
Keesokan harinya, Richard dan mama nya sudah berdiri diparkiran Apartemen Alicia. Mama tampak kepanasan dan menatap bangunan itu tak yakin.
"Apa kau tidak ada niat memindahkan mereka kerumah baru?" Richard mengangkat bahunya.
"Aku sudah membicarakan masalah itu, tapi tetangga mereka terlalu baik untuk ditinggalkan."
"Aku tidak memiliki tetangga." Gumam Mama, dikawasan rumah mereka terlalu masing-masing, bahkan tidak tahu nama pemilik sebelah rumah, jarak antara masing-masing rumah pun lumayan luas.
"Sudahlah ma, biasa kita naik sekarang? Jangan berbicara yang tidak baik nanti disana, aku tidak suka."
"Ya! Mama pun tau etika nya." Richard mengangguk. Dan menuntun paksa mamanya agar mulai menaiki tangga.
"Astaga, lihatlah tangga ini, sudah berkarat."
"Mama!" Lirih Richard gemas, pelan namun memperingati.
"Ya, ya, ya. Mama hanya tak nyaman melihat itu."
"Apapun yang mama lihat, ucapkan dalam hati."
"Ya, mama tahu etikanya." Richard hanya menggelengkan kepalanya, berusaha sabar.
"Oh astaga, panasnya." Gumam Mama saat mereka sudah ada dilantai 2.
"Mama, aku jadi malu membawa mu." Mama hanya berdelik mendengar jawaban putranya.
"Lanjutkan saja lanjutkan, yang mana pintu rumahnya." Mama berjalan berlebih dahulu, Richard begitu lambat dan terlalu mengkritik setiap ucapannya.
"Yang ini." Jawab Richard malas. Ia takut mama nya mengatakan yang tidak-tidak saat didalam.
"Oh. Dimana tombol bel nya?" Tanya mama sambil membenarkan letak tas tangannya. Matanya mencari tombol yang bisa ia tekan.
Richard mendengus. Ia mengetuk pelan pintu Apartemen Alicia. Pintu tak lama terbuka, menampilkan Alicia dengan dress berwarna cream, sungguh cantik seperti biasanya.
"Kau sangat cantik Alicia." Puji mama membuat Alicia bersemu dan tersenyum.
Mereka dipersilahkan masuk, pandangan mama Richard memperhatikan ruangan kecil itu.
"Lumayan rapi, bersih." Gumam mama menilai. Ia langsung menutup mulutnya saat melihat tatapan Richard yang memperingati.
Mereka duduk di sebuah sofa, Sophia datang membawa beberapa kue yang masih hangat, dengan wangi yang begitu harum.
"Biar aku membawakan minum dulu, mama ingin minum apa?" Tanya Alicia lembut.
"Jus.."
"Air putih saja." Potong Richard.
"Jika ingin jus aku memilih jeruk dan alpukat. Alpukat nya sangat bagus, baru tadi pagi aku membelinya." Ujar Sophia ramah.
"Ah, jika tidak merepotkan." Jawab Mama dengan malu-malu.
"Tidak merepotkan, Alpukat atau jeruk?" Tanya Sophia.
"Alpukat saja." Mama tersenyum senang.
"Kalau begitu aku akan membuatkannya dulu." Pamit Alicia.
-
Setelah semuanya selesai dan duduk disofa saling berhadapan, mama Richard mulai bersuara.
"Kedatangan ku dan Richard kemari adalah untuk membicarakan perihal pernikahan mereka berdua. Sebelumnya aku mohon maaf karena terlalu mendadak, umur anak ku sudah terlalu tua dan harus secepatnya menikah." Ujar Mama dengan nada bersahabat. Sophia tertawa kecil mendengar itu.
"Ya, aku mengerti, aku juga senang mendengar kabar ini semalam."
"Ya! Aku juga senang, senang mendengar putra ku akan menikah. Mungkin sekarang kita akan membahas tentang tanggal..." Ucapannya terhenti saat Richard memotong.
"Maaf sebelumnya, pernikahan sudah ditentukan oleh ku dan Alicia, hari Minggu ini."
"Apa?! 4 hari lagi? Aku belum mengabari teman-teman ku! Sodara kita pun belum mama beritahu." Richard memejamkan matanya pelan sambil sedikit tersenyum, mencoba membari kode agar mama nya diam sebentar.
"Ah maaf, tidak masalah kapanpun, asalkan mereka menikah." Tawa mama kecil.
"Lalu apa lagi yang akan kita bahas?" Tanya mama pada Richard.
"Aku sudah menyuruh orang untuk mempersiapkan segalanya. Dan pertemuan kali ini untuk saling memperkenalkan diri." Jelas Richard.
Pembicaraan pun mulai masuk, dari berbagai cerita identitas, dan lain sebagainya. Mama menjelaskan dirinya yang begitu teliti dalam kebersihan tempat, dan Sophia yang menjelaskan tentang keahliannya memasak.
"Kalau begitu kita bisa membuat bisnis cafe. Lumayan untuk mengisi waktu luang kita." Ajak mama Richard, tertarik dengan pernyataan Sophia yang pernah memiliki kedai, namun harus menutup usahanya saat pindah ke LA.
Richard tersenyum, mama nya memang cepat berbaur dengan orang baru. Setidaknya ia bisa melihat mamanya dan mama Alicia akrab sebelum hari pernikahan mereka. Entah itu terpaksa atau tidak, mamanya pandai membujuk orang lain untuk mengobrol santai.
-
Thank you,
DHEA
IG: Dheanvta