
Richard memperhatikan foto dihadapannya, ternyata seperti ini rupa pria bejad itu.
"Memang ada beberapa isu yang mengatakan John ketua dari kelompok mafia disana. Namun, ia juga pemilik kasino besar diNew York, ia selalu membayar pajak besar kepada negara setiap tahunnya. Akan susah menangkapnya, bahkan jika kau diculik pun, bisa lari dari nya saja sudah seperti keajaiban."
"Jadi menurutmu bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana? Kejadian ini pun sudah 10 tahun, bisa saja ia sudah benar-benar menjadi pembisnis." Justin terdiam, mengetukan pelan jarinya diatas meja.
"Kecuali kita bisa memiliki beberapa bukti kegiatan ilegalnya."
"Alicia mengatakan akan dijual. Apa itu artinya ia melakukan perdagangan manusia?" Tanya Richard pelan.
"Ya. Mengingat bisnisnya, pasti penjualan wanita akan sangat laris disana."
Suara panggilan masuk mengalihkan perhatian mereka. Justin mendengus dan mematikan ponselnya.
"Ada apa?"
"Dokter jiwa itu."
"Kenapa tidak kau angkat. Bukankah dia cantik?" Tanya Richard heran.
"Aku tidak tertarik lagi dengannya. Dia akan benar-benar membuat ku gila."
"Wow. Apa ini, apakah ada sesuatu yang aku lewatkan?" Justin berbalik dan menatap tajam ke wajah Richard.
"Aku harus melakukan terapi yang entah untuk apa itu, ia terus mengingatkan aku untuk tidak bunuh diri. Lalu kemarin, aku sudah susah payah membobol email bahkan komputer nya. Tapi apa? Wanita itu malah menulis manual. Aku seperti orang bodoh dihadapannya."
"Kau memang bodoh." Ujar Richard ketus lalu kembali menatap laptop Justin.
"Tapi aku masih ingin mengetahui cerita lengkap Alicia."
"Baiklah. Aku akan mendekati lagi doker jiwa itu, kali ini mungkin dengan cara yang tidak basa-basi."
"Apa pun itu cara mu, aku sangat menunggu cerita itu."
"Aku juga ingin kau menepati janjimu untuk menyelesaikan proyek itu." Richard menganggukan pasti.
"Senin kau bisa lihat sendiri, sudah 30% berjalan."
"Apanya yang 30%? Aku ingin 100%."
Richard berdecak dan berjalan pelan kembali duduk di kursinya, berhadapan dengan Justin.
"Apa yang kau inginkan? Tugas mu saja belum ada yang berhasil satu pun." Ujar Richard merendahkan.
"Aku akan mendapatkan cerita itu malam ini. Lihat saja." Justin menutup laptopnya dan memasukkannya kembali kedalam tas.
"Aku pergi. Sudah sore." Richard menatap jam tangannya, tak terasa waktu sudah menunjukkan hampir pukul 5 sore.
Justin sudah berjalan menuju pintu ruangan Richard, sayup-sayup terdengar suara pria itu sedang menelfon.
"Sore cantik. Maaf tadi aku ada tamu, aku akan ketempat mu sekarang."
Richard tersenyum miring, sekarang ayah dan anak itu terlihat sama.
°•°•°•°
Alicia mengintip dari luar jendela, pria yang menjadi tamu Richard sudah pulang. Alicia pun kembali membereskan barang-barang nya.
"Kau mau pulang sekarang?" Tanya Richard yang kini sudah didepan pintu. Alicia hanya tersenyum sambil mengangguk.
Setelah semuanya selesai ia berjalan mendekati Richard.
"Kau juga mau pulang?" Tanya Alicia. Pria itu menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku ingin mengajak mu makan malam. Kau tidak ada acara pergi bersama ibu mu kan?"
"Tidak. Kau akan menjemput ku jam berapa?" Richard terdiam sesaat dan melirik jam tangannya.
"Sepertinya jam 7, aku masih harus mengerjakan sesuatu."
"Kau sibuk? Mau aku bantu?".
"Tidak perlu. Bersiap-siap lah yang cantik. Aku ingin kau yang paling indah disana." Alicia tersipu mendengarnya. Ia malu.
"Kalau begitu aku pulang dulu." Richard mengangguk.
"Tidak! Bagaimana jika ada yang melihatnya." Pekik Alicia cepat.
"Aku tidak perduli." Richard mengecup pipi Alicia, membuat wajah wanita itu semakin merah.
"Hati-hati dijalan." Alicia hanya mengangguk dan mulai berjalan cepat menuju lift. Ia malu sendiri jadinya.
°•°•°•°
Alicia menatap dirinya dipantulan cermin. Ia tersenyum sambil mengenakan blush on. Setelah dirasa cukup, Alicia berdiri dan sedikit memutarkan tubuhnya, melihat dress yang ia kenakan cocok untuk makan malam ini.
Pintu kamarnya terbuka.
"Putri ku sangat cantik." Puji mama.
"Terimakasih ma." Jawab Alicia bahagia, ia teramat bahagia hari ini.
"Richard sudah menunggu mu diluar. Kau akan makan malam lagi bersama keluarga nya?" Alicia menggelengkan kepalanya.
"Kali ini makan malam berdua." Sophia tersenyum dan memeluk Alicia lembut.
"Mama senang kau mendapatkan pria yang tepat. Kau ingat perkataan mama dulu?"
Alicia menganggukan kepalanya pasti.
"Wanita aku menjadi ratu jika bersama pria yang tepat."
"Bersenang-senang lah. Aku senang melihat kau bahagia."
"Terimakasih ma." Alicia membalas pelukan mama dengan erat. Lalu melepaskannya tanpa mengurangi senyumannya.
-
Richard tengah fokus dengan ponselnya, menanyakan perkembangan yang bocah itu lakukan. Namun saat ia mencium wangi manis yang menjadi khas Alicia, Richard langsung mengalihkan pandangannya dari ponsel.
Wajah Alicia lebih menarik dari apapun. Cantiknya wanita ini begitu natural dan memabukkan bagi Richard.
"Ma, aku pergi dulu." Alicia memeluk Sophia dengan erat, Richard pun berdiri dan mendekati Sophia, memeluk halus wanita itu sekilas.
"Mama, aku pinjam sebentar putri mu yang cantik ini." Sophia tersenyum dan mengangguk.
"Hati-hati dijalan." Keduanya mengangguk sambil tersenyum dan berjalan keluar, menuruni anak tangga dan masuk kedalam mobil.
Selama diperjalanan Richard diam, membuat Alicia bingung harus memulai pembicaraan bagaimana.
"Kita akan makan malam dimana?" Tanya Alicia.
"Lihat saja nanti. Kau akan menyukainya." Richard hanya tersenyum misterius membuat Alicia membayangkan dinner romantis dengan suara musik dari gesekan biola atau piano.
Alicia mengerutkan keningnya saat mereka keluar dari jalan besar, melewati jalan gelap dan hanya beberapa lampu yang menyinari jalan ini.
"Dermaga?" Gumam Alicia pelan, ia menatap Richard dengan tatapan yang tak percaya.
"Kita akan makan disana." Mata Alicia seakan bersinar saat Richard menunjuk sebuah kapal mewah berwarna putih. Ia belum pernah menaiki kapal semewah itu, bahkan rasanya berkhayal pun ia belum pernah.
"Kita akan berkeliling sambil makan malam."
"Oh ini sangat manis." Gumam Alicia masih terkagum. Richard tersenyum lembut sambil melepaskan seat belt nya.
Alicia tersadar dari rasa kagumnya saat mendengar suara mobil tertutup, Richard sudah tak disampingnya. Alicia melepaskan seat belt nya dan pintunya dibuka oleh Richard. Pria itu mengulurkan tangannya yang langsung disambut hangat oleh Alicia.
"Terimakasih."
Mereka berjalan menuju jembatan kecil, lampu kapal itu menyorot indah langkah mereka saat mulai menaiki tangga yang dibalut oleh karpet merah.
"Kita akan makan malam diatas berdua."
"Kau sudah memesannya?" Tanya Alicia masih tak menyangka.
Richard memeluk pinggang ramping Alicia dengan sebelah tangannya. Mendekatkan wajahnya pada telinga Alicia.
"Bahkan aku sudah memesan kamar paling mewah di kapal ini untuk kita." Bisikan itu sukses membuat wajah Alicia kembali bersemu merah. Ia tau kemana arah pikiran Richard jika sudah membicarakan soal kamar.
°°°°°
Buat yang penasaran banget sama masalalu Alicia, nanti Senin aku up Bab tentang masalalu Alicia, full. Jadi jangan lupa tiket votenya ya nanti Senin.🖤