
Romauly POV
Sudah seminggu ini aku disibukkan dengan pekerjaanku dan selama itu pula aku tidak ada komunikasi dengan Bang Tommy. Aku kesal padanya karena dia masih merahasiakan pembicaraannya dengan Bara. Padahal aku sudah merayunya, mulai dia merajuk karena aku terlambat pulang. Aku sudah sengaja menciumnya supaya dia tidak marah lagi dan berhasil dia sudah tidak marah padaku. Tapi perkataannya setelah itu loh.
"Dek lanjut ke kamar yuk–."
Apa coba maksudnya. Jujur kalau aku tidak memikirkan harga diriku dan kehormatanku dan juga kehormatan keluarga ku mungkin saja aku sudah pasrah padanya.
Syukurlah Bang Iman masih bersamaku akhirnya aku tidak tergoda dengan godaan yang menggoda.
"Apaan sih, cari restu dulu terus halalin aku, kalau udah halal mau ngapain aja terserah Abang."
Akhirnya dia melepaskan pelukannya dan kami melanjutkan makan siang bersama. Sebelumnya aku sudah membeli makanan di Restoran cepat saji dekat Rumah Sakit, karena ku pikir akan lama kalau harus memasak dulu. Lagi pula bahan makanan di kulkas juga sudah habis. Aku belum sempat belanja karena sibuk dengan pekerjaanku.
"Bang–." Aku duduk disampingnya. Setelah makan kami memilih untuk menonton di ruang serbaguna apartemenku itu. Aku ga tahu kalau dia akan berencana menginap lagi atau pulang. Yang ku lihat dia sudah berganti pakaian dengan pakaiannya sendiri dan saat disela makan tadi aku menanyakan apakah dia membeli baju baru? Ternyata tidak, dia malah menyuruh supirnya untuk mengambil baju ganti dari apartemennya dan mengantarkannya ke apartemen ku.
"Hmm–." Dia hanya berdehem dan langsung meletakkan kepalanya dipangkuan ku. Aku ingin menolaknya tapi nanti pasti dia akan marah lagi. Akhirnya ku biarkan saja.
"Dulu Abang semesra ini ga sih sama Zia?" Ah, pertanyaan aneh yang keluar dari mulutku. Tapi rasa ingin tahuku membuatku bertanya padanya.
"Abang ga mau bahas masa lalu." jawabnya. Dia memejamkan matanya. Aku menyentuh keningnya memeriksa apakah masih demam atau tidak. Ternyata dia sudah sembuh. Pikirku.
"Kapan Abang sadar kalau Abang suka sama Zia?" Entah apa yang ingin ku ketahui dari hubungan masa lalunya dengan Zia. Apa karena tadi pasienku menyebut nama Zia sehingga terbawa-bawa sampai pulang ke rumah. Tapi Bang Tommy diam saja dia masih memejamkan matanya.
"Abang pernah ga ciuman sama Zia?" Jujur aku memang ingin tahu kehidupan rumah tangga yang dijalani Bang Tommy dulu.
Bang Tommy membuka matanya lalu bangun dari pangkuanku dan menatapku dengan tajam.
"Jangan memancing sesuatu yang akan membuatmu sakit hati sendiri nantinya. Abang ga mau membandingkan kamu dengan Zia. Sekarang tujuan Abang hanya satu yaitu kamu. Abang ga suka kamu bertanya seperti itu. Apa masa lalu Abang masih menjadi beban untukmu?"
Benar apa kata Bang Tommy, hatiku sakit sendiri tapi bukan karena cerita masa lalu Bang Tommy tapi hatiku sakit saat mendengar pertanyaan Bang Tommy yang seolah aku meragukan cintaku karena tak pernah terbesit dalam pikiranku kalau masa lalunya itu menjadi beban untukku. Matanya begitu sendu saat menanyakan itu padaku. Aku merasa bersalah telah menggores lukanya kembali.
"Maaf Bang, tapi bukan begitu maksudku. Aku–." Belum lagi aku menyelesaikan ucapanku Bang Tommy sudah memotongnya.
"Sudahlah, ga usah dibahas lagi." Aku terdiam dan tak ingin membahasnya kembali. lalu Bang Tommy kembali ke posisinya semula ia berbaring dan meletakkan kepalanya dipangkuanku lalu kembali memejamkan matanya.
"Bang–." Aku bingung bagaimana harus memulainya.
"Apa? Dari tadi Bang Bang mulu." Iya masih malas membuka matanya tapi aku melihat sudah ada senyuman dibibirnya.
"Abang belum cerita sama aku, apa yang Abang bicarain sama Bang Bara kemarin?" Akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari mulutku.
"Ga ada, cuma ngobrol biasa aja." jawabnya singkat.
"Kalau cuma ngobrol biasa kok sampe selama itu?" Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan Bang Tommy dan aku masih penasaran.
Bang Tommy bangun lagi dari pangkuanku dan kini duduk disebelah ku.
"Lah, kamu juga kalau ngobrol sama teman-teman kamu pasti juga lama kan? Ya sama Abang juga gitu cuma ngobrol biasa pendekatan ngobrol obrolan sesama laki-laki." Bang Tommy kok jadi nyolot gini ya?
"Biasa aja dong Bang, ga usah ngegas gitu." Aku jadi kesal sendiri dibuatnya.
"Dari tadi omongan kamu tuh yang mancing emosi mulu. Tanya masa lalu lah, ciuman lah, cinta ga sama Zia lah sekarang kamu juga mau tau apa yang aku obrolin sama Abang kamu. Kalau kamu ga suka sama masa lalu Abang ya sudah, GA USAH NIKAH SEKALIAN." Bang Tommy benar-benar marah, ia berdiri lalu berjalan ke kamar.
Aku diam terpaku, tak tahu harus berbuat dan berkata apa? Mungkin aku salah sudah menyinggung masa lalunya. Tapi ucapan terakhirnya membuat aku sakit hati. Semudah itu Bang Tommy mengeluarkan kata-kata itu.
Bang Tommy keluar dari kamar, ku coba tersenyum padanya dan menghampirinya. Aku menahan airmataku yang hampir tumpah.
"Bang–." Aku ingin memegang lengan tangannya tapi dia berlalu dari depanku tanpa melihat kearahku. Ternyata Bang Tommy ke kamar untuk mengambil kunci mobilnya. Bang Tommy pulang tanpa pamit padaku.
"Salahku sendiri menggores luka lamanya."
Dan seketika itu terdengar backsound
🎵 Ku menangis 😭😭😭
Segitu dulu ya 😍
Jangan lupa tinggalkan jejakmu jangan kayak uka-uka yang ga keliatan wujudnya 🤣