Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Apa yang Harus Kulakukan?



Roma Pov


Bulan madu yang ku dambakan hancur berantakan dengan tragedi meninggalnya Sandy mantan partner suamiku itu. Ku lihat seperti ada perubahan dari sikap mas Tommy kepadaku. Aku seperti terabaikan, bagaimana tidak? Aku sudah menuruti semua keinginannya. Siang itu Dia meminta kami pulang duluan. Semua keluarga yang ikut berlibur bersama kali pun bingung dan terkejut kenapa kami pulang duluan.


Ibaratnya kami yang punya hajatan tapi kami meninggalkan tamu-tamu begitu saja. Rasanya tak etis sekali. Tapi semuanya seakan paham dengan keadaan kami saat itu.


Aku juga mendengar bahwa Mamak sangat kecewa dengan ku dan juga mas Tommy. Terutama denganku karena aku tak berterus-terang pada Mamak dan Bapakku tentang pribadi suamiku yang sebenarnya. Tapi aku punya alasan sendiri, aku tak ingin orangtuaku cemas, karena saat ini mas Tommy sudah sembuh dan aku rasa cukup saudara-saudara ku saja yang tahu perihal itu.


Selama dalam perjalanan pulang ke Indonesia, mas Tommy kebanyakan diam. Bahkan setelah sampai di apartemen dia langsung masuk kedalam ruang kerjanya. Aku tak berani untuk mengganggunya. Ku pikir dia butuh waktu untuk sendiri.


Aku mengalah dan memilih untuk beristirahat. Tapi aku merasa lelah menunggunya dikamar, sudah hampir 3 jam dia berada diruang kerjanya itu. Aku penasaran apa yang dilakukan suamiku berlama-lama didalam ruangan itu. Aku berjalan menuju ruang kerjanya, ku pegang handle pintu itu tapi belum sempat aku membukanya ku dengar sayup-sayup suara tangisan dari dalam. Ternyata suamiku itu menangisi mantannya itu.


Apakah Mas Tommy masih memiliki perasaan untuknya? Ahk, pemikiran macam apa itu. Ku tepis segala pikiran buruk tentang suamiku itu.


Aku terduduk di samping pintu ruangan itu, menunggu Mas Tommy keluar dari kamar itu. Sudah hampir satu jam aku menunggunya tapi mas Tommy tak juga keluar dari kamar itu, hingga aku tersadar saat Mas Tommy mengangkat tubuhku dan membaringkanku ditempat tidur.


Tommy Pov


Meninggalnya Sandy membuatku terpukul, rasa bersalah yang ditinggalkannya begitu melukaiku. Kenapa dia bisa berpikir sampai sejauh itu. Sedalam itukah luka yang ku goreskan padanya sehingga dia melampiaskan dendamnya dengan bunuh diri didepanku. Saat malam itu aku tak bisa tidur. Aku merasa sangat bersalah pada Roma istriku. Aku tahu dia mencemaskan ku tapi aku masih ingin sendiri kala itu.


Aku menghubungi Fernando, aku teringat perkataan Zia bahwa Fernando adalah sahabat Sandy.


"Hallo Fer, maaf aku mengganggu waktumu." ucapku tanpa basa-basi.


"Tidak Tuan, apa ada yang bisa saya bantu Tuan?" Dia bertanya padaku, aku bingung harus berkata apa padanya, tapi aku harus memastikannya sendiri.


"Fer, aku ingin kamu jawab semua pertanyaanku dengan jujur."


"Ada apa Tuan? Silahkan Tuan–, Tuan ingin menanyakan apa?"


"Apa benar kau adalah sahabatnya Sandy?" Dia terdiam beberapa detik, setelah barulah kembali terdengar suaranya.


"Apakah Sandy baik-baik saja Tuan?" Dia tidak menjawab pertanyaan ku tapi dia malah bertanya tentang keadaan Sandy. "Maafkan saya Tuan. Saya akan berkata yang sejujurnya pada Tuan." Dia menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan kasar sehingga suara hembusannya terdengar jelas ditelingaku.


"Benar, Sandy adalah sahabat saya Tuan. Dia jugalah yang merekomendasikan saya untuk bekerja dengan Tuan. Tapi bukan untuk sebagai mata-matanya Tuan, dia murni hanya ingin membantu saya, mencarikan pekerjaan untuk saya. Karena saat itu dia tidak bisa memasukkan saya ke dalam perusahaan keluarganya karena saat hubungannya putus dengan Tuan keluarganya juga baru tahu kalau dia seorang gay. Mereka tahu saat Tuan Tommy memasukkannya kedalam penjara. Saat dirinya meninggalkan perusahaannya hanya karena ingin menyusul Tuan ke London."


"Tapi kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?" Aku ingin tahu apakah ada maksud lain Sandy membantunya merekomendasikan perusahaanku padanya.


"Maaf Tuan, itu hal pribadi Sandy. Karena tidak ada kaitannya dengan pekerjaan makanya saya tidak memberitahukannya pada Tuan. Sekali lagi maafkan saya Tuan." Suaranya terdengar tulus meminta maaf padaku.


"Sajak kapan kau tahu hubungan kami?"


"Saya mengenal Sandy sejak SMA Tuan, jadi saya tahu sejak awal hubungan Tuan dengannya. Dia cerita kalau dia merasa bahagia karena akhirnya memiliki pacar yang sama sepertinya. Bahkan ketika dia terluka karena Tuan lebih memilih Nona Zia dari pada dirinya, saat itu dia juga cerita Tuan. Tapi dia bahagia karena Pernikahan Tuan dengan Nona Zia hanya tameng untuk menutupi hubungan Tuan yang sebenarnya."


"Dan dia mulai kesal ketika Tuan mengabaikannya dan lebih memilih Nona Roma. Tapi penusukkan Nona Roma saat di London itu sengaja ia lakukan karena perasaan sakit hatinya kepada Tuan. Maafkan saya Tuan karena saat itu saya belum mengenal Tuan dan belum bekerja dengan Tuan, sehingga saya tidak tahu kalau yang dilukainya itu adalah Nona Roma."


"Maafkan saya Tuan, sebenarnya yang memberitahukan tempat honeymoon Tuan sebenarnya adalah saya bukan Nona Zia. Karena dia ingin minta maaf sama Tuan." tutur Fernando menjelaskan seberapa dekat hubungannya dengan Sandy.


"Sudah terlambat Fer, dia tidak meminta maaf padaku."


"Maksudnya Tuan?" Terdengar Fernando bingung dengan ucapanku.


"Sandy sudah meninggal."


"Apa Tuan? Sandy meninggal?" Fernando begitu terkejut mendengar sahabatnya itu telah tiada.


"Saat ini Jenazahnya sedang dibawa Zia dan Ken kembali ke Indonesia. Aku ingin kau menemani Ken untuk mengurus segala keperluan pemakamannya. Dan jika pihak keluarganya menuntut aku bersedia menjelaskannya di pengadilan." Aku pun menceritakan semua kejadian yang terjadi saat penembakkannya yang bermula dari keisengannya menodongkan senjata kepada Roma.


"Tuan, sebenarnya Sandy datang kesana selain minta maaf ia juga ingin mengatakan sesuatu sama Tuan." ucapnya lirih.


"Mengatakan apa Fer?" Aku penasaran apa yang sebenarnya Sandy ingin katakan padanya.


"Maaf Tuan, saya benar-benar minta maaf. Saya bingung apakah saya harus mengatakannya atau tidak." Aku semakin penasaran dibuat Fernando.


"Fer, cepat katakan jangan membuatku semakin penasaran." ucapku dengan perasaan yang tidak sabar.


"Tuan, sebelumnya saya minta maaf, sebenarnya saya tak pantas untuk mengatakan ini. Tapi karena Sandy sudah tidak ada saya harus mengatakannya sebelum semuanya terlambat." lirihnya membuatku semakin penasaran.


"Cepat katakan Fer–." aku terus mendesaknya untuk mengatakan hal lain apa yang ingin Sandy katakan padaku.


"Sandy menderita penyakit HIV Tuan."


Jantungku seperti berhenti seketika, bibirku tak mampu lagi untuk berkata. Aku hanya bisa mendengarkan Fernando saja tanpa berkomentar apa-apa.


"Sandy baru mengetahuinya setelah melakukan pemeriksaan kesehatannya di Singapura bulan lalu. Ia terkena penyakit itu dari pasangannya sebelum bersama Tuan."


Aku terjatuh duduk dilantai, duniaku serasa runtuh. Ku bayangkan bagaimana nasib Pernikahanku dengan Roma gadis yang baru aku nikahi bahkan aku sudah menggaulinya.


"Tuan, Tuan–." terdengar suara Fernando memanggilku terus menerus.


"Fer, akan ku temui kau setelah pulang ke Indonesia. Dan tolong jangan beritahu kepada siapapun tentang penyakit Sandy itu." ucapku tegas walau sebenarnya hatiku sangat hancur.


"Baiklah Tuan."


"Tolong bantu Ken untuk mengurus pemakaman Sandy." perintahku padanya.


"Baik Tuan." sahutnya diseberang sana dan langsung ku putuskan panggilan teleponku.


Kakiku gemetar, aku kesulitan berdiri. Sekuat tenaga aku mencoba untuk berdiri dan kulihat wanitaku itu sudah tertidur lelap.


"Apa yang harus kulakukan padamu dek?" Airmataku menetes melihat wanita itu. "Apa yang harus ku lakukan selanjutnya?"


Bagaimana kalau aku juga terjangkit penyakit itu?


Pikiranku kacau, aku tak tidur sama sekali. Saat dia terbangun ku lihat kecemasan diwajahnya. Aku tahu dia berpikir bahwa aku mencemaskan Sandy. Tapi sebenarnya aku sangat mencemaskannya. Bagaimana hubunganku selanjutnya dengannya.


"Oh Tuhan, inikah hukuman untukku karena sempat berada dijalan yang salah?"


Ku putuskan untuk membawanya pulang ke Indonesia meskipun aku tahu dia sangat kecewa dengan keputusan ku itu. Tujuanku hanya satu, bertemu Fernando lalu melakukan pemeriksaan kesehatan.


Aku mengabaikannya, aku jijik pada diriku sendiri, aku ingin menjauh darinya. Aku merasa diriku ini seperti virus yang harus dijauhinya.


Berjam-jam lamanya aku mengurung diriku diruang kerjaku menangisi nasib hidupku ini. Tak bisa ku bayangkan seandainya dia tahu kalau Sandy memiliki penyakit itu dan bagaimana jika penyakit itu juga bersemayam ditubuhku. "Apa yang harus ku lakukan pada wanita ini Tuhan?" Ku pandangi foto pernikahan kami yang belum genap seminggu.


Sepertinya aku ditakdirkan untuk tidak menikah. Apakah pernikahan seperti sebuah kutukan untukku?


Dulu dipernikahanku yang pertama aku menyakiti hati wanita yang ku nikahi hanya karena ingin menutupi hubunganku dengan Sandy. Aku menikahi Zia hanya untuk menutupi kalau sebenarnya aku ini gay.


Dan saat ini aku sudah sembuh dan bertaubat, cobaan apa lagi yang Tuhan berikan untukku saat ini?


Haruskan aku menceraikan Roma untuk menghindari penyakit terkutuk itu?


Haruskah aku kembali melukai hati wanita yang sangat kucintai?


Aku merindukan wanita itu, aku merindukan istriku.


Ku putuskan untuk keluar dari ruang kerjaku dan betapa terkejutnya aku melihatnya duduk dilantai sampai tertidur bersandar di dinding disamping pintu ruangan kerjaku itu.


Ku angkat tubuhnya dan ku bopong sampai ke kamar kami. Dia menggeliat setengah sadar saat aku menggendongnya.


Ku baringkan tubuhnya pelan ditempat tidur, tak ingin membuatnya terbangun.


Tapi dia membuka matanya.


"Mas–." dia memanggilku dengan lembut. Aku ingin menangis ketika mendengar suaranya. Haruskah aku melukai hati wanita sebaik ini?


"Tidurlah, kamu harus istirahat." hanya itu yang bisa ku katakan padanya.


Sebenarnya ingin sekali aku memeluknya tapi aku tidak ingin menyentuhnya untuk saat ini.


"Mas, Aku pengen dipeluk?" rengekan manjanya tak sanggup untuk ku tolak.


Aku berbaring disampingnya dan ku peluk tubuhnya dengan erat. Ketika dia ingin menciumku, kupalingkan wajahku lalu bersembunyi dibalik kepalanya.


"Tidurlah Sayang, Mas akan selalu menjagamu." Aku memeluknya dengan erat tidak ingin dia curiga dengan penolakan yang kulakukan.


Part ini banyak menguras airmata 😭😭😭


Jangan lupa tinggalkan Jejakmu ya Say 😔