One Night Stand With My CEO

One Night Stand With My CEO
ENDING



Richard menatap dirinya, tak menyangka hari ini begitu cepat datang. Ponselnya berdering, membuat Richard dengan cepat mengangkatnya. Ia sedikit cemas saat Alicia mengatakan belum memberitahu Sophia kedatangan Marten dipernikahan mereka.


"Ya?"


"Aku sebentar lagi sampai tuan. Langsung masuk kedalam gereja?"


"Tunggulah sebentar, aku akan menelfon mu jika sudah waktunya kau masuk."


"Baik tuan." Panggilan itu terputus, Richard mencari Alicia.


°°°


Alicia tersenyum menatap pantulan wajahnya, riasan ini begitu mengagumkan, terlihat natural namun dapat membuat wajahnya sangat cantik. Sophia pun sama halnya, ia tersenyum melihat putrinya yang sangat cantik.


Suara ketukan pintu membuat keduanya menoleh, wajah Richard masuk melihat keadaan ruang rias.


"Sudah selesai?"


"Ya." Jawab Alicia. Richard tampak ragu dan masuk, sedikit berbisik pada Alicia.


Alicia pun mengangguk, dan Richard menatap Sophia dengan lembut.


"Ma." Sekarang Richard mulai terbiasa memanggil Richard dengan sebutan Mama.


"Sebenarnya ada yang ingin aku katakan." Sophia menunggu ucapan itu, ia menatap Alicia dan Richard bergantian.


"Ada apa?"


"Mama jangan terkejut, dan harus berdamai dengan semuanya." Ujar Alicia membuat Sophia tambah bingung.


"Damai apa?"


"Sebenarnya saat di New York. Seorang pria menghampiri kami, dia memiliki foto ini." Richard memberikan selembar foto kecil, pada Sophia. Dengan sedikit was-was Sophia menerima kertas foto itu. Matanya seketika membulat.


"Tidak! Jangan bilang kalian bertemu dengannya." Tolak Sophia memberikan kembali foto itu pada Richard.


"Tapi ma, dia tetap ayah ku. Daddy sekarang.."


"Tidak! Aku tidak ingin mendengar tentang dirinya lagi. Sudah tidak apa-apa,, hari ini kita fokus saja pada pernikahan kalian." Jawab Sophia merasa sesak.


"Tapi dia ada didepan Ma, kau tidak akan menemuinya?" Tanya Richard berusaha tenang, hatinya berdebar.


"Apa?! Untuk apa kalian membawa dia kesini? Aku tidak akan menemuinya."


"Ma. Daddy hanya sehari disini, maafkan Daddy, malam ini dia akan kembali ke New York dan kembali di penjara." Sophia terdiam, ia menatap Alicia dengan kerutan dikeningnya.


"Penjara?" Ulang Sophia.


"Ia menggantungkan hidupnya pada seorang mafia, dan saat mafia itu tertangkap, semua orang yang terlibat ikut di proses."


"Mafia? Ada apa ini? Dia menjadi anggotanya?" Alicia menggeleng kepalanya.


"Aku tidak tahu. Saat itu Daddy di borgol dan memberikan foto ini. Ia juga merasa kehilangan kita dan menyesal ma." Raut wajah Sophia mulai melunak.


"Itu lah akibat dari keserakahan oleh uang. Ia takut tak punya uang dan membuat keluarganya sendiri hancur." Alicia memeluk Sophia lembut, mengelus pelan lengan Sophia.


"Hari ini saja ma. Aku ingin berfoto keluarga lengkap dihari pernikahan ku." Bujuk Alicia.


Suara ketukan pintu menyadarkan mereka. Ternyata acara hampir dimulai, acara pemberkatan sudah akan di mulai.


"Baiklah. Aku memaafkan nya untuk hari ini. Demi kalian." Senyum Richard dan Alicia mengembang seketika.


°°°


Mata Alicia berkaca. Daddy, kini Marten dihadapannya sangat berbeda dengan pria yang ada dirumah sakit. Jambang itu hilang dan rambut berantakan sudah tak ada. Kini Marten sudah mencukur semua rambutnya, ia tampak rapi dan segar. Tubuhnya dibalut dengan jas dan sepatu mengkilap. Ini mengingat gambaran Marten saat masih bekerja dulu, mungkin beberapa belas tahun yang lalu.


"Jangan menangis sayang. Ini hari pernikahan mu, kau harus bahagia." Alicia memeluk Marten erat.


"Aku merindukan mu." Pekik Alicia, ia berusaha menahan air matanya agar tidak keluar.


"Aku juga merindukan mu Alicia, Sangat merindukan mu." Jawab Marten terharu.


"Sudah, tersenyum lah. Kita akan kedepan sana." Alicia melepaskan pelukannya, mengerjapkan matanya beberapa kali agar air mata tidak terlalu bergenang.


Acara pemberkatan pun dimulai. Alicia berjalan didampingi Marten, berjalan pelan ditengah-tengah kerumunan orang yang berbaris rapi. Sophia menempelkan tissue dimatanya, menghapus air mata yang mulai mengalir ke pipinya. Ada perasaan hari, sedih, senang dan rindu melihat Alicia dan Marten.


Sesampainya disana, beberapa pertanyaan untuk Richard dan Alicia mulai dibacakan, dengan suasana yang mendukung pemberkatan itu berjalan lancar. Beberapa doa diucapkan untuk kedua pengantin.


 


Kini mereka semua sudah berada di halaman yang luas, suara musik dari gesekan biola dan lainnya terdengar merdu memanjakan telinga. Kini momen paling ditunggu, Alicia berada di tengah antara Marten dan Sophia, mereka tersenyum kearah kamera.


"Kemari lah." Ajak Sophia pada Richard. Dengan senang hati ia pun bergabung dan tersenyum kearah kamera.


Kini acar foto Alicia, Richard dan keluarga besar Richard. Membiarkan Marten dan Sophia sedikit berjalan-jalan dan saling memaafkan masalalu.


Selesai foto keluarga, Felly dan tunangannya menghampiri Alicia dan Richard. Felly sedikit tersenyum.


"Alicia." Panggilnya pelan. Alicia tersenyum menyambut kedatangan Felly.


"Aku ingin meminta maaf atas sikap ku yang mungkin menyinggung mu saat di lift."


"Kapan itu? Menyinggung apa?" Tanya Richard cepat. Alicia tak pernah berkata apa-apa masalah Felly yang pernah menyinggung nya.


"Tidak apa-apa, aku tidak pernah merasa tersinggung."


"Aku begitu menyayangi pria mengesalkan ini. Dia sudah seperti kakak kandung bagi ku. Jadi, aku berharap jangan pernah membuatnya kecewa, aku berharap kalian selalu bahagia dan bersama sampai tua nanti." Senyum Felly mulai mengembang tulus, ia sudah melihat Alicia 3 tahun ini, ia wanita baik-baik, seharusnya ia tak pernah mencurigai wanita ini.


"Terimakasih sudah menyayangi ku, terimakasih juga atas doanya." Jawab Richard bangga.


"Selamat ya atas pernikahan kalian." Ujar tunangan Felly, Alicia lupa namanya.


"Terimakasih Nick." Jawab Richard, 'ah iya Nick', gumam Alicia.


Kini datang kembali pasangan lain, siapa lagi kalau bukan David. Richard tersenyum miring saat melihat Barbara membuang wajahnya ketika mata mereka bertemu. Wanita itu masih dendam pada nya.


Tapi itu bukan masalah, ia pun dendam dan akan dendam pada siapapun wanita yang berani menggoda diri nya. Jika Alicia tidak berani menjaga Richard, maka ia sendiri yang harus menjaga diri dan hatinya untuk Alicia.


"Waahh. Ini sangat mengejutkan untuk ku." Pekik David. Felly yang melihat David langsung pamit dan menikmati acara lainnya yang ada disini, ia malas dengan David yang selalu berisik.


"Cepat menyusul ku." Jawab Richard menepuk pelan pundak David. Sedikit berbincang dan bercanda seperti biasa. Hingga Bella dan Angelina datang membuat David pamit.


"Kemana kekasih mu?" Tanya Alicia sambil menempelkan pipi mereka. Angelina sangat cantik dengan dress yang ia kenakan.


"Dia sedang menaruh kado disana." Bella menunjuk meja khusus menaruh kado. Banyak juga beberapa karyawan kantor yang menghadiri acara pernikahan ini, namun kebanyakan rekan Richard dan teman-teman mamah Richard dibanding tamu Alicia.


"Hai, maaf lama." Ujar pria yang menghampiri mereka, Bella memeluk tangan pria itu.


"Selamat ya kalian. Bahagia selalu dan abadi."


"Terimakasih."


Beberapa tamu menghampiri mereka, membuat Alicia dan Richard kewalahan sendiri, Richard ingin cepat-cepat dansa dan moment romantis mereka.


"Wah, siapa ini?" Tanya Richard sedikit terkejut. Alicia pun tak kalah terkejutnya. Justin dan Jessy datang bersamaan.


"Alicia! Selamat ya." Mereka saling mencium pipi dan tersenyum menautkan jari. Sedangkan para pria hanya berdiam dengan angkuhnya.


"Kau benar-benar mendapatkan nya?" Tanya Richard.


"Ini semua gara-gara kau. Aku jadi terjebak dengan wanita gila ini." Mendengar itu Jessy menyenggol bahu Justin dengan tatapan tajam.


"Wanita cantik ini, maksud ku."


"Kalian berpacaran?" Tanya Alicia bingung.


"Tidak!" Jawab keduanya serempak.


"Tapi dia kurang aja. Dan dengan berat hati aku memberikan ini." Alicia mengambil kertas yang di sodorkan Jessy. Ia menutup mulutnya seketika, Richard yang penasaran ikut melihat kertas itu. Undangan pernikahan.


"Waw. Ternyata kau seserius itu?" Pekik Richard tak menyangka. Justin mencibir.


"Dia menjebak ku dan ayah ku yang pencinta wanita cantik itu terbodohi oleh wanita ini." Bisik Justin, ia ingin meluapkan kekesalannya.


"Apa yang kau katakan?" Tanya Jessy tajam.


"Aku mengatakan kau sudah merusak masa depan ku." Ejek Justin.


"Kau yang sudah merusak masa depan ku!" Protes Jessy.


"Apa? Kau hanya membuktikan lewat CCTV tidak jelas itu? Kau jelas-jelas menjebak ku! Baru kali ini ada seorang wanita yang begitu menginginkan itu sampai segininya."


"Apa?! CCTV itu sudah jelas membuktikan kalau kau memberiku obat tidur!"


"Sudah, dilanjutkan nanti saja perdebatannya. Kalian berkeliling lah dan coba hidangan yang kita sediakan, semoga bisa menurunkan emosi kalian." Lerai Alicia yang merasa canggung melihat pasangan yang akan menikah seperti ini.


"Ah, maaf kan aku Alicia. Emosi ku selalu naik jika didekatnya."


"Me too." Ejek Justin. Richard hanya menahan tawa melihat pemandangan seru ini. Tom & Jerry dalam dunia asli.


"Lihat lah anak dan menantu ku bagaikan pasangan yang sempurna bukan?" Tawa Richard langsung reda, mama nya datang bagai pemandu wisata bersama teman-temannya yang memotret mereka.


"Ya, mereka serasi, cantik dan tampan." Seru teman mama nya.


"Aku juga tak sabar menunggu cuci ku nantinya akan bagaimana." Pekik mama Richard yang dijawab tawa ringan berkelas para ibu-ibu sosialita.


...°•°•°•°...


...End...


...°•°•°•°...


Terimakasih untuk semua pembaca setia. Kita sudah diakhiri cerita. Perjalan cinta antara Alicia dan Richard.



Dukung author dengan cara memberikan vote dan like🙌


Thank you,


DHEA


IG: Dheanvta