Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Panggillan Terakhir



Hampir 2 jam perjalanan menuju ke Singapura. Saat ini Tommy yang didampingi Fernando sedang menuju ke salah satu Apartemen yang telah disewa Fernando selama mereka akan berada disingapura.


Begitu sampai di Apartemen mereka masuk ke kamar masing-masing kebetulan Apartemen itu memiliki 2 kamar tidur.


"Fer, bagaimana bisa Sandy sampai terkena penyakit itu?" Tommy yang dari tadi menahan rasa penasarannya akhirnya menanyakannya juga pada Fernando saat Fernando membuatkan kopi untuk mereka minum berdua sebelum menyusun rencana mereka selama tinggal di Singapura.


"Saya kenal Sandy sudah sejak lama Tuan. Dan saya tahu dia gay sejak kami kuliah. Dia sering bergaul dengan laki-laki dan dirinya saat benci dengan perempuan. Awalnya saya mengira kalau dia membenci perempuan itu karena dia pernah disakiti oleh perempuan, tapi ternyata tidak. Sandy memang memiliki kelainan sejak lama." jelas Fernando


"Lalu bagaimana dia tahu kalau dia penderita penyakit itu?" tanya Tommy sambil menyeruput kopi buatan Fernando.


"Setelah memutuskan untuk sembuh dan konsultasi dengan istri Tuan, Sandy sangat senang dan dia sangat semangat untuk berjuang sembuh dari penyakit kelainannya itu. Namun dua bulan belakangan terakhir dia sering mengalami demam hingga menggigil, awalnya dokter mengira dirinya terkena penyakit DBD atau Malaria sehingga dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan darah ke laboratorium tapi setelah diperiksakan hasilnya negatif. Tiga hari kemudian muncul ruam di kulitnya, dia pun sering muntah-muntah, nyeri pada sendi dan otot-ototnya. Saat kembali melakukan pemeriksaan kedokter hasil pemeriksaannya menunjukkan adanya pembengkakan kelenjar getah bening. Dia juga sering mengeluh sakit kepala, sakit perut dan sakit dibagian tenggorokan terus juga sariawan membuatnya kesulitan untuk makan. Dokter mengatakan semua gejalanya mengarah ke penyakit itu Tuan."


"Lalu dokter menganjurkan supaya dia memeriksakan kesehatannya yang lengkap. Dokter yang memeriksanya awal tidak langsung memberitahu padanya kalau ciri-ciri gejala yang dialaminya itu adalah ciri-ciri pasien penderita HIV maka dari itu dokter itu menyarankan untuk Sandy melalukan pemeriksaan di Singapura."


"Sebenarnya dokter itu meminta Sandy untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di Jakarta saja tapi Sandy menolak dan meminta dokter itu untuk memberikan rekomendasi rumah sakit terbaik di Singapura."


"Lalu Sandy berobat ke Singapura. Dan setelah melakukan pemeriksaan yang hampir memakan waktu seminggu lamanya barulah dia tahu kalau dirinya dinyatakan positif penderita HIV." Fernando menjelaskan semua yang ia tahu tentang sahabatnya itu.


"Sebenarnya saya juga tidak tahu Tuan kenapa dia menceritakan semua kisahnya itu pada saya. Mungkin dia berpikir saya yang bisa menyampaikannya pada Tuan."


"Kamu atur pertemuan saya dengan dokter yang menangani Sandy itu." perintah Tommy


"Saya sudah menghubungi beliau Tuan. Kebetulan beliau adalah orang Indonesia yang di rekrut bekerja dinegara ini Tuan. Namanya dokter Sinta."


"Kapan kita bisa bertemu dengannya?"


"Kebetulan beliau sedang ada seminar di salah satu Rumah Sakit ternama disini Tuan. Dan untuk hari ini jadwal beliau sangat padat. Saya akan atur jadwal pertemuan kita besok pagi Tuan. Sekarang sebaiknya Tuan kabari Nyonya. Mungkin Nyonya Roma sedang kebingungan sekarang melihat Tuan tidak ada dirumah."


"Kau benar Fer, aku juga belum mengaktifkan ponselku begitu turun dari pesawat tadi."


🛑


🛑


🛑


🛑


🛑


Roma terbangun saat matahari sudah menjulang tinggi dilangit. Ia tak tahu jam berapa dirinya tertidur semalam. Rasa lelah yang dirasanya selama berjam-jam dipesawat barulah hilang terbayar dengan tidurnya yang nyenyak.


"Mas–, mas Tommy." Roma memanggil suaminya ketika ia tidak menemukan suaminya disampingnya.


Roma berjalan keluar kamarnya lalu mencari di dapur, ruang tengah, ruang kerjanya tapi ia tak menemukan suaminya.


"Kemana perginya mas Tommy?" gumamnya pelan.


Roma kembali masuk ke kamarnya, ia meraih ponselnya dan menghubungi suaminya. Tapi suaminya tak juga bisa dihubungi.


Lalu Roma membuka aplikasi pesan yang berwarna hijau itu. Dan ternyata ada pesan dari suaminya.


"Selamat pagi Istriku, Maaf mas ga membangunkan mu. Tadi mas lihat kamu masih nyenyak banget tidurnya. Jadi Mas ga tega buat bangunin kamu. Maaf ya sayang, untuk seminggu ke depan Mas lagi ada kerjaan mendadak di luar negeri. Maaf mas baru kasih tahu sekarang karena Fernando juga ngasih tahunya mendadak."


Entah kenapa tiba-tiba setelah membaca pesan Tommy suaminya, Roma menangis.


"Mas lagi ga ngindarin aku kan Mas–? Segitu terlukanya kah, mas kehilangan Sandy? Aaaa...aaa..."


Roma terus saja menangis, dirinya teringat saat Tommy mengurung diri diruangan kerjanya. Dia merasa kalau suaminya itu sedang menghindarinya.


"Mas kok tega sih ninggalin aku sendirian Mas? Aku salah apa mas Tommy? Aaaa...aaaa"


Telepon Roma pun berdering, dan dilihatnya panggilan video dari suaminya. Dengan cepas dihapusnya airmatanya dan menggeser tombol hijau yang bergetar-getar diponselnya itu.


"Assalamualaikum Sayang–, udah bangun ya?" sapa Tommy begitu melihat wajah istrinya muncul dilayar ponselnya.


"Mas Tommy dimana? Kok pergi ga bilang-bilang sih?" sahut Roma kesal.


"Waalaikumsalam Istriku–." sindir Tommy sambil tersenyum karena istrinya itu tak membalas ucapan salam darinya.


"Iya maaf. Waalaikumsalam Masku–." Roma membalas sedikit kelebay-an suaminya itu.


"Nah gitu dong. Kamu kok mukanya sembab gitu dek? Abis nangis ya?" tebak Tommy, padahal dirinya pun sedang berusaha menahan tangisnya.


"Mas Tommy dimana? Kenapa perginya ga bilang-bilang sama aku?" tak ingin mengatakan alasannya kenapa ia menangis yang pastinya ia yakin suaminya itu tahu kenapa ia menangis.


"Maaf ya sayang, mendadak soalnya." Tommy memberi alasan supaya Roma tidak curiga. "Kamu udah makan? Nanti ada Bi Surti datang buat temenin kamu dirumah selama aku ga ada." Tommy memang sudah memesan pada Ken supaya menyuruh Bi Surti yang biasa membersihkan apartemen Tommy untuk menginap menemani Roma selama dirinya tidak ada.


"Emang Mas Tommy perginya berapa lama?" Roma menghapus airmatanya yang kembali menetes.


"Kalau urusannya cepet beras mungkin semingguan dek, tapi kalau seminggu belum juga beres mas ga bisa tentuin kapan baliknya. Kamu sabar ya sayang. Nanti kalau mas udah balik kita langsung honeymoon ulang yah." Tommy memaksakan tersenyum dalam hati ia terus menahan tangisnya. Tak sanggup rasanya membayangkan bila seandainya penyakit terkutuk itu juga ada pada dirinya.


"Aku ga butuh honeymoon Mas, aku maunya Mas Tommy ada disini bareng-bareng aku. Masa baru nikah aku udah ditinggal aja. Ga pamit lagi." rengeknya manja.


"Seandainya Sandy ga mengidap penyakit itu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Sayang. Aku ingin memeluk mu sekarang. Tapi aku ga bisa. Aku ga sanggup menolakmu jika nanti aku menginginkanmu. Semua ini demi kebaikanmu dek."


"Ia karena kerjaannya mendadak sayang. Maaf yah."


"Mas kan bisa utus orang lain untuk ngegantiin mas disana."


"Ga bisa Sayang, darurat soalnya jadi harus Mas sendiri yang turun tangan."


"Kamu mandi dulu gih dek– bauknya sampe kesini tahu ga?" ejek Tommy, yang sebenarnya ia ingin mengakhiri panggilan Videonya karena matanya sudah panas. Suaranya sudah tak tahan lagi menahan tangisnya.


"Masa sih mas? Mas bohong ah?" Ya udah aku mandi dulu ya Mas. Nanti jangan lupa telpon lagi. Mungkin besok aku udah kembali kerja lagi Mas. Karena Mas juga ga ada dirumah jadi aku masuk kerja aja besok." ucapnya seperti meminta ijin pada suaminya untuk kembali bekerja.


"Iya, hati-hati kerjanya."


"Ya udah Roma mandi dulu ya Mas. Dah Mas– Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam–." Tommy memutuskan panggilan teleponnya.


Airmata Tommy tumpah setelah ia mengakhiri panggilan Videonya. Baru beberapa jam ia meninggalkan istrinya itu tapi ia sudah sangat merindukannya.


"Maafkan aku dek, mungkin ini panggilan terkahir sebelum aku bisa memastikan kalau aku baik-baik saja."