Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Dua Garis



Rendi tidak menyangka kalau Tommy akan berbuat sekejam itu padanya. Awalnya Rendi sangat tertarik dengan kecantikan gadis-gadis yang diundang Tommy sebagai hadiah untuknya tapi bagaimana mungkin kalau ternyata mereka hanyalah seorang banci. Rendi membelalakkan matanya ketika melihat salah satu dari mereka berjalan mendekati Rendi.


"Ka-kalian mau apa?" Rendi sangat gugup dan takut ketika salah satu waria itu mendekatinya dan duduk ditepi ranjang tempat Rendi terbaring dan terikat.


"Jangan takut mas–, kita ga galak kok!" ucap waria yg duduk didekatnya. "Ini itu pekerjaan kami Mas, kami akan membuat Mas puas malam ini." lanjutnya lagi.


"Aku ga butuh, tolong jangan lakukan itu." Rendi memohon berharap mereka akan iba dan menghentikan aksinya.


"Duh Mas, kalau kita ga lakukan itu, kita ga gajian Mas. Mas ga kasihan sama kami?"


"Aku bisa membayar kalian 3x lipat?" tegas Rendi. "Asal kalian mau membebaskan saya dan jangan melakukan itu pada saya."


"Hahaha.... Mas pikir mas sanggup?" ucap Waria yang masih berdiri didepan Rendi lalu berjalan mendekatinya dan duduk disebelah kanannya.


"Tentu saja aku sanggup membayar kalian." ucap Rendi mantap.


"Mas, setiap malam kami dibayar 100 juta per orang dan itu sampai batas waktu yang ga ditentukan. 10 hari saja kami melayani Mas kami bisa mendapatkan 1 M mas. Apa mas sanggup untuk membayar kami?" tanyanya lagi dengan senyum sambil menyunggingkan bibirnya.


Mendengar hal itu tentu saja membuat Rendi terkejut dan terbelalak.


"Oya Mas ga usah kaget begitu, Sekarang kita kenalan dulu ya, dan kenalin nama saya Mawar." ucap Waria yang duduk disebelah kanannya sambil mengulurkan tangannya. Tentu saja Rendi tidak menyambutnya karena tangannya sedang terikat.


"Uups maaf saya lupa tangan Mas sedang dihukum." ucap Mawar lalu menarik tangannya kembali.


"Saya Bunga." Sambung waria yang pertama kali mendekatinya.


"Dan saya Melati, panggil saja Mela." lanjut Waria yang masih duduk dibangku tempat Rendi diikat sebelumnya.


"Kalian mulai deh, jangan sampai buang-buang waktu. Karena tugas kita masih panjang. Sebelum itu jangan lupa minum obat kuat biar On terus. Kasih juga dia–." perintah Mela pada kedua rekannya.


"Ok sip!" seru mereka berdua.


Bunga dan Mawar langsung mengambil beberapa pil andalan mereka untuk memuaskan pelanggan mereka.


"Jangan, jangan lakukan itu." ucap Rendi ketika Mawar dan Bunga mulai membuka mulutnya.


"Kasih dosis tinggi biar dia ga cepat loyo." perintah Mela lagi.


"Aku akan membunuh kalian kalau kalian berani melakukan itu." teriak Rendi.


"Kami lebih takut kalau Tuan Tommy yang membunuh kami kalau kami tidak melakukan perintahnya Sayang." ucap Bunga sambil membelai lembut wajah Rendi. Lalu dengan cepat ia mencengkram kuat dagu Rendi dan memasukkan obat perangsang dengan dosis tinggi kedalam mulutnya.


Lalu keduanya pun memulai aksinya sambil menunggu reaksi obat yang diminum Rendi bekerja.


"TOMMY AKU AKAN MEMBALASMU NANTI. KAU AKAN MENYESAL SUDAH MELAKUKAN INI PADAKU." teriak Rendi sekuat tenaganya.


"Sayang jangan berisik. Nikmati saja, nanti kamu pasti ketagihan kok." rayu Mawar.


"MENJAUH KALIAN DARIKU." Rendi masih berteriak pada Mawar dan Bunga. Tapi reaksi ditubuhnya sangat lain. Ia merasa panas dan ingin segera mendapatkan pelepasannya.


Melihat obat yang diminum Rendi sudah mulai bereaksi, Mawar dan Bunga pun langsung melakukan aksinya tak ingin membuang-buang waktu yang ada.


Sementara penjaga yang melihat pergulatan mereka melalui CCTV membuat mereka jijik dan ada juga yang terang*ang diantara mereka. Mendengar desahan kenikmatan yang diberikan ketiga waria itu.


▪️


▪️


▪️


▪️


▪️


Tommy baru saja sampai dirumahnya. Ia melihat istrinya Roma sudah tertidur lelap. Tommy melirik jam ditangannya sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Dengan cepat dia membersihkan dirinya lalu ikut berbaring bersama istrinya.


"Mas kamu baru pulang?" tanya Roma saat merasakan Tommy mencium keningnya.


"Apa aku membangunkanmu Sayang?" tanya Tommy sambil mengusap lembut rambutnya.


"Hmmm–."


"Maaf, ya sudah ayo tidur lagi."


"Mau dipeluk Mas–." rengek Roma manja.


Tanpa menunggu lama Tommy pun langsung membawa Roma kedalam pelukannya. Dan mereka pun tertidur dengan pulas.


...* * * * *...


Rembulan sudah berganti tugas dengan mentari. Tommy sudah bersiap akan berangkat ke kantornya begitu juga dengan Roma.


"Selamat pagi sayang–." Sapa Indah yang melihat Roma dan Tommy turun dari lantai atas.


"Pagi Mami–." sahut Roma lalu mencium kedua pipi Indah.


"Roma doang yang disapa, aku enggak. Anak Mami itu Tommy atau Roma sih Mi?" Gerutu Tommy tapi dalam hatinya ia begitu senang karena Maminya bisa menerima Roma dengan sepenuh hati.


"Ayo sarapan dulu yuk Sayang, ga usah hiraukan orang yang disamping kamu itu." Indah mengajak Roma duduk dimeja makan tanpa peduli dengan protes sang putra.


"Huummff–." Roma menutup mulutnya dengan tangannya menahan rasa mual. "Maaf Mi–." Roma berjalan cepat menuju dapur dan memuntahkan isi perutnya di wastafel yang didapur.


"Sayang kamu kenapa?" Tommy sudah berada disamping Roma lalu memberikan Roma air hangat. "Kumur pake air hangat dulu dek."


"Kamu kenapa Sayang?" Indah juga tampak sangat khawatir dengan keadaan Roma yang masih terus muntah-muntah.


"Ga tahu Mi, rasanya mual banget Mi."


"Hamil kali Nya." celetuk Bi Asih. Membuat Tommy dan Indah saling berpandangan lalu tersenyum.


"Apa benar sayang kamu hamil?" tanya Indah dengan penuh harap.


Roma tampak berpikir sambil menghitung tanggal dengan jarinya. "Benarkah aku hamil? Kalau dihitung-hitung. Aku udah telat 10 hari. Kok aku ga sadar sih?"


"Aku belum tahu pasti Mi, tapi kalau dari tanggal bulananku sepertinya udah telat Mi."


"Benarkah sayang. Kalau begitu kita ke dokter sekarang." ajak Indah dengan penuh semangat.


"Sabar ya Mi–, dan aku harap Mami juga jangan terlalu berharap karena hasilnya belum pasti Mi. Aku takut nanti Mami kecewa Mi."


"Maka dari itu kita harus ke dokter sekarang."


"Mami, Roma juga dokter kali Mi." Tommy menengahi keduanya karena ia melihat Roma tampak kurang bersemangat, mungkin karena dirinya baru saja muntah-muntah.


"Kalau begitu Mami minta Mang Ujang untuk beli Tespek aja." seru Indah lalu memanggil Ujang supirnya.


"Saya ikut Nyonya. Takut Mang Ujang malu belinya." Bi Asih menawarkan dirinya.


"Oke kalau begitu tolong ya Bi." pinta Indah lalu menyerahkan uang seratus ribu 5 lembar pada Bu Asih. "Beli 10 ya Bi." ucapnya lagi.


"Banyak banget Mi?"


"Biar pasti." ucap Indah pendek. "Bi, beli beberapa merk terbaik ya." perintahnya pada Bi Asih.


"Baik Nyonya." ucap Bi Asih lalu pergi meninggalkan rumah majikannya itu.


"Ya udah sekarang kita sarapan dulu ya sayang, tadi kan kamu udah muntah pasti sekarang laper kan?" tanya Indah. Dengan hati-hati Indah menuntun Roma untuk duduk di kursi makan.


Namun belum lama Roma duduk, ia kembali merasa mual dan berlari ke wastafel yang didapur.


"Mas, nasinya bau banget Mas, aku mual nyiumnya." lirih Roma.


Indah mendengar ucapan Roma menantunya segera menyimpan semua nasi putih dan nasi goreng yang ada diatas meja.


"Sayang Mami udah simpan semua nasinya. Kita sarapan roti aja ya? Atau kamu mau sarapan apa sayang?" tanya Indah yang kini sudah berdiri disampingnya.


"Mami, Roma pengen sarapan bubur kacang hijau Mi."


"Ya sudah, sebentar Mami masakin ya sayang. Untuk mengganjal sampai buburnya masak, kamu makan roti dulu ya Sayang. Tom, ajak Roma sarapan Roti. Beri minum teh hangat aja biar ga mual lagi." perintah Indah pada Tommy.


"Iya Mi." Tommy membawa Roma untuk kembali ke meja makan.


"Mau roti pakai selai apa dek?" tanya Tommy.


"Blueberry aja Mas."


Dengan telaten Tommy membuatkan roti untuk Roma istrinya.


"Mas ga ke kantor?" tanya Roma sambil memakan roti buatan suaminya itu.


"Enggak sayang. Mas mau nemenin kamu dirumah. Kamu juga ga usah kerja dulu. Muka kamu pucet banget Sayang." Tommy mengusap keringat dikening Roma.


30 menit kemudian Bi Asih sudah kembali bersama Mang Ujang.


"Nyonya ini tespeknya." ucap Bi Asih sambil memberikan kantong kresek ditangannya.


"Terimakasih Bi." ucap Indah sambil menerima kantong yang berlebel apotik terkenal itu.


"Nyonya masak apa Nya?"


"Bubur kacang hijau Bi, tadi Roma ga bisa nyium bau nasi. Jadi minta dibuatkan bubur."


"Nyonya baik banget sih sama neng Roma."


"Roma itu sudah saya anggap anak saya Bi, dia itu seperti malaikat yang menyelamatkan Tommy dari kubangan lumpur."


Bi Asih mengangguk seperti mengerti apa yang dikatakan Indah. Padahal Bi Asih tidak pernah tahu tentang kelainan Tommy dulu bahkan penyebab Tommy bercerai dengan Zia, Bi Asih juga tidak tahu.


Semua pekerja yang bekerja dikediaman Prayoga tidak pernah tahu apa yang terjadi didalam rumah tangga majikannya itu karena sebelum mereka bekerja disana mereka sudah melakukan kontrak kerja yang tidak akan mencampuri urusan rumah tangga majikannya. Kecuali bila saat Indah sendiri yang curhat dengan mereka. Tapi biasanya Indah hanya bercerita dengan Bi Asih. Itupun hanya hal-hal yang menurutnya tidak begitu rahasia.


"Sepertinya Neng Roma beneran hamil deh Nya." ucap Bi Asih.


"Semoga aja ya Bi. Kita doakan saja." sahut Indah. "Oya Bi, tolong lanjutin ya. Saya mau antar tespeknya dulu ke kamar Tommy."


"Baik Nya."


Dengan semangat Indah menaiki anak tangga menuju lantai dua dimana kamar Tommy dan Roma berada.


Tok... Tok... Tok...


Indah mengetuk pintu kamar Tommy.


"Sayang, ini tespeknya."


"Masuk aja Mi, pintunya ga dikunci." teriak Tommy dari dalam.


Indah pun membuka pintu kamar dan kembali mendengar Roma muntah-muntah.


"Sayang, kamu kenapa? Apa masih mual?" tanya Indah dengan paniknya ia langsung menemui Roma yang muntah-muntah di kamar mandi.


"Iya Mi." lirih Roma sambil membersihkan mulutnya dengan air.


"Ya sudah, ini tespeknya kamu tes dulu ya." Indah menyerahkan kantong kresek yang ditangannya kepada Roma.


"Iya Mi." ucap Roma.


"Ayo dites sekarang kok malah diam aja."


"Gimana aku mau tes coba? Kalau Mami masih juga disini." Batin Roma.


"Roma malu Mi–." ucap Roma sambil menundukkan kepalanya. Indah pun sadar lalu tersenyum pada Roma.


"Eh iya, maaf ya sayang. Ya udah Mami tunggu diluar ya." Setelah melihat anggukan kepala Roma, Indah pun keluar dari kamar mandi.


"Mas aku takut." lirih Roma.


"Takut kenapa sayang?"


"Aku takut nanti hasilnya akan mengecewakan Mas dan Mami." lirih Roma lalu menunduk kepalanya.


"Sayang, kamu ga perlu berpikir begitu. Kalau hasilnya negatif berarti Tuhan masih menyuruh kita untuk terus berusaha lagi. Tapi kalau hasilnya positif itu berarti Tuhan sudah mempercayakan kita untuk menjadi orangtua sayang. Apa pun hasilnya Mas akan terima dan tidak akan kecewa." Tommy memeluk dan mengecup kening Roma.


"Sekarang kamu tes ya." pinta Tommy lalu memberikan wadah kecil untuk menampung urine Roma.


"Mas, mana tespeknya?"


"Ini sayang." Tommy memilih salah satu merk ternama yang diyakini memiliki akurasi 99 %.


Dengan perlahan Roma mencelupkan tespek itu kedalam wadah yang sudah berisi urinenya.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Empat detik.


Lima detik.


Hingga akhirnya tidak sampai menunggu satu menit sudah menunjukkan hasil.


"Mas, hasilnya." Roma menunjukkan tespek yang ditangannya pada Tommy.


"Dua garis, artinya sayang?"


"Aku hamil mas. Aku hamil!" ucap Roma dengan bibir yang bergetar dan tanpa disadarinya airmatanya menetes.


"Alhamdulillah, Terimakasih ya Allah. Terimakasih Sayang." Tommy langsung memeluk Roma dan menghujani wajah Roma dengan ciuman.


Mendengar suara Tommy yang mengucap syukur, dengan perasaan tak sabar Indah masuk kembali kedalam kamar mandi.


"Mami, bentar lagi Mami akan jadi Oma Mi." ucap Tommy dengan wajah yang penuh kebahagiaan.


"Alhamdulillah, selamat ya Sayang." Indah memeluk Roma. Dan ternyata mertua dan menantu itu saling meneteskan airmata. Indah melonggarkan pelukannya dan menangkup wajah Roma. "Mami minta sama kamu tolong jaga baik-baik cucu Mami ya sayang." pintanya dengan mata yang masih penuh dengan cairan bening itu.


"Insyaallah Mi."


"Mami sangat bahagia Tom, Mami mau bersedekah Tom, mengucap syukur dengan menyumbangkan sebagian milik Mami pada orang-orang yang membutuhkan."


"Iya Mi." ucap Tommy setuju dengan apa yang dikatakan Indah Maminya.


"Mami kasih tahu Papi dulu kabar bahagia ini."


Indah keluar dari kamar Tommy dan langsung menemui suaminya yang masih tidur dikamarnya.


"Terimakasih Sayang–, anak Ayah baik-baik disana ya." ucapnya sambil mencium perut Roma yang masih rata.