
Memutar otaknya untuk berpikir keras beberapa waktu ia berkata "kenapa tidak melakukan cara ke tiga"
Anak laki-laki itu menatap ke arahnya dengan terkejut sambil mengerutkan kening. ekspresi mukanya tampak bingung.
Melanjutkan ia berkata "kamu tidak bisa keluar dari dimensi mu karena kekuatan mu terbatas. Jika kekuatanmu meningkatkan bukankah potensi keluar juga meningkat"
"Emm. benar" ank laki-laki itu menjawab sambil berpikir mencubit dagunya.
Kelopak matanya berkedut, ia berkata dengan hati-hati "jika aku memberikan mu nama apakah kekuatan mu bisa meningkat sama seperti binatang kontrak dan pohon apel di dimensi ku. Bagaimana jika kita mencobanya"
Anak laki-laki membelalak kan mata. Membuka mulutnya berkata "kamu bisa memberi nama makhluk lain lebih dari satu"
Ia mengangguk lalu menjelaskan bahwa ia menamai seluruh yang ada di dimensinya. Baik itu pohon apel, rumput, batu, dan air ajaib.
Setelah mendengar penjelasannya anak laki-laki itu dengan ragu berkata "aku adalah makhluk suci, apa kamu yakin"
Ia mengangguk lalu berpikir menghadap ke langit dengan tangan yang mencubit dagu berkata "Hien Wenxue bagaimana dengan itu"
Setelah mengatakan itu tiba-tiba penglihatan yang di milikinya memudar dan badannya jatuh ke pasir. Saat bangun ia berada di ruangan tempat ia dan penguasa kota Hien melakukan pembebasan jiwa. Dan di sana sudah ada anak laki-laki yang berada di dimensi pasir waktu itu.
mengerutkan kening ia berkata dalam hati 'ini bukan dimensi pasir, apa dia sudah berhasil keluar'
Anak laki-laki itu menghampiri nya dengan senyum, menangkupkan kedua tangan ke depan mengatakan "terima kasih"
Tersenyum ia melambaikan kedua tangannya ke depan. Membuka mulut berkata “aku tidak banyak membantu”
Penguasa kota Hien datang mendekat dengan muka senang namun nampak bahwa dia tertekan. Mengepalkan tangan berkata “maaf karena membuatmu merasa sakit saat proses pelepasan jiwa. Tapi… terima kasih karena sudah membantu”
Dengan senyum di wajah ia menjawab “tidak apa”
Ia tahu bahwa penguasa kota Hien melakukan itu demi kebaikannya dan jiwa orang yang di cintainya. Namun ada beberapa hal yang membuatnya penasaran, hal itu adalah makhluk yang di katakana oleh anak laki-laki itu. Apa sebenarnya makhluk yang di sebutkan, apa hubungannya dengan makhluk itu, dan tentang kehidupannya sebelum ia pindah ke sini sepertinya sudah di ketahui oleh anak laki-laki itu dan penguasa kota Hien. memutar otak dengan banyaknya pertanyaan membuat kepalanya berasap.
Karena rasa penasaran itu semakin memuncak setiap kali memikirkan kata itu akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada anak laki-laki di depannya “jika memang kalian ingin berterima kasih bisakah kalian membantuku” ia berkata sambil maju beberapa langkah ke depan.
Penguasa kota Hien dan anak laki-laki di depannya saling menatap, setelah beberapa saat anak laki-laki itu maju selangkah ke depan membisikan sesuatu. Ia melebarkan mata dan mulutnya. Seluruh badanya menegang menatap kedua orang di depannya.
“kamu yakin dia akan lolos” Penguasa kota Hien membuka mulut menatap ke arah seorang anak laki-laki.
Tersenyum anak laki-laki itu menjawab dengan yakin “tentu. Dia di berkati fetisyisme”
Penguasa kota Hien mengangguk dan tersenyum ke arahnya yang sedang berlari karena takut.
Di sisi lain setelah lama berlari seperti orang gila ia berhenti untuk mengatur napas. Baru beberapa detik ia berhenti berlari tiba-tiba ada yang berteriak “aku melihatnya. Disini”
Mendengar itu ia kembali berlari dengan sekuat tenaga. menggertak kan gigi saat berlari sambil bergumam “alam hantu adalah yang terburuk di antara tiga alam”
Di tengah pasar kota ia berpura-pura menjadi salah satu pembeli di tokoh baju. Beberapa yang mencarinya melewati tokoh itu sedangkan yang lainnya menanyai hantu di sekitar tentang orang yang mencurigakan. Ia bersikap seolah akan membeli jubah brokat merah yang di pegangnya sambil menguping pertanyaan hantu yang mencarinya ke penjaga tokoh. Setelah hantu itu pergi ia menghela napas lega.
Pemilik tokoh mendekat bertanya padanya “apakah tuan tidak puas dengan jubah ini. Kami memiliki beberapa koleksi jubah brokat dengan motif yang elegan”
Ia tersentak kaget mendengar suara dari belakangnya. Namun segera menyesuaikan keadaan lalu berkata “benar aku mencari jubah putih bukan merah”
Tersenyum pemilik tokoh memberi jalan padanya untuk melihat koleksi jubah lainnya. Ia mengikuti pemilik tokoh dan masuk ke salah satu ruangan. Ruangan ini berbeda dengan yang ada di depan, ruangan ini nampak lebih luas dan jubah yang tergantung juga terlihat mewah dan elegan. ‘sepertinya ini ruangan VIP di tokoh ini’ pikirnya
Setelah beberapa waktu ia keluar dari tokoh dengan menggunakan pakaian baru. Untungnya ia memiliki sisah beberapa elixir yang di murnikan di dimensinya saat masih di sekte.
di alam hantu elixir rendah tidak di pergunakan mereka mengonsumsi elixir tingkat menengah, sedangkan untuk tingkat atas susah di dapat. Karena ia memiliki elixir tingkat atas dengan persentase tinggi pemilik tokoh sangat senang bahkan menawarkan jenis pakaian lain padanya, akhirnya karena memang ia menyukai pakaian di kota ini ia menukar empat elixir lagi dan mendapatkan empat pakaian mewah.
Setelah beberapa kali tersesat akhirnya ia menemukan gerbang keluar kota hantu. Dengan senyum di wajah ia berlari ke arah gerbang. Belum sempat melangkah ke luar gerbang pergelangan tangannya di tarik oleh seseorang yang membuatnya terkejut, kelopak matanya berkedut dan jantungnya berdetak dengan sangat cepat.
“bayar koin keluar tuan” suara terdengar dari belakang nya.
Dengan tenang ia berbalik dan tersenyum pada orang itu. Itu adalah penjaga gerbang “apa dengan elixir tingkat tinggi bisa”
Penjaga gerbang itu mengamatinya dari atas ke bawah lalu menyuruhnya untuk mengikutinya. Awalnya ia diam dan mengamati penjaga gerbang itu, tapi karena firasatnya mengatakan orang ini tidak berbahaya ia memutuskan untuk mengikuti di belakang.
Tak lama setelah berjalan mereka berhenti, sampai di suatu tempat dengan asap hitam. Itu adalah pusaran hitam seperti pintu masuk alam iblis. Penjaga gerbang itu menatapnya dengan mata yang mengatakan sesuatu. Ia bingung dalam hati berkata ‘apa yang ingin orang ini katakana padaku’. Ia mengerti saat penjaga gerbang menatapnya lalu menatap pusaran hitam itu.