Reincarnation Human

Reincarnation Human
Kehidupan Sebelumnya Fu Zhisu



Ayah dan ibunya yang di ikat dan di perban hanya dapat histeris dan menumpahkan air dari mata mereka dengan deras, mata mereka berdua merah seolah marah dan badan mereka bergetar hebat karena takut. Tanpa banyak menghabiskan waktu laki-laki berbadan besar itu mengikat ayah dan ibunya dengan tali yang membuat mereka berdua berdiri dan membuka kan kedua tangan dan kaki mereka.


Tak butuh waktu lama kedua orang tuanya kini di ikat berdiri dengan kedua tangan dan kaki yang terentang.


Perlahan laki-laki berbadan besar itu mengambil pedang yang memiliki panjang sekitar 50cm atau bahkan lebih lalu mengarahkan ke salah satu tangan ayahnya. Ayahnya hanya dapat meneteskan air mata dan ia sendiri berteriak mengutuk laki-laki itu dengan amarah, seluruh badannya gemetar tak terhenti tapi ia tidak dapat berbuat apapun karena tubuhnya yang lemah ikatan itu tidak dapat lepas bahkan tangannya terluka akibat tindakan yang di lakukan olehnya.


"Bajingan. Jauhkan benda itu dari orang tua ku"


Setelah teriakan itu tiba-tiba An Shi yang berada di belakang memegang pundaknya berkata "teriakan tanpa pergerakan tidak akan mengubah segalanya, bukan kah kau tau itu Fu zhisu"


Dengan seluruh badan yang gemetar karena marah ia menekankan suaranya berkata "An Shi, sebegitu iri kah kau dengan keluarga kami"


Kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat gadis itu melebarkan mata dengan tangan yang mengepal berkata "potong tangan ayahnya"


Perkataan itu membuat laki-laki yang memegang pedang secara langsung memotong pergelangan tangan dari ayahnya tepat di depan matanya.


Ia yang melihat adegan itu tentu saja spontan berteriak dan mengutuk lalu meminta laki-laki itu untuk berhenti namun sayangnya ucapan yang di keluarkan olehnya tidak di gubris, setelah memotong salah satu pergelangan tangan ayahnya laki-laki itu melanjutkan memotong kali ayahnya sampai ke lutut. Ayahnya tentu saja menggerak kesakitan karena anggota tubuhnya di lepas secara paksa dengan pedang, air mata bercucuran dan seluruh badan ayahnya merah sedangkan ibunya pingsan tanpa dapat melihat adegan sadis yang lebih lanjut.


Siksaan itu tidak sampai di situ saja. Setelah gadis itu bertanya padanya apa sandi bank dan ia menjawab jujur bahwa ia tidak tau gadis itu malah memerintahkan laki-laki yang memegang pedang untuk memotong kepala ayahnya. Ibunya yang baru terbangun dari pingsan beberapa menit lalu kembali histeris dan pingsan kembali setelah melihat suami yang hidup dengannya sekaligus ayah dari anak-anak tidak memiliki kepala lagi.


Gadis itu bertanya kembali apa sandi bank keluarga mereka, kali ini ia menjawab dan akhirnya gadis itu melepaskan ia dan ibunya sayangnya kakaknya tidak di lepaskan. Ia memutuskan untuk pergi bersama ibunya dan kembali ke rumah lalu memutuskan untuk memikirkan cara membebaskan kakaknya.


Saat malam tiba, di dalam rumah atau tepatnya di atas kasur ibunya terbangun dari pingsan dengan muka panik dan menangis berteriak histeris, ia yang berada di dapur sedang membuat bubur langsung berlari ke arah ibunya. Sesampainya di kamar ibunya sudah berekspresi seperti orang yang memiliki gangguan mental, rambut yang berantakan muka yang nampak selalu sedih dan lesu serta badan yang nampak tidak terawat.


Meletakkan bubur yang di pegang ke atas meja yang berada di samping tempat tidur ia memegang kedua telapak tangan ibunya berkata "tenanglah Bu..."


Air yang berasal dari mata ibunya mengalir deras seperti air terjun dengan napas yang tersengal-sengal, emosi sedih yang tampak dari ibunya membuat ia mengeluarkan air mata juga. Mereka berdua menangis di dalam kamar yang terasa sunyi, kamar itu di penuhi dengan aura kesedihan dan kesengsaraan.


Keesokkan paginya ia langsung memasak, memandikan dan memberi makan ibunya, pagi itu ibunya tersenyum namun tingkah dari ibunya nampak seperti anak² yang baru berumur 3 tahun. Hatinya yang melihat kondisi ibunya tersayat namun ia sendiri tidak bisa berbuat apapun agar ibunya kembali normal, mental ibunya benar-benar hancur.


Selesai mengurus ibunya ia kembali ke tempat di mana ayahnya di bunuh untuk menyelamatkan kakaknya. Alasan ia dan ibunya di bebaskan adalah karena ia memberitahukan pin bank, tapi karena memang ia tidak tahu apa pin nya jadi ia mengarang. Hari ini harus di pastikan bahwa kakaknya tidak akan di siksa karena apa yang di lakukan olehnya.


Dengan ragu ia masuk ke dalam rumah di mana An Shi membunuh ayahnya untuk menyelamatkan kakaknya. Seperti dugaannya bahwa mereka tidak akan langsung mengambil uang itu di bank melainkan mereka pasti akan menunggunya terlebih dahulu karena hal itu mereka lakukan untuk mengetahui pin yang di berikan benar atau salah, jika pin yang di berikan salah mereka beranggapan bahwa ia pasti tidak akan kembali dan akan melarikan diri itulah sebabnya kakaknya di jadikan jaminan agar ia tidak berbohong tentang pin bank.


Seorang perempuan duduk di atas paha seorang laki² yang duduk di atas kursi kayu, laki² itu adalah laki-laki yang memimpin kejadian beberapa hari yang lalu. Dengan senyuman mengejek di muka laki-laki berkata "ini anak yang kau bilang cerdas dan berpendidikan itu Shi" dengan senyuman yang semakin melebar laki-laki itu melanjutkan "dia tampak seperti anak ayam yang masuk ke dalam sarang ular"


Dengan badan yang nampak gemetar ia menatap laki-laki dan perempuan itu lalu bertanya dengan suara serak "dimana kakak ku. Bukannya dia sahabatmu"


Mendengar perkataan yang keluar dari mulutnya gadis yang duduk di atas paha laki² itu berdiri lalu berjalan kearahnya sambil berkata "sahabat?. Aku tidak pernah menganggapnya sahabat bukankah kau tahu itu"


Menunduk gadis itu menarik dagunya ke depan dan menatap matanya, mata mereka saling bertemu dan tatapan gadis itu padanya nampak seperti menatap kotoran. Dengan kening yang berkerut gadis itu membuka mulutnya kembali berkata "orang bodoh sepertinya tidak pantas menjadi temanku" setelah mengatakan itu gadis itu kembali duduk di atas paha laki² itu lalu melanjutkan "kakak mu ada di gudang, kau bisa pergi kesana namun aku ingatkan tidak ada jalan keluar jadi jangan pernah coba untuk kabur dari sini"


Tak lama setelah gadis itu mengeluarkan kata-kata nya, dua pria besar menarik kedua lengannya dan menyeretnya ke dalam sebuah gudang.


Di dalam sebuah gudang yang gelap terdengar suara tangisan dari seseorang ia tahu bahwa itu adalah suara tangisan dari kakaknya jadi ia buru-buru berteriak "kakak aku disini tenanglah"