
"Hallo. Bagaimana?" Tanya Richard.
"Aku belum menemukan kelanjutannya, ini kejadian yang cukup lama sir, dan tidak banyak yang mencurigakan disini. Aku baru mendapatkan beberapa tempat yang sering digunakan untuk perjudian elite yang telah berdiri lama." Richard berdecak, mengapa menggali informasi seperti ini saja sangat lambat.
"Aku sudah mengirim kontak seseorang, hubungi dia jika kau menemukan sesuatu yang janggal."
"Baik sir. Aku mengerti." Richard mengakhiri panggilan itu. Ia menatap kembali jam tangannya, pukul 9 malam dan Alicia belum mengabarinya sama sekali. Padahal ia sudah meminta Alicia untuk mengabarinya setelah sampai dirumah sakit nanti.
"Kenapa tidak diangkat!" Gerutu Richard saat lagi-lagi panggilan tak ada jawaban, ia panik dengan segala pikiran buruk yang bersarang dipikirannya.
"Kemana wanita itu." Richard membuka laptop nya, ia harus melacak keberadaan mobil Alicia.
Alis Richard bertaut, ia tak mengenali tempat ini, titik ini bukan lah daerah rumah sakit ibu Alicia dirawat.
"Seharusnya dari tadi aku melacaknya." Gerutu Richard sambil berjalan mengambil jaket tebalnya, ia harus mendatangi tempat tujuan Alicia, jangan sampai wanita itu berani macam-macam dibelakangnya, apalagi sampai bertemu dengan pria lain.
°°°
"Mama, aku mendapatkan piala." Teriak seorang gadis dengan senyuman ceria diwajahnya. Ia berlari dengan sebuah piala ditangannya.
"Oh Alicia, kau memang anak yang pintar." Sophia memeluk tubuh Alicia hangat, ia mengelus kepala Alicia dengan sangat lembut.
"Dimana aku bisa memesan?" Tanya seorang pria membuat Sophia melepaskan pelukannya pada Alicia.
"Aku akan ke meja mu sir." Jawab Sophia ramah. Setelah pria itu pergi, Sophia menangkup wajah Alicia dengan kedua tangannya.
"Ayo simpan dulu piala ini baik-baik dirumah, ganti baju mu dan bantu mama disini ya, ini sudah masuk jam makan siang, malam ini kita akan raya kan kemenangan mu." Alicia mengangguk dengan semangat, senyumnya tak pernah luntur. Kedai mereka mulai di masuki beberapa tamu.
"Aku akan kembali dengan cepat ma." Ujar Alicia, gadis itu berlari girang keluar kedai, ia tak sabar memberitahu Daddy-nya.
Sesampainya dirumah keadaan rumah sangat sepi, Alicia menyimpan piala yang baru ia dapatkan di dekat televisi. Ia mengganti bajunya dengan pakaian yang baru mama beli kan, pakaian ini cukup cantik.
"Sepertinya Daddy akan pulang malam lagi." Ujar Alicia pelan. Ia tersenyum didepan kaca. Rambut panjangnya terurai indah, sore ini juga ia akan bertemu dengan senior disekolahnya, pria yang sudah memikat hati Alicia untuk pertama kalinya.
"Apa aku sudah cantik?" Gumam Alicia malu, layaknya seorang remaja yang tengah jatuh cinta, dan ini adalah pertama kalinya mereka akan makan bersama dikedai Alicia.
"Mama pasti akan menggoda ku." Lagi-lagi Alicia tersipu sendiri dengan ucapannya.
'Brak'
Terdengar suara pintu yang dibuka cepat, membuat Alicia mengerutkan keningnya. Ia berjalan mengendap, mengintip dari balik pintu kamarnya. Hatinya sedikit lega saat melihat Marten yang masuk kedalam rumah, namun yang membuatnya bingung saat Marten sedang mengadahkan kepalanya dikursi, nafasnya berburu dan sesekali tangan pria itu menjambak rambutnya sendiri.
Alicia memberanikan diri untuk keluar dari kamar, ia berjalan menghampiri Marten dengan pelan.
"Dad, kau kenapa?" Alicia sedikit terkejut saat melihat Marten yang langsung bangun dari duduknya dan menghampiri Alicia.
"Alicia! Bukan kah kau disekolah?" Tanya Marten panik. Kepalanya bergerak seperti sedang mencari sesuatu.
"Aku sudah pulang, tadi hanya acara final, dan aku mendapatkan juara satu Dad. Itu piala ku." Pekik Alicia, ia dengan semangat menunjuk piala didekat televisi. Marten membungkuk dan memeluk Alicia dengan erat. Hanya nafas dan suara putus asa yang Alicia dengar saat itu.
"Alicia, maaf aku sudah gagal menjadi ayah yang baik untuk mu."
"Dad. Kau kenapa? Ada apa?" Tanya Alicia berusaha melepaskan pelukan, ia merasa Marten menangis pelan.
"Dad!" Pekik Alicia, ia panik melihat ayahnya serapuh ini.
"Ada apa Dad?" Marten menaruh jarinya didepan mulut pria itu.
"Diam lah Alicia. Aku bukan orang baik, kau bersembunyi disini, apa pun yang kau lihat kau harus diam, jangan keluar dari sini. Apa pun yang terjadi pada ku, jangan kau peduli kan. Masuk lah." Marten mendorong paksa tubuh Alicia kedalam kamar mandi. Terdengar suara pintu luar yang didobrak paksa oleh seseorang.
"Diam disini. Kau akan aman." Marten menutup pintu kamar mandi, dan disusul dengan suara pintu kamar yang tertutup.
"Dad.." runtuh Alicia, ia menggigit jarinya dengan rasa takut yang luar biasa. Pasti ada yang tak beres dengan Marten. Jantung Alicia berdebar kencang, ia tak tenang hanya berdiam disini.
Suara barang berat terlempar membuat Alicia menutup telinganya, ia takut. Tak berapa lama suara itu menghilang, Alicia keluar dari kamar mandi, ia membuka sedikit pintu kamar agar melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Dad.." lirih Alicia pelan, matanya berkaca-kaca saat melihat Marten yang sudah babak belur, Marten dipegang oleh seseorang berbadan besar, dan seseorang dengan tampilan rapi berjalan pelan dihadapan Marten.
"Aku John. Tidak ada yang berani mempermainkan ku." Ujar pria itu dengan suara khas yang bisa membuat semua orang merinding.
"Aku.. aku tidak mempermainkan mu, aku sedang mencari uang untuk membayar semua hutang ku." Teriak Marten dengan wajah memohon.
"Kau selalu menghindar jika bertemu dengan orang-orang ku! Kau berniat kabur dari ku hah!." Pria itu menarik rambut Marten kebelakang. Alicia menutup mulutnya saat pria itu mengeluarkan pistol dari belakang bajunya.
"Tidak. Jangan bunuh Daddy!" Teriak Alicia, ia keluar dan menyerang pria bertubuh besar, Alicia mengigit lengan pria itu agar melepaskan Marten.
"Tangkap gadis ini." Teriak pria yang memegang pistol, Alicia memberontak saat dua pria masuk kedalam rumahnya.
"Tidak, jangan sakiti anak ku! Bunuh saja aku!" Teriak Marten. John tersenyum miring, gadis itu masih memberontak.
"Kenapa kau tidak mengatakan punya anak yang begitu cantik? Aku suka gadis yang mempunyai tenaga besar seperti ini."
"Tidak! Aku mohon, jangan ambil anak ku! Bunuh saja aku." Pandangan dan pendengaran Alicia seketika berasa mati saat sapu tangan itu hinggap diwajahnya. Namun sayup-sayup ia masih mendengar suara Marten yang meneriaki namanya.
Alicia membuka matanya, sinar lampu menyorot terang diwajahnya, rasanya begitu silau.
"Kau sudah bangun?" Alicia memejamkan matanya pelan, ia menghirup nafasnya panjang, berusaha menenangkan debaran jantungnya.
"Aku seperti kembali kemasa itu." Gumam Alicia pelan. Jessy tersenyum dan menyimpan kertas diatas meja, ia sedikit menjauhkan lampu yang ada didepan Alicia.
"Itu tidak buruk. Memang alam bawah sadar mu akan membawa mu kembali kesana, namun sebentar lagi juga kau akan mulai lupa kejadian itu." Alicia membuka matanya, ia tersenyum pada Jessy.
"Terimakasih, semoga aku benar-benar bisa sembuh." Ucap Alicia pelan.
"Aku sudah menentukan obat apa yang cocok untuk mu. Kapan kau bisa kemari lagi?" Baru saja Alicia akan menjawab, suara ketukan pintu yang kencang mengalihkan perhatian keduanya.
"Sebentar Alicia, sepertinya ada orang yang membuat onar." Jessy bangkit dari duduknya dan berjalan cepat keluar dari ruang terapi, ia menuruni anak tangga dengan cepat.
Dengan perasaan kesal Jessy membuka pintu rumahnya. Ia terdiam melihat pria tampan dengan wajah yang tidak bersahabat tengah berdiri didepan pintu.
"Siapa kau?" Tanya pria tampan itu.
°°°
Foto bang John ya wkwk.
Jangan lupa bunga🐣 Btw jangan terpesona sama John ya, dia jahat😅