Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Anyep



Roma sangat malu karena dirinya salah mengartikan maksud Tommy. Ia pikir Tommy marah pada dirinya karena sudah mengajaknya untuk bertemu dengan Abangnya.


"Maaf Bang–." Hanya itu kata yang bisa terucap dari bibirnya.


"Hmmm." Tommy seperti sudah tidak bertenaga lagi untuk menjawab Roma.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Tommy memarkirkan mobil Roma di basement apartemennya.


"Dek, boleh Abang nginep disini? Kepala Abang pusing banget. Perut Abang sakit. Abang ga kuat lagi kalau harus pulang sekarang." Roma melihat kearah Tommy yang masih duduk dibangku kemudinya. Tubuhnya berkeringat dingin. Roma menyentuh kening Tommy dengan punggung tangannya.


"Abang demam? Ya udah kita naik dulu." Tommy keluar dari mobil dan berjalan menghampiri supir yang mengikutinya.


"Pak maafkan saya, sepertinya saya akan menginap disini. Bapak tinggalkan saja mobilnya. Bapak pulang naik taksi ya." Tommy mengeluarkan uang pecahan Seratus ribu 5 lembar dan memberikannya pada supirnya. "Ini buat ongkos taksinya. Maaf ya pak sudah merepotkan."


"Tidak apa-apa Tuan. Terimakasih Tuan." Supir itu menyerahkan kunci mobil pada Tommy lalu pergi meninggalkan Tommy dan Roma.


Roma menghampiri Tommy yang sedang membungkuk sambil memegang lututnya.


"Bang, Abang kenapa?"


"Kepala Abang pusing dek." Roma menggandeng lengan Tommy memapahnya untuk jalan ke apartemen.


Dengan cepat Roma membuka pintu Apartemennya.


"Langsung ke kamar aja Bang–." Tommy menghentikan langkahnya lalu menatap intens wajah kekasihnya itu.


"Ga usah mikir yang aneh-aneh, lagi sakit juga masih aja berpikiran mesum." cibir Roma.


"Siapa juga yang berpikiran mesum, kamu tuh yang mesum langsung ngajak ke kamar aja." balas Tommy disela-sela tubuhnya yang lemah.


"Udah jangan berisik. Buruan berat nih." Roma memapah Tommy sampai ke tempat tidurnya.


"Bang buka dulu bajunya–." Lagi-lagi Tommy mengerutkan keningnya menatap Roma dengan penuh pertanyaan diwajahnya.


"Ga urah ngeres Abang–." Roma mencubit hidung Tommy. "Buka cepetan." Roma membantu Tommy untuk melepaskan jas nya.


"Bajunya juga."


"Dek–." Tommy memeluk tubuhnya sendiri seakan takut kalau Roma akan memperkosanya.


"Abang itu demam, terus ini juga bajunya udah basa keringat kalau masih dipakai terus, nanti Abang bisa masuk angin."


Roma berjalan menuju lemari yang ada dikamarnya itu. Memilih-milih baju yang bisa dipakai Tommy.


"Nih–." Roma menyerahkan kaos oblong berwarna kuning miliknya. "Mungkin agak kecil sama Abang tapi dari pada pake kemeja itu bagus pake ini aja. Terus aku ga punya celana pendek adanya cuma sarung doang. Abang lepas celananya ganti sama sarung aja."


Tommy mengambil baju dan sarung yang ditangan Roma lalu berjalan ke kamar mandi mengganti bajunya seperti yang diperintahkan Roma.


Tommy keluar dari kamar mandi dengan memakai kaos oblong berwarna kuning milik Roma dengan kain sarung. Baju itu terlihat sangat kekecilan ditubuh Tommy, sehingga menampilkan bentuk tubuh dan otot-ototnya yang atletis itu.


Roma tak berkedip menatap kagum pada pria yang sedang berdiri didepan pintu kamar mandi sambil memegang baju kotornya.


"Jangan liatin begitu, ntar nafsu loh." Tommy meletakkan baju kotornya diwajah Roma.


"Issh Abang bauk tau."


"Hmmm wangi banget sih. Udah seharian juga bajunya masih wangi."


"Katanya bauk, tapi dicium terus."


"Mana ada–." Roma malu lalu berjalan keluar dari kamar.


Tak selang berapa lama Roma datang dengan membawa kota P3Knya. Ia memang menyimpan beberapa obat-obatan di apartemennya.


"Dek, tolong telpon Zia." Tommy menyerahkan Handphonenya pada Roma yang duduk ditepi tempat tidur. "Minta dia datang kesini."


Roma mengerutkan keningnya bingung dengan permintaan dari kekasihnya itu.


"Untuk apa Bang?"


"Untuk ngobatin Abang lah, emangnya buat apa lagi?"


"Buat ngobatin sakit Abang atau ngobatin rindu Abang?" tanya Roma ketus, Roma kesal kerena sepertinya Tommy lupa kalau dirinya juga seorang dokter.


"Kamu kenapa sih dek. Masih aja cemburu sama Zia. Zia itu kan dok–" Tommy tidak melanjutkan ucapannya, dirinya baru sadar kenapa Roma marah padanya.


"Maaf ya dek. Abang lupa kalau kamu juga dokter. Hehe."


"Telepon dan obati sendiri." Roma meletakkan kotak P3K dan Handphonenya dipangkuan Tommy dan beranjak dari duduknya. Belum sempat kakinya turun dari tempat tidur Tommy meletakkan kotak P3K itu disamping lalu menarik tangan Roma dan membawanya duduk ke pangkuannya.


"Maafin Abang ya Adisba." Tommy memeluk Roma dan menempel kepalanya di bahu Roma. "Abang benar-benar lupa kalau kamu itu juga dokter."


Sementara Roma yang duduk dipangkuan Tommy merasakan ada yang mengganjal di bawah tempatnya duduk.


"Sial, dia pake acara hidup segala lagi? Ayolah ini belum saatnya." Batin Tommy.


"Bang Tommy beneran udah sembuh. ucoknya bangun. Waduh bisa bahaya, mana belum halal lagi."


Roma ingin beranjak dari pangkuan Tommy, tapi tangan Tommy berhasil menahannya.


"Mau kemana dek?"


"Lepasin Bang, aku mau periksa Abang dulu." kilahnya. Tommy pun melepaskan pelukannya. Karena ia tak mau juniornya semakin tersiksa di bawah sana.


Roma memeriksa Tommy suhu badannya hampir 39°C tapi tekanan darahnya masih normal. Roma meletakkan stetoskopnya dibagian dada Tommy.


"Kamu dengerin apa dek?"


"Jantung Abang lah–." Roma terlihat serius memeriksa detak jantung Tommy.


"Gimana bunyinya?"


"Emang kamu ga dengar bunyi setiap detaknya itu adanya nama kamu."


"Mana ada–."


"Coba dengerin sekali lagi." Roma menurut dan meletakkan kembali stetoskopnya didada Tommy


"Kedengaran ga?"


"Ga ada Abang–." ucapnya manja.


"Dengerinnya pake hati makanya." Tommy sengaja menggoda Roma, ia tersenyum melihat Roma yang menuruti ucapannya.


"Iih apaan sih."


"Dengerin lagi."


Lagi-lagi Roma meletakkan kembali stetoskopnya dan mendengarkan dengan seksama.


"Adisba... Adisba... Adisba..." Tommy menirukan suara detak jantung dan menggantinya dengan nama kesayangan Roma. "Denger kan?"


Roma memukul pelan dada Tommy, seketika wajahnya merona merah.


"Haha–." Tommy langsung memeluknya ia sangat senang telah berhasil mengerjai Roma.


"Bang, lepas dulu. Aku mau periksa bagian perut Abang."


"Mau periksa bagian bawah perut Abang juga boleh." Lagi-lagi wajah Roma merona karena godaan Tommy.


"Apaan sih Bang–."


Tommy melonggarkan pelukannya dan Roma pun memeriksa perut Tommy dengan stetoskopnya.


"Asam lambung abang naik ya? Abang belum makan?" Tommy menggelengkan kepalanya.


"Abang tuh suka ya, ga merhatiin kesehatan sendiri udah tahu punya sakit maag masih aja suka melewatkan jam makan."


"Mana sempat dek. Tadi kan abis dari rumah Bang Bara kita langsung pulang."


"Kenapa ga mampir ke Restoran dulu."


"Abis kamunya ngambek."


"Mana ada aku ngambek."


"Terus tadi kenapa kamu diam aja?" Tommy merasa ada yang disembunyikan Roma darinya. Karena selama di perjalanan tadi ia terlihat murung.


"Soalnya Abang ga mau cerita sama aku."


"Cerita apa?"


"Tadi siang apa aja yang Abang obrolin sama Bang Bara sampe lama banget didalam." Roma kembali mengingat kejadian siang tadi yang membuatnya kesal karena Tommy dan Bara sama-sama tidak mau cerita apa yang mereka bicarakan.


"Besok aja ya Abang cerita, ini beneran badan Abang lemes banget."


"Apa mau aku infus?"


"Ga usah dek, biasanya Zia cuma kasih obat lambung aja sama obat penurun demam."


"Zia lagi, Zia lagi–." gerutu Roma pelan tapi Tommy masih bisa mendengarnya.


"Kamu kalau cemburuan gini cantik loh." Tommy menggamit hidung Roma.


"Siapa juga yang cemburu. Ya udah bentar aku masakin bubur dulu. Abang istirahat aja, nanti aku bangunin kalau udah masak buburnya."


Tommy mengangguk pelan lalu Roma keluar dari kamar. Ia ke dapur untuk memasak bubur buat Tommy. Setelah selesai memasak Roma kembali ke kamar dengan membawa bubur untuk Tommy. Roma meletakkan buburnya diatas meja kecil sebelah tempat tidurnya. Lalu ia duduk ditepi tempat tidur.


Roma melihat wajah Tommy yang begitu tampan. Ia sangat mengagumi ketampanan lelaki yang sudah menguasai hatinya itu.


"Jangan dilihatin terus dek. Nanti nafsu loh." Ternyata Tommy sudah bangun ketika mendengar suara pintu kamar terbuka.


"Ga akan. Abang itu lagi sakit, rasanya pasti anyep."


Tommy bangun dan duduk bersandar ditempat tidur.


"Rasa apa yang anyep?"


"Tuh–." Roma menunjuk bibir Tommy dengan bibirnya.


"Mau coba?" Tantang Tommy, dia sudah mulai tak tahan sedari tadi Roma menggodanya terus.


"Ogah, pasti an–." Roma tak meneruskan ucapannya karena Tommy langsung mencium bibir Roma dengan lembut.


"Gimana? Anyep ga?" tanya Tommy setelah melepaskan ciumannya. Tommy sengaja menggoda Roma dengan menaik-turunkan kedua alisnya.


"Anyep." Roma mengambil bubur diatas meja dan memberikannya pada Tommy.


"Suap–."


"Udah gede juga manja banget."


"Manja sama calon makmum sendiri boleh dong." Wajah Roma kembali merona mendengar gombalan receh dari Tommy.


Selamat bermalam minggu 😍


Jangan lupa Bahagia ya 🤗


Author bahagianya kalau kalian like dan juga Coment disetiap Episodenya.


Apalagi kalau kalian kasih bunga di malam minggu begini beugh Author auto Happy 😍