
Mereka baru membicarakan tentang Sophia yang akan tinggal dirumah ini juga, mama Richard memaksa Sophia untuk pindah, akan menyenangkan ada beberapa orang dirumah besar ini, namun ucapan Richard yang mulai berbelok menggoda Alicia mulai membuat Alicia malu.
Wajah Alicia memerah, wajah Richard tersenyum menggoda dicermin. Tangan pria itu mulai menurunkan resleting gaun dengan gerakan pelan, namun pasti.
"Malam pertama adalah yang selalu aku tunggu, Alicia." Alicia menahan nafasnya, sapuan halus bibir Richard dibahunya begitu mengganggu, apalagi kini tangan Richard mulai menurunkan gaun Alicia.
"Dokter sudah memperingati kita untuk tidak melakukan ini di trimester pertama bukan?" Gumam Alicia pelan, ia memejamkan matanya saat sensasi yang ditimbulkan Richard terasa begitu memabukkan.
"Ada banyak cara untuk memuaskan ku sayang, kau mau melakukannya kan?" Richard bermain kecil dibelakang telinga Alicia, serta tangan yang mulai memijat bahu Alicia agar wanita itu relax.
Alicia membuka matanya perlahan, ia menatap Richard kembali dipantulan cermin.
"Ba..bagaimana caranya?" Richard menyentuh bahu Alicia, menjalar turun hingga jemari itu bertemu dengan jemari Alicia.
"Aku ingat jari ini pernah menyentuh ku waktu itu." Mata Alicia sedikit membola, ia terkejut dengan pernyataan itu.
"Kapan?"
"Saat pertama kali kau memperkosa ku, kau benar-benar liar saat itu." Wajah Alicia semakin memerah.
"Itu saat dibawah pengaruh obat..kan?" Tanya Alicia gugup. Apa benar ia seliar itu?.
"Aku ingin sekarang saat kau sadar sayang." Richard memasukkan jari telunjuk Alicia kedalam mulutnya, mengigit pelan dan menggodanya dengan lidah yang bermain kecil pada telunjuk indah itu. Alicia mengigit bibir bawahnya, hanya telunjuknya saja ternyata bisa membuat tubuh Alicia merinding, sensasi geli yang ditimbulkan membuat perut Alicia seakan dipenuhi kupu-kupu yang terbang.
Alicia menjerit kecil saat tiba-tiba Richard menggendong nya ala bridal style, menjatuhkan Alicia pelan diatas ranjang mereka.
"Maaf, aku selalu tak bisa menahan keinginan ku untuk menyentuh mu. Kau terlalu memikat untuk ku sayang." Richard melemparkan jasnya, membuka dengan cepat kancing kemejanya.
Rasa cintanya pada Alicia benar-benar tak bisa dibendung, ia masih senang dan berhasrat dihari bahagia ini. Alicia sudah menjadi istrinya, ia akan menjadi ayah dari bayi yang dikandung Alicia. Namun inilah yang ia benci dari dirinya, Alicia tengah hamil muda dan Richard tak mampu menahan desakan keinginannya. Rasanya sudah terlalu lama ia tidak memanjakan Alicia. Mendengar rintihan kenikmatan Alicia benar-benar membuatnya rindu dan gila. Rasa yang tak pernah bangkit lagi bersama wanita lain, namun malah selalu bangkit jika didekat wanita ini.
Richard membantu Alicia untuk melepaskan gaun itu, hanya menyisakan kain tipis segitiga sebagai batas yang sudah diyakini Richard untuk tidak melakukan lebih.
Richard merangkak naik keatas tubuh Alicia. Mencium pelan perut yang masih rata itu.
"Maaf ya jagoan kecilku. Aku meminjam mommy mu sebentar." Sepertinya bermanjaan dengan calon anaknya dulu menyenangkan. Beberapa bulan lagi perut ini membuncit dan akan mengeluarkan makhluk kecil yang menggemaskan.
Setelah dirasa cukup untuk mengobrol dengan sang jabang bayi. Kecu-pan Richard ditubuh Alicia mulai menjalar naik, menggoda bukit kembar itu, memainkannya dengan lidah dan jarinya. Hingga suara Alicia mulai terdengar bagai musik indah ditelinga Richard, membuat dirinya semakin bangkit dan bersemangat.
Nafas Richard semakin berderu, beberapa era-ngan halus keluar dari mulut Richard. Ia duduk dipinggir ranjang, dan Alicia berjongkok dibawah sana. Gerakan tangan Alicia yang cepat membuatnya semakin keras. Ia sudah ingin mencapai batas, namun tak kunjung keluar.
Gerakan tangan Alicia yang mulai melemah membuat Richard sedikit frustasi, ia akan mencapai titik pelepasannya. Richard membuka matanya, ia meneguk air liurnya, Alicia mendekatkan wajahnya pada Richard.
"Alicia, apa kau yakin?" Tanya Richard terengah-engah. Alicia menganggukan kepalanya, ia ingin melakukan lebih untuk Richard, tak ada salahnya melakukan sesuatu untuk membuat suami senang.
"Uhh." Eluh Richard megadahkan kepalanya keatas. Mulut Alicia yang panas mulai mengelilingi dirinya, ia kembali sesak, apalagi saat lidah itu bergerak pelan.
Richard mengikat rambut Alicia kebelakang dengan tangannya. Ini fantasinya selama ini, namun bagaikan mimpi ia bisa merasakan asli. Alicia mulai bergerak ragu, di iringi Richard yang menuntun kepala Alicia untuk bergerak. Lambat laun mulai terbiasa dan Richard tak bisa menahannya lagi, ia ingin lebih lama lagi dimulut itu, namun hasratnya tak bisa ditahan, ia udah mencapai batas.
"Alicia, maaf kan aku. Aku benar-benar mencintai mu." Racauan Richard mulai terdengar, deru nafas semakin kencang tak beraturan. Ia keluar didalam mulut Alicia, membuat wanita itu tersedak dan merasa mual. Richard mengatur nafasnya kembali, sedangkan Alicia berlari masuk kedalam kamar mandi, ia tak tahan dan begitu mual.
°•°•°•°
3 bulan kemudia.
Richard menyandarkan tubuhnya dikepala ranjang, ia baru pulang dari kantor. Sekertaris paling handal memanglah Alicia, dan sudah 3 bulan ini ia memperkejakan sekertaris baru laki-laki (Richard tak ingin Alicia memikirkan dirinya digoda oleh sekertaris baru, jadi Richard memilih sekertarisnya laki-laki). Mungkin karena dikantor tidak ada Alicia, Richard merasa bosan seharian terus di ruangannya.
Richard memijat keningnya.
"Sayang. Aku lelah. Mungkin jika kau mengganti keinginan mu akan aku ikuti."
"Aku sudah membeli ini sayang. Please." Wajah memohon itu kini membuat Richard frustasi. Alicia menginginkan Richard memakai bikin kembar bersama Alicia. Kalian dengar, BIKINI!. Ia tak bisa dan tak ingin membayangkan tubuh kekarnya dihiasi kain minim itu, apalagi melihat benda segitiga itu. Sial! Benar-benar harga dirinya akan turun.
"Sayang, dengar. Aku tidak perlu memakai bikini, kau bisa menyentuh tubuhku sepuasnya, otot-otot ini untuk mu." Richard membuka kemejanya, menyombongkan otot dada yang kekar itu pada Alicia, semoga saja istrinya lebih tergoda dengan tubuh seksi Richard.
Alicia menggelengkan kepalanya.
"Kau warna biru dan aku warna pink. Aku sudah memilih ukuran paling besar untuk mu, ini tidak akan kekecilan. Kita berenang bersama dikolam ya, ya, ya." Richard menghembuskan nafasnya pelan, ia memejamkan matanya, pura-pura tertidur karena lelah.
Terasa Alicia duduk diranjang, Richard membuka matanya perlahan, mencuri penglihatannya untuk melihat reaksi Alicia. Wanita itu tampak cemberut dengan wajah kesal.
"Kau memang tidak asik." Richard masih pura-pura tertidur, membiarkan Alicia tidak memaksanya lagi.
"Baiklah, aku akan mencari pria lagi yang mau mengenakan ini." Ancam Alicia, ia tau Richard hanya pura-pura. Saat ia bangkit mengcraman ditangannya membuat Alicia tersenyum, ia berbalik dan mendapati Richard tengah menatapnya dengan tajam.
"Kau mau melihat tubub pria lain?! Pikiran dari mana itu!" Alicia mendelik. Ia membuang wajahnya dan mendengar Richard. Richard pun turun dari ranjang dan mengambil bikini biru ditangan Alicia.
"Baiklah, baik. Aku akan mengenakannya, tapi hanya sekali ini ya." Senyum Alicia mengembang, ia mengangguk.
"Kita akan berenang dikolam." Richard tertawa garing mendengar ucapan Alicia.
"Oh, tidak sayang. Dibawah banyak para pekerja dan mama kita akan melihat. Aku tidak mau siapapun melihat ku." Alicia tertawa kecil.
"Ya sudah, aku mengisi dulu bathtub dulu. Kita akan berendam disana." Pekik Alicia semangat, ia berlari kecil kearah kamar mandi.
"Jangan lari-lari sayang, ingat kandungan mu." Teriak Richard. Ia menatap bikini mengetikan itu di tangannya.
"Astaga aku benar-benar mengenakan ini." Gerutu Richard.

Thank you,
DHEA
IG: Dheanvta