
Keluarga Prayoga sangat bahagia karena sang penerus pewaris kerajaan bisnis mereka sebentar lagi akan lahir. Dengan perasaan yang penuh haru dan bahagia Tommy kini membawa Roma untuk melakukan pemeriksaan kandungannya ke Rumah Sakit miliknya. Tentu saja Indah dan Prayoga tidak mau ketinggalan ingin tahu sudah berapa minggu usia kandungan menantunya.
"Mas–." Roma melihat suaminya yang fokus menyetir.
"Iya sayang." Tommy melirik Roma sebentar lalu kembali fokus pada jalanan didepannya.
"Aku pengen pipis, cari rest area dulu ya Mas."
"Hmmm, udah kebelet banget ya? Ga bisa nahan sebentar lagi dek?" tanya Tommy tapi Roma menggelengkan kepalanya.
"Oke sebentar ya sayang, tahan dulu. Didepan mungkin ada."
Tommy memarkirkan mobilnya saat memasuki rest area. Begitu juga mobil Prayoga.
"Kenapa berhenti?" tanya Indah langsung turun dari mobil dan mendekati mobil Tommy. Ia khawatir terjadi sesuatu pada Roma menantunya.
"Mantu Mami kebelet." sahut Tommy sambil membuka pintu untuk Roma.
"Oh, Mami kirain kenapa, udah nanggung kan 10 menitan lagi juga udah sampe."
"Ga tahan lagi katanya Mi." jelas Tommy lalu berjalan menemani Roma ketoilet.
"Mami ga sekalian?" tanya Prayoga ketika melihat istrinya kembali masuk ke mobil.
"Ga ah, Mami kan ga kebelet Pi."
Dan tak menunggu lama Roma keluar dari toilet. Lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka ke Rumah Sakit.
Setelah sampai dirumah sakit Tommy langsung membawa Roma keruangan bagian pemeriksaan kandungan. Sebelumnya ia sudah meminta dokter Christ untuk menyiapkan dokter kandungan terbaik yang ada di Rumah Sakit miliknya itu. Dan Tommy meminta pada dokter Christ untuk mencari dokter kandungan perempuan ia tidak rela kalau istrinya itu disentuh oleh pria lain selain dirinya.
Dan begitu mereka sampai di Rumah Sakit dokter Christofel dan beberapa dokter lainnya sudah menyambut kedatangan mereka. Dan itu membuat Roma merasa canggung. Kini hampir seisi Rumah Sakit sudah mengetahui kalau Roma adalah Nyonya pemilik Rumah Sakit tersebut.
"Silahkan Tuan, Nyonya. Selamat datang." ucap dokter Christ menyambut kedatangan mereka lalu menyalami mereka satu persatu.
"Terimakasih dok–." balas Tommy sambil menyambut uluran tangan dokter Christofel.
"Mas, apa ini tidak terlalu berlebihan?" Roma dengan sedikit berjinjit berbisik pada Tommy saat mereka berjalan menyusuri lorong koridor Rumah Sakit.
"Berlebihan gimana?" Tommy bingubg dengan pertanyaan Roma.
"Buat apa mereka semua berdiri menyambut kita Mas?"
"Mana aku tahu? Tadi Mas cuma minta sama dokter Christ untuk menyiapkan ruangan pemeriksaan untuk kamu dan minta carikan dokter kandungan. Itu saja." Tommy tahu kalau istrinya itu tidak ingin orang lain tahu tentang statusnya karena ia tak ingin orang-orang yang ada didekatnya akan merasa canggung kalau bertemu dengannya.
"Udah kamu tenang aja. Lagian mau ditutupin sampai kapan? Lama kelamaan mereka juga akan tahu siapa kamu sebenarnya."
"Iya, tapi ga adil rasanya kalau hanya aku yang mendapatkan perlakuan khusus sementara mereka tidak Mas."
"Wajar dong sayang. Karena kamu adalah Nyonya dari pemilik Rumah Sakit ini, bukan Mami loh Nyonya-nya." sambung Indah yang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Karena Indah tepat berjalan dibelakang mereka. Ia sengaja menggoda menantunya itu supaya Roma lebih relaks dan tidak berpikir terlalu berat.
Roma tidak menjawab perkataan Indah ia hanya tersenyum melihat mertuanya yang begitu menyayanginya.
"Silahkan masuk Tuan." Dokter Farida selaku dokter kandungan yang dipilih oleh dokter Christ mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Tuan Tommy, ini adalah dokter Farida beliau dokter spesialis kandungan. Sesuai permintaan Tuan saya memilih dokter perempuan yang akan memeriksa kandungan dokter Uly."
"Uly?" tanya Indah dan Prayoga bersamaan. Mereka tidak pernah mendengar kalau Roma dikenal sebagai dokter Uly sementara Tommy sudah lebih dulu tahu hanya bersikap biada saja.
"Iya Mi, disini Roma dikenalnya sebagai dokter Uly, bukan dokter Roma." jelas Tommy.
"Oo..." Prayoga dan Indah hanya membulatkan mulut mereka sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan, karena saya ada jadwal operasi pagi ini." ucap dokter Christofel ingin undur diri dari tengah-tengah mereka.
"Terimakasih dok." ucap Tommy sambil menjabat tangan dokter Christ lalu dokter Christ pergi meninggalkan keluarga pemilik Rumah Sakit yang tengah berbahagia itu.
Silahkan duduk Tuan, Nyonya, dokter Uly." Farida mempersilahkan Prayoga dan Indah untuk duduk disofa yang ada diruangan itu sementara Roma dan Tommy duduk didepannya hanya meja kerjanya sebagai pembatas mereka.
"Dokter Uly, kapan haid terakhirnya?" tanya Farida.
"Bulan lalu tanggal 10 dok."
"Ada keluhan dok?"
"Mual muntah pagi hari terus kadang pusing juga dok."
"Kalau mual muntah dan pusing sepertinya saya ga perlu jelaskan lagi ya dok. Karena dokter pasti tahu penyebabnya apa. Itu biasa terjadi pada Ibu hamil di awal kehamilan." tutur dokter Farida.
"Tapi ada obatnya kan dok?" kali ini Tommy yang bertanya karena sangat khawatir dengan Roma yang terus muntah-muntah.
"Hanya mengurangi rasa mualnya saja Tuan. Kalau obat untuk menghilangkan mualnya tidak ada, karena itu memang alami. Dan setiap Ibu hamil akan berbeda-beda keluhannya saat-saat kehamilan trimester pertama. Itu dinamakan morning sickness Tuan." jelas dokter Farida.
"Sekarang dokter Uly naik ketempat tidur ya, kita periksa kandungannya." Farida meminta Roma untuk naik ke tempat tidur periksa dibantu oleh Bidan Dina asistennya.
Dina membantu Roma berbaring ditempat tidur.
"Maaf ya dok, bisa dibuka kancing celananya dok." pinta Dina dengan sopan pada Roma. Sejujurnya ia sangat grogi dan gugup karena ia baru tahu pagi ini kalau Roma adalah istri dari pemilik Rumah Sakit tempatnya bekerja. Begitu juga dengan dokter Farida. Tapi Farida masih terlihat tenang dan seolah-olah ia belum mengetahuinya.
Roma membuka kancing celananya lalu dibantu Dina menunrunkannya sedikit kebawah. Lalu menutupi kakinya dengan selimut.
"Maaf ya dok–." lagi-lagi kata maaf yang keluar dari mulutnya saat Dina menaikkan sedikit baju Roma keatas.
Dina memberikan jel pada bagian bawah perut Roma.
"Sudah siap dok–." ucapnya pada Farida.
"Terimakasih ya Din." ucap Farida lalu beranjak dari tempat duduknya lalu duduk didepan monitor yang namanya USG tersebut.
"Hmmm, Iya benar ini dokter Uly sedang hamil." Ucap Farida sambil menggeser alat USG tersebut diatas perut Roma, ke kanan ke kiri atas dan bawah. "Dokter Uly bisa lihat kan? Selamat ya dok, sepertinya bayi dokter Uly kembar dok." Roma sudah menyadarinya saat ia melihat dimonitor TV yang ada didepannya ia tersenyum bahagia sampai meneteskan airmatanya.
"Kem-kembar dok?" tanya Tommy tak percaya.
"Iya Tuan." jawab Farida cepat. "Tuan bisa lihat disini." Farida menggeser-geser kusor USGnya. "Ini kantongnya ada dua Tuan, itu artinya bayi yang ada dikandungan dokter Uly kembar Tuan."
Mendengar penjelasan Farida tentang calon cucunya kembar, Indah dan Prayoga yang sedari tadi hanya duduk langsung beranjak dari duduknya dan melihat kearah monitor TV yang ditunjukkan Farida.
"Sayang terimakasih ya." ucap Tommy lalu menghujani Roma dengan ciuman diwajahnya.
"Mas, udah dong. Malu ada Mami dan Papi, ada dokter Farida juga." lirih Roma dengan raut wajah yang sudah memerah.
"Selamat ya Sayang." ucap Indah pada Roma.
"Terimakasih Mi."
"Selamat ya Boru–." ucap Prayoga yang turut bahagia.
"Terimakasih Pi."
"Bagaimana dengan jenis kelaminnya dok?" tanya Tommy sangat antusias.
"Untuk jenis kelaminnya belum bisa ditentukan sekarang Tuan. Nanti saat usia kandungannya sekitar 4 atau 5 bulan baru kelihatan jenis kelaminnya. Jadi sabar ya Tuan." tutur Farida.
"Pantangan makanannya apa dok?" tanya Tommy. Sementara Roma hanya tersenyum melihat keingintahuan suaminya. Ia terlihat sudah seperti suami siaga.
"Untuk Ibu hamil tidak ada pantangan makan Tuan. Semua boleh dimakan dan harus yang bergizi dan banyak vitaminnya. Seperti buah-buahan dan sayuran."
"Tapi saya dengar kalau makan nenas ga boleh dok katanya bisa keguguran, apalagi makan durian. Buah anggur juga ga boleh, apa benar dok?" Mendengar pertanyaan Tommy Farida hanya tersenyum.
"Seperti yang saya jelaskan tadi Tuan, untuk Ibu hamil tidak ada pantangan makan. Kalau mau makan nenas boleh tapi yang benar-benar masak ya begitu juga dengan durian dan anggur hanya saja tidak boleh berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik Tuan." jelas Farida dan dibalas anggukan kepala oleh Tommy.
"Kalau cinta yang berlebihan kan bagus dok." ucap Tommy seakan tak mau membenarkan penjelasan Farida.
"Tidak bagus juga Tuan." Farida pun berani menentang ucapan Tommy sang pemilik Rumah Sakit. "Jika Cinta yang berlebihan itu tidak baik karena bisa menimbulkan dampak sikap kita menjadi lebih posesif kepada pasangan. Dan itu tidak baik dan akan cenderung pada cemburu yang berlebihan. Jika sudah terjadi keposesifan dalam suatu hubungan maka hubungan itu bisa tidak sehat karena akan mengundang terjadinya pertengkaran dan perselisihan. Jadi sebaiknya mencintai juga sewajarnya saja." jelas Farida
"Wah, wah wah ternyata dokter Farida selain jadi dokter kandungan bisa jadi dokter Cinta juga ya." ucap Indah yang ikut menimpali obrolan anaknya dan dokter cantik itu.
"Nyonya bisa saja."
"Terimakasih ya dok." ucap Roma yang selalu tersenyum apalagi saat melihat perdebatan antara suaminya dan dokter Farida.
"Sama-sama dok. Dan ini resep obatnya silahkan tebus di apotik ya dok. Ini kandungannya usianya memasuki 7-8 minggu. Masih sangat muda dan rawan. Sebaiknya dijaga baik-baik ya dok."
"Iya dok Terimakasih." ucap Roma.
"Oya dok, tapi saya masih boleh kan nengokin baby twins saya?" pertanyaan konyol yang datang dari mulut Tommy.
"Boleh tapi harus hati-hati Tuan. Karena usia kehamilan masih sangat muda. Dan sebaiknya jangan dikeluarkan didalam ya Tuan. Karena sp**ma bisa menyebabkan kontraksi dan bisa saja nanti jadi keguguran." jelas Farida lagi.
"Baiklah dok. Terimakasih untuk penjelasannya."
"Sama-sama Tuan."
"Kalau begitu kami permisi dulu dok–." ucap Roma.
"Silahkan dan hati-hati."
Setelah kepergian keluarga pemilik rumah sakit itu akhirnya Farida dan Dina bisa bernafas lega. Tak terbayang oleh mereka visa melayani orang nomor satu di Rumah Sakit itu.
▪️
▪️
▪️
▪️
▪️
Tiga Hari Berlalu
Dan sudah 3 hari pula Tommy tidak masuk kantor, ia sangat setia mendampingi Roma. Kabar gembira itu pun segera Tommy sampaikan kepada keluarga mertuanya dan kini semua keluarga Roma sedang berkumpul bersama di kediaman keluarga Prayoga.
Mereka ingin melakukan acara syukuran tapi Berta tidak sejutu karena kata orangtua dulu pamali. Jadi mereka memutuskan hanya menyumbangkan sebagian rejeki mereka kepada orang-orang yang kurang beruntung.
Togar dan Berta sangat bahagia apa lagi cucu mereka akan bertambah dua sekaligus. Sebenarnya mereka juga heran bagaimana bisa Roma mengandung anak kembar sementara dikeluarga mereka tidak ada riwayat yang memiliki anak kembar. Begitu juga dari keluarga Tommy. Tapi mereka tak henti-hentinya mengucap syukur atas rejeki yang dititipkan Tuhan untuk keluarga kecil Tommy.
Ponsel Tommy berdering dan Tommy melihat panggilan dari Kendrick.
"Ada apa Ken?" tanya Tommy saat mengangkat teleponnya.
"Ada apa-ada apa?"Lo kemana aja? 3 hari ga masuk kantor. Ditelpon ga pernah diangkat." Bentak Ken dari seberang sana membuat Tommy sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Gue dirumah, emangnya kenapa?" Asisten sialan, beraninya dia bentak-bentak gue. Awas aja nanti gue potong gaji Lo karena udah ga sopan sama gue. Gerutu Tommy dalam hati.
"Enak lo ya tinggal bilang dirumah. Kenapa Lo ga ngantor? Kerjaan numpuk gue kelimpungan ngehandle sendirian."
"Bini gue lagi hamil." jawabnya singkat.
"Apa? Nona Roma hamil? Wah selamat ya Bro bentar lagi Lo jadi bapak." ucap Ken tulus memberikan selamat kepada sahabatnya.
"Iya. Makasih."
"Terus apa hubungannya bini Lo hamil sama Lo yang ga ngantor?"
"Dia parah muntah-muntahnya jadi 3 haru ini gue nemenin dia. Ga tega gue ninggalin dia sendirian."
"Jadi selama 3 bulan nanti lo ga ngantor?" tanya Ken kesal karena dia pernah membaca tentang awal kehamilan saat Kakaknya hamil anak pertamanya.
"Ya enggaklah." sahut Tommy cepat.
"Ya udah, besok lo harus masuk kantor karena ada meeting yang ga bisa gue wakilin." jelas Ken.
"Oya, bagaimana dengan Rendi? Udah 3 hari dia lo siksa. Pamali karena bini Lo sedang hamil. Lo ga boleh nyiksa dis terus-terusan." ucap Ken mengingatkan karena saat ini Rendi masih berada dalam sekapannya di markasnya.
"Astaga, gue lupa. Gimana sama banci-banci itu apa udah lo bayar?"
"Untuk malam pertama saat mereka kerja, gue ga bayar penuh karena mereka curang pake obat perangsang. Si Rendi dicekokin obat perangsang dosis tinggi makanya dia sanggup 30 ronde. Tapi dua malam ini mereka juga ga bisa tembus 30 ronde, jadi mereka gue bayar per rondenya. 1 ronde 10 juta." jelas Ken.
"Apa mereka ga keberatan? Karena perjanjian awalnya kita bayar mereka 100 juta untuk 1 malam."
"Lo tenang aja. Mereka ga akan nuntut, dibayar segitu aja mereka udah bersujud syukur. Cuma gue kasian lihat si Rendi selaib dia sangat jijik dia juga udah keok."
"Ya sudah, kamu lepaskan dia. Tapi sebelum kamu lepaskan, beri dia pelajaran agar dia tidak berani lagi mengganggu kehidupanku. Keluarkan dia dari negara ini dan buat dia tidak bisa kembali lagi ke negara ini."
"Sekalinya ngamuk parah Lo. Tidak ada ampun buat yang cari masalah dengan Tommy." gumam Ken lalu menutup panggilan teleponnya.