
Shifunya memicingkan bola mata untuk melirik ke arahnya. Menyadari itu ia membuka mulut "maaf karena aku tidak bisa menikah dengan penguasa kota" ia menggenggam tangan saat membicarakan itu.
Pria muda di depannya diam tidak menanggapi. Setelah beberapa waktu membuka mulut "kamu yakin"
Ia memegang baju di bagian dadanya meremas dengan kuat bertanya "apa penguasa kota melakukan sesuatu pada ku" ia mengangkat kepala melihat ke arah pria muda yang tidak jauh di depannya melanjutkan "kenapa aku merasa tidak asing dengan mu dan kenapa aku merasa hatiku sakit saat mengatakan hal-hal yang membuat kita berjauhan"
Pria muda itu tersenyum dengan hati-hati berkata "jiwa istriku ada padamu jadi tentu saja perasan itu tidak akan hilang kecuali kamu hidup bersama ku"
Mendengar itu kelopak matanya berkedut. Mulutnya tertutup dengan bibir yang berkerut tidak tahu harus mengatakan apa, karena ia merasa apa yang di katakan pria di depannya tidak ada niat untuk menipunya.
Pria muda itu meminum anggur di tangannya dengan santai berkata "dua jiwa istriku terperangkap padamu yang mewarisi perasaan dan tindakan mu pada ku" pria itu menghela napas singkat melanjutkan "aku kira istriku akan bereinkarnasi menjadi bayi. Dengan kekuatan yang di milikinya hal itu tidak lah sulit, namun kejadian naas menimpa dan dia terlempar pada wadah yang kuat secara tidak sengaja. Awalnya aku berniat untuk menjadikan mu istri, sekarang juga begitu. Tapi aku tidak akan memaksa. Aku menjadikan mu istriku dan akan memasukkan jiwanya ke dalam dirimu, sehingga dia akan kembali dengan wujudmu"
"Apa kamu menganggap muridku boneka" shifunya menampar meja, yang membuat anggur di meja tumpah.
Pria muda itu tersenyum berkata "tentu saja tidak. Itu berdasarkan persetujuan darinya. "Akan ada waktu di mana dia menjadi Ling Changyi dan akan ada waktu dimana dia akan menjadi istriku. Dengan melakukan perjanjian maka semuanya akan beres dan teratasi hal itu tidaklah sulit"
Tiba-tiba ia merasakan mulutnya yang ingin menjawab ya, begitu juga hatinya. Tapi ia tahan karena merasa ada yang aneh terhadap apa yang terjadi di sini. Ia menggigit lidahnya dan meremas tangannya sendiri agar merasakan sakit dan perhatiannya akan teralihkan dari pria di depannya ke rasa sakit.
Kepala sekte melihat ke arahnya tahu apa yang ia lakukan. Darah dari sudut mulutnya keluar dan darah di telapak tangannya mulai menetes.
Dengan hati-hati dan menyipitkan mata kepala sekte membuka mulut untuk bertanya pada pria muda itu "apa ada cara lain"
Pria muda itu menatap wajahnya, mendekat dan menghapus darah di sudut bibirnya. karena merasa tidak asing dengan tindakan ini jadi tubuhnya menerima dan tidak menolak.
Pria muda itu menggenggam tangan nya berkata dengan lembut "aku akan melakukan apapun untuk mu. Katakan keputusan mu"
Hati dan mulut berkata secara bersamaan "aku akan ikut kemanapun jika itu dengan mu"
Kepala sekolah dan shifunya tersentak kaget menatap ke arahnya. Ia hanya bisa menahan gemetar dan otaknya berpikir cepat 'apa ini. Aku tidak ingin ikut dengannya mau ke manapun itu, ada apa sebenarnya ini'
Seminggu sejak mengatakan akan mengikuti kemanapun asalkan dengan penguasa kota Hien telah berlalu. Di sebuah tempat indah dengan hamparan rumput sejauh memandang yang hanya ada satu rumah kecil dan satu pohon di tengah-tengahnya.
Seorang anak laki-laki memakai gaun putih yang tampak mewah berbaring memandang langit dengan satu tangan yang mengarah ke langit seolah sedang menggapai sesuatu. Anak laki-laki itu adalah Ling Changyi.
Setelah pengakuan itu ia di pindahkan ke sini. Tempat dimana istri penguasa kota Hien tinggal sebelum jiwanya terlempar pada tubuhnya.
Dengan kedua tangan di perut, sambil memandang langit ia bergumam "tempat yang indah namun aku..."
Sebelum ia selesai bicara ada suara yang memanggilnya tak jauh dari tempat ia berbaring "changyi"
Ia duduk kemudian memutar kepalanya untuk melihat orang yang memanggilnya. Itu adalah seorang pria muda dengan pakaian berwarna merah dan sepatu bot hitam mewah yang tampan dan tampak anggun.
Berdiri sambil merapikan pakaiannya ia berkata "apa kamu sungguh ingin melakukan itu dengan orang yang tidak di kenali"
Senyum di wajah pria muda itu memudar lalu berkata "bukankah itu juga berlaku untukmu"
Menghela napas singkat ia menatap mata pria muda itu berkata "apa tidak ada cara lain untuk menangani kasus ini"
Pria muda itu mengangkat kedua alisnya berkata "kasus"
Melihat ekspresi dari pria muda di depannya ia menjelaskan "kasus juga dapat di katakan sebagai masalah" di dunia ini kata-kata dari zaman modern tidak banyak di ketahui.
Pria muda itu berkata "apa kamu tidak menyukai ku"
Mendengar itu ia memutar otak berpikir 'apa penguasa kota pikir aku membencinya' lalu mengeluarkan suara "ini tidak seperti yang kamu pikirkan" ia berkata dengan senyum di wajah dan berjalan mendekat untuk menepuk pundak pria muda di depannya.
Sudut mulut pria muda itu naik ke atas lalu berkata "kamu aneh"
Tertawa hampa ia menjawab "benarkah" ia meninju dada pria muda itu dengan lembut lalu berkata "beberapa orang mengatakan aku memang aneh" setelah mengatakan itu ia menatap langit lalu tersenyum.
Ia teringat dengan seseorang yang juga mengatakannya aneh. Ntah mengapa belakangan ini ia sering mengingat orang itu dalam segala hal.
Pria muda itu menatap seorang anak laki-laki yang tidak jauh di depannya berkata dalam hati 'haruskah aku katakan kebenaran'
Menyadari tatapan dari pria muda di depan ia bertanya "kamu datang setelah seminggu mengirim ku kesini. Ada perlu apa"
Pria muda itu tersenyum kaku berkata "aku menyukai dia sudah sangat lama"
Mengerjapkan mata ia bertanya "seberapa lama"
Pria muda itu duduk di samping ia berdiri dengan lembut berkata "ratusan ribu tahun yang lalu"
Ia duduk di samping pria muda itu berkata "apakah itu istrimu"
Menggeleng pria muda itu menghadap ke arahnya berkata dengan suara dalam "hanya orang yang ku cintai"
Mengerutkan mulut ia berkata "apa dia benar-benar mirip dengan ku"
Pria muda itu menatapnya dengan penuh arti berkata "jiwa di dalam tubuhmu dapat di hilangkan"
Senyum di wajahnya mekar menatap ia menatap pria muda di sampingnya lalu berkata "bagaimana caranya" setelah beberapa saat senyum di wajahnya memudar, ia bertanya "bagaimana dengan wadah istrimu"