One Night Stand With My CEO

One Night Stand With My CEO
Cemburu?



"Hallo. Jessy, ini aku Alicia."


"Ya Alicia, aku menunggu kabar dari mu." Suara ramah itu keluar dari ponselnya.


"Aku ingin melakukan psikoterapi malam ini. Apa kau ada waktu luang?" Tanya Alicia pelan.


"Ada Alicia. Langsung saja datang dan aku akan menyiapkan semuanya." Jawab Jessy dengan semangat membuat Alicia bernafas lega, sebenarnya ia tak enak harus mengganggu waktu Jessy dimalam hari.


"Terimakasih, maaf jika aku mengganggu malam mu." Ujar Alicia ramah.


"Tidak perlu minta maaf, aku sangat ingin membantu mu menghilangkan trauma itu."


"Oh Jessy, kau sangat baik hati." Alicia menengokan kepalanya pada saat suara ketukan pintu terdengar. Matanya membola panik saat melihat ibu Richard tengah mengetuk pintu sambil melihat kedalam ruangan nya.


"Nanti aku akan menghubungi mu lagi. Terimakasih Jessy." Ucap Alicia selembut mungkin lalu memutuskan panggilan tersebut.


Alicia berdiri merapikan kemejanya dan berjalan cepat membukakan pintu ruangan.


"Selamat sore Miss. Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Alicia sopan. Wanita itu tersenyum ramah dengan beberapa paperbag ditangannya.


"Boleh aku menumpang duduk diruangan mu? Richard seperti nya sedang ada tamu." Alicia mengangguk dengan cepat dan mengambil paperbag itu, membantu ibu Richard yang sepertinya tengah kesulitan.


"Terimakasih Alicia. Kau sangat pengertian." Wanita itu masuk dengan langkah yang begitu pelan, memperhatikan ruangan Alicia dan itu membuat Alicia berdebar. Ibu dan anak selalu membuat Alicia berdebar jika didekat mereka.


"Ruangan mu sangat rapi." Puji wanita itu dan duduk dengan anggun. Alicia menaruh paperbag diatas meja.


"Kau ingin minum Miss?"


"Mendekat lah. Aku ingin menunjukkan sesuatu." Dengan ragu Alicia mendekatkan jarak diantara mereka.


"Mau aku bantu?" Tawar Alicia saat melihat wanita itu membuka paperbag satu persatu seperti mencari sesuatu.


"Ya boleh, jika tidak merepotkan." Mendengar nada yang bersahabat Alicia tersenyum dan membantu wanita itu mengeluarkan semua barang yang ada di masing-masing paperbag.


"Ini semua untuk Richard. Apa menurut mu ini semua cocok?" Alicia menatap semua barang mewah yang berjajar dihadapannya, sebuah dompet, dasi, sabuk, dan 2 buah jam tangan.


"Cocok. Apapun yang di kenakan Mr.Alvaron pasti cocok." Puji Alicia, namun ia tidak berbohong, Richard memang sangat cocok menggunakan semua ini dibadan indahnya.


Mendengar anaknya dipuji ibu Richard tertawa kecil, ia senang.


"Kau benar. Ia memang cocok menggunakan apapun. Aku sangat bangga memiliki anak setampan itu." Ucapnya senang.


"Tapii.." Alicia menunggu ucapan apa yang akan dikeluarkan oleh wanita itu.


"Apa ada yang menggangu pikiran mu Miss?" Tanya Alicia pelan, wanita itu mengangguk pelan, wajahnya tidak seceria tadi. Ia mengeluarkan ponselnya.


"Aku sedikit bosan, umur Richard sudah memasuki 30 tahun, dan hingga saat ini ia belum mengenalkan 1 wanita pun. Teman-teman ku yang lainnya sudah mempunyai cucu." Alicia tersenyum kaku, ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu, ia tidak tau juga siapa yang sedang dekat dengan Richard, dirinya hanya sekertaris yang merangkap menjadi teman tidur Richard saja, dan ia tidak melihat satu wanita pun yang sedang dekat dengan Richard.


"Mungkin nanti akan ada waktunya Miss." Jawaban itu seperti nya yang paling cocok untuk saat ini.


"Aku akan menunjukkan beberapa foto teman anak ku yang masih lajang, mereka semua wanita karir yang sukses, bantu aku memilihkan yang cocok ya untuk Richard." Alicia terdiam, hatinya sesak dalam sekejap, ia berusaha menahan senyumnya tetap mengembang.