
Tommy masih terbaring ditempat tidur, kepalanya masih terasa berat matanya enggan untuk bangun meskipun matahari sudah menjulang tinggi diatas. Terpaan angin mengenai kulitnya yang putih bersih terlihat gorden dikamar itu berkibar karena terpaan angin yang kencang. Roma sengaja matikan AC yang ada dikamarnya dan membuka jendelanya, karena saat itu Tommy masih demam.
Hari itu Tommy tidak masuk kantor karena ia merasa badannya belum cukup fit. Roma sudah menyiapkan semua keperluan Tommy mulai dari sarapan dan juga pakaiannya yang kemarin ia pakai sudah bersih di loundry.
Roma sengaja meninggalkan Tommy di apartemennya, ia harus tetap bekerja hari itu. Karena ia sudah ada janji dengan beberapa pasiennya.
Saat itu Angel yang bertugas menjadi asistennya berhubung Dewi masih sibuk mengurus Cinta. Sekarang Cinta sudah banyak kemajuan dirinya sudah mulai mau berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Meskipun ia masih tetap takut dengan pria tapi sekarang dirinya sudah mau berbicara dengan para perawat yang menjaganya.
"Angel siapa pasien selanjutnya?" Roma merenggangkan otot-ototnya dengan menautkan jari-jarinya dan meluruskan tangannya kedepan mematahkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Ada satu pasien baru dok, yang ingin konsultasi dengan dokter." Angel memberikan rekam medis pasien tersebut. "Namanya Tuan S. Evan Bagaskara dokter."
"Baiklah suruh dimasuk dan setelah ini kita tutup poli ya, saya ada urusan dan jam makan siang nanti saya mau langsung pulang." Roma mengingat Tommy yang masih dirumahnya.
Angel memanggil pasiennya dan menyuruhnya masuk dan duduk didepan Roma.
drt....drt...drt...
Ponsel Roma bergetar, ia membalikkan ponselnya dan melihat si penelpon. Roma melihat sekilas pasien yang duduk didepannya melirik ke arah ponselnya.
📞My Sain💖 Calling....
"Maaf ya saya angkat telpon sebentar." Roma melihat pasiennya menganggukkan kepalanya sambil tangannya mempersilahkan Roma.
"Ada apa Bang?"
"Dek, kamu dimana?" suara serak khas bangun tidur terdengar dari seberang.
"Dirumah sakit Bang, tadi kan aku udah bilang kalau aku harus kerja. Abang kalau mau makan tadi aku udah masak bubur buat Abang, nanti siang baru kita makan bareng ya. Bentar lagi aku pulang kok."
"Pulang jam berapa?"
"Jam makan siang aku udah balik. Sabar ya!"
"Iya jam berapa?"
"Jam 12 atau paling lama jam 1. Udah ya Bang aku masih ada pasien."
Roma memutuskan telponnya tanpa menunggu jawaban dari Tommy.
"Siapa dok? Pacar atau suami?" Pasien yang duduk si depan Roma itu sangay kepo ia memandang dengan penuh rasa penasaran. Roma hanya membalasnya dengan senyuman.
"Dengan Bapak Evan Bagaskara?" Roma membuka catatan rekam medis pasiennya.
"Panggil Evan saja." ucapnya sambil mengulurkan tangannya. Tanpa mengurangi rasa hormatnya Roma pun membalas uluran tangan Evan. "Dengan dokter siapa?"
"Saya dokter Uly, dan boleh saya tahu apa keluhan Bapak?" Roma melihat perubahan raut wajah yang tak suka dari Evan karena dirinya masih memanggilnya dengan sebutan Bapak. "Maaf, boleh saya tahu keluhannya?" Roma mengulangi pertanyaannya dengan membuang kata Bapak.
"Sebelum saya menjawab pertanyaan dokter, bisakah dokter merahasiakan apa yang akan saya ceritakan nanti?"
"Tentu– disini kerahasian pasien sangat terjaga. Jadi anda tenang saja."
"Ah dokter, kenapa harus formal sekali bicara denganku."
"Oke, kita langsung saja. Boleh tahu apa keluhannya? Karena sepertinya anda, eh maaf kamu tidak mengalami depresi atau semacamnya."
"Sebenarnya saya datang kesini atas rekomendasi seseorang. Sebelumnya beliau menyebutkan nama dokter Zia Rayna Dominic tapi setelah saya cari informasinya, ternyata dokter Zia tidak bekerja ataupun membuka praktek pribadi."
"Dia kenal Zia?"
"Anda kenal dengan dokter Zia?"
"Tentu aja enggak, aku hanya mendengar namanya saja. Karena dokter Zia tidak bekerja makanya dokter yang menanganiku itu merekomendasikan nama dokter. Kamu dokter Romauly Badia Nasution kan?"
"Dia bahkan tahu nama lengkap ku? Sebenarnya siapa yang merekomendasikannya?"
"Boleh tahu siapa nama dokter yang telah merekomendasikan saya?"
"Maaf dokter untuk itu aku tidak bisa memberitahu dokter. Beliau minta namanya untuk dirahasiakan."
"Aneh, mencurigakan banget. Siapa dia sebenarnya? Dan Kenapa nama depannya harus di singkat."
"Oke baiklah. Sekarang boleh kamu ceritakan apa yang menjadi keluhanmu sehingga kamu harus repot-repot mencari saya?"
"Begini saya ingin dokter menyembuhkan saya?"
Roma mengerutkan keningnya, ia melihat tidak ada yang aneh dari kejiwaan pasien yang duduk didepannya itu. Ia terlihat sangat normal.
"Apa dokter yakin?"
"Kenapa dia malah bertanya? Apa dia sengaja menyudutkan aku?"
"Ya–, sepertinya kamu salah memilih dokter."
"Tidak, saya tidak salah pilih dokter." ucapnya sambil membenarkan posisi duduknya. "Saya seorang gay dokter, dan saya dengar dokter sudah berhasil menyembuhkan pasien yang kelainan seksual seperti saya."
Deg...
"Siapa dia sebenarnya? Dan siapa yang sudah merekomendasikannya? Dari mana dia dapat informasi itu. Sementara aku belum pernah berhasil menyembuhkan seseorang yang berkelainan seksual seperti yang dikatakannya. Kalau Bang Tommy sembuh itu karena usaha dan niatnya sendiri."
"Bagaimana dokter?" Evan mengejutkan Roma dari lamunannya.
"Aku akan cari tahu siapa dia, sebaiknya aku ikuti dulu apa keinginannya bertemu denganku. Karena selain Bang Tommy, Zia dan dokter Michael tidak ada seorangpun yang tahu kalau aku pernah ikut menangani kasus seperti ini. Aku harus tetap tenang."
"Sudah berapa lama kamu tahu kalau kamu itu gay?"
"Sejak aku masih SMA. Dan aku ingin sembuh."
"Boleh saya tahu apa yang menjadi motivasi kamu untuk sembuh. Karena penyakit ini bukanlah penyakit yang biasa bila tidak ada motivasi dan keinginan yang kuat untuk sembuh maka semua pengobatan yang akan kamu lakukan akan percuma dan sia-sia."
"Pacar saya memutuskan saya secara sepihak, dan berpaling pada orang lain, saya sakit hati."
"Apakah keinginan kamu ini atas dasar dendam?"
"Tentu saja iya. Aku ingin membuatnya sakit hati juga karena sudah meninggalkanku."
"Hmm semoga aja pemikiranku ini salah. Semoga kesembuhannya nanti bukan untuk membalas dendam yang lain. Entahlah, entah kenapa perasaanku gelisah saat mendengar kalau dia juga kelainan seksual."
"Baiklah, sebenarnya untuk menangani hal ini saya juga harus menyiapkan tim saya. Saya tidak tahu kamu dengar berita dari mana tentang saya yang berhasil menyembuhkan pasien seperti kamu, karena sejujurnya bukan saya yang menyembuhkan pasien tersebut melainkan keinginan yang kuat dari diri pasien itu sendiri dan tentu saja dengan bantuan Tim dokter. Saya tidak mungkin bekerja sendiri. Kalau kamu tidak keberatan saya akan konsultasi dulu dengan beberapa dokter senior saya kemudian baru kita putuskan langkah apa yang tepat digunakan untuk proses kesembuhan kamu. Bagaimana?"
"Tapi aku tidak ingin semua orang tau tentang penyakitku ini dokter."
"Tidak akan ada yang tahu, hanya Tim dokter yang menangani saja."
Evan tampak berpikir. "Baiklah. Aku setuju."
"Oke, kalau begitu silahkan tinggalkan kontak yang bisa dihubungi, nanti kami yang akan menghubungi kamu."
Evan meninggalkan kartu namanya. "Kalau begitu saya permisi dulu dokter."
...🍥🍥🍥...
Apartemen Roma
Tommy sudah uring-uringan, karena Roma tidak datang sesuai yang ia katakan ditelpon. Tommy terus melirik jam dinding di ruang serbaguna apartemen kekasihnya itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.35 Wib. Tapi Roma belum juga datang.
Akhirnya Roma sampai ke apartemennya pukul 13.55 Wib.
"Bang maaf aku telat, tadi dijalan macet terus pasienku yang terakhir memakan waktu konseling sangat lama. Maaf ya." Roma berjalan menghampiri Tommy yang sedang duduk di sofa sambil menonton TV.
Roma sadar kalau Tommy sedang marah padanya karena sejak ia datang Tommy hanya diam saja.
Cup.
"Maaf ya Bang–." Roma mencium pipi kanan Tommy tapi Tommy masih tidak bergeming.
Cup.
"Bang Tommy, maafin Adek ya–." Roma mencium pipi kiri Tommy sambil berkata manja dengan suara yang dialunkan. Tapi Tommy masih saja diam.
Cup.
"Abang–." Roma mencium kening Tommy
Cup.
Tommy menahan tengkuk Roma saat Roma mencium bibir Tommy. Pertahanan Tommy runtuh ia tidak dapat menahan godaan dari kekasihnya itu.
"Dek lanjut ke kamar yuk–."
Yuk– tinggalkan Jejakmu say 🤗