
Kini hari libur mereka, dan besok adalah hari dimana mereka akan pergi ke New York. Alicia kini tengah sibuk memasukkan beberapa baju kedalam kopernya.
"Apa benar tidak apa-apa kau kesana?" Tanya Sophia. Hatinya terasa kacau saat mengetahui Alicia akan kembali ke kota itu.
"Jangan khawatir ma. Aku akan menjaga diriku baik-baik. Disana juga aku akan bekerja selama seminggu... Lagi pula kejadian itu sudah 10 tahun yang lalu, semuanya sudah lupa dengan kejadian itu." Ucapnya sedikit berbohong. Omong kosong sudah melupakan kejadian itu, selama 10 tahun ia tersiksa mengingatnya. Namun apa yang harus ditakutkan? Buktinya 10 tahun ini ia baik-baik saja, tak ada tanda-tanda pria itu mengusiknya, padahal mereka masih di negara yang sama.
"Kau harus berjanji. Apapun yang terjadi disana aku tak ingin mendengar ada kabar buruk. Dan Senin depan kau harus kembali dengan selamat." Alicia mengangguk dan tersenyum, ia memeluk Sophia.
"Aku janji ma." Ucap Alicia. Alicia melepaskan pelukannya.
"Besok akan ada yang menemani mu ma. Namanya Gebby."
"Tidak usah, ditemani oleh Angelina pun sudah cukup." Tolak Sophia.
"Richard yang memperkerjakan nya ma. Lagi pula aku juga perlu kabar mu setiap waktu, dan Gebby yang akan mengatur jam minum obat mu, jadi tidak ada lagi kata terlambat minum obat."
°•°•°•°
Justin mengerutkan keningnya. Mencoba menangkap apa yang dimaksud pria disebrang sana.
"Apa maksudmu?"
"Aku.. aku rasa ada yang tidak beres, sudah beberapa hari ini aku merasa diikuti."
"Kau melihat orangnya?"
"Tidak. Hanya firasat, tapi ini benar-benar mengganggu konsentrasi ku." Justin berpikir cepat. Ia baru menyusun rencana yang akan menjebak John, namun masalah baru muncul begitu saja.
"Pulanglah sekarang juga. Malam ini kita akan membicarakan langsung masalah ini."
"Baik sir." Panggilan itu terputus. Justin mengeluarkan beberapa lembar kertas yang berisikan tulisan daftar kriminal yang sudah John lakukan. Mereka harus mengubah rencana mereka lebih matang lagi, Justin yakin orang ini pintar bermain.
Justin meraih ponselnya, saat hendak mencari kontak Richard, matanya sedikit terfokus pada nama 'Dokter Jiwa' Justin tersenyum kecil saat mengingat wanita itu keesokan harinya menelfon beberapa kali, bahkan setiap 10 menit sekali wanita itu menelfonnya, namun hanya sehari saja, keesokan harinya lagi sampai sekarang ia tak diteror wanita itu lagi.
"Apa bercanda ku keterlaluan?" Gumam Justin. Ia langsung menggelengkan kepalanya, ia tidak perlu merasa bersalah, ia hanya bercanda dan tidak melakukan apapun.
"Hallo." Sapa Justin saat panggilannya diangkat oleh Richard.
"Bisakah kita bertemu malam ini? Sepertinya ada yang harus kita bahas lagi."
"Apa ada sesuatu?"
"Ya. Orang mu di New York merasa ada yang membuntuti, dan aku sudah menyuruhnya kembali ke sini, malam ini kita berkumpul."
"Baiklah, kita berkumpul saja di apartemen ku."
Justin menggelengkan kepalanya. Walaupun ia tau Richard tidak akan melihat itu.
"Tidak. Berkumpul saja di rumah ku, aku akan mengenalkan beberapa alat yang mungkin baru kau lihat."
"Dirumah mu? Apa akan ada pria tua Bangka itu?"
Justin menggeram pelan, berani sekali pria satu ini.
"Sialan! Dia tetap ayah ku." Gumamnya pelan membuat Richard disebrang sana tertawa pelan.
"Baiklah. Kirimkan saja alamat mu."
Malam pun tiba, dan untuk pertama kalinya Justin bertatap langsung dengan Harry, orang yang sering berkomunikasi dengannya dari New York.
"Apa saja yang kau dapatkan disana?" Tanya Richard mengakhiri keheningan antara mereka bertiga. Richard tidak terlalu fokus mengikuti perkembangan antara Harry dan Justin. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Harry mengeluarkan ponselnya, ia memperlihatkan seorang pria berbadan besar tengah memberikan kotak nasi pada anak jalanan remaja.
"Mungkin ini hanya seperti seorang preman yang memberikan makanan bekas pada anak jalanan. Namun jika kau membukanya, akan ada sapotong roti yang didalamnya terdapat sebuah plastik kecil berisi narkotika." Jelas Harry. Richard menggelengkan kepalanya.
"Bukannya John memiliki Casino? Mengapa tidak melakukan transaksi jual beli obat itu di tempatnya?"
"Obat-obatan terlarang seperti itu sangat dilarang disana. Jika ketahuan melakukan menjual itu, tempat mereka akan ditutup. Mereka melakukan penjualan obat-obatan terlarang melalui anak jalanan, tidak akan ada yang curiga pada mereka. Mungkin." Jawab Justin.
"Mereka tidak hanya menjual narkotika, mereka juga melakukan penjualan minuman keras, bahkan perdagangan manusiapun masih mereka lakukan sampai sekarang. Mereka menjaja kan wanita disetiap jalan sepi, tak jarang pula jika mereka mendapatkan wanita bagus mereka akan membuat acara lelang dengan harga yang tinggi dan tak sembarangan orang bisa masuk kesana."
Richard mengerutkan keningnya.
"Wanita bagus?"
"Wanita kisaran umur 18-23 tahun yang memiliki wajah cantik, badan indah dan yang paling penting mereka harus masih suci." Jawab Justin gemas, pria ini terlalu naif jika tidak mengetahui itu semua.
"Ahh, aku kira para aktor cantik." Sahut Richard santai.
"Pikiran mu terlalu mewah." Komentar Justin sambil berdiri. Ia mengambil sebuah kotak berukuran sedang dan menyimpannya diatas meja.
"Ini barang-barang yang kita butuhkan." Justin membuka tutup kotak itu. Membuat kedua orang dihadapannya seperti para bocah yang baru mendapatkan mainan baru.
"Jangan menyentuh nya!" Pekik Justin saat Richard hendak menyentuk beberapa barang yang sudah tersusun rapi.
"Nanti aku akan jelaskan kegunaannya. Namun ada beberapa hal yang akan aku jelaskan terlebih dahulu."
"Apa?" Tanya Richard tak sabar.
"Yang pertama ini semua barang mahal yang susah didapatkan. Kualitas barang-barang yang ku punya sangat tinggi dan kalian harus menjaganya baik-baik." Richard berdecak mendengar penjelasan itu.
"Aku membeli semuanya." Potong Richard.
"Kedua, Aku tidak menjualnya! Jadi berhentilah menganggap dirimu orang kaya."
"Aku memang kaya." Potong Richard sombong. Harry menatap keduanya bergantian, ia tak punya apa-apa yang bisa ia sombong kan, dan ia pun menjadi ragu rencana ini akan berhasil. Mengingat dirapat ini saja banyak pertengkaran kecil.
"Kau sebentar lagi akan menjadi gelandangan." Sahut Justin kesal.
"Tidak mungkin. Butuh waktu banyak untuk membuat ku menjadi gelandangan." Justin mengibaskan tangannya. Ia ingin menghentikan perdebatan ini.
"Harry. Kau besok kembali lagi ke New York bersama ku, aku masih membutuhkan mu." Harry yang sedari tadi diam langsung mengangguk patuh. Namun siapa sangka, didalam hatinya ia sedikit menggerutu karena belum mendapat libur dalam beberapa Minggu ini. Ia terlalu banyak berliburan di New York, uang yang Richard berikan pun belum ia habiskan di New York.
--
Kalo kalian mau tau tentang lelang dan penjualan wanita itu, bisa tonton TAKEN, terinspirasi dari film itu siii😬