
Karena mereka yang antusias akhirnya ia melanjutkan "Elixir biru yang agak kabur ini adalah Elixir penambah energi. sedangkan yang biru pekat ini adalah penahan rasa sakit, lalu yang merah adalah Elixir yang dapat menahan rasa sakit serta dapat menambah energi selain itu juga dapat menyembuhkan luka. Ketiganya di buat dari bahan yang sama namun penyulingan yang sedikit berbeda"
Laki-laki pemilik tokoh kagum dengan penjelasan darinya begitu juga wanita itu. Namun karena mereka adalah seorang pem bisnis tentu saja mereka tidak akan langsung percaya begitu saja ucapan orang asing tanpa bukti.
Menanggapi perkataan dari pemilik tokoh ia sudah memikirkan hal ini sebelumnya jadi ia menanggapi dengan senyum di wajah yang tampak sangat alami meskipun sebenarnya senyuman itu hanya di buat-buat "bisakah pemilik tokoh meminjamkan belati kepada ku"
Spontan wanita penjaga tokoh dan pemilik tokoh terkejut dan saling menatap, namun tak lama kemudian wanita itu bergegas mengambil belati kecil dari dapur tokoh mereka. Tanpa keraguan ia langsung mengarahkan belati itu ke tangannya sampai tangannya terluka, darah merahnya berceceran dimana-mana.
Melihat tindakan tanpa ragu-ragu darinya ketiga orang yang berada di depannya berteriak sambil menampakkan muka kaget sekaligus tidak percaya terhadap apa yang terjadi, Iblis ular bahkan spontan membuang belati itu.
Ia menenangkan iblis ular lalu mengambil Elixir berwarna merah di atas meja dan meminumnya dalam waktu sepersekian detik luka di tangannya mulai memudar dan hanya menampakkan garis, luka di tangannya langsung sembuh dari luka.
Melihat bukti nyata di depan mata pemilik tokoh itu langsung bertanya padanya dengan blak-blakan "tuan memiliki berapa Elixir yang dapat di jual pada tokoh kecil ini"
Kata-kata yang keluar dari pemilik tokoh kini menjadi lebih sopan seolah menemukan makanan besar, ia tidak keberatan dan dengan senang hati menjawab "untuk sekarang aku memilih tujuh Elixir penyembuh, tujuh Elixir penahan rasa sakit, dan tujuh Elixir penambah energi"
Dengan senyuman di wajah pemilik tokoh langsung mendiskusikan harga padanya "tuan di lihat dari Elixir yang ada betapa jumlah yang tuan inginkan untuk tokoh kami bayar?"
Mendengar itu ia dengan senyuman lembut di wajah menjawab "menurut tuan berapa harga dari Elixir yang sangat berharga ini" ia menekankan kata sangat yang membuat pemilik tokoh gugup.
Jika di lihat dari gerak-gerik pemilik tokoh ini sepertinya dia mencurigainya tentang Elixir ini karena aura tingkatan yang dimilikinya masih tertutupi dan ia sengaja menutupnya untuk menghindari perbuatan jahat dari pihak lain.
Di dunia ini orang kuat yang tidak tahu apapun akan menjadi target perburuan apalagi seorang ahli ramuan sepertinya pasti akan mengundang banyak pasang mata yang ingin menjadikannya sebagai budak pembuat Elixir.
Awalnya pemilik tokoh mengira ia adalah tuan tanah atau orang dari kekaisaran dan mendapatkan Elixir ini dari seorang budak sehingga pemilik tokoh berencana untuk menyimpan rahasia ini guna untuk menjalin kerjasama. Sayangnya tebakan itu salah yang membuat pemilik tokoh panik setengah mati.
Meneguk ludahnya sendiri pemilik tokoh dengan suara yang agak di tekan karena takut menjawab "seribu tael emas untuk satu Elixir penyembuh, lima ratus tael perak untuk satu Elixir penambah energi, dan seratus tael perak untuk Elixir penahan rasa sakit"
Mengangguk tanpa banyak basa-basi ia mengisyaratkan setuju. Pemilik tokoh sangat senang karena dia tidak di persulit.
Setelah menyelesaikan transaksi ia memiliki uang yang sangat banyak sehingga membuatnya senang. Dengan senyuman di muka ia berpikir "uang di dunia manapun benar-benar dapat mengubah perasaan"
Setelah menerima banyak uang ia dan iblis kelelawar mencari tempat makan, mereka awalnya berniat untuk makan di sebuah restoran yang mewah dan menyajikan makanan yang enak untuk mereka tapi tiba-tiba langkah dan pandangan mereka terarah pada suatu tokoh yang sepi tanpa ada satupun pelanggan. Seorang anak laki-laki berdiri di depan tokoh sambil memegang sebuah tulisan 'mie gandum'.
Tokoh itu mengeluarkan bau kaldu pada masa kehidupannya sebelumnya yang membuatnya ingat pada karee buatan adiknya. Anehnya tokoh itu tidak ada pembeli satu pun padahal godaan dari aroma kaldu yang sangat tajam.
Melihat pandangan tuanya iblis ular bertanya "apa kita akan makan di sana tuan"
Mengangguk ia memberikan jawab pada iblis ular dan mereka langsung pergi ke tokoh itu. Beberapa orang yang melihat mereka masuk ke tokoh itu menampakkan muka tidak percaya dan jijik dan ada juga beberapa dari mereka yang menampakkan muka kasihan.
Ia dan iblis kelelawar mengetahui tatapan mereka karena kekuatan mereka yang memang sudah di atas rata-rata manusia. Manusia pada umunya hanya mampu mencapai tahap lima puncak dengan kategori manusia tentu saja itu berbeda dengannya. Ia mencapai tahap lima puncak di alam iblis yang berarti kekuatannya di dunia manusia berarti ada di tahap tujuh akhir. Tentu saja mengetahui perkataan mereka dan menganalisis bagaimana mereka memandangnya dan iblis ular dapat mereka berdua lakukan dengan muda.
Tanpa menghiraukan mereka ia dan iblis kelelawar masuk ke dalam tokoh mie dan langsung duduk di sebuah kursi. Tokoh mie ini sangat tidak layak karena tanah di bawah mereka adalah tanah yang sangat tidak cocok untuk berjualan pasalnya tanah itu adalah tanah lumpur. Tentu saja hal itu membuat pakaian putihnya dan sepatu putihnya kotor.
Menyadari itu seorang gadis menghampiri mereka berkata "maaf atas ketidak nyamanan ini tuan. Kami hanya memiliki lokasi ini untuk tempat usaha"
Mendongak ia melihat seorang gadis cantik dengan pakaian sederhana berwarna biru muda dengan ekspresi panik di muka. Melihat tindakan kakaknya itu seorang anak laki-laki yang memegang tulisan 'mie gandum' segera masuk dan berlutut membuat baju dan kening anak itu penuh dengan lumpur. Anak itu berkata "tolong jangan salahkan kakak ku ini salah ku tuan. Maaf atas ketidak nyamanan ini"
Melihat tindakan ini ia dengan sigap menjawab "berikan aku dua mangkuk mie gandum yang paling enak"
Tindakan yang di lakukan olehnya membuat gadis itu terkejut dan kembali sadar menjawab "baik tuan"
Anak laki-laki itu dengan heran mengangkat kepala menatap ke arahnya dengan kilatan mata penuh syukur. Ia menyadari hal itu namun ia tidak menghiraukannya.
Iblis ular menatap ke rah sepatu dan jubah tuannya dengan alis yang berkerut. Ia menatap iblis ular berkata "apa kamu ingin mengeluh"