One Night Stand With My CEO

One Night Stand With My CEO
Hampa



Rapat kali ini berjalan lancar, tidak ada emosi Richard yang meledak. Sepertinya mood Richard sedang baik-baik saja, namun yang membuat Alicia bingung adalah sikap Richard padanya.


"Maaf untuk yang kemarin." Ujar Alicia memecahkan keheningan yang tercipta didalam lift.


Richard yang hanya melihat pantulan Alicia dari lift langsung menatap wajah wanita itu. Keningnya sedikit berkerut menandakan kebingungan.


"Untuk?"


"Karena tak mengabari mu." Cicit Alicia pelan. Ia sedikit menunduk. Alicia memberanikan diri seperti ini karena ada yang salah dengan sikap dingin Richard, pikirannya selalu berteriak negatif. Apakah pria ini marah? Atau sudah tidak memperdulikan nya lagi? Atau sudah bosan dan menemukan pengganti Alicia?. Semua pertanyaan itu berkecamuk dipikiran Alicia. Ia teringat kejadian kemarin, Richard akan memilih wanita yang berikan ibu nya, sedikit rasa sakit membuat hatinya menjadi ngilu.


"Alicia!" Richard mengeraskan suaranya, wanita itu seakan tersadar dan menatap Richard dengan tatapan bingung.


"Apa yang sedang kau lamunkan? Apa ada yang menggangu pikiran mu?" Alicia menggelengkan kepalanya cepat.


"Apa tadi kau mengatakan sesuatu?" Tanya Alicia. Richard berdecak pelan. 'Wanita ini tidak akan memberi tau tentang masalah nya kepada mu! Jadi, jangan tanyakan apa yang tidak akan pernah kau dengar jawabannya.' Tegas Richard dalam hati.


"Aku mengatakan itu bukan lah hal yang penting. Kau bebas melakukan apapun yang kau mau dengan tenang." Sindir Richard. Tidak bisakah Alicia sedikit saja memberikan bebannya pada Richard, ia sudah terlanjur peduli dengan wanita ini.


Pintu lift terbuka. Richard menegakkan badannya sambil melirik Alicia.


"Makan siang lah dan keruangan ku jam 2 nanti." Ucapnya sambil berlalu, meninggalkan Alicia yang masih berdiam diri.


"Baik Rich." Jawaban Alicia mungkin tidak akan terdengar oleh pria itu, ia berjalan dengan pelan menuju ruangan kaca, tatapannya terus membuntuti pria yang sepertinya sudah memiliki tempat dihatinya.


Alicia menghembuskan nafasnya berat saat tubuh pria itu menghilang kedalam ruangannya.


"Sadar posisi mu siapa Alicia.." lirih Alicia.


°°°


Alicia terdiam saat Richard menjajarkan beberapa berkas diatas meja, mendengar baik-baik apa yang pria itu inginkan.


"Kau mengerti?" Alicia mengangguk cepat.


"Aku mengerti."


"Kerjakan santai saja. Jika hari ini tidak selesai kau boleh melanjutkan nya besok. Ingat, kau tidak boleh lembur atau mengerjakan ini di rumah sakit." Pria itu langsung berdiri dan pergi meninggalkan nya begitu saja. Membuat Alicia pun melakukan hal yang sama. Ia berjalan dari ruangan Richard tanpa suara apa pun.


"Huh." Helaan nafas Alicia terdengar putus asa. Ia merasa hampa saat pria itu sudah kembali menjadi boss nya. Dan ia harus sadar diri menjadi sekertaris Richard kembali. Semua ini seperti lah sebuah mimpi, diperlakukan bak seorang ratu oleh Richard hanya sekejap mata. Alicia sadar ini semua kesalahannya, ia tidak bisa memberikan apa yang pria itu inginkan, padahal sudah banyak yang pria itu berikan.


Seharusnya Alicia memekik senang, pria itu mengatakan diawal perjanjian jika hutang Alicia akan lunas apabila Richard sudah bosan padanya. Namun, bukannya rasa senang yang Alicia rasakan atas kebebasannya, tapi rasa hampa yang ia dapatkan, hatinya terasa lebih kosong dari sebelumnya.


Alicia menatap ruangan kaca yang sudah ia tempati 3 tahun ini.


Richard yang dulu selalu menganggap nya remeh dan tidak berguna, mulai membuka matanya saat Alicia membawakan presentasi dengan lancar dan sukses membuat semuanya orang diruangan itu bertepuk tangan dan setuju.


'Bagus lah, aku rasa kau mulai sedikit berguna.' dulu itu lah yang kata-kata yang paling membuatnya bahagia, Richard mulai menerima nya sebagai sekertaris namun sikapnya yang selalu menyuruh dan memarahinya masih melekat dipria itu.


Alicia meregangkan jari-jarinya kedepan.


"Baiklah, sekarang waktunya membereskan tugas."


°°°°°


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Alicia membereskan mejanya.


"Kau langsung pulang?" Alicia terkejut mendengar suara Richard yang tiba-tiba, pria itu berdiri gagah didepan pintu ruangan yang terbuka.


"Ya." Jawab Alicia cepat. Ia mengambil tas nya dan berjalan mendekati Richard.


"Akan akan melanjutkan laporannya besok."


"Bagus. Aku suka kau menurut seperti ini." Ujar Richard dengan suara yang Alicia rindukan.


"Kalau begitu kita pulang." Alicia mengangguk dan menutup pintu ruangannya.


Didalam lift Alicia terdiam, Richard sibuk dengan ponselnya, bahkan sampai pintu lift terbuka pun pria itu tak melepaskan ponsel itu.


Richard memperhatikan beberapa foto yang dikirimkan Justin, ternyata bocah itu benar-benar gesit mencari sesuatu.


[Aku akan menemui mu sekarang.] Setelah mengirimkan pesan singkat itu, Richard melirik Alicia sekilas.


"Aku duluan." Richard berjalan keluar dari lift, langkahnya bergerak cepat menuju mobil. Ia tak sabar mengulik kasus lama ini. Richard tak akan membebaskan siapapun telah membuat Alicia menjadi trauma seperti itu.


Alicia masuk kedalam mobil baru nya. Baru kemarin ia duduk berdua di mobil ini, sekarang pria itu sudah sibuk kembali dengan dunianya. Alicia pun yakin dengan pikirannya yang mengatakan Richard akan pergi menemui wanita yang akan pria itu bawa Sabtu nanti. Wanita yang pastinya cantik, pintar, sukses dan dapat membahagiakan Richard.


"Tidak seperti ku." Gumam Alicia, ia memundurkan sedikit mobilnya dan mulai melaju keluar dari basement.


...°•°•°•°•°•°...


Lanjut sore ya.. jangan lupa like dan poin🥰


Makasih buat semua yang dukung cerita ini, jika menemukan kesalahan kata atau apapun komen ya, biar cerita ini bisa lebih baik lagi kedepannya🖤