
Kini Alicia dan Richard sudah berada di perjalanan pulang menuju LA. Mungkin akan menjadi sedikit kejutan untuk Mama-nya, kepulangan Alicia dipercepat, tidak akan menunggu Minggu.
Alicia menautkan kedua jemarinya, Richard akan langsung memberitahukan keluarga nya perihal pernikahan mereka, rasa was-was pun mulai mengganggu dihatinya.
"Tenang lah. Tidur." Richard mengelus kedua tangan Alicia, menaruh kepala Alicia agar bersandar dibahu Richard.
-
Tak terasa mereka sudah sampai di LA, masuk kedalam mobil pribadi Richard yang sudah menunggu mereka dibandara.
"Coba bicarakan dulu baik-baik dengan ibu mu, besok aku dan mama akan kerumah untuk melamar mu." Alicia mengangguk, tidak bisa kah Richard berbicara mengenai ini nanti saja? Ia masih tak tenang.
"Aku akan coba berbicara dengan mama." Richard mengelus pelan rambut atas Alicia. Ia ingin cepat membawa Alicia.
"Setelah kita menikah kau ingin tinggal dimana? Apartemen ku atau rumah ku?" Alicia terdiam. Rumah? Artinya ia akan tinggal bersama mama Richard, apakah mama nya benar-benar akan menerimanya?.
"Maksud ku rumah pribadi ku, bukan yang waktu itu kau datangi." Ralat Richard seakan tahu arah pikiran Alicia.
"Dimana pun aku bersedia." Richard tersenyum mendengar jawaban itu.
Mobil mereka pun berhenti di depan apartemen Alicia, supir segera berlari keluar dan mengeluarkan koper kecil.
"Kau yakin tidak ingin aku antar sampe dalam?" Alicia mengangguk.
"Tidak apa-apa. Aku ingin cepat-cepat mendengar kabar mu, agar hati ku bisa tenang."
"Tenanglah, aku pastikan mama menerima pernikahan kita. Apapun yang terjadi, peganglah janjiku."
"Terimakasih."
"Terimakasih kembali untuk semuanya. Terimakasih untuk memilih bersama ku." Alicia tersenyum, Richard benar-benar manis dan membuatnya menambah rasa cinta pada pria itu.
Alicia turun dari mobil, menatap mobil itu sudah melaju meninggalkan halaman parkir. Dengan sedikit menghembuskan nafas berat, Alicia mulai menaiki tangga, mengetuk pelan pintu rumahnya.
"Ma." Panggil Alicia sambil mengetuk kembali pintu rumahnya.
Pintu terbuka, menampilkan pengasuh mama yang tampak terkejut melihat Alicia.
"Nona, anda sudah pulang?" Senyuman itu tampaknya menular pada Alicia, Alicia ikut tersenyum dan mengangguk.
"Biar aku bawakan." Dengan sigap wanita itu mengambil koper yang Alicia bawa.
"Terimakasih, mama sudah tidur?"
"Nyonya sedang dikamar anda. Ia baru saja bercerita banyak tentang keseharian anda, sepertinya nyonya merindukan mu." Alicia tersenyum, ia tak sabar bertemu dengan mama.
Mereka pun masuk, dan Alicia membuka pintu kamarnya.
"Apakah Angelina lagi?" Tanya mama nya yang belum sadar akan adanya Alicia.
"Aku Angelina besar Ma." Seketika Sophia memalingkan wajahnya, ia tampak senang dan berjalan kearah Alicia.
"Kau sudah pulang? Astaga kenapa tak mengabari ku? Aku benar-benar merindukan mu sayang." Alicia tersenyum lebar dan membalas pelukan Sophia.
"Aku juga merindukan mu Ma. Sebenarnya.." Sophia melonggarkan pelukannya, ia menatap Alicia dengan wajah penasaran.
"Apa ada sesuatu?" Tanya Sophia.
"Sebenarnya.. ada sesuatu yang akan aku bicarakan." Sophia lansung menarik tangan Alicia, menyuruh Alicia duduk di ranjang.
"Apa terjadi sesuatu di New York? Aku sangat cemas dan begitu ingat kabar mu. Richard hanya mengatakan kau baik-baik saja, tapi tak membiarkan aku Vidio call pada mu, aku sangat-sangat khawatir." Alicia tersenyum kaku. Jika ia memberitahu tidak akan baik untuk kesehatan mama nya, ia takut menjadi beban pikiran mama. Ada 2 hal yang ingin Alicia bicarakan. Masalah pernikahan dan Daddy.
"Disana aku baik-baik saja, dan masalah Vidio call itu.. aku kemarin malam sedang dilamar oleh Richard." Mata Sophia berbinar, ia menutup mulutnya tak percaya.
"Benarkah? Kau akan menikah? Astaga aku sangat bahagia." Alicia mengangguk, apa mungkin ia akan menceritakan tentang Daddy saat mempertemukan Mama dan Daddy di acara pernikahan nanti? Richard bilang Daddy akan dibebaskan sementara saat pernikahan mereka, walau dalam pengawasan Daddy akan menjadi memiliki banyak peran saat pernikahan nya nanti, tapi apa Sophia tidak akan terkejut?.
"Besok keluarga Richard akan kemari. Kita akan menikah secepatnya." Sophia menggenggam tangan Alicia erat.
"Ya. Aku akan menyiapkan rumah kita agar nyaman saat mereka disini. Astaga, kau akan sangat bahagia bersama pria itu." Alicia tersenyum bahagia melihat reaksi mama. Jika ia mengatakan sekarang tentang Daddy, pasti mamanya akan marah dan terbawa pikiran.
-
Richard menarik nafas saat mobilnya sudah berhenti didepan rumah berwarna putih. Biasanya ia selalu pulang langsung ke Apartemen, namun kali ini ia harus memberi kabar penting dulu.
Richard masuk melewati pintu besar, seorang pelayan wanita menghampirinya.
"Selamat malam tuan Richard. Aku akan langsung merapikan kamar mu dulu." Richard mengangkat tangannya.
"Tidak perlu, aku hanya ingin bertemu mama, aku hanya sebentar. Apa mama sudah tidur?" Richard manatap jam tangannya, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.
"Nyonya masih diluar bersama nona Felly, sepertinya akan pulang sebentar lagi." Richard mengangguk mengerti dan melanjutkan jalannya kearah sebuah sofa.
Tak sampai setengah jam, pintu rumah terbuka, sedikit berdecak Richard memperhatikan 2 wanita yang membawa banyak paperbag.
"Astaga!" Pekik mama saat melihat Richard tengah duduk mengawasi mereka.
"Kau sudah kembali?" Tanya Felly. Baru 3 hari, dan seharusnya 4 hari lagi baru kembali.
"Apa tidak boleh aku pulang cepat? Duduk lah, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." Keduanya duduk di sofa, saling melirik melihat Richard yang tampak serius.
"Ah, aku memberikan mu.." Richard memotong ucapan mama nya.
"Ma, bukannya aku sudah bilang agar tidak keluar sampai malam? Angin malam itu tidak baik, dan kau.." Richard menatap tajam Felly.
"Kau malah mengajak mama untuk berbelanja hingga malam seperti ini?!"
"Aku.. aku hanya mengatakan ada barang keluar baru."
"Sudahlah Richard, aku hanya bosan dirumah. Tadi ada yang ingin kau sampaikan, ada apa?" Richard menarik nafasnya sedikit panjang.
"Aku akan menikah."
"Apa?!" Pekik keduanya.
"Aku akan menikah secepatnya, dan besok.."
"Dengan siapa?" Richard berdecak, pertanyaan Felly sunggu bagai lelucon.
"Alicia, siapa lagi." Jawab Richard acuh.
"Richard, anak ku sayang, pikirkan dulu baik-baik, ia sekertaris mu, apa kau benar-benar akan menikahi mu?" Tanya mama Richard pelan, ia ingat ucapan Felly yang mengatakan Alicia sudah di belikan banyak barang oleh Richard, ia takut anaknya dijadikan sapi perah.
"Bukan masalah sekertaris atau model, yang penting dia wanita bukan?" Tanya Richard tak suka.
"Kau serius?" Tanya Felly masih terkejut.
"Apa wajah ku tidak serius?" Tanya Richard. Richard menatap mama nya sekali lagi.
"Aku menghamili nya, kau akan mendapatkan cucu."
"Apa?! Oh astaga, apa ini?"
"Mama akan memiliki cucu, bukannya kau ingin bermain dengan cucu? Aku sudah mengabulkannya. Jangan pikirkan masalah lain mah."
"Ya, tapi.. astaga ini terlalu mendadak, apa yang harus aku lakukan?" Gumam mama panik, ia mengusap wajahnya sendiri.
"Kau hanya perlu merestuinya ma."
"Tapi dia hanya sekertaris mu, bagaimana jika ada teman ku yang bertanya latar belakangnya?" Richard menghembuskan nafasnya pelan, mengapa harus memikirkan orang lain?.
"Ma. Jangan memikirkan orang lain, pikirkan dirimu, kau akan seperti teman mu membawa anak kecil kemanapun." Mama terdiam, dengan ragu ia menatap Richard.
"Ya, aku ingin, tapi,,, tapi aku ingin Alicia berhenti menjadi sekertaris mu. Aku malu mengatakannya pada temen-temen ku."
"Astaga Ma. Untuk apa malu? Apakah itu pekerjaan yang memalukan? Dia wanita yang hebat dan kuat." Protes Richard, ini tak membuat Richard malas, terlalu banyak kriteria yang mama nya inginkan.
"Tapi untuk pemberhentian, seperti aku akan mengganti sekertaris, aku ingin Alicia fokus pada ku dan kehamilannya."
"Ini benar-benar mimpi buruk." Richard mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan Felly.
"Aku menikah mimpi buruk bagi mu? Dan apa masalahmu dengan Alicia sebenarnya? Aku menangkap nada tidak suka dari mu." Entah kenapa ia begitu sensitif dengan hal yang berbau Alicia, menjelekkan wanita itu artinya menjelekan Richard pula.
"Tidak! Sepertinya aku akan pulang sekarang." Felly berdiri, sedangkan Richard acuh tak peduli.
"Ma. Dengarkan aku, aku sudah bekerja keras untuk semua ini, yang aku butuhkan hanyalah seorang wanita yang aku sayang berada di samping ku, aku hanya membutuhkan Alicia. Bukan seorang artis atau dokter yang memiliki profesi hebat lainnya. Aku hanya menginginkan semua yang membuatku nyaman dan bahagia."
"Baiklah, baiklah, aku merestui kalian, tapi ingat syarat dari ku, Alicia berhenti dari pekerjaannya dan akan menemani ku disini."
"Aku akan tinggal di apartemen."
"Ayolah Rich, mama bosan sendirian disini, setidaknya itu akan membantu mama dan Alicia semakin dekat." Richard diam sesaat, mungkin benar yang mama nya maksud, Alicia pun mungkin tak akan keberatan.
"Tapi jangan membuatnya tak nyaman dan banyak pikiran, Ma." Richard menerima pukulan ringan dari mama.
"Kau ini terlalu berpikiran buruk tentang mamah mu." Protes Mama.
"Kalau begitu besok kita akan kerumah Alicia. Aku pulang dulu Ma."
"Kenapa tidak tidur saja dikamar mu? Besok pagi kita bisa kesana, kau tidak kerja?"
"Tidak Ma. Aku masih memiliki libur sampai Minggu, akan aku gunakan untuk persiapan pernikahan."