Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Syarat



Tommy melajukan mobilnya membelah jalanan ibukota yang terkenal dengan kemacetannya. Dirinya masih melupakan mengisi perutnya padahal baru saja ia di infus akibat asam lambungnya yang kembali kambuh. Mungkin bukan karena dia sering terlambat makan tapi lebih tepatnya dikarenakan faktor stress.


Seminggu berpisah dengan Roma sudah sangat menyiksa batinnya bagaimana jika dirinya benar-benar tidak dapat mempersunting wanita pujaannya itu entah apa yang akan terjadi padanya.


"Loh kenapa Bang Tommy kearah yang berlawanan?" Roma melihat Tommy melajukan mobilnya kearah yang berbeda dengan arah rumah Bara.


"Abang mau bawa aku kemana sih Bang?" Roma ingin bertanya tapi suaranya seperti tercekik susah untuk keluar. Ini kedua kalinya ia melihat Tommy marah dan kesal karenanya. Sebelumnya terjadi seminggu yang lalu saat rasa penasarannya akan cerita Tommy dengan Bara. Dan itu membuatnya sangat tersiksa dengan dilanda rindu. Memang benar kata Dillan rindu itu berat dan dia tidak bisa menanggungnya.


Tommy memarkirkan mobil Roma dibasement apartemennya. Saat ingin membuka seatbelt-nya ia baru sadar saat melihat kearah Roma bahwa wanitanya itu sedang tertidur.


Tommy memandang wajah cantik Roma dan menyisihkan anak rambut yang menutupi kecantikannya.


"Sayang bangun–." Tommy mengelus lembut pipi Roma. "Udah sampe dek."


Roma membuka matanya perlahan dan melihat wajah Tommy tepat didepannya dengan jarak yang sangat dekat.


"Kita dimana Bang?"


"Maunya kamu dimana?"


"Di rumah Bang Bara–." ucap Roma asal, karena ia tahu pasti kalau itu tidak akan terjadi karena tadi ia melihat Tommy membawanya kearah yang berlawanan.


Syukurnya sebelum dirinya tertidur ia sempat mengirim pesan pada Edanya itu supaya pulang ke rumah orangtuanya saja karena dia pasti tidak akan bisa pulang hari ini.


"Kamu beneran mau pulang kerumah Bang Bara?" Tommy ingin memastikan keinginan Roma.


"Kalau aku bilang Iya apa Abang bolehin?" Tapi Roma hanya bisa berkata dalam hati.


"Ayo turun."


"Ini dimana?" Roma celinguk sana celinguk sini ia belum pernah berada ditempat itu sebelumnya.


"Ini beneran hotel Bang?" Roma merasa takjub dengan interior loby yang seperti hotel mewah.


"Jadi kamu maunya ke hotel?"


"Ish Abang, aku kan cuma nanya."


Tommy menggenggam tangan Roma memencet tombol lift setelah pintu lift terbuka mereka pun masuk.


"Ini apartemenku. Interior loby memang seperti hotel. karena lantai bawah adalah mes karyawan."


"Oh–."


Ting.


Pintu lift terbuka mereka sudah sampai di unit Apartemen Tommy. Di lantai paling atas bangunan itu ada sebuah cafe dan tentunya sangat indah dan menarik untuk nongkrong disana menikmati keindahan malam ditengah kelap kelip lampu Ibukota.


Tommy membuka pintu apartemennya. Roma kembali merasa takjub dengan interior bangunan yang didominasi dengan warna putih dan abu-abu muda.


Pemilihan dan penggunaan furnitur serta hiasan-hiasan yang unik menambah nilai estetika apartemen itu karena furnitur dan hiasan merupakan bagian penting dari interior sebuah apartemen.


"Duduklah." Tommy mendudukkan Roma di sofa yang ada di ruang tengah. "Kamu mau minum apa?"


"Ga usah Bang, nanti aku ambil sendiri."


"Ya udah, dapurnya disana." Tommy menunjuk arah dapurnya. "Nanti kamu pilih sendiri mau minum apa. Abang mandi dulu ya."


Tommy pun masuk ke kamarnya dan selang 20 menit Tommy keluar dari kamar dan mencium aroma sedap dari dapur. Ternyata Roma sedang memasak didapurnya.


"Kamu masak apa dek?"


"Hanya spaghetti yang ada disini. Jadi aku masak spaghetti untuk Abang." ucapnya sambil menunjuk lemari penyimpanan bahan makanan kering. "Abang belum makan kan? Abang itu selalu aja melewatkan makan, sepele sekali sama penyakit sendiri. Gimana kalau nanti lambung Abang bocor mau Abang dibedah dari sini sampaaaaiiii sini." Roma menunjuk perut atas Tommy sampai bawah pusatnya. Lalu Roma dengan cepat menarik tangannya takut bablas sampai bawah.


"Ga sampe bawah sekalian dek?" Tommy kembali menggoda Roma.


"Dasar mesum, udah nih makan dulu." Roma menghidangkan sepiring spaghetti untuk Tommy.


"Kamu ga makan dek?"


"Ga ahk, masih kenyang. Nanti kalau lapar aku makan."


"Berarti nginep disini dong ya?"


"Ga ahk–, takut tunangan Abang marah."


"Gimana caranya aku menjelaskan padamu semuanya?"


"Abang ga punya tunangan dek–. Eeh, belum maksudnya. Cewek yang mau jadi tunangan Abang ngasih syarat susah banget sama Abang. Kalau dia mau, Abang maunya bawa dia kawin lari aja biar ga ribet."


Tommy sengaja menyindir Roma. Ia kembali teringat akan permintaan Roma yang harus meminta restu pada saudara-saudaranya.


Flashback On


"Duduklah–." Bara mempersilahkan Tommy duduk di sofa yang ada diruangan kerjanya.


"Terimakasih Lae." Tommy duduk dan menunggu ucapan Bara selanjutnya. Tapi Bara masih sibuk dengan berkas-berkas yang ada dimeja kerjanya.


"Apa sih yang mau dia omongin, kenapa sok sibuk sendiri." Batin Tommy


"Bang aku masuk–." suara wanita yang sangat dicintainya itu terdengar dari balik pintu.


"Masuklah Badi–."


Bara menyuruh Roma masuk lalu ia berjalan dan duduk didepan Tommy.


"Keluarlah Badi–." ucapnya setelah Roma selesai meletakkan kopi dan cemilan ditangannya.


Tommy melihat sedikit kekecewaan diwajah wanitanya itu. Setelah memastikan Roma sudah keluar dari ruangannya barulah Bara menanyainya.


"Sejauh apa kamu mengenal Badi?"


"Ternyata dia masih menganggapku orang lain. Buktinya aku sudah memanggilnya dengan sebutan khas orang batak memanggil tapi dia–."


"Aku mengenalnya sejak dia masih kuliah di London, tapi jujur aku belum mengenal semua keluarganya termasuk Abang-abangnya. Aku baru mengetahuinya setelah aku bertemu kembali dengannya." jelas Tommy jujur apa adanya.


"Apa kamu tahu, kenapa aku memanggilmu?"


"Ga Lae, dan justru itu aku datang. Karena aku ingin tahu apa yang ingin Lae katakan padaku." Tommy mencoba untuk tetap sopan dengan memanggilnya Lae.


"Apa kamu tahu dari ke empat saudaranya, Badi hanya cerita padaku, alasan kenapa kamu bercerai dengan istrimu sebelumnya."


Deg...


"Sampai sejauh itu dek? Aku tahu diantara keluarga itu harus saling terbuka. Tapi perlukah sampai sejauh ini?" Ada sedikit rasa kecewa di hati Tommy pada wanita yang dicintainya itu. Namun Tommy tetap mencoba untuk tenang.


"Semua orang punya masa lalu Lae, dan tidak ada orang yang ingin gagal untuk kedua kalinya atas kesalahan yang sama. Begitupun aku, aku tau Lae takut aku tidak bisa membahagiakan Roma karena penyakit ku sebelumnya. Tapi aku dapat memastikan kalau aku sudah sembuh dan aku bisa bertanggung jawab atas dirinya dan kebahagiaannya."


"Apa Badi tahu siapa Bella?"


Deg.


"Sudah sejauh mana kau sudah menyelidikiku Bara?"


Tommy terdiam dia tidak dapat menjawab pertanyaan Bara.


"Sepertinya Badi belum tahu siapa Bella sebenarnya." Bara menatap tajam pada Tommy.


"Aku akan jelaskan pada Roma siapa Bella dan aku rasa Roma akan mengerti." ucap Tommy tegas dan penuh percaya diri.


"Aku yang lebih mengenal Badi, apa kamu kira dia tidak akan terluka kalau dia tahu siapa Bella?"


"Tolong biarkan aku yang menjelaskan padanya Lae."


"Baik, dan ingat aku masih belum merestui hubungan kalian."


"Sebenarnya apa yang membuat Lae tidak merestui hubungan kami? Aku yakin ini bukan masalah Bella."


"Kau benar, dan jujur aku tidak suka dengan statusmu. Aku hanya tidak setuju adikku menikah dengan seorang duda, apa kata orang nanti. Adikku masih gadis bukan janda. Dia wanita baik, cantik dan seorang dokter pula. Aku tidak rela jika dia menikah dengan duda seperti mu."


Perkataan Bara begitu menusuk dihatinya. Jika bukan Abang dari wanita yang dicintainya mungkin saja Tommy sudah melayangkan tinjunya pada Bara. Sungguh benar desas desus yang ia dengar bahwa keluarga orang batak itu sangat menjunjung tinggi status sosial dan martabatnya.


Status duda atau janda yang disandang karena cerai hidup sudah seperti aib bagi mereka. Lain halnya jika yang menikah itu berstatus janda atau duda yang cerai mati hal itu tidak akan menjadi masalah yang besar bagi mereka namun sangat berbeda jika salah satunya masih gadis atau perjaka yang jatuh cinta pada janda pasti akan banyak pertimbangan-pertimbangan seperti yang Tommy alami saat ini.


"Bagaimana jika setelah kujelaskan siapa Bella sebenarnya. Dan Roma tetap memilihku, Apa lae akan merestui hubungan kami?"


"Dengan satu syarat." ucapnya dengan seringai liciknya.


"Apa syaratnya?"


"Kuberi kau waktu enam bulan. Kalau dalam batas waktu enam bulan Badi tidak hamil juga, aku ingin kau berjanji menceraikannya."


"Apa kau sudah gila?" Tommy kesal dan langsung meninggalkan ruangan kerja Bara. Tidak ada lagi sebutan Lae untuknya. Dari pada dia emosi dan meninju Bara lebih baik dia memilih untuk pergi.


Flashback off


Tommy sudah menghabiskan spaghetti bolognese buatan Roma. Matanya menatap sayu pada kekasihnya itu.


"Seandainya kamu tahu apa syarat yang diminta Abangmu Bara dek? Apa kamu masih mau berjuang untuk hubungan kita?"


Udah UP Gaes 🤗 jangan Lupa LIKE ya...


Plis... Pliss.... Pliiiissss.... 😍