One Night Stand With My CEO

One Night Stand With My CEO
Adakah jawaban?



Jessy mengeluarkan nafasnya panjang. Kepalanya sedikit mengangguk dan tatapannya masih memandang kearah Alicia.


"Kau wanita yang kuat. Jika aku menjadi dirimu,,, entah lah, aku tidak bisa membayangkan nya." Komentar Jessy.


"Kau ada waktu luang kapan? Kita akan mencoba psikoterapi"


"Psikoterapi?" Ulang Alicia memperjelas.


"Psikoterapi ini bertujuan untuk mengevaluasi pola pikir dan emosi mu Alicia, aku akan melatih mu untuk merespon hal yang sedikit sensitif bagi trauma mu."


"Apa ini benar-benar akan menyembuhkan ku? Apa aku tidak butuh obat penenang?" Tanya Alicia. Jessy menggelengkan kepalanya.


"Obat tidak akan bagus untuk mu, trauma mu bisa kembali kapan saja, yang kau butuhkan adalah bagaimana cara mengontrol alam bawah sadar mu. Tapi untuk jaga-jaga sebelum memulai terapi, aku akan memberi mu ini." Alicia mengambil tabung kecil yang diberikan Jessy.


"Ini permen buatan ku, ada sedikit obat yang akan membuat mu relax didalamnya. Ini tidak akan mendebarkan jantung mu." Alicia mengangguk.


"Mungkin hari sabtu aku akan memulai terapi, aku hanya bekerja setengah hari."


"Ini kartu namaku, kabari aku juga kau ada waktu luang, jika kau ingin malam ini juga bisa, pintu rumah ku selalu terbuka untuk mu." Jessy tersenyum sambil memberikan kartu namanya.


"Kau membuka praktek di rumah?" Tanya Alicia.


"Ya. Agar tidak memakan waktu perjalanan." Jawab Jessy dengan tawa kecil.


°°°°


"Kau seharusnya tidak perlu membawa ini semua." Ucap Alicia. Mereka kini berjalan masuk kedalam rumah sakit. Orang suruhan Richard mengekori jalan mareka sambil membawa bunga dan buah.


"Ini dibutuhkan oleh ibu mu." Jawab Richard santai. Ia tidak suka ada penolakan atas kebaikannya.


Mereka masuk kedalam ruangan berukuran sedang.


"Hai." Ucap Alicia ceria. Angelina dan mama langsung menengokan kepala mereka.


"Kak." Angelina berteriak dan memeluk tubuh Alicia dengan erat.


"Ayo kita masuk dulu. Aku membawa pangeran yang kau suka." Richard yang mendengar itu sedikit kebingungan, ia hanya membawa bunga dan buah, namun melihat anak kecil yang menatap nya malu-malu langsung membuat Richard mengembangkan senyum nya dengan sombong. Apa Alicia baru saja mengatakannya pangeran?.


"Taruh saja disitu, kau boleh pulang duluan." Seru Richard pada suruhannya.


"Terimakasih." Lirih Sophia pada pria yang menyimpan bunga dan buah. Pria itu tersenyum ramah dan mengangguk sopan lalu pergi dari ruangan.


"Kak Alicia! Aku ingin menagih es krim ku." Alicia mengelus rambut Angelina lembut.


"Nanti ya. Aku akan membelikan mu 2."


"Aku ingin sekarang." Rengek Angelina.


Alicia melirik kearah Richard. Pria itu mengangguk.


"Kau belikan saja dulu." Jawab Richard yang mengerti maksud tatapan Alicia.


"Kau tidak apa-apa bersama ibu ku dulu? Atau ingin ikut?" Tanya Alicia bimbang.


"Aku disini saja."


"Ma, aku ke bawah dulu membelikan Angelina eskrim."


"Ya. Hati-hati ya." Alicia mengangguk dan tersenyum pada Sophia.


Setelah pintu ruangan tertutup, Sophia melirik Richard yang tengah memperhatikan ruangan.


"Apa kau butuh ruangan yang lebih nyaman?" Tanya Richard tiba-tiba. Sophia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Ini sudah cukup untuk ku." Jawab Sophia lembut.


"Aku ingin berterima kasih." Lanjut Sophia membuat Richard menatapnya.


"Terimakasih sudah memberikan pinjaman uang sebanyak itu untuk Alicia."


"Dia terlalu banyak berkorban untuk ku. Sekarang aku malah ikut menyusahkan mu." Richard menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak merasa seperti disusahkan. Alicia mempunyai kinerja yang bagus diperusahaan, jadi itu tidaklah seberapa." Jawab Richard berusaha seramah mungkin.


Sophia mengembangkan senyumnya.


"Ini yang aku suka di kota ini, semua orang yang aku temui sangat baik." Seketika otak Richard berfikir keras, apa ia bisa mencari tau trauma Alicia melalui ibu nya?.


"Apa kalian pindah kesini?" Tanya Richard.


"Ya. Dulu aku di New York dan aku senang karena memutuskan tinggal disini."


"Bukannya disana juga sama? Bahkan bisnis disana lebih menjanjikan."


"Tidak, aku pernah mencoba usaha, namun hidup dengan orang yang tamak akan harta malah membuat ku kehilangan semua yang aku punya. Disana aku dan Alicia tidak bahagia, bahkan aku hanya mengandalkan sisa uang yang aku punya untuk pindah kesini."


"Tamak harta?" Ulang Richard.


"Suami ku, dulu ia seorang akuntan dengan gaji yang lumayan besar dan karena ambisinya dengan uang membuatnya terjerat kasus yang menyebabkannya dipecat, kami hanya mengandalkan kedai yang aku punya, tapi bukannya mencari pekerjaan lain, suami ku malah mulai berjudi, ia tidak bisa diajak untuk hidup sederhana." Richard mengangguk pelan, ternyata benar isu itu.


"Lalu dimana suami mu sekarang?"


"Entah lah, aku hanya berharap tidak pernah bertemu dengannya lagi. Aku dan Alicia lebih bahagia tidak bersamanya." Richard terdiam. Bagaimana ia harus mulai bertanya mengenai trauma Alicia.


"Mungkin.. itu yang menyebabkan Alicia membataskan diri ya?" Tanya Richard pelan.


"Alicia sebenarnya anak yang ceria. Tapi entahlah, saat aku menebus..." Sophia menghentikan ucapannya.


"Ah, semenjak aku membawa nya kemari ia menjadi pemurung. Aku fikir Alicia sedikit marah karena aku menjauhkannya dari teman-teman nya yang ada disana." Richard mengerutkan keningnya. Sepertinya ada yang disembunyikan oleh Sophia, Richard juga tak mendengar cerita kehilangan Alicia dari Sophia.


Tak lama, suara pintu terbuka mengalihkan perhatian mereka. Alicia dan Angelina masuk.


'Tidak bisakah Alicia kembali lebih lama lagi.' gumam Richard dalam hati.


"Sudah membeli Es krim nya?" Tanya Sophia membuat Angelina tersenyum malu.


"Bagaimana keadaan mu ma?" Alicia duduk disebelah Richard, menggenggam tangan Sophia dengan lembut.


"Aku sudah membaik. Tapi belum boleh kemana-mana dan harus berbaring seperti ini."


"Mama harus mengikuti semua yang dokter katakan. Agar kita bisa cepat pulang." Alicia memberikan semangat pada mama.


"Aku akan selalu mengikuti perkataan dokter, aku juga mendapat perawat yang sangat baik disini."


"Oh ya? Siapa?"


"Namanya Taylor, ia memperlakukan ku seperti ibunya sendiri." Sophia bercerita sambil tersenyum.


"Nanti aku akan mengenalkan nya pada mu." Lanjut Sophia.


"Aku tunggu."


"Ah ya. Aku akan mengantarkan Angelina dulu saat boss ku pulang, aku akan memanggil perawatan untuk menjaga mama. Bella tidak bisa kesini, ia kedatangan tamu di apartemen nya." Sophia hanya mengangguk.


"Mau bersama ku?" Tawar Richard.


"Tidak usah. Aku akan kembali lagi kesini." Tolak Alicia halus. Richard pasti butuh istirahat dan Alicia juga akan pusing mencari kendaraan untuk kembali lagi kerumah sakit.


"Tidak apa-apa, aku akan mengantarkan mu lagi." Alicia menatap Richard ragu.


"Apa tidak merepotkan?" Tanya Alicia pelan. Richard menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Apa mau sekarang?" Alicia mengangguk dan kembali melihat mama.


"Aku pergi dulu ya ma. Aku akan langsung menyuruh perawatan menemani mu."