One Night Stand With My CEO

One Night Stand With My CEO
Keadaan apa ini?



Jessy mengerutkan keningnya, ia melipat kedua tangannya didada sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Sebentar. Sepertinya ada yang salah disini." Ucapnya pelan, matanya menelusuri Richard dari atas sampai bawah.


"Aku yang seharusnya bertanya, siapa kau?" Ujar Jessy kesal. Ternyata pria tampan ini sedikit mengesalkan.


"Aku kekasih pemilik mobil itu. Dimana dia? Kenapa lama sekali mobilnya berada di titik ini!" Jawab Richard tak sabar, wanita dihadapannya ini terlalu santai, dengan setelan dress yang di balut dengan jubah putih sedikit membuat Richard berhati-hati dengan wanita ini. Seperti seorang dokter yang akan melalukan praktek ilegal.


"Kau memasangkan GPS pada mobil Alicia?" Tanya Jessy tak percaya.


Richard menaikan sebelah alisnya dengan satu tangan yang ia masukkan kedalam saku celana.


"Apa ada yang salah?"


"Posesif." Gumam Jessy. Namun kata-kata itu masih terdengar ditelinga Richard.


"Sudah lah." Jessy mengibaskan sebelah tangannya didepan wajah.


"Aku Jessy. Alicia sedang melakukan Psikoterapi."


"Untuk apa Alicia melakukan itu?"


"Ayo masuk dan lihat sendiri keadaan kekasih mu. Aku tidak menyakiti nya." Mata Richard mengintip kedalam rumah sekilas, ia ragu dan tidak ingin Alicia tau jika mobilnya sudah ia pasang GPS, ia tidak ingin Alicia bermain curang dibelakang nya.


"Tidak, jangan beritahu dia aku disini."


"Kenapa?"


"Aku takut ia marah." Bohong Richard. Jessy menganggukkan kepalanya pelan.


"Lalu?" Tanya Jessy yang bingung karena pria dihadapannya ini tak kunjung pergi juga.


Richard mengulurkan tangan, membuat wanita dihadapannya semakin bingung.


"Maaf tadi aku panik. Aku Richard, boleh kita mengobrol dulu disana." Richard menunjuk kursi kecil yang ada di depan rumah. Jessy mengangguk dan berjalan terlebih dahulu untuk duduk.


"Ya." Gumam Richard sendiri sambil menatap hampa telapak tangannya yang tak di jabat sedikit pun oleh wanita itu.


Richard duduk dengan pembatas meja kecil yang menjadi penengah mereka.


"Aku Jessy. Psikiater yang menangani Alicia." Jessy memulai pembicaraan.


"Apa Alicia memberi tahu tentang masalalu nya?" Jessy mengangguk. Sedikit semangat Richard muncul, seperti ia akan mendapat jawaban yang selama ini ia cari.


"Tapi aku tidak bisa memberitahu mu. Aku harus menjaga apapun yang pasien ku ceritakan."


"Apa aku pun tidak boleh?" Tanya Richard kesal.


"Tidak! Karena Alicia mengatakan pada ku, ia baru menceritakan masa lalunya hanya pada ku, ibunya saja ia tak beritahu, bagaimana aku bisa ceroboh memberitahu mu."


"Bagaimana jika aku memberimu uang?" Sogok Richard. Jessy menggelengkan kepalanya.


"Aku sudah memiliki cukup uang, silahkan kau pergi, aku harus masuk dan memberikan Alicia obat."


"Obat untuk apa?" Tanya Richard cepat saat melihat wanita itu berdiri dan hendak pergi.


"Obat untuk Alicia, khusus untuk mu! Ia mengatakan tidak bisa melakukan hubungan badan dengan kekasihnya jika mengingat kejadian itu, dan obat yang ku berikan kemarin cukup berhasil meredakan traumanya, namun saat Alicia tidak menggunakan obat itu, trauma nya kambuh lagi. "


"Apa?" Pekik Richard, kali ini ia benar-benar terkejut. Apa Alicia seterbuka itu dengan Jessy? Dan Alicia melakukan ini semua demi dirinya?.


"Tidak bisa kah kau tidak terlalu memaksa nya melakukan itu? Kau tau ia punya trauma, seharusnya kau pelan-pelan membimbing nya untuk melupakan kejadian masa lalunya." Richard terdiam. Ia seperti mendapat tamparan.


"Sudah lah, aku hanya memberi saran. Aku masuk duluan, aku takut Alicia mencari ku."


Ponsel Richard berdering, nama Alicia muncul dilayar ponselnya.


"Rich maaf, tadi aku ketiduran."


"Tidak apa-apa. Kau dirumah sakit?"


"Ya, aku sudah dirumah sakit dari jam 6." Richard meringis, Alicia berbohong.


"Bagaimana keadaan ibu mu?" Alicia terdiam sesaat.


"Mama sudah membaik. Ia terlihat sehat. Kau sedang dimana?" Suara ceria itu membuat Richard tersenyum kecil.


"Aku senang mendengar keadaan ibu mu sudah membaik. Aku sedang sendirian dikamar, sepi dan dingin." Richard melihat kearah sekilas, Jessy sudah masuk dan menutup pintu rumahnya, angin dingin mulai pun menyelimuti Richard.


"Umm." Hanya gumaman yang Richard dengar.


"Kau harus cepat tidur, besok kita punya rapat pagi." Richard berdiri dan berlari kecil menuruni 3 anak tangga, sambil berjalan menuju mobilnya ia menengok kearah belakang, memperhatikan rumah itu sekilas, seakan mencari tau Alicia sedang berada diruangan mana.


"Bye." Ucap Richard.


"Bye." Jawab Alicia disertai panggilan mereka yang terputus.


-


Jessy menggelengkan kepalanya pelan, ia masih ada dibalik pintu rumahnya sambil memperhatikan kuku indahnya.


"Mengapa kisah percintaan selalu rumit dan penuh kebohongan?" Gumam Jessy dan berjalan kembali menyusuri anak tangga.


°°°


Pagi ini Alicia masuk kedalam ruangan nya, mengetik segala jadwal yang sudah dibuat oleh beberapa orang untuk menemui Richard. Setelah dicek kembali dan tidak ada kekurangan sedikitpun, Alicia mencetaknya.


Alicia mengetuk pintu ruangan Richard beberapa kali.


"Masuk."


"Jadwal hari ini." Ujar Alicia lembut, Richard menatap Alicia yang berjalan kearahnya, bagaimana bisa seorang wanita yang terlihat lemah begitu kuat menerima tekanan batin yang menyiksanya, bahkan Alicia memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja seperti tidak ada masalah dihidupnya.


"Ya. Simpan saja, jam 10 nanti ingatkan aku untuk rapat." Richard kembali fokus pada laptop nya, membuka setiap email yang belum ia buka sama sekali dari 2 hari yang lalu.


"Baik sir. Aku permisi dulu." Ujar Alicia pelan, ia tak berani menyebutkan nama Richard saat pria itu sedang dingin seperti ini.


"Kita sedang berdua." Ucap Richard tanpa mengalihkan perhatian nya pada layar laptop.


"Baik Rich. Aku kembali keruangan ku dulu." Richard mengangguk pelan dan Alicia langsung berbalik keluar ruangan. Ada apa dengan Richard? Apa pria itu marah karena semalam Alicia baru menghubungi nya dimalam hari?. Alicia menggelengkan kepalanya pelan, menghapus pikiran-pikiran aneh yang mulai berterbangan di otaknya.


"Dia sedang sibuk." Kata-kata itu terus Alicia ucapkan berulang kali untuk menenangkan pikirannya.


°°°



Jessy,


Author tidak akan pernah lupa untuk mengingatkan...... Like dan hadiah jangan lupaa🐣


°


°


°


Karena banyak yang nanya tentang John. Aku kasih bocoran sedikit ya. Nanti John akan ada di beberapa part mendekati ending, (author sendiri belum tau kapan cerita ini Ending😅).