One Night Stand With My CEO

One Night Stand With My CEO
Tidak suka?



Hari yang ditunggu-tunggu Justin akhirnya tiba. Ia sudah menekan bell beberapa kali, namun tak ada seorang pun yang membukanya.


Saat Justin ingin menekannya lagi, pintu terbuka, menampilkan seorang wanita dengan raut wajah marah.


"Tidak bisa kah kau sabar?" Gerutu wanita itu. Justin menaikan alisnya, apakah tidak ada penyambutan untuknya?.


"Aku Justin. Apa kau ingat?" Jessy mengerutkan keningnya dan sedikit berfikir. Seketika ia melihat ponselnya.


"Kau pria Sabtu sore itu?" Pekiknya.


"Oh ayo lah. Bahkan ini belum jam 6 pagi, aku baru sampai disini tadi malam."


Justin mengangkat bahunya pelan. Kini ia mengenakan kaus abu tua yang memiliki 2 kancing diatasnya. Tidak memakai topi, dan celana santai dihari senin. Benar-benar mendefinisikan seorang pengangguran.


"Tidak masalah. Aku akan menunggu mu."


"Kau memang tidak masalah. Tapi aku yang masalah. Kemari lah kembali jam 10." Jessy hendak menutup pintunya, namun dengan gerakan cepat Justin menahannya.


"Bagaimana jika jam 10 aku sudah tak ada?" Tanya Justin. Jessy berfikir keras, kata-kata yang dikeluarkan pria ini sepertinya sangat ambigu.


"Maksud mu?"


Justin menengok kearah kanan dan kiri, membuat Jessy ikut melihat arah pandangan Justin. Pria dihadapannya ini aneh.


"Aku selalu berfikiran untuk mengakhiri hidup ku. Aku,, aku tak bisa terus begini, aku depresi." Justin menampilkan raut wajah yang sangat mengkhawatirkan.


"Tidak. Jangan perfikir seperti itu. Masuk lah, aku akan membuatkan mu teh hangat." Justin tersenyum, rencananya berhasil. Ia mengikuti Jessy berjalan menaiki setiap anak tangga dan berhenti pada ruangan dengan pintu yang lumayan besar.


"Ini ruang kerja ku. Tunggu sebentar, aku akan bersiap-siap terlebih dahulu. Kau tau kan apa saja yang boleh kau lihat didalam?" Tanya Jessy. Tidak ada banyak barang berharga didalam. Hanya beberapa sertifikat dan data pasien, Jessy rasa membiarkan satu orang saja tidaklah masalah.


"Baiklah. Aku akan menunggu mu didalam."


"Ah aku hampir lupa. Kau ingin coffee atau teh?"


"Teh." Setelah memastikan Justin hanya duduk tenang di dalam, Jessy langsung menuju dapur, membuat teh hangat untuk pria itu.


Justin menatap jam tangannya, memastikan berapa menit yang ia punya. Ia menatap ruangan ini dengan seksama. Matanya menangkap boneka kecil diujung dekat lemari. Justin tersenyum miring, semua orang pun akan tau jika dibalik boneka itu adalah CCTV, untuk apa wanita itu memasangkan aksesoris boneka disana?.


"Baiklah. Aku akan mencobanya." Justin mengeluarkan laptop tipis dari ranselnya. Ia mencoba mendapatkan data dari cctv tersebut, deretan angka dan kode acak yang membuat kepala pening ia ketik dengan jari-jarinya yang lincah. Justin ingin mengetahui dulu sudah berapa kali Alicia kemari dan apa saja yang sudah dokter itu lakukan kepada Alicia.


"Kau sedang bekerja?" Justin mengepalkan tangannya diatas keyboard, ia tak menyadari Jessy yang sudah masuk membawa segelas teh hangat.


"Ya.. aku, sedikit mendapatkan inspirasi untuk tulisan ku." Justin sedikit berdebar saat Jessy mendekat, ia takut Jessy melihat deteran angka dan huruf yang begitu acak serta download yang sudah setengah itu. Wanita itu pasti akan paham dan mengetahui Justin sedang melakukan hack.


"Kau seorang penulis?" Justin mengangguk cepat.


"Karena aku terlalu kesepian, aku selalu mencurahkan semua yang aku pikirkan kedalam tulisan ku." Jessy terlihat mengangguk dan menyimpan gelas teh tersebut dengan pelan.


"Baiklah. Santai dulu ya, aku akan bersiap-siap." Lagi-lagi Justin hanya mengangguk, ia bernafas lega saat Jessy sudah keluar dari ruangan. Kini ia memiliki waktu yang lebih panjang, Justin tau berapa lama seorang wanita menghabiskan waktunya didalam kamar mandi, belum lagi bersiap dan berdandan.


Justin menyimpan laptopnya setelah mematikan CCTV, ia tak ingin Jessy melihat gerak geriknya yang aneh.


°°°°


Alicia menatap angka yang terus bergulir. Sebentar lagi ia sampai di lantai ruangannya.


"Aku lupa memiliki ini." Gumam Alicia senang, ia menyentuk kalung cantik yang menggantung indah dilehernya. Sambil menatap pantulan dirinya sendiri didalam lift, ia lebih fokus menatap kalung itu.


Pintu lift terbuka, Felly sempat terdiam namun akhirnya masuk kedalam lift. Suasana yang terjadi sedikit canggung dan membuatnya bergidik.


"Alicia." Panggil Felly pelan. Alicia menatap wanita itu dengan senyuman manis.


"Ya?"


"Kau benar-benar memiliki hubungan dengan Richard?" Alicia terdiam, ia sendiri bingung.


"Aku.."


"Aku hanya ingin memberitahu mu, Richard selalu berganti pasangan, dan dia termasuk pria yang gampang bosan. Mungkin hanya dirimu yang dijadikan kekasih." Felly seperti menggantung ucapannya, dan tersenyum kecut.


"Tapi aku minta kau jangan terlalu berharap banyak padanya ya. Kau wanita cantik dan baik. Aku mengatakan ini agar kau tidak terlalu sakit nantinya. Aku sendiri sudah muak dengan banyaknya wanita yang menangis karena Richard. Jika ia sudah tak ingin, ia akan menelantarkan wanita itu nantinya."


Alicia terdiam. Ia menatap Felly dengan raut wajah yang berartikan ketidak percayaannya. Ia terkejut dan tidak percaya jika Felly akan mengatakan kata-kata pedas itu.


"Jadi maksudmu aku harus menyiapkan hati ku jika suatu saat nanti Richard meninggalkan ku Miss?" Tanya Alicia dengan tetap tenang.


"Oh iya Alicia, aku hanya menjelaskan sesuatu yang belum kau tau tentang Richard. Aku takut nantinya kau sakit oleh pria itu."


"Terimakasih atas pengertian mu Miss. Aku sudah siap dengan konsekuensi itu."


Felly hanya mengangguk pelan dan diam kemudian. Namun lagi-lagi ucapan pedasnya membuat Alicia harus mencari udara segar.


"Aku juga sedikit terkejut saat mengetahui Richard membelikan mu mobil semewah itu." Gumamnya.


"Maaf?" Tanya Alicia agar Felly memperjelas maksud ucapannya. Wanita itu seketika menampilkan wajah bersahabatnya yang palsu.


"Tidak. Aku hanya mengatakan aku terkejut, belum pernah aku melihat Richard sebegitu royalnya pada wanita, apalagi ini, memberikan mobil yang begitu mewah. Bisa kau memberitahu ku apa yang kau lakukan pada Richard? Aku juga ingin membuat tunangan ku begitu mencintai ku seperti itu." Entah Alicia sedang sensi atau bagaimana, namun yang ia tau, ia hanya menangkap kata-kata sindiran dari ucapan Felly.


Alicia menekan tombol lift, lebih baik mampir dulu keruang kerja Taylor dari pada harus berduaan seperti ini.


"Miss. Aku lupa, Mr.Alvaron meminta ku untuk mengambil beberapa data penjualan bulan ini. Permisi." Alicia langsung keluar dari dalam lift, udara segar langsung ia hirup saat diluar lift. Ini hanyalah awal dari apa yang akan ia hadapi jika ingin terus disisi Richard.


°°°°°


Dukung author dengan cara memberikan vote dan like🙌


Thank you,


DHEA


IG: Dheanvta