Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Manis-manis Pedes



Pasangan pengantin baru itu kini sudah berada dikediaman keluarga Prayoga. Tak ingin rasanya berada dihotel karena Roma merasa tak aman berada dihotel.


Tapi Tommy sudah mendapat kabar dari Ken bahwasanya pria itu berhasil melarikan diri keluar negeri setelah menemui Roma malam itu. Kini berita pencarian Sandy sudah terkirim melalui saluran berita internasional pihak kepolisian maupun duta-duta besar negara asing ikut membantu melacak keberadaan Sandy.


"Kemanapun lo sembunyi, gue pasti bisa menemukan lo San. Sembunyilah sampai ke lubang tikus selagi lo bisa." Batin Tommy.


"Sayang, kamu ga usah khawatir pria itu tidak akan bisa menyakiti kamu. Papi, Mami dan Tommy suami kamu pasti akan selalu menjagamu." ucap Indah. "Kamu ga perlu mengkhawatirkan hal yang lain, kamu harus fokus pada kesehatan kamu saja. Cukup kasih Mami cucu yang cantik-cantik dan lucu-lucu yah." permintaan Indah itu membuat Roma malu.


"Doain ya Mam–." Hanya itu yang mampu terucap dari bibirnya. Ia tahu wanita itu sudah lama mendambakan seorang cucu dari putranya.


Sementara Tommy merasa terharu melihat kedua wanita beda generasi itu saling berpelukan.


"Kalau Mami pengen cepet punya cucu, kasih ruang buat Tommy dan Roma berduaan dong Mam." Tommy tiba-tiba masuk ke kamar membuat keduanya kaget. Mendengar ucapan suaminya wajah Roma merona tersipu malu.


"Kamu tuh yah, ngagetin Mami aja, gimana kalau Mami jantungan terus pingsan dan mati gimana–?"


"Huss– Mami ngomong apa sih, Ngaco! Mami itu akan sehat terus kalau bisa sampe liat cucu-cucu Mami sukses dan menikah kelak." ucap Tommy yang kini sudah duduk ditengah-tengah antara Mami dan istrinya. Ternyata kedua wanita itu sedang asyik buka kado pernikahan mereka.


"Amin–." jawab kedua wanita itu lalu tersenyum.


"Mami ngapain dikamar Tommy?"


"Kamu itu nanya atau ngusir sih Tom?" sahut Indah kesal.


"Dua-duanya Mi. Hehe–." Tommy hanya cengengesan sementara Indah ingin rasanya menelan putranya itu hidup-hidup.


"Mas, kok gitu sih ngomongnya. Tadi aku yang minta ditemenin Mami buat bukain kado-kado ini." Roma menunjuk kado-kado yang sebagian besar sudah mereka buka. "Aku takut mas, kalau-kalau ada kado yang isinya aneh seperti yang kemaren." lirih Roma.


"Kamu ga usah takut dek, Kan ada Babang Tommy–." ucap Tommy bangga sambil menepuk-nepuk dadanya.


"Mami–, Mam!!!" suara Prayoga terdengar dari arah tangga rumah.


"Mami di kamar Tommy Pi–." teriak Indah tepat ditelinga Tommy membuat Tommy memundurkan tubuhnya menjauh dari Indah.


"Mami kayak tarjan aja deh teriak-teriak. Malah teriaknya ditelinga aku lagi." gerutu Tommy.


"Iiih, Papi kamu nyariin Mami tuh nanti ga dengar kalau Mami ga teriak."


"Mami ngapain disini?" tanya Prayoga yang melihat istrinya duduk dilantai yang beralaskan karpet di kamar putranya itu dengan anak dan menantunya.


"Mami bantuin mantu kita bukain kado Pi." ucapnya pada Prayoga sambil menarik tangan suaminya itu untuk ikut duduk bersama dengan mereka.


"Kenapa Mami ikut-ikutan buka kado?"


"Tadi Roma minta ditemenin Pi, masih trauma sama kejadian tadi malam." sahut Indah.


"Ooo, Kamu ga perlu takut dan khawatir. Penjahatnya pasti tertangkap nantinya. Soalnya kasusnya udah sampai ke duta luar negeri. Dan saat ini sedang ditangani oleh Biro Investigasi Federal." Jelas Prayoga.


Biro Investigasi Federal adalah badan investigasi utama dari Departemen Keadilan Amerika Serikat. Sekarang ini, FBI memiliki yurisdiksi investigasi atas pelanggaran yang berkategori kejahatan dan tentu saja kasus Sandy ini bukanlah kasus yang baru. Jika kasus sudah sampai ditangan mereka maka mereka memiliki otoritas investigasi yang terluas dari badan penegak hukum lainnya di Amerika serikat dan akan bekerja sama oleh pihak hukum Indonesia bila nanti mereka sudah berhasil menangkap Sandy.


"Benarkah itu Pi?" Indah yang lebih semangat ingin segera pelaku kejahatan itu segera tertangkap.


"Papi cuma mau bilang pesawatnya sudah ready, dan Candra tadi udah bilang ke Papi kalau besok kita bisa terbang. Dia bilang kita berangkat pagi aja sekitar jam 8 atau jam 9 biar sampe disana paling cepat sore. Kamu kasih tahu yang lainnya ya." ucap pada Tommy lalu berdiri dari duduknya. "Ayo Mi–, Papi juga butuh vitamin "S" untuk perjalanan besok biar fresh." Prayoga mengulurkan tangannya sambil mengedipkan sebelah matanya mengajak istrinya itu untuk keluar dari kamar putranya.


Indah menyambut tangan suaminya ia pun mengerti maksud dari suaminya itu.


"Vitamin S apaan sih mas? Setahu aku Vitamin itu A,B,C,D,E,K bla...bla...bla..." sambil menyebutkan semua vitamin yang ia tahu menurut ilmu kedokteran.


"Vitamin S versi cowok itu ini dek–." ucapnya sambil mer*mas sebelah gunung istrinya itu. "Sedangkan vitamin versi S cewek tuh yang keluar dari sini nih." Tommy memegang tangan Roma dan meletakkannya ditengah-tengah selangkangannya.


"Mas, apaan sih." Roma menarik tangannya lalu berjalan menuju tempat tidur.


"Kenapa dek? Tanganmu tersengat tegangan tinggi ya?" Tommy kembali menggoda istrinya itu.


Roma sangat malu mendengar ucapan suaminya yang menurutnya sangat mesum itu. Tak ingin menunda dan menunggu lebih lama, Tommy beranjak dari tempat duduknya, Ia ingin kembali mengulang aktivitas seperti malam panas mereka tadi.


Tommy seakan tak ada puas-puasnya, ia terus menikmati tubuh istrinya itu. Kenikmatan yang tak pernah dirasakan dan di dapatnya bahkan saat dulu ia melakukannya bersama Sandy.


Roma terkulai lemas dalam pelukan suaminya itu. Tommy mengingat pesan dari Prayoga langsung meminta Ken untuk memberitahukan kepada yang lain untuk bersiap-siap berangkat besok.


...💖💖💖...


Semua orang sudah berkumpul di Bandara, hanya tinggal menunggu satu orang lagi yang belum hadir. Semua bahkan rela mengambil cuti mereka untuk bisa melakukan perjalanan Famillymoon itu.


Ke empat saudara-saudara Roma bersama istri dan anak-anakn mereka sudah hadir begitu juga dengan kedua orang tuanya Togar dan Berta.


Zia dan putri kecil mereka Chessy Eshal William juga sudah hadir disana hanya saja Tirta Abimana Dominic tidak ikut karena masih terlalu kecil untuk melakukan perjalanan jauh sehingga Siska dengan rela tidak ikut dengan mereka untuk menjaga cucunya itu. Sebenarnya Rara dan Zio berat meninggalkan putranya itu tapi mereka juga lebih tak tega bila harus membawanya karena usia Tirta belum genap satu tahu.


Sama halnya pasangan Gina dan Aswin Mahendra, mereka juga tidak membawa putra mereka Kastara Mahendra yang masih berusia 7 bulan itu.


"Sorry gue telat." ucap Mita kepada semua orang yang telah berkumpul dengan nafas yang masih terengah-engah.


"Ga apa-apa kok sayang, lagi pula Chandra juga lagi menyiapkan semua perlengkapan untuk kita terbang." jelas Indah.


Tak dilihatnya sosok pria yang sudah menggugah hatinya itu.


"Nyariin siapa neng celingak-celinguk kayak swan gitu?" ejek Zia saat melihat Mita melirik sana sini tak jelas arahnya.


"Ga ada. Ternyata kita rame juga yah!" serunya basa basi karena ingin menyembunyikan siapa yang sedang dicarinya dari sahabatnya itu.


"Ya iyalah namanya juga Famillymoon." sahut Roma dari belakangnya.


"Cie pengantin baru yang mau honeymoon." goda Rara.


"Ini bukan honeymoon Ra, tapi Famillymoon. Kan kalian pada ikut–."


"Jadi maunya berdua aja nih–, ga mau diganggu kayaknya." Zia menyenggol lengan Roma. Tapi Roma tidak menjawab dia hanya tersenyum malu.


"Eh gimana rasanya pecah perawan?" Tanya Gina yang tak melihat lagi disekelilingnya banyak anak-anak.


"Rem napa nih mulut, ga inget apa disini masih ada anak perawan." sindir Zia sambil melirik pada sahabatnya Mita.


"Biasa aja kali, kita kan udah belajar juga tentang yang begituan." ucap Mita membela dirinya.


"Teori sama praktek beda loh Mit–." Roma ikut menggoda sahabatnya itu.


"Ciee– sang pengantin baru udah bisa bersuara." goda Gina. "Gimana-gimana rasanya?" tanyanya kepo.


"Manis-manis pedes!!!" sahut Roma lalu dibalas gelak tawa dari sahabat-sahabatnya yang sudah menikah sementara Mita hanya tersenyum mendengar obrolan absurd dari teman-temannya itu.


"Udah boleh masuk yuk–." Tommy memberi aba-aba pada semua keluarganya yang akan ikut terbang ke Maldives.


Semua orang sudah lebih dulu memasukkan barang-barangnya ke bagasi pesawat sementara koper Mita masih berada ditangannya.


"Biar aku bawa." Ken yang dari tadi tidak kelihatan batang hidungnya tiba-tiba nongol dan menyambar koper Mita dari tangannya.


"Eh ga usah, biar aku aja." tolak Mita halus, dirinya merasa tak enak dan membebani orang lain.


"Yang ngajak kamu itu aku, jadi biarkan aku bertanggung jawab untuk memenuhi semua kebutuhanmu selama liburan ini." Mendengar ucapan Ken, hati wanita mana yang ga klepek-klepek. Mita tersenyum senang kalau saja ruangan itu tembus sinar matahari sudah dapat dipastikan giginya akan kering karena senyumnya yang selalu memamerkan senyum gigi pepsonya itu.


"Mau kemana?" Tangan Ken menghentikan langkah Mita yang akan berjalan mengikuti teman-temannya.


"Ya naiklah. Mau kemana lagi emangnya?"


"Biarkan mereka naik duluan. Kamu disini sama aku saja. Tenang aja, tempat duduk kita udah aku siapkan dan ga akan ada yang merebutnya." sahut Ken dengan pandangan lurus kedepan tanpa melihat Mita yang terus saja tersenyum kearahnya. Tangannya tetap menggenggam tangan Mita.


"Cowok ini kelihatannya aja sok dingin tapi romantis juga." Batin Mita yang tak berhenti menatap kagum pada pria itu.


"Jangan diliatin terus, nanti jatuh cinta." Mita sangat malu ternyata pria itu tahu kalau dia selalu menatapnya.


"Iiih apaan sih." ucapnya sambil tersenyum maluml.


Setelah Ken memastikan semua penumpang sudah naik, barulah ia mengajak Mita untuk masuk ke dalam pesawat.


Ken menggeret koper Mita lalu memasukkannya kedalam bagasi kabin.


"Hmm, gue kirain ini disini tempat duduk siapa? Ternyata lo berdua ya? Pantesan aja udah ditandai begitu jadi orang ga ada yang berani duduk." sindir Zia yang posisi tempat duduknya tepat dibelakang mereka. Saat ingin duduk disana ternyata sudah terletak sebuah tas dan jaket sehingga dari mereka yang ikut tidak ada yang duduk disana.


Sementara Tommy dan Roma berada disamping kiri mereka.


Ken meminta Mita untuk masuk lebih dulu dan duduk didekat jendela pesawat.


"Berisik Lo–." ucap Mita pada Zia tanpa suara hanya menggunakan gerakan bibirnya.


Sementara para orangtua sudah berada di kamar yang ada didalam pesawat itu.


"Sayang, nanti kalau kamu pengen tiduran dikamar bilang yah." ucap Tommy pada Roma istrinya sambil mengecup puncak kepala Roma.


"Helaah, bilang aja emang Lo yang mau ngamar." ejek Zio dari belakang yang mendengar ucapan Tommy itu. Tapi Tommy tak menanggapinya.


"Tas kamu ga mau disimpenin di kabin sekalian?" tanya Ken yang melihat tas tangan Mita yang ada dua berukuran sedang dan kecil. Lalu Mita memberikan tasnya yang berukuran sedang itu pada Ken.


"Simpen hatinya sekalian." sahut Tommy.


"Sirik Lo–." sahut Ken sambil meninju pelan lengan sahabatnya itu.


Author cuma mau bilang \=\=>


"Happy Senyum-senyum" 😍


Like, Coment, Vote, and gift-nya 🤗