mau nanti bonyok-bonyok karena dipukuli orang ya."


"Abang tenang aja. Roma ini cewek bebas ga punya cowok apalagi suami. Masih single dan ting ting. Hehe."


Ucok dan Roma pun tertawa. Ucok begitu senang mendapatkan turis yang seperti Roma. Selain baik Roma juga periang orangnya. Ya meskipun bukan orang luar di Roma tetap disebut turis atau pelancong. Roma orangnya selalu ceria namun berbeda hari ini keceriannya menghilang setelah kedatangan Tommy.. Roma seperti menutupi sesuatu yang lain darinya.


"Bukan urusan ku mengurusi hal pribadinya, Roma hanya tamu yang menjadi tanggung jawab ku saat ini." Ucok menegaskan hatinya untuk tidak ikut campur urusan pribadi tamunya.


Tommy hanya bisa melihat keakraban Roma dan Ucok dari jauh. Tommy sangat lemas, saat tadi menyebrang ke Tuktuk Siadong dirinya sudah dua kali muntah. Karena Tommy mabuk air laut. Danau Toba udah seperti air laut baginya. Sehingga membuatnya mual dan muntah.


Tommy tidak punya tenaga untuk berdebat dengan Roma. Dia kembali duduk di luar kapal untuk menghilangkan rasa mualnya. Tapi tetap saja dia merasa mual.


"Rom, Abang tahu kamu mengenalnya. Sebaiknya temui dia. Sepertinya dia mabuk laut. Tadi Abang lihat wajahnya sangat pucat." Ucok membujuk Roma.


"Apakah ada yang punya minyak angin?" Tanya seorang wanita yang tengah berteriak kepada penumpang yang duduk disekitarnya.


"Ada apa?" tanya Wanita paruh baya yang ada disana.


"Sepertinya dia mabuk laut. Wajahnya pucat sekali." ucap wanita itu.


"Pakailah ini." Wanita paruh baya itu memberikan minyak kayu putih miliknya.


Ucok menarik tangan Roma untuk melihat apa yang terjadi diluar. Dan betapa terkejutnya ia, saat melihat kepala Tommy berada dipangkuan wanita itu.


Wanita itu mengoleskan minyak angin pada keningnya.


"Bisakah kita menepi? Aku sudah tidak kuat lagi." ucap Tommy pada wanita itu.


"Maaf tidak bisa. Lagi pula ini bukan kapal pribadi kita." ucap wanita itu sambil terus memijat kepala Tommy.


Roma yang menyaksikannya hanya bisa menetaskan airmatanya menahan sakit dihatinya.


Tommy bangun dari tidurnya dan berjalan ketepi kapal memuntahkan kembali isi perutnya. Wanita itu kembali membantunya memijat kepalanya bagian belakang.


"Apa kamu mau diam saja?" tanya Ucok. "Dari tatapanmu yang melihatnya aku sudah tahu kalau kamu mengenal pria itu."


Roma menghapus airmatanya, tanpa merespon ucapan Ucok, Roma langsung berjalan kearah Tommy.


"Permisi, boleh saya periksa kondisinya?" ucap Roma pada wanita yang sedang memijit kepala Tommy itu.


"Kamu siapa? Tahu apa tentang kondisi orang yang mabuk laut? Saya ini dokter jadi lebih paham tentang kondisi orang yang mabuk laut." Wanita itu sepertinya tidak senang dengan kehadiran Roma disana.


"Oh ya–, syukurlah ternyata sudah ada dokter yang tepat untuk menanganinya. Saya permisi–."


"Dek–." Roma ingin melangkahkan kakinya meninggalkan Tommy dan wanita itu. Tapi tangannya ditahan oleh Tommy.


"Kamu mengenalnya?" Wanita itu tampak terkejut dan kesal.


"Dia tunangan saya. Terimakasih ya atas bantuannya. Dia ga tahu kalau saya mabuk laut lagi tadi dia bilang mau jalan-jalan sebentar." ucapnya tentu saja berbohong.


"Sial, ternyata nih cowok udah punya tunangan. Kirain masih singel." Batin wanita itu.


"Oh, maaf." Wanita itu pergi meninggalkan Tommy dan Roma lalu kembali kebtempat duduknya dan terus melihat kearah Tommy dan Roma yang duduk ditepi kapal.


Roma memegang pergelangan tangan Tommy. Dirinya pernah belajar tehnik akupresur untuk menghilangkan rasa mual dan muntah. Lalu menekan titik tekan Neiguan. Cara untuk menemukan titik Neiguan sangatlah mudah hanya tinggal meletakkan tiga jari (telunjuk, tengah, manis) melintang pada pergelangan tangan. Setelah itu letakkan ibu jari tepat di bawah jari telunjuk, lalu tekan selama tiga menit untuk meringankan rasa mual dan muntah.


Semua gerakan yang dilakukan Roma itu diperhatikan oleh wanita itu.


"Siapa dia sebenarnya? Dari mana dia tahu tehnik itu?" Batin wanita yang mengaku dokter itu.


"Kamu mau kenapa diam aja dek?"


"Gimana apa masih mual?" tanya Roma tanpa menjawab pertanyaan dari Tommy sebelumnya.


"Iya udah mendingan." Setelah cukup tiga menit Roma melepaskan tangan Tommy. Lalu meluruskan duduknya. Dan tak sengaja netra mereka saling beradu dengan wanita yang mengaku dokter itu.


"Dek–." Roma diam saja masih fokus dengan tatapannya.


Wanita itu tidak terima ditatap sinis oleh Roma. Dia berdiri dan menghampiri Roma.


"Siapa kau sebenarnya? Dari mana kau tahu tehnik akupresur itu?" suara wanita itu sedikit meninggi, sehingga orang-orang yang duduk disekitarnya menatap kearah mereka.


"Dia itu mungkin sama seperti mu ito." ucap Ucok yang dari tadi diam saja. Tapi ia tidak terima kalau tamunya dipermalukan oleh orang lain.


"Memangnya Ito tahu siapa dia?" tanya wanita itu dengan sinis.


"Dia adalah tamuku ito. Dia pelancong dari Jakarta, dan setahuku dia dokter spesialis yang terkenal di Jakarta."


"Bang Ucok–, ga perlu Abang beberkan siapa aku sebenarnya." ucap Roma setengah berbisik tapi Tommy masih bisa mendengarnya.


"What? Dia juga dokter? pantas saja dia tahu tehnik itu. Kenapa aku bisa lupa ya. Kalau tidak aku kan bisa menolong pria itu tadi." Batin wanita itu.


"Siapa laki-laki itu, kenapa dia terlihat akrab sekali dengan Roma?" Batin Haidar


Karena merasa malu akhirnya wanita itu pergi meninggalkan Tommy dan Roma.


Like... Like... dan Like ya 🤗