One Night Stand With My CEO

One Night Stand With My CEO
Patah Hati



Pria itu begitu antusias pagi ini, Richard sudah mempersiapkan satu hadiah kecil untuk ibu Alicia.


'Ting'


Richard masuk kedalam lift yang sudah terbuka, ia mengeluarkan ponselnya, mencari seseorang yang lupa ia kabari sedari kemarin.


"Hallo, Rich."


"Aku ingin kau menyiapkan dress untuk Alicia. Besok sore aku akan kesana."


"Ohh dengan senang hati aku akan menyiapkan nya. Kau ingin yang seperti apa?" Tanya Yosie dengan suara bahagianya. Pagi-pagi ia sudah mendapatkan durian runtuh.


"Yang paling indah namun sopan untuk pertemuan makan malam." Ujar Richard. Hanya beberapa kata namun bisa mendeskripsikan apa yang diinginkannya.


"Baik. Aku akan mendesain khusus untuk wanita cantik itu." Pekiknya senang.


"Oh ya satu lagi." Jeda Yosie membuat Richard berkerut bingung.


"Jika ingin mendapatkan hasil yang sangat maksimal sebisa mungkin kau memberitahu ku beberapa hari sebelumnya. Ya,, sekitar 5 hari atau seminggu."


"Aku akan mencari orang lain jika kau tidak siap." Sahut Richard, singkat, padat dan jelas, membuat seseorang disebrang sana terdiam dan sedikit mendehem.


"Ekhem, aku siap, dengan hasil yang sangat maksimal." Gugupnya. Richard tersenyum miring sambil bergumam 'Bagus' lalu mematikan panggilan tersebut.


Tepat saat pintu lift terbuka, Richard berjalan dengan santai, sesekali ia melirik jam tangan mahal milik nya. Sudah melebihi jam masuk karyawan. Richard sedikit memelankan langkah kakinya saat melewati ruangan kaca Alicia, kening Richard mengerut saat melihat wanita itu tengah menatap laptop dengan tatapan kosong.


Dengan rasa penasaran yang begitu besar, Richard mendorong pelan pintu kaca yang sedikit buram itu.


"Apa aku menggaji mu untuk melamun?" Tegur Richard. Ia tak suka melihat Alicia seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat, tidak ada niatkah wanita itu untuk sedikit berbagi masalah pikirannya dengan Richard.


Alicia terkejut dan langsung sadar kedunia nyata. Ia langsung berdiri dan menghampiri Richard.


"Ada apa?" Tanya Richard. Ia bingung melihat reaksi Alicia yang terburu-buru seperti itu.


"Kau dari mana?" Tanya Alicia. Sudah satu jam lebih ia menunggu Richard, biasanya pria itu sudah ada didalam ruangannya pagi sekali, tapi kali ini sudah beberapa kali Alicia bulak balik keruangan Richard dan tak menemukan pria itu.


'Aku!' pekik Alicia dalam hati. Namun ia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Aku ingin memberikan jadwal mu hari ini."


"Kau bisa menaruhnya dimeja ku kan?." Richard merongoh paperbag kecil yang ia bawa dan mengeluarkan kotak berwarna biru.


"Aku ingin meminta pendapat mu." Alicia mengerutkan keningnya bingung, ia mengambil kotak kecil yang disodorkan Richard.


"Anting?" Gumam Alicia pelan, sepasang anting cantik yang sangat indah dihadapannya.


"Aku tidak pintar memilih hadiah untuk seorang wanita. Apa menurut mu ini cocok?" Sedikit tamparan dari ucapan Richard dipagi hari membuat Alicia tersadar, ia segera menutup kotak itu dengan cepat dan mengembalikan nya pada Richard.


"Cocok. Aku ambilkan dulu jadwal mu." Ujar Alicia dingin, ia berjalan cepat menuju mejanya, mengambil selembar kertas, lalu kembali mendekati Richard.


"Ini, agar aku tidak ke ruangan mu, hari ini aku akan sibuk." Ketus Alicia. Ia sedikit memaksa pria itu agar menerima kertas yang ia berikan.


"Ada apa dengan mu?" Tanya Richard bingung, namun Alicia berbalik dan duduk dikursi kerjanya kembali, mulai berlagak sok sibuk seperti banyak tugas.


"Apa ini hari merahnya?" Gumam Richard pelan sambil mulai berjalan ke ruangan miliknya. Baru saja Richard percaya diri kalau Alicia menunggu nya, namun wanita itu malah memperlakukan nya seperti ini.


"Huh. Ini yang aku tidak suka dari wanita."


°°°


Alicia menekan keyboard dengan sedikit keras, entah apa yang ia ketik, hatinya kesal tak menentu. Ternyata ketakutan nya selama ini benar, Richard sudah memiliki wanita lain, bahkan pria itu dengan terang-terangan menunjukkan hadiah yang akan ia berikan untuk wanita itu.


Pikirannya langsung teringat dengan ucapan Taylor kemarin, apa benar dirinya ini sangat membosankan?.


"Sekarang aku harus bagaimana." Alicia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Ia baru merasakan diperlakukan special oleh seseorang, namun hanya sekejap mata harus kembali lagi menjadi orang asing.


"Fokus kerja dan kembali menjadi Alicia yang dulu. Cinta hanya akan membuat hidup mu berantakan." Gumam Alicia, ia berusaha menyemangati dirinya sendiri.


°°°