
Alicia mengerjapkan matanya beberapa kali, pencahayaan diruangan ini begitu redup.
"Dad." Panggil Alicia lemah. Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun tangan yang diikat kebelakang membuat dirinya ingin menangis. Ia tak bisa melakukan apapun. Kedua kalinya diikat dan tangannya pun diikat dibelakang kursi.
"Daddy!" Alicia berteriak, ia menangis, takut dan berbagai perasaan menakutkan menghantam pikirannya.
Alicia terdiam saat suara pintu terbuka. Seorang pria bertubuh besar menghampirinya.
"Kau sudah bangun?" Alicia diam dan menatap tajam pria itu, menatap wajah itu dengan penuh amarah.
"Dimana Daddy ku! Apa yang kalian lakukan hah! Dasar brengsek!" Pria itu tersenyum miring. Seakan mengejek.
"Dasar gadis miskin yang tak tahu aturan." Desisnya. Tak lama datang pria yang paling ia ingat, pria itu yang memegang pistol tadi. Pria bertubuh besar tadi sedikit menunduk saat pria itu mendekat.
"Apa kita akan menjualnya? Dia terlalu kasar, pasti tidak ada yang menginginkan nya." Alicia ingat sekarang, namanya John. John mengibaskan tangannya.
"Kita hanya menjual wanita yang sudah mahir. Jadi bawa dia keruangan ku. Aku akan mulai mengajarinya." Hanya itu yang Alicia dengan, sebelum tangan pria besar itu membekapnya dengan sapu tangan kembali, membuat pandangannya kembali menggelap.
-
Alicia terbangun saat cipratan air dingin membasahi wajahnya. Ia langsung berontak berada diruangan serba merah gelap. Tangan dan kakinya diborgol dengan rantai yang dililit kesetiap sudut ranjang.
"Hemmm." Alicia berusaha berteriak, namun mulutnya di ikat kain. Kini dirinya benar-benar panik.
John mendekat dan duduk disebelahnya, meniupkan kumpulan asap dari mulutnya. Alicia tak mampu menahan tangisnya. Ia terisak dan mengigit kain itu dengan keras. Hatinya terus meminta tolong agar siapapun melepaskan nya dari sini. Ini mimpi yang sangat buruk!.
"Kau memang cantik." Kini tangan menjijikan itu mengelus wajah Alicia. Demi apa pun Alicia jijik dengan manusia gila dihadapannya ini.
Alicia menjerit dan melontarkan kata-kata kasar untuk pria itu. Namun kain sialan itu membuat suaranya tidak jelas, ia malah seperti orang idiot yang sedang protes.
"Kau berbicara apa sayang?" Terlihat John mematikan rokoknya. Ia membuka jas dan membuangnya kesembarang tempat.
"Oh sepertinya aku sudah tidak sabar mencoba mu." Alicia semakin meronta saat melihat John membuka kemejanya, menampilkan tubuh yang dipenuhi tato menjijikan itu.
John melepaskan borgol dikedua kaki Alicia. Membuat Alicia langsung menendang apapun yang bisa ia gapai.
"Teruslah seperti itu hingga kau lelah sendiri." Ucapan mengejek itu membuat Alicia semakin memberontak. Ia tak peduli rasa sakit ditangannya. Ia berteriak dalam bekapan itu.
"Aku akan mandi dulu sebentar." Tanpa memperdulikan kepergian pria itu, Alicia semakin memberontak, berharap rantai itu bisa lepas. Namun sudah beberapa menit ia mencoba, hasilnya nihil. Air mata Alicia terus mengalir, tenaganya sudah habis dan kini sudah tidak memiliki tenaga.
"Kau sudah lelah?" Alicia menggelengkan kepala, air matanya bertambah banyak dan suara memohon yang tertahan kain menjadi upaya yang sia-sia. Pria itu kini mengenakan jubah mandi berwarna hitam.
Saat tangan menjijikan itu mengelus kaki Alicia, Alicia langsung berusaha menendangnya.
"Ternyata tenaga mu belum habis juga." Ejek John. Alicia menangis. Jika ada benda tajam disini lebih baik ia mengakhiri hidupnya dari pada harus berduaan dengan pria biadab ini. Tenaganya sudah habis dan rasa takut yang kini tersisa, ia putus asa.
"Sudah bisa memulai?" Alicia menggelengkan kepalanya lemah. Ia takut dengan apa yang pria itu ucapkan.
Alicia menggunakan tenaga nya yang lemah saat pria itu merangkak diatas tubuhnya. Jeritan tertahan Alicia semakin panik.
"Relax sayang." Alicia menggelengkan kepalanya. Tangan kurang ajar itu kini menyingkap rok dress nya sampai perut.
"Kulit mu sangat mulus." Air mata yang mengalir tak berarti apa-apa, hatinya hancur diperlakukan seperti ini. Namun selanjutnya lebih menghancurkan lagi.
"Relax sayang, kau gadis kecil yang cantik, kau akan merasakan kenikmatan dunia. Aku tidak akan menyakiti mu." Kata-kata itu seperti sebuah pedang yang membelah Alicia, ia hancur seketika, rasa sakit yang teramat dalam membuat hatinya ikut hancur.
Tangan Alicia mengepal, ia benci! Kini ia membenci tubuhnya sendiri!.
-
Beberapa hari dilewati Alicia hanya untuk memuaskan pria itu, dengan perlakuan yang sama dan rasa sakit yang sama. Namun dihari ke empat, Alicia melakukan hal yang salah, saat John membuka kain yang terikat kencang dimulut Alicia, ia yang muak langsung meludahi wajah pria itu. Rambutnya di Jambak dan tamparan tak ia lewatkan. Alicia tak sakit hati, ia puas, rasanya sangat puas bisa meludahi pria itu, bahkan jika pria itu membunuhnya akan lebih baik bagi Alicia. Pria itu mengikatkan kembali kain dimulut Alicia, kini lebih kencang.
"Kau sepertinya bosan dengan apa yang aku lakukan." Alicia lupa, pria dihadapannya adalah orang gila, pikiran yang tidak masuk akal ada dipria ini.
"Aku ingin mencicipi darah mu. Apa semanis dirimu." Mata Alicia membola, John mengeluarkan pisau kecil dari dalam laci kamar ini. Alicia memberontak, namun apa daya, setiap ia ada dikamar ini tangan dan kakinya diborgol, dan mulutnya diikat dengan kain.
"Hemmm!" Alicia protes. Pria itu mendekatkan pisau kecil pada pergelangan tangan Alicia, rasa perih dan tertekan Alicia rasakan, ia melihat sendiri tangannya diiris oleh pria itu, dan dengan lahapnya John menji*lati darah yang keluar. Alicia memejamkan matanya, ia sudah pasrah dan gila dengan semua ini. Ia hanya akan menunggu ajalnya datang.
"Ini yang akan aku lakukan setiap kau menolak ku. Dan malam ini aku akan bermain dengan segala mainan yang aku punya bersama mu." John menempelkan plaster cream pada luka baru itu, tanpa dibersihkan dan tanpa obat terlebih dahulu. Alicia tersenyum kecil saat pria itu pergi, ia sudah menebak akan ada orang yang masuk membawa nampan berisi makanan dan buah yang sudah pasti ia tolak.
"Kali ini kau harus makan gadis sialan!" Ucap pria yang biasa Alicia tolak makanannya.
//
Richard mematikan ponselnya. Ia sudah tau kelanjutannya akan seperti apa. Ia tak bisa membacanya lagi. Sekarang semuanya masuk akal, Sophia menjual rumah dan kedainya dalam seminggu dan langsung menebus Alicia, berpindah untuk mengasingkan diri disini. Lalu dimana Marten sekarang? Masih di New York atau kembali berjudi?. Richard memejamkan matanya. Ia butuh udara segar. Namun gerakan halus Alicia membuat Richard mengurungkan niatnya, ia lebih tenang memandang wanita itu.
Alicia sedikit menggeliat, matanya terbuka perlahan. Ia tersenyum malu melihat Richard yang tengah memperhatikannya. Namun terasa aneh saat melihat pandangan Richard yang terus memperhatikannya tanpa ekspresi.
"Ada apa?" Tanya Alicia bingung. Ia duduk dan menyandarkan tubuhnya disebelah Richard.
Alicia mematung saat Richard dengan tiba-tiba memeluk tubuhnya.
"Hai. Kau kenapa?" Tanya Alicia pelan, ia mengusap pelan punggung Richard. Pelukannya terasa semakin erat dan hangat.
"Aku benar-benar menyayangi mu." Rasa itu benar-benar membuat Alicia berbunga, ia tersenyum senang.
"Aku juga." Lirih Alicia. Ia membalas pelukan Richard dengan senang hati.
"Aku akan menjadi pangeran berkuda mu." Alicia tertawa, apa Richard baru saja bermimpi menjadi pangeran? Atau pria itu baru saja menonton film kartun?.
"Bukankah Angelina pernah mengatakan kau seperti pangeran?" Tanya Alicia masih terkekeh, Richard mengangkat wajahnya, menatap lembut pada Alicia.
"Dan aku mengatakan kau seperti putri yang akan menjadi Ratu. Seorang ratu yang cantik dan kuat." Alicia tertawa. Ia menggelengkan kepalanya.
"Kau ini kenapa? Apa habis menonton film Barbie?" Richard mengangguk sambil tersenyum dan itu benar-benar menggemaskan bagi Alicia.
°•°•°
Dukung author dengan cara memberikan vote dan like🙌
Thank you,
DHEA
IG: Dheanvta