Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Kemana Perginya



Sudah tiga hari Roma terbaring dirumah sakit. Perpisahannya dengan Tommy yang begitu tiba-tiba membuatnya shock berat. Baru kali ini ia merasakan putus cinta. Sakitnya patah hati saat Tommy belum membalas cintanya lebih sakit yang dirasakannya sekarang. Seakan separuh jiwanya menghilang.


Flashback On


Roma teringat seminggu yang lalu saat Tommy meminta untuk mengakhiri hubungan mereka. Roma mengejar Tommy dan tanpa sengaja ia mendengar semua pembicaraan Tommy dengan Ken.


"Apa maksud perkataan Bang Tommy? Mana mungkin Bang Bara meminta syarat seperti itu? Tidak mungkin ini tidak mungkin."


Tanpa sepengetahuan Ken dan Tommy, Roma meninggalkan Restoran itu dari pintu belakang. Tujuannya hanya satu yaitu bertemu Bara dan meminta penjelasan dari Bara.


Roma menekan aplikasi yang ada di handphonenya dan langsung memesan taksi online.


Setelah menunggu 5 menit akhirnya taksi online pun datang menjemputnya. Tujuannya langsung kerumah Bara.


Tanpa basa-basi dan ucapan salam Roma langsung masuk ke dalam rumah Abangnya itu. Orang yang paling dekat dan paling ia percaya.


Menyesal rasanya mengapa Roma menceritakan semua masa lalu Tommy pada Abangnya itu. Namun nasi sudah menjadi bubur. Ia harus menelan semua resiko dari semua yang telah diucapkannya.


"Boouu–." Gadis kecil Lea langsung berlari kepadanya. Tentu saja Citra yang sedang menyuapi Lea makan buah terkejut melihat kedatangan Roma.


"Lea Sayang–." Roma langsung menggendong dan mencium keponakannya itu. "Abang ada Da?" tanyanya pada Citra.


"Ada di ruang kerjanya." Citra menunjuk ruang kerja suaminya dengan dagunya. "Tumben datang ga bilang dulu? Ga kedengaran juga suara mobil Eda?" Citra merasa ada yang aneh dari adik iparnya itu.


"Aku naik taksi online Da, mobil aku tinggal di Rumah Sakit Da, tadi kebetulan abis dari Mall sama temen." Roma menurunkan Lea dari gendongannya. "Da, aku ke ruang kerja Abang dulu ya Da." Roma meninggalkan Citra setelah melihat anggukan kepala dari Citra.


"Badi–, kapan datang dek?" Bara terkejut melihat Roma membuka pintu kerjanya dan langsung duduk di sofa yang ada diruangan itu dengan wajahnya yang cemberut. Lalu Bara ikut duduk dihadapan Roma.


"Kamu kenapa Badi?" tanya Bara saat melihat adik kesayangannya itu menangis.


Dengan mata yang berlinang, Roma menatap tajam pada Bara. "Syarat apa yang Abang minta pada Tommy Bang?"


Deg.


Terlihat jelas dimata Roma keterkejutan Bara atas pertanyaan yang diajukannya itu.


"Memangnya apa yang sudah dikatakan laki-laki itu padamu?" tanya Bara sinis dan itu berhasil membuat Roma semakin terkejut.


"Namanya Tommy Bang dan ga ada bilang apa-apa Bang, dia mutusin aku Bang–, dia bilang kalau dia ga bisa memenuhi syarat yang Abang ajukan padanya." Roma terus terisak dirinya sangat takut kalau apa yang didengarnya itu benar adanya.


"Ternyata dia benar-benar mencintai Badi."


Bara tak sanggup melihat kesedihan Adiknya itu. Ternyata Roma begitu rapuh karena cinta, inilah sisi Roma yang belum diketahui Bara karena selama ini Roma tidak pernah menangis atau mengeluh tentang laki-laki. Bara berdiri dari tempat duduknya dan duduk disebelah Roma lalu memeluk adik kesayangannya itu.


"Sebenarnya apa syarat yang Abang minta padanya Bang?" Roma melepaskan pelukan Bara lalu mengusap airmatanya dan cairan yang keluar dari hidungnya dengan tissu yang ada diatas meja didepannya.


"Dia benar-benar menyuruhku untuk mengatakannya langsung pada adikku sendiri."


"Percayalah semua yang Abang lakukan itu demi kebaikanmu." Bara mengusap punggung Roma.


"Bang katakan apa syarat yang sebenarnya Abang minta pada Tommy."


"Abang bilang padanya kalau Abang akan merestui hubungan kalian dengan satu syarat. Jika dalam waktu 6 bulan kamu tidak hamil maka dia harus menceraikan mu."


"Apa-apaan syarat Papa itu?" Citra yang dari tadi menguping pembicaraan mereka akhirnya masuk karena geram mendengar syarat yang diminta suaminya itu. "Bagaimana mungkin Papa minta syarat seperti itu pada Tommy? Itu sama aja Papa menyuruh Roma untuk menjadi Janda. Apa Papa senang adik Papa jadi Janda? Pantas saja waktu itu dia terlihat begitu lemas saat keluar dari ruangan Papa." Citra kembali mengingat beberapa waktu lalu saat Tommy berkunjung kerumahnya.


"Ma dengar dulu penjelasan Papa–."


"Papa itu keterlaluan, bagaimana jika Papa yang ada diposisi Tommy. Apa papa mau menerima syarat seperti itu?"


Yang berdebat malah pasangan suami istri itu sementara Roma hanya menangis ia tak menyangka kalau yang didengarnya itu adalah benar. Citra duduk disebelah Roma dan memeluk tubuh adik iparnya itu.


"Semua orang itu punya masa lalu Pa, dan Mama yakin Tommy juga tidak ingin terlahir dengan penyakit seperti yang dideritanya itu. Kalau yang Mama lihat Tommy itu orangnya baik dan bertanggung jawab. Bahkan dia rela memutuskan hubungannya dengan Eda demi kebaikan dan kehormatan Eda. Sedangkan Papa–, apa yang sudah Papa lakukan? Papa tega memisahkan dua orang yang saling mencintai dan itu adalah adik papa sendiri."


Citra sangat kecewa pada suaminya. Ia terus memeluk Roma dan mengusap punggungnya.


"Makanya dengarkan aku dulu–." Bara duduk disebelah kanan Roma sementara Istrinya duduk disebelah kiri Roma. "Badi, Abang memang memberi syarat yang seperti itu pada Tommy. Dan itu hanya untuk menguji dia saja."


Roma mendongakkan kepalanya melihat langsung netra Abangnya itu. "Maksud Bang Bara apa?"


Bara menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan.


"Abang hanya ingin melihat seberapa besar keseriusannya dengan kamu dan seberapa besar cintanya untukmu. Kalau dia benar-benar mencintai dan menghargaimu tentu dia akan memilih untuk tidak menikahimu tapi jika dia memilih untuk tetap menikahimu berarti dia tidak benar-benar menyayangimu. Dia hanya ingin dirimu saja. Bayangkan kalau dia tetap menerima syarat Abang tentu saja Abang tidak akan pernah menyetujui hubungan kalian."


"Jadi Abang merestui kami?" Bara hanya menganggukkan kepalanya saja. Roma bahagia dan langsung memeluk Bara.


"Makasih ya Bang–." Roma tersenyum bahagia.


"Sudah sekarang suruh dia besok datang kerumah untuk melamar mu, kalau masalah Bang Barman, Bany dan Banu biar Abang yang bicara ke mereka."


"Makasih ya Bang–." Roma kembali memeluk dan mencium pipi Bara.


Sudah tiga hari Tommy tidak bisa dihubungi. Setelah mendengar penjelasan abangnya, Roma langsung menghubungi Tommy. Sudah tidak sabar rasanya menyampaikan berita bahagia itu pada Tommy kekasihnya. Namun sayang Timmy tak juga dapat dihubungi.


Akhirnya Roma nekat mendatangi kantor Tommy untuk bertemu dengan orang yang sangat dirindukannya itu. Tapi hasilnya nihil, Roma tidak bisa menemukan keberadaan Tommy. Karena tidak menemukan Tommy di kantornya, Roma terpaksa mendatangi rumah Orangtuanya Tommy.


"Bi Asih, apa Mami ada?" Roma bertanya kepada salah satu asisten rumah tangga di rumah Tommy.


"Ee ada Nona Roma." sapa Bi Asih. "Tuan dan Nyonya sedang ke Amerika Non, apa Nona Roma tidak tahu?" Lagi-lagi Roma harus kecewa. Bahkan Orangtua Tommy pun tidak bisa ditemuinya.


"Sudah lama ya Bi?"


"Sudah hampir seminggu Non, kalau ga salah mungkin dua hari lagi pulang Non."


"Kalau Bang Tommy Bi?"


"Kalau Tuan Tommy jarang pulang kerumah ini Non, jadi Bibi ga tahu tuh Non."


"Kenapa Non Roma sedih begitu ya?" Bi Asih bingung melihat Roma yang melamun.


"Apa ada pesan Non? Nanti kalau Nyonya sudah pulang atau telepon nanti Bibi sampaikan pesannya Non."


"Tidak usah Bi, Terimakasih. Kalau begitu Roma permisi dulu ya Bi. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam–."


Roma beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan kediaman orangtua Tommy.


"Harus kemana lagi aku harus mencarimu Bang? Sebenarnya Abang dimana Bang?"


"Aku harus bertanya pada siapa?"


"Zia, aku harus kerumah Zia. Siapa tahu Zia tahu dimana Bang Tommy sekarang."


Roma melajukan mobilnya menuju rumah Zia. Dan kebetulan sekali Zia sedang berada dirumah mamanya. Karena Chandra sedang bekerja sehingga Zia lebih sering tinggal dirumah Siska dari pada dirumahnya sendiri.


"Lo kenapa muka ditekuk begitu?" Zia datang membawa nampan yang berisi dua cangkir teh dan sepiring cemilan.


"Zia apa kamu tahu dimana Bang Tommy sekarang?"


"Kak Tommy? Memangnya Kak Tommy kemana?"


"Ya sama aja. Ternyata Zia juga ga tahu dimana Bang Tommy."


Airmata Roma jatuh, ia sudah tidak tahu lagi harus kemana mencari laki-laki yang dicintainya itu.


"Lo kenapa nangis Rom? Ada apa?"


"Bang Tommy mutusin aku Zi, dan sekarang aku ga tahu Bang Tommy dimana. Hiks... hiks..." Zia pun terkejut mendengarnya pasalnya ia tidak tahu kalau Roma sudah menjalin hubungan dengan Tommy.


"Emangnya kapan kalian pacarannya?"


"Setelah acara Aqiqah keponakan mu anak Rara, Tommy datang menemuiku Zi, dan memintaku untuk menjadi istrinya tapi aku memberikan syarat padanya Zi."


Roma pun menceritakan semua yang terjadi pada hubungannya dengan Tommy sampai akhirnya Tommy memutuskannya.


"Ya ampun Roma, maaf banget tapi memang bener gue ga tahu dimana Kak Tommy sekarang." Zia memeluk sahabatnya yang dari tadi menangis terus.


"Apa kamu udah tanya sama Ken?"


"Oh Iya ya. Kenapa aku melupakan Ken?"


"Belum Zia, makasih ya kamu udah mengingatkan ku." Roma tersenyum lalu pamit pada Zia.


"Semoga kalian bisa cepat bersatu Roma. Tapi kemana perginya Kak Tommy ya? Udah gede masih aja kabur-kaburan." gumam Zia dalam hati.


Hai... Hai... Hai...


Apa kalian merindukan Tommy?


Yang Rindu tolong Like ya ya. Boleh juga dobg Vote nya mumpung hari senin 🤗


Maaf ya Author baru bisa Up.


Dunia antah berantahnya Author memaksa Author untuk sibuk.