
Alicia masih berbaring dan tak sadarkan diri. Richard menggapai tangan itu kemulutnya, mencium tangan Alicia beberapa kali.
Kini mereka dirumah sakit, Richard sudah tenang dan kini bisa fokus pada Alicia.
"Sadar Alicia, aku sudah menolong mu." Gumam Richard ditengah-tengah mencium tangan Alicia.
Justin datang bersama seorang dokter yang tersenyum pada Richard.
"Bagaimana keadaannya wanita ini dok?" Tanya Justin yang ikut cemas, Alicia pingsan terlalu lama.
"Bagaimana keadaannya?" Kini Richard yang bertanya.
Dokter itu tersenyum dengan santainya, mengabaikan kedua pria yang tengah cemas.
"Ia hanya syok. Aku juga sudah memberikan vitamin melalui infus. Kandungannya pun baik-baik saja."
Richard terdiam, otaknya berfikir keras, ada sesuatu yang janggal.
"Kandung?" Ulang Richard.
"Sudah masuk minggu ke 4, kandungan-nya masih rawan, tapi janin ini sangat kuat dan baik-baik saja." Entah perasaan apa yang menyelimuti hati Richard. Ia tak bisa berfikir lagi.
Justin membungkam mulutnya, ia terkejut. Justin membuka mulutnya hendak berbicara, namun ia urungkan melihat Richard sendiri tak mampu berkata apapun.
"Dok, terimakasih." Akhirnya itu yang diucapkan Justin. Doker itu tersenyum dan pamit keluar.
Justin menepuk bahu Richard lumayan keras, membuat Richard menatap sinis pada Justin.
"Wow!" Itu ucapan selamat Justin.
"Kalian.." Justin mendekatkan kedua jari telunjuknya bersamaan.
"Dimana kalian membuatnya?" Itu berat diucapkan.
Richard berdecak dan mendorong tubuh Justin agar menjauh.
"Pergilah. Kau memang bocah brengsek!" Pekik Richard. Tidak bisakah Justin pergi dan membiarkannya berfikir jernih.
"Ya kau benar, aku harus pergi." Justin berbalik hendak pergi.
"Astaga aku malu sendiri membayangkan kalian melakukan itu." Ucap Justin sambil buru-buru pergi keluar dari ruangan.
"Sialan." Pekik Richard pada Justin.
°°°
Alicia membuka matanya perlahan, menyesuaikan pandangannya dengan cahaya yang terasa amat silau.
"Kau bangun?" Suara itu, Alicia menajamkan penglihatannya, Richard duduk disebelah ranjang. Alicia tengah berbaring dengan selang infus ditangannya.
"Rich.." gumam Alicia, ia memeluk tubuh Richard dengan cepat, tidak ingin ini semua mimpi. Alicia ingat suara tembakan itu, ia kira itu adalah terakhir kalinya Alicia melihat Richard, tembakan itu begitu dekat dengan telinganya.
"Hei, hei,, sudah tidak apa-apa, aku tidak akan meninggalkan mu lagi." Alicia menangis, ia benar-benar bahagia dan tak siap jauh dari Richard.
"Alicia ada yang ingin aku sampaikan." Ucap Richard begitu pelan. Membuat Alicia terdiam dan melepaskan pelukannya.
"Apa?" Tanya Alicia bingung. Seketika ia panik dan menatap Richard.
"Kau tidak memberitahu mama tentang hilangnya aku?" Alicia takut Sophia kini panik dan tak tenang memikirkan Alicia.
"Tenang, aku tidak memberitahu nya, aku takut kesehatannya terganggu." Alicia menghembuskan nafasnya lega.
"Alicia.." Alicia melirik Richard yang tampak menatapnya tulus. Menanti apa yang akan diucapkan Richard.
"Sepertinya kita harus mengakhiri hubungan ini." Alicia terdiam, rasa sesak langsung menghantam hati Alicia.
"Ke..kenapa? Aku tidak..."
"Ada makhluk kecil yang meminta pertanggung jawaban ku." Alicia terdiam bingung, Richard melepaskan cincin dijari tengah Alicia, memindahkannya ke jari manis Alicia.
"Kau melamar ku? Tapi kau mengakhiri hubungan ini?" Tanya Alicia bingung. Ia baru sadar dan diberi ucapan membingungkan oleh Richard.
"Kita tidak mungkin selamanya menjadi sepasang kekasih. Aku akan segera menikahi mu." Alicia menutup mulutnya dengan tangan. Apa ia tidak salah dengar?.
"Mengapa terburu-buru?"
"Sudah aku katakan tadi. Ada makhluk kecil yang meminta pertanggung jawaban ku." Alicia menggelengkan kepalanya, Richard mengelus perutnya ratanya.
"Aku hamil?" Tanya Alicia tak percaya. Richard menganggukan kepalanya.
"Kita akan mempunyai bayi." Ujar Richard. Ini seperti mimpi bagi mereka.
"Tapi aku bingung mengatakannya pada ibu mu. Apa ia akan merelakan mu bersama ku?" Gumam Richard.
Alicia menggenggam tangan Richard, meyakinkan pria itu.
"Mama sangat menyukai mu. Dia pasti akan senang mempunyai menantu seperti mu." Jawab Alicia lembut.
"Apa mama mu akan menerima ku?" Tanya Alicia ragu, apalagi mengingat Felly yang seakan tidak suka padanya.
"Apa yang bisa mama ku tolak saat mendengar kabar ia akan mempunyai cucu? Ia akan senang."
"Benarkan?"
Richard tersenyum dan mengangguk.
"Benar, dan aku akan membantah siapapun yang akan mencoba menolak pernikahan kita."
°°°
Justin terdiam, dihadapannya kini seorang polisi dengan satu pria tua yang harusnya sudah dibawa kepenjara dari tadi.
"Dia ingin meminta maaf pada anaknya." Justin memperhatikan pria itu dari atas hingga bawah, pakaian lusuh dan tubuh yang tidak terawat. Jambang yang sudah panjang dengan beberapa helai putih di antara helaian itu.
"Apa anda mempunyai bukti." Pria itu dengan sorot mata sendu mengangguk, tangannya yang diborgol menggapai saku belakangnya.
"Maaf, aku bantu kau mengambilnya ya." Justin mengambil dompet lusuh yang tak ada isinya, itu benar-benar dompet tua yang tak pernah di buka sepertinya.
"Aku seperti pernah melihat ini." Justin berfikir keras, foto seorang ayah tengah menggendong putrinya.
"Aku ingat. Dia benar ayah korban, biarkan dia masuk sebentar ditemani oleh ku." Justin terdiam sesaat.
"Sebentar. Aku ingin tau kenapa kau bisa ditangga dalam kasus anakmu sendiri?"
Polisi itu kembali menahan tangan yang diikat borgol dan menjelaskan kronologi penangkapan Marten.
"Jadi kau termasuk anak buah John yang mengedarkan narkoba? Bagaimana bisa kau menjadi anak buahnya?"
"Istriku sudah menjual semuanya untuk menebus Alicia, dan aku ditinggalkan sendiri disini, menjadi gelandangan yang membuat ku terjebak kembali bersama John. Sore tadi aku mendengar kabar jika anak ku menjadi kekasih dari seorang pengusaha, ia diculik oleh John, aku berusaha sebisa mungkin masuk ke markas, tapi usaha ku sia-sia, aku malah di siksa dan di suruh mengantarkan narkotika untuk beberapa orang. Aku.. aku bersyukur ditangkap dan mendapatkan kabar bahwa Alicia selamat, aku hanya ingin meminta maaf pada anak ku, aku tak pernah bertemu dengannya saat penculikan itu." Air mata itu seakan tulus. Justin mengerti dan mengangguk pelan, semuanya keputusan ada di Alicia. Ia tidak bisa melakukan apapun selain mempertemukan mereka terlebih dahulu.
"Paling lama hanya 10 menit. Semua tahanan akan diproses." Polisi itu memperingati. Justin mengangguk pelan dan menarik tangan Marten lembut, dan merasa canggung saat menyentuh kulit kotor itu. Ia sedih melihat kisahnya bersama Alicia, walau semua salah Marten, namun Justin yakin ada kerinduan besar antara Ayah dan anaknya. Apalagi proses yang akan Marten lewati akan besar karena menyangkut narkotika.
"Bersiap lah bertemu anak mu. Ia sangat cantik."
"Terimakasih." Ucapan itu begitu menyayat hati Justin, pria itu tampak bahagia di antara tangisnya, kerutan itu pun semakin terlihat saat ada senyum yang terlihat tulus diwajahnya.
°°°
Gak boleh ada yang bully Richard 😤 aku sebagai emaknya marah nih😌🤣
Dukung author dengan cara memberikan vote dan like🙌
Thank you,
DHEA
IG: Dheanvta