
Saat ini Roma sedang buru-buru pasalnya ini adalah hari pertamanya masuk kerja setelah dua minggu cuti mendadak karena ajakan honeymoon mendadak dari suaminya itu.
Mereka baru saja kembali dari Korea setelah mendapatkan informasi dari Barman kalau Robert sudah menyerahkan diri. Melihat penyesalan Robert yang bersedia menyerahkan dirinya sendiri, akhirnya setelah dipenjara selama 3 hari Togar mencabut tuntutannya. Bersamaan dengan itu keluarga Namborunya itu pun kembali ke Sumatera.
"Mas, cepetan Mas aku udah telat." Roma kesal melihat Tommy yang terlihat santai menghabiskan sarapannya.
"Sabar dek, kamu kenapa buru-buru amat sih." Haidar menyuap makanan terakhir yang ada di piringnya.
"Mas, aku ga enak kalau telat dihari pertama aku kerja. Mas mah enak perusahaan punya mas sendiri jadi kalaupun telat semua orang akan maklum karena mas bosnya disana. Nah aku? Aku ini cuma karyawan disana mas, yang masih digaji beda sama Mas Tommy, Kalau mas Tommy kan menggaji karyawan." tutur Roma yang membandingkan antara karyawan dan bos.
"Lagi pula aku ga suka jadi bahan sorotan mata tajam orang-orang mas." sambungnya lagi.
Tommy meminum air putih setelah menghabiskan makanannya, kemudian ia berjalan mendekati Roma yang berdiri didepannya sambil menunggunya selesai makan.
Cup.
Tommy mengecup bibir Roma agar berhenti nyerocos.
"Rumah sakit itu punya Suami kamu ini, jadi secara ga langsung Rumah sakit itu juga milik kamu Sayang." Tommy melihat mata Roma yang membulat, sepertinya istrinya itu tidak percaya padanya. Tommy kemudian mengecup kening Roma. "Kalau kamu mau mas bisa menjadikanmu direktur disana." lalu Tommy merangkul bahu Roma, mereka berjalan menuju garasi mobil.
"Hahaha, mas mimpinya kejauhan." Roma tertawa dirinya berpikir kalau suaminya itu sedang bercanda. Mana mungkin rumah sakit itu milik suaminya karena suaminya itu hanya tahu berbisnis saja.
"Mas serius sayang–. Rumah Sakit Citra Medistra itu punya Mas." Tommy melihat Roma berdiri mematung didepan pintu mobil. "Kalau kamu ga percaya Mas bisa telpon dokter Christofel sekarang."
"Mas Tommy beneran serius kalau Rumah Sakit itu miliknya? Kalau dipikir-pikir bisa saja benar, kalau tidak bagaimana mungkin Mas Tommy bisa kenal sama dokter Christofel?" Batin Roma.
"Masih juga ga percaya? Mas telpon nih sekarang–." Tommy mengeluarkan ponselnya dari saku dalam jasnya dan mencari kontak dokter Christofel.
"Ga usah mas, Iya aku percaya. "Kita berangkat sekarang ya." Lalu Tommy membuka pintu mobil untuk Roma dan menutupnya kembali setelah Roma masuk kedalam.
Tommy melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Mas, cepetan dong! kok jalannya lambat banget, masa lebih cepat jalannya kura-kura." protes Roma.
"Kamu tenang aja, nanti mas antar kamu sampai masuk keruangan kamu, supaya kamu ga jadi bahan sorotan orang."
"Itu sih sama aja, semakin buat aku jadi bahan sorotan Mas–." Tommy cengengesan dan itu memang sudah ada dalam rencananya. Supaya seisi rumah sakit tahu kalau Roma adalah Nyonya pemilik Rumah Sakit itu dan sekaligus pewaris tunggal Perusahaan SP GROUP.
Perjalanan dari apartemen ke Rumah Sakit yang seharusnya bisa ditempuh selama 45 menit ini menjadi 1 jam lebih dari 20 menit.
"Mas sengaja ya buat aku terlambat." Wajah Roma cemberut, sepanjang jalan ia terus saja mengomel karena Tommy sepertinya sengaja membawa laju mobilnya pelan padahal jalanan tidak macet. Sementara Tommy yang diomeli sang istri hanya mengulum senyumnya saja.
Roma keluar dan di ikuti Tommy dari belakang. Roma merasa heran kenapa Tommy mengikutinya, ia pun menghentikan langkahnya dan menatap Tommy yang berdiri dibelakangnya.
"Mas ngapain ikutan masuk?"
"Sayang, mas mau ketemu sama dokter Christofel."
"Mas ada perlu apa sama dokter Chris?" Roma menatap curiga pada Tommy.
"Jangan bilang kalau mas beneran mau buat aku jadi direktur Rumah Sakit ini?"
"Ada yang mas perlu bahas dengannya. Ya sudah kamu masuk keruangan mu sana. Jangan malas-malasan nanti gaji kamu mas potong." goda Tommy lalu mendahului Roma berjalan keruangan dokter Christofel.
Roma pun tanpa sadar berjalan ke ruangannya dengan menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil yang sedang marah.
Dan tingkah lakunya itu diperhatikan oleh perawat Dewi dan Cinta.
Kondisi Cinta semakin membaik, saat ini dirinya sudah bisa bersosialisasi dan tak lama lagi Cinta diperbolehkan pulang, hanya saja yang membuat Roma bingung kemana ia harus memulangkan Cinta, sementara Ibunya Cinta sendiri sudah tak peduli padanya.
Diruangan Direktur Rumah Sakit Citra Medistra
Dokter Christofel sangat terkejut dengan kedatangan Tommy, karena tidak biasanya Tommy datang tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
"Tuan Tommy, silahkan duduk Tuan." tidak biasanya dokter Christofel sangat canggung dan gugup, mungkin saja karena kedatangan Tommy yang tiba-tiba membuatnya sedikit terkejut.
"Terimakasih dok." Tommy mendudukkan dirinya disofa yang ada diruangan itu. "Maaf kalau kedatangan saya mengejutkan dokter Chris. Saya kesini cuma mau minta maaf karena istri saya yang tiba-tiba cuti membuat jadwal praktek dokter lainnya jadi terganggu. Dan sampaikan pada dokter yang menggantikannya kalau nanti gajinya akan saya tambahkan bonus."
"Baik Tuan, nanti akan saya sampaikan."
"Dan tolong sampai juga permohonan maaf saya sekaligus saya ucapkan terimakasih padanya. Seandainya saya bisa bertemu dengannya langsung–." Tommy menjeda ucapannya dan melihat dokter Chris seolah ia ingin dokter Chris memanggil dokter yang menggantikan Roma istrinya. Dokter Chris pun tahu arti tatapan dari Tommy.
"Maaf Tuan, saat ini dokter Jonas Andreas sedang seminar keluar kota, nanti saya akan sampaikan pesan Tuan Tommy padanya." jelas dokter Christofel.
"Ok baiklah dok, saya juga harus kembali ke kantor. Dan satu lagi dok, tolong perlakukan istri saya sebagaimana biasanya saja. Karena dia masih belum percaya kalau rumah sakit ini milik saya." ucap Tommy sebelum keluar dari ruangan dokter Christofel.
"Baik Tuan."
Tommy pun pergi meninggalkan Rumah Sakit miliknya itu lalu melajukan mobilnya menuju kantornya.
Sesampainya di kantor Tommy melihat sahabatnya Ken sedang uring-uringan. Bagaimana dia tidak uring-uringan selama dua minggu dirinya harus menghandel perusaan sebesar itu sendirian. Belum lagi dirinya selalu membatalkan kencannya dengan Mita karena kesibukannya.
"Lo kenapa pagi-pagi muka ditekuk begitu." tanya Tommy ketika memasuki ruangannya dan mendapati wajah cemberut sahabatnya itu yang sedang duduk di sofa.
"Lo jadi atasan kok ga berperasaan banget sih Tom? Lo asyik-asyikan honeymoon sampe 2 minggu sementara selama itu juga gue harus lembur. Belum lagi tiba-tiba ada rapat mendadak dikantor cabang. Gue capek Tom–!!" keluh Kendrick.
"Jadi mau Lo apa sekarang? Mau resign? Silahkan–!!" Tommy sengaja menggoda sahabatnya itu tapi dengan tatapannya yang datar.
"Sialan Lo, tega Lo ya nyuruh gue resign setelah pengabdian gue selama ini sama Lo."
"Terus Lo maunya apa?" Tommy duduk didepan Ken.
"Mau ngapain Lo cuti seminggu?"
"Me time lah–." jawab Ken seenaknya saja.
"Lo ga boleh cuti kalau alasan Lo ga jelas." ucap Tommy tegas.
"Tega ya Lo Tom–. Gue juga butuh istirahat Tom!" lirih Ken.
"Ok sehari cukup. Mau hari ini atau besok?" Tommy menatap Ken serius.
"Jangan sehari lah, 5 hari ya Tom." Ken merasa Tommy pasti tidak akan mengabulkannya. "3 hari ya Tom–." bujuknya.
"Dua hari atau tidak sama sekali." Tommy beranjak dari tempat duduknya kemudian duduk dikursi kerjanya.
"Lo udah kayak emak tiri tahu ga Tom." gerutu Ken.
"Mau ga?"
"Iya, iya 2 hari."
"Terpaksa deh dari pada enggak sama sekali. Sahabat serasa emak tiri." Batin Ken.
"Kapan Lo mau cuti?'
"Nanti tunggu atur jadwal dulu sama doi." ucap Ken sambil menahan senyumnya.
"Hmm, kamprett Lo, kenapa ga bilang kalau Lo mau kencan?"
"Sekarang kan Lo udah tahu, jadi boleh yah 5 hari. Pliss–." rayu Ken lagi.
"Tetep kagak."
"Dasar semprol Lo."
"Udah kerja Lo sono–." Tommy mengusir Ken dari ruangannya.
...💕 💕 💕 💕...
Tommy melirik jam tangannya sudah hampir jam 5 sore, ia segera membereskan meja kerjanya bersiap untuk menjemput Roma pulang. Karena dokter Jonas sedang tidak berada ditempat sehingga Roma harus menggantikan sementara.
Dan benar saja, ketika Tommy sampai dirumah sakit ia melihat masih ada beberapa orang yang menunggu antrian untuk konsultasi dengan Roma.
Setelah menunggu satu jam lebih akhirnya Roma selesai juga. Tanpa mengetuk pintu ruangannya, Tommy masuk dan mengunci pintunya. Sementara Roma sedang bersandar dikursinya sambil memejamkan matanya.
"Dewi, tadi kamu bilang udah ga ada pasien lagi." ucap Roma tanpa membuka matanya. Ia merasa begitu lelah.
Roma membuka matanya karena tidak ada jawaban dari orang yang ditanyanya.
"Mas Tommy–." Jantung Roma hampir copot melihat Tommy yang menempelkan bokongknya diatas meja tepat didepannya, menatapnya sambil tersenyum. "Kenapa Mas Tommy bisa ada disini?" Roma celingak-celinguk melihat sekelilingnya takut ada yang melihat Tommy ada diruangannya.
"Ini Rumah Sakit ku dek–, ya suka-suka aku dong mau masuk keruangan mana aja."
"Iya-iya, udah yuk pulang–." ajak Roma sambil mengambil tasnya.
"Dek pengen–."
Roma mengerutkan dahinya.
"Pengen apa Mas?"
"Itu–." Tommy menyatukan ujung jari telunjuknya yang kiri dan yang kanan.
"Apaan sih Mas–." wajah Roma bersemu, ia tahu apa yang diinginkan suaminya itu.
"Mas pengen Sayang–."
"Ini Rumah Sakit Mas, lagian aku capek banget."
Seolah tidak memperdulikan keluhan Roma, Tommy langsung mengangkat tubuh Roma dan membaringkannya di tempat tidur yang biasa digunakan pasien untuk melakukan konseling atau pemeriksaan.
Tommy mulai mencumbu istrinya itu membuat Roma terbang ke nirwana melupakan profesinya yang sebagai dokter. Melupakan tempat dimana saat ini mereka berada. Sentuhan-sentuhan Tommy telah membuatnya lupa akan itu semua.
"Mas buruan masukin–." pintanya manja.
"Masukin apanya Sayang?" Tommy sengaja menggoda Roma yang sudah berada dipuncak gairah.
"Anunya–."
"Anu apa?"
"Cepetan Mas ih–." Roma melingkarkan kakinya dipinggang Tommy meminta Tommy untuk segera melancarkan aksinya.
"Tadi bilangnya capek, tapi minta juga." ejek Tommy lalu menghujamkan miliknya kedalam pintu masuk tubuh Roma.
"Aaahhh–."
Aaahhh, Like dan Like dan Like dan Hadiahnya yach 😍