Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Second Opinion



Negara Singapura penuh taburan cahaya indah saat dimalam hari, di jalan raya utama Orchard Road, mall-mall dan berbagai tempat yang semakin meriah dengan gemerlapan lampu-lampu kota.


Malam itu Tommy memutuskan untuk berjalan kali menyusuri kota malam itu yang tidak jauh dari Apartemennya. Fernando masih sibuk dengan pekerjaannya memilih untuk tetap di Apartemen. Setelah sebelumnya mereka sudah makan malam bersama.


Tommy tak tahu apakah memutuskan komunikasi sementara pada istrinya dan semua keluarganya itu adalah keputusan yang tepat atau bukan. Tapi dirinya berharap itu adalah keputusan yang tepat. Karena jika dirinya tetap berkomunikasi dengan Roma pasti akan sulit baginya untuk menjawab semua pertanyaan-pertayaan istrinya itu.


Setelah puas berjalan-jalan Tommy memilih untuk pulang dan beristirahat. Karena janjinya dengan dokter Sinta adalah jam 8 pagi waktu Singapura.


"Tuan anda sudah siap? Ini saya sudah buatkan sarapan Tuan " sapa Fernando ketika melihat Tommy yang baru keluar dari kamarnya.


"Terimakasih Fer–." ucapnya lalu duduk didepan Fernando.


"Tuan, Nyonya menanyakan tentang Tuan." Fernando sedikit ragu untuk mengatakannya tapi ia juga harus memberitahu bahwa dirinya mendapatkan pesan dari Nyonya Roma.


"Katakan padanya kalau kamu tak tahu apa-apa Fer–."


"Tapi Tuan–." Fernando tidak meneruskan ucapannya karena Tommy sudah lebih dulu memangkasnya.


"Dia tidak tahu kalau kamu bersamaku Fer–. Dan sebaiknya kau tidak usah mengaktifkan nomor Indonesia. Nanti kita beli nomor Singapura saja. Jika masalah urusan kantor, minta mereka menghubungimu via email saja."


Fernando hanya dapat menuruti perintah atasannya itu. Tanpa dapat berbuat banyak untuk membantu atasannya itu. Perihalnya yang dihadapi atasannya itu adalah masalah pribadi atasannya itu.


Setelah sarapan mereka langsung menuju Rumah Sakit tempat dokter Sinta bekerja. Karena mereka sudah membuat janji lebih dulu dan dokter Sinta juga belum membuka jadwal prakteknya sehingga Tommy tidak perlu melakukan antrian untuk konsultasi pada dokter itu.


"Silahkan duduk Sir." ucap Sinta saat kedua pria itu sudah memasuki ruangannya bersama dengan salah satu perawat yang mengantarnya.


"Panggil Tommy saja, mungkin kita seumuran." ucap Tommy lalu duduk didepan wanita itu.


"Silahkan tunggu di meja perawat saja ya Din." ucapnya pada Perawat yang bernama Dinda itu.


"Baiklah dokter." sahutnya lalu keluar dari ruangan.


"Ada yang bisa saya bantu Tom?" tanya Sinta langsung pada intinya dan mencoba bicara seakrab mungkin dengan pasiennya itu.


"Saya rasa dokter sudah mendengar alasan saya dari Asisten saya Fernando kenapa saya ingin bertemu dengan dokter."


"Iya–, benar. Lalu?"


"Saya ingin melakukan pemeriksaan seperti yang Sandy lakukan dok?"


"Ada hubungan apa kamu dengan Sandy?" tanya Sinta membuat Tommy mengerutkan dahinya. "Maaf, asisnten kamu hanya mengatakan kalau kamu ingin tahu tentang penyakit Sandy bukan mengatakan hubungan kamu dengan Sandy." Tommy melihat kearah Fernando yang duduk dibangku yang terpisah dengannya yang berada dibelakangnya. Lalu Fernando pun menganggukkan kepalanya.


"Kamu tidak perlu takut Tom, saya bisa menjamin kerahasiaan identitas kamu dan hasil konseling kita ini. Dan sebenarnya saya juga tidak bisa membocorkan diagnosa penyakit Sandy kepadamu."


"Jika kamu sudah memutuskan untuk jauh-jauh datang menemui saya itu artinya kamu sudah siap dan harus jujur dengan apa yang kamu rasakan dan kamu hadapi sekarang." jelas Sinta menyakinkan Tommy.


"Saya ingin melakukan pemeriksaan HIV. Tolong bantu saya, apa yang harus saya lakukan?" ucap Tommy lirih dan langsung pada intinya.


"Boleh saya tahu alasannya?"


"Saya dulu seorang Gay, dan Sandy adalah pasangan saya."


"Dulu? Lalu sekarang?" dokter itu mengerutkan dahinya.


"Sekarang saya sudah sembuh dan saya baru saja menikah." Sinta tampak terkejut mendengar Tommy yang mengatakan kalau ia sudah sembuh karena sangat mustahil untuk pasangan seperti itu bisa sembuh. "Saya tidak ingin menyakiti dan mengotori istri saya seandainya saya juga mengidap penyakit terkutuk itu."


Sinta menatap kagum pada pria yang duduk didepannya itu, sangat jarang ada orang yang memikirkan hal itu kebanyakan orang pasti akan senang menularkan penyakit terkutuk itu kepada orang lain karena dirinya berpikiran supaya tidak hanya dirinya saja yang akan menderita. Begitulah kebanyakan yang terjadi di negara itu. Ketika ada kebocoran rahasia negara akan penyakit HIV yang pernah menggemparkan negara itu.


Tommy pun menceritakan bagaimana hubungannya dengan Sandy dulu.


"Umumnya, pasien tidak memerlukan persiapan khusus untuk menjalani tes HIV." ucap dokter cantik itu.


"Akan tetapi, beberapa hal yang harus dilakukan sebelum melakukan pemeriksaan lanjut."


"Beberapa tes dan jenis permeriksaannya juga beragam, mulai dari Tes Antibodi, Tes PCR (polymerase chain reaction) dan yang terakhir Tes kombinasi antibodi-antigen (Ab-Ag test)"


"Apa perbedaan dari masing-masing tes itu dok? Terus mana yang paling akurat dan paling cepat keluar hasilnya?" Tommy tidak ingin berlama-lama disana. Ia ingin segera pulang dan menemui istrinya.


"Saya akan jelaskan satu persatu dulu. Yang pertama Tes antibodi, ini dilakukan untuk mendeteksi antibodi HIV dalam darah. Antibodi HIV adalah protein yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh sebagai respons terhadap infeksi HIV, biasanya 1–3 bulan setelah terinfeksi. Umumnya, tes ini digunakan untuk skrining awal, Tom. Nah, kalau dari ceritamu tadi kamu sudah berpisah dengan Sandy hampir dua tahun bukan? Dan kamu tidak memiliki gejala yang menunjukkan kamu itu terinfeksi HIV."


"Inilah sulitnya untuk kita menentukan apakah seseorang itu terinfeksi HIV atau tidak. Karena Orang yang terkena HIV itu pada awalnya akan merasa sehat seperti biasa. Hal itu dikarenakan masa inkubasi HIV atau masa masuknya virus hingga muncul gejala adalah 5-10 tahun. Bahkan bisa lebih dari 10 tahun jika daya tahan tubuh kita sangat baik." jelas dokter Sinta.


"Apa? Selama itu dok?" Tommy tampak sangat terkejut mendengar penjelasan dari dokter Sinta.


"Iya, karena dari masa inkubasi dalam satu siklus hidup virus yang berlangsung pada tubuh kita ad 7 tahapan. Yang pertama tahap pengikatan atau penempelan. Fase awal siklus hidup virus HIV diawali dengan masa inkubasi atau masa ketika virus belum aktif memperbanyak diri dan merusak sel dalam sistem imun."


"Yang kedua Penggabungan. Setelah menempel pada reseptor di permukaan sel inang, virus kemudian akan meleburkan diri."


"Ketiga reverse transcription dimana fase ini lama masa infeksi HIV yang melibatkan perubahan dari RNA HIV menjadi DNA HIV akan berakhir ketika HIV masuk ke dalam nukleus sel CD4."


"Panjang banget sih dok penjelasannya, ngapain juga dijelasin satu-satu gini? Udah kayak anak kuliahan aja aku dibuat dokter ini. Langsung aja ke intinya dok–." Batin Tommy yang sudah mulai jengah mendengar penjelasan dokter Sinta.


"Yang Keempat–."


"Maaf dok, langsung ke intinya saja." Tommy langsung memangkas penjelasan dokter Sinta dan membuat dokter Sinta sedikit tersinggung.


"Baiklah, dari masa inkubasi penularan itu ada 7 tahapan dan saya rasa saya tidak perlu menjelaskan sampai sedetail itu." Raut wajah Sinta mulai berubah kesal.


"Maaf kalau saya sudah menyinggung perasaan dokter. Tapi saya orang awam dok– saya juga tidak mengerti apa yang dokter jelaskan tadi dengan berbagai bahasa kedokteran yang dokter ucapkan jadi kalau bisa jelaskan pada saya dengan bahasa yang bisa saya mengerti." Tommy tahu kalau dokter Sinta tersinggung dengannya yang langsung meminta penjelasan pada intinya saja.


"Baiklah saya akan jelaskan sedikit dengan pemeriksaan yang akan kamu lakukan Tom, disini sebaiknya kamu melakukan Tes PCR saja. Karena Tes PCR adalah tes HIV yang paling akurat. Tes ini bahkan dapat mendeteksi infeksi HIV walaupun sistem kekebalan tubuh belum memproduksi antibodi terhadap virus tersebut. Namun sayangnya, tes ini jarang digunakan karena membutuhkan biaya yang cukup besar dan waktu serta tenaga yang banyak."


"Kamu jangan khawatirkan masalah biaya dok."


"Uupss–, Maaf saya lupa kalau kamu orang yang cukup kaya." Dokter Sinta tersenyum sengaja menggoda Tommy supaya menghilangkan ketegangan diantara mereka.


"Saya datang jauh-jauh kemari untuk berobat dokter–." Tommy mulai tidak senang dengan sikap dokter Sinta.


"Oke baiklah, saya hanya ingin mencairkan suasana saja. Supaya anda tidak terlalu tegang Tuan–." Rupanya dokter itu juga kesal dengan sikap Tommy.


"Saya akan memanggil petugas Laboratoriumnya untuk mengambil Sampel darah anda Tuan." Sinta yang kesal dengan Tommy pun mulai berbicara formal padanya.


Lalu Sinta menekan tombol telepon extension ke keruangan Laboratorium dan meminta petugasnya untuk datang ke ruangannya.


"Terimakasih dok, dan kalau boleh saya tahu berapa lama hasilnya akan keluar?"


"Setelah pengambilan darah selesai sebaiknya anda pulang saja. Besok anda bisa kembali lagi kesini." sahut Sinta datar dan tidak seramah diawal mereka datang.


"Ada apa dengan wanita ini? Kenapa dia tampak kesal begitu?"


Tak berapa lama petugas Laboratorium datang dan mengambil sampel darah Tommy lalu permisi keluar pada Sinta setelah selesai.


"Kalau begitu kami juga permisi pulang."


"Iya silahkan."


Sebenarnya untuk pemeriksaan PCR itu tidak membutuhkan waktu lama, hanya 6-10 menit saja hasilnya sudah keluar.


Tapi sepertinya Sinta ingin Tommy kembali konsultasi lagi padanya. Karena sejak awal melihat Tommy entah kenapa Sinta sudah tertarik padanya apalagi ditambah dengan sikapnya yang sangat melindungi istrinya membuat hatinya bergetar.


Dari cerita Tommy saja ia sangat yakin kalau pria itu sehat karena Tommy tidak memiliki gejala-gejala yang dialami Sandy. Tapi karena dirinya yang lebih tahu bagaimana masa inkubasi virus itu ada ditubuh manusia sehingga tidak menutup kemungkinan kalau pria itu juga tertular penyakit yang tidak ada obatnya itu.


"Fer, apa tidak ada rumah sakit yang lebih baik dari Rumah Sakit ini?" tanya Tommy ketika mereka sudah berada didalam mobil.


"Ada apa Tuan?" Fernando dapat merasakan ada yang membuat Tuannya itu kurang nyaman dengan pelayanan dokter Sinta tadi.


"Aku hanya ingin membuat perbandingan saja. Tidak salah kalau kita melakukan second opinion kan Fer?"


"Baik Tuan–, akan saya cari tahu Tuan dan sepertinya memang ada." ucap Fernando yang langsung mencari apa yang diminta oleh Tuannya itu.


"Kita langsung kesana Fer, aku ga mau waktuku terbuang sia-sia disini."


"Baik Tuan–."


Say Hai dong para Readers ku 🤗


Author butuh Kopi karena UP udah terlalu malam 😪