
Justin mengerutkan keningnya, ia menangkap ada yang tidak beres dengan mobil diseberang sana. Ia memfokuskan kamera ponselnya untuk mendapatkan plat nomor mobil itu. Sangat aneh melihat mobil yang menyala terpakir dipinggir jalan seperti itu.
"Apa kita bisa pulang sekarang?" Tanya Richard yang sudah duduk disebelah Justin. Tanpa menghiraukannya, Justin kembali mengambil gambar mobil itu. Aneh, tepat saat pasangan ini kembali ke cafe, mobil itu pun pergi.
"Ya. Kita pulang sekarang. Aku juga sudah lelah, ingin beristirahat." Gumam Justin. Memasukkan ponselnya kedalam saku.
°°°
Sesampainya di hotel, Justin memperhatikan foto mobil tadi, perasaannya menjadi tak karuan.
'Mafia ini sudah bertahun-tahun dalam kegiatan kotor, tidak heran jika Richard langsung dibuntuti seperti itu.' pikir Justin. Ia menghubungi Harry yang bertugas bersama Arthur, temannya yang bertugas menjadi police di New York.
"Hallo. Bagaimana?"
"Kami masih mencocokan bukti-bukti, dan besok akan memulai penyelidikan. Aku.. ditugaskan menyamar."
"Sebagai?"
"Lelaki yang membeli wanita malam. Kami akan mengintrogasi wanita itu agar sampai ia mengatakan siapa otak dari penjualan wanita ini. Dan ada beberapa lagi rencana, aku tidak bisa menjamin akan membereskan kasus ini dengan cepat."
"Ya, aku mengerti. Katakan saja padaku semua perkembangannya."
Justin mengakhiri panggilannya. Tangannya menjadi gatal saat melihat nomor Jessy. Oke dia harus ngakui bahwa ini sudah kelewatan, ia keterlaluan menjahili wanita itu dan membiarkan semua telepon dan pesan dari wanita itu. Saat dipikir-pikir wanita ini tak ada salah apapun padanya, ia hanya bersikap profesional dan menjaga semua data pasiennya.
Setelah perdebatan kecil didalam batinnya, Justin menyakinkan diri untuk mengirim pesan pada Jessy.
'Hai. Maaf tak memberikan kabar. Aku hanya ingin menjelaskan perbuatan ku kemarin. Itu hanya lelucon April mop, aku harap kau tak berlebihan dalam membenci ku.'
°°°
Richard memperhatikan wajah segar Alicia. Wanita itu baru cuci muka dari kamar mandi, kini mereka duduk dihadapan televisi.
"Kau mulai mengantuk?" Alicia mengangkat bahunya.
"Tidak."
"Besok kita kelokasi pembangunan. Kau diam saja di sini ya." Alicia cemberut mendengar itu, ia tidak diperbolehkan kan keluar jika tidak bersama Richard, dan didalam kamar seharian akan membosankan sepertinya.
"Apa aku tidak boleh ikut?" Tanya Alicia pelan.
"Disana kau harus menggunakan safety helmet, itu artinya kita memasuki lingkungan yang bisa saja menimbulkan bahaya. Aku hanya sebentar disana, tidak akan lama." Alicia terdiam. Ia hanya bisa mengangguk dan inipun demi kebaikannya.
"Apa kau mau makan malam diluar?" Tanya Richard tiba-tiba.
"Aku mau." Jawab Alicia cepat. Ia ingin berjalan-jalan dengan Richard.
"Bersiap-siap lah. Aku akan memesan meja dulu." Alicia mengangguk semangat, ia berjalan cepat menuju lemari, memilih pakaian yang cocok untuk berdiri disebelah Richard.
Pilihannya tertuju pada dres hitam dengan motif ringan, ia rasa akan ada dinner romantis lagi jika Richard sudah memesan meja.
Alicia masuk kedalam kamar mandi, menatap pantulan dirinya dikaca besar. Ia membalikan badannya dan merasa baju ini sangat pas dan nyaman. Baju yang baru Yosie buatkan untuknya, atas pesanan Richard tentunya. Setelah dirasa cocok Alicia keluar dari kamar mandi, ia akan merias wajahnya secantik yang ia bisa.
Richard tersenyum melihat tingkah Alicia yang bahagia, mereka akan makan malam di restoran paling terkenal di New York, lantai paling atas yang menyajikan pemandangan patung Liberty dan dapat melihat sibuknya kota New York dimalam hari.