One Night Stand With My CEO

One Night Stand With My CEO
Fell In Love



Justin tersenyum puas. Ia sudah mendapatkan kartu nama Jessy, dan Senin mereka akan bertemu kembali.


Justin menaiki sebuah kursi dengan santai dan mengambil jam dinding bulat dan tebal itu. Setelah berhasil ia turun kembali dan duduk di sofa kamarnya. Ia menyelipkan telunjuknya pada sebuah kaca hitam yang ada dibalik jam itu.


Saat terdengar suara kunci terbuka, ia segera membukanya. Banyak peralatan kecil didalamnya, ia membutuhkan kamera dan perekam suara untuk Senin nanti, ia mengambil sebuah pulpen.


"Sepertinya ia akan curiga." Gumam Justin. Wanita itu sangat jeli dan memikirkan sesuatu terlebih dahulu. Justin teringat sore tadi, sebelum wanita itu memberikan kartu namanya, ia memberikan pertanyaan yang membuat Justin tertarik.


//


'Apa yang bisa kau jamin kalau kau tidak akan melakukan hal aneh pada ku?' Wanita itu tampak menaruh curiga yang besar padanya, entah memang kesetiap pasien yang akan ia tangani atau hanya pada Justin saja?.


'Kau bisa menyimpan tongkat baseball jika kau mau, jadi jika aku macam-macam kau bisa memukulku dengan itu.' Justin lagi-lagi menatap raut wajah yang tampak berfikir itu, sudah lama ia tidak tertarik dengan wanita, ia terlalu lama menghabiskan waktu untuk menjadi agen rahasia, yang akhir-akhir ini sering diganggu oleh Ayahnya. Ingin sekali Justin berdecak saat ayahnya selalu meneriakinya pengangguran yang tidak berguna. Padahal tanpa ayahnya juga ia sudah bisa menghasilkan uang sendiri, bayaran yang ia terima pun tidak sedikit.


Namun gara-gara orang suruhan Alex yang mendapati dirinya membawa pistol langsung membuat Alex marah dan menjadikannya GM di perusahaan keluarga mereka. Alex takut jika Justin akan berbuat onar dengan pistol itu dan mencoreng nama baik Alex.


'Aku tidak membutuhkan tongkat baseball. Aku bisa melindungi diriku sendiri dengan tangan kosong.'


'Woww.' Entah suara kagum atau ejekan yang Justin keluarkan, namun ia hanya tersenyum geli sambil menganggukan kepalanya.


'Kau bisa bela diri?'


Jessy menggelengkan kepalanya, ia tersenyum licik.


'Aku akan menyuntik mu dengan obat bius.'



Justin menggelengkan kepalanya, ia menyimpan kembali pulpen itu dan beralih mengambil sebuah benda kecil.


"Ia tidak akan mudah menebak ini." Gumam Justin. Sebuah benda yang akan ia sembunyikan dibalik bajunya, apalagi kalau buka kancing.


°°°°


Richard masuk kedalam mobil, sedangkan Alicia sudah memasang kan seatbelt nya.


"Kau sudah kenyang?" Alicia tersenyum lembut menatap Richard.


"Sudah." Richard mengangguk pelan dan menyalakan mobilnya. Ia melirik Alicia beberapa kali, ia bingung bagaimana mengucapkan nya.


"Apa ada sesuatu?" Tanya Alicia pelan.


"Kita mampir dulu ke apartemen ku. Apa kau tidak keberatan?" Alicia awalnya sedikit terkejut, jantung nya berdegup, ia akan berduaan disana. Namun setelah berdamai dengan jantung nya ia mengangguk pelan.


-


Sesampainya di apartemen Alicia melangkah kan kakinya diatas keramik mengkilap itu. Memperhatikan sekali lagi interior diruangan ini.


"Masuk lah kekamar ku, aku akan membawakan mu minum." Alicia tersenyum samar dan berjalan pelan menuju kamar Richard. Ia duduk disebuah kursi kecil namun tinggi, Alicia membalikkan badannya, menghadap sebuah cermin panjang dibelakang kursi. Memperhatikan dengan detail wajahnya yang terlihat sedikit berbeda dengan make up, ia terlihat seperti wanita berkelas, entah berapa banyak uang yang Richard keluarkan untuk make up ini.


Suara pintu terbuka membuat Alicia langsung berbalik, Richard masuk tanpa gelas ditangannya, membuat Alicia sedikit bingung dan gugup.


"Aku rasa ini cocok dengan mu." Alicia memejamkan matanya saat tangan Richard melewati wajahnya.


Alicia membuka matanya perlahan, senyuman tak mampu ia tahan. Alicia menyentuh kalung indah yang sudah menggantung di lehernya.


"Kau suka?" Tanya Richard. Alicia mengangguk pasti.


"Aku sangat suka. Ini cantik. Terimakasih." Alicia benar-benar bahagia. Apapun yang Richard berikan ia menyukainya, pria itu memberikan nya dengan tulus.


"Saat aku membelikan hadiah untuk ibu mu, aku melihat kalung ini sepertinya cocok dengan mu."


"Ya. Ini sangat cocok." Tanpa disangka Richard, Alicia berbalik dan memeluknya, tubuhnya mematung dalam sekejap. Setelah beberapa detik berlalu, Richard terbatuk pelan dan melepaskan pelukan Alicia, ini tidak baik.


"Kita pulang sekarang. Aku hanya akan memberikan kalung itu untuk mu." Ujar Richard berusaha dingin. Saat Richard hendak berjalan terlebih dahulu, Alicia menahan tangannya.


"Bisa kau jelaskan mengapa seminggu ini kau seperti menjauhi ku?"


"Aku hanya sedang sibuk."


"Tapi kau tidak menyuruh ku untuk membantu mu?" Richard menggeram frustasi, ia tidak suka di pojokan seperti ini.


Richard mendekati Alicia yang masih duduk dikursi tinggi itu. Menatap kedalam mata indah itu.


"Aku tau kau memiliki trauma, dan aku tidak ingin membuat mu tersiksa karena ku." Richard terdiam sesaat.


"Maksudku.. Kau tau sendiri bagaimana jika aku ada didekat mu, aku tak bisa mengontrol diriku sendiri."


"Tapi aku.. merasa ada yang hilang saat kau menjauh."


"Aku tidak menjauh Alicia. Aku hanya memberi kan mu waktu, dan aku selalu tidak tega melihat kau tersiksa dengan trauma mu sendiri.. aku.."


"Bagaimana jika aku sudah siap?" Tanya Alicia tiba-tiba. Memotong ucapan Richard. Alicia sudah meyakinkan dirinya sendiri, ia jatuh cinta pada pria dihadapannya ini, terpesona dengan wajah tampannya, buai dengan semua yang pria ini berikan, dan tersanjung dengan apa yang pria ini lakukan. Alicia tidak takut dengan Richard, yang ia takutkan hanyalah jika pria ini pergi dari hidupnya.


"Kau yakin?" Tanya Richard. Tenggorokan nya terasa kering, ia tak pernah merasakan gejolakan ini sebelumnya. Anggukan wanita cantik itu membuat Richard seperti mendapat lampu hijau, ia perlahan mendekatkan tubuhnya, menghimpit wanita itu diantara tubuh Richard dan cermin. Bibir mereka saling bertaut, bergerak dan menjelajahi setiap titik paling memabukkan.


Kini mulut Richard mulai turun keleher, lalu turun kembali sampai tempat yang ia sukai. Alicia mengangkat wajahnya, ia berusaha sekuat mungkin menikmati semua perlakuan Richard, ia harus tenang dan menjernihkan pikirannya.


____





Thank you,


DHEA


IG: Dheanvta