
Kini mereka diperjalanan menuju kantor Richard yang ada di New York. Alicia melihat pemandangan diluar jendela, sudah 10 tahun berlalu ternyata. New York masih cantik seperti dahulu, gedung pencakar langit bertambah banyak dan berjajarnya cafe serta tempat hiburan lainnya memenuhi kota ini.
New York. Seperti yang orang-orang bilang, kota tersibuk didunia yang tak pernah tidur. Jadi tak heran banyaknya tempat hiburan dan beberapa perusahaan memilih New York sebagai pusatnya.
Kening Alicia berkerut saat melewati sebuah gedung tua, gedung kecil itu masih sama seperti dulu, dengan satu pintu untuk masuk kedalamnya dan menyajikan beberapa roti lezat, saat Alicia akan berjalan-jalan bersama teman-temannya pasti mereka melewati toko roti itu, dan yang ajaibnya lagi gedung itu masih sama percis, saat gedung lainnya sudah direnovasi semodern mungkin, toko roti itu terlihat semakin tua dengan warna yang hampir memudar.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Richard penasaran, sepertinya Alicia sangat asik memandang keluar jendela mobil.
"Tidak. Aku hanya melihat beberapa gedung yang dulu tidak semegah ini." Jawab Alicia pelan. Ia tersenyum kecil.
Awalnya Alicia merasa takut untuk pertama kalinya kembali ke New York, namun setelah menginjakkan kakinya disini, ia biasa saja, ia terlalu berlebihan mencemaskan sesuatu. Namun Alicia juga tak merindukan kota ini, baginya semua kenangan indah sudah terhapus oleh kejadian itu, tak ada lagi kenangan yang bisa ia ingat di kota ini, semuanya seakan pahit.
"Itu kantornya." Alicia menatap gedung yang ada didepan sana, matanya menatap kagum gedung itu. Lebih besar dari yang ada di California.
Mobil mereka masuk kesebuah basement, memarkirkan nya di tempat khusus dan keluar bersamaan. Tak lama disusul oleh dua mobil, Justin dan satu orang lagi yang tak Alicia kenal. Kalau tak salah pria itu yang menjadi sekertaris Justin dari perusahaan pria itu. Sangat jarang ada seorang pemimpin yang memiliki sekertarisnya pria.
"Ayo kita sudah ditunggu." Ucap Justin berjalan terlebih dahulu menuju lift. Richard yang melihatnya hanya menatap malas pada bocah buru-buru itu.
"Ya. Anggap saja ini kantor mu." Sindir Richard. Alicia tertawa kecil dan menggenggam tangan Richard, menuntun pria itu agak mulai berjalan menuju lift.
Alicia melepaskan genggamannya saat pintu lift terbuka, didalamnya terdapat seorang wanita cantik dengan pakaian rapi tersenyum ramah. Ternyata mereka menyediakan operator lift untuk menyambut kedatangan Richard dan Justin.
Wanita itu menyambut mereka dengan kata-kata sopan yang ramah, menekan tombol lift yang akan mereka tuju.
"Sudah lama bekerja disini?" Tanya Justin memecahkan keheningan, membuat semua mata didalam lift tertuju padanya.
Wanita itu masih tersenyum dan menjawab lembut.
"Sudah 2 tahun sir."
"Sudah lumayan lama ternyata. Apa tidak disayangkan secantik dirimu ini menjadi operator lift?" Entah itu pertanyaan atau godaan yang Justin berikan.
"Ekhem." Batuk itu berasal dari sekertaris Justin, ia memberi peringatan agar Justin bisa menjaga sikapnya.
"Apa maksud batuk mu itu?" Desis Justin sinis pada pria disebelahnya.
"Tenggorokan ku kering sir." Ucapnya datar, ia hanya menjalankan perintah Alex agar selalu mengingatkan Justin jika ia berulah.
"Mengganggu saja!" Gumam Justin kesal. Richard membuang nafasnya kasar, tidak bisakah bocah ini tidak membuat kesuruhan sehari saja?.
Justin kembali tersenyum dan menunggu jawaban wanita itu. Seakan mengerti wanita itu menjadi tersenyum kaku.
"Kau pikir ini mall atau toko serba ada yang memiliki operator lift." Sindir Richard.
Namun bukan Justin namanya jika ia tersinggung, ia biasa saja dan mencari topik baru yang bisa menghangatkan suasana. Entahlah, sifat ayahnya kembali kumat pada dirinya.
"Silahkan sir, Miss, kita sudah sampai dilantai rapat." Pintu lift terbuka, kehadiran mereka disambut hangat oleh karyawan yang ada, mereka semua berjajar menyambut mereka diluar lift.
"Wow. Aku seperti seorang presiden disini." Gumam Justin.
"Cantik. Aku rapat dulu, sampai bertemu lagi nanti." Wajah wanita itu bersemu, siapa yang tidak akan bersemu diucapkan seperti itu oleh pria setampan Justin?.
Richard berdecak melihat tingkah Justin, ia sedikit penasaran dengan kinerja bocah itu saat menjadi GM di perusahaan Alex.
Mereka berempat keluar dari lift, sambutan hangat yang mereka terima. Alicia kagum melihat kualitas pelayanan di kantor ini.
"Di sini Mr.Alvaron." ujar pria yang dengan sopannya mengarahkan tangannya didepan sebuah pintu besar yang sudah terbuka.
Alicia duduk disebelah Richard. Mengeluarkan buku catatannya dan pulpen saat penyambutan itu dimulai.
-
Alicia mengambil gelas yang ada didepannya, menghabiskan air yang tersisa disana, lalu kembali mencatat poin-poin penting yang ada. Rapat ini berjalan dengan tenang, tak panas seperti di California dan Richard pun tak banyak berkomentar dirapat ini.
"Seperti yang aku sampaikan sebelumnya. Aku akan mengambil beberapa orang dari kantor ini untuk bertugas mengurus proyek baru ini. Apakah sudah dipersiapkan daftar kandidat yang akan dipilih?" Tanya Richard. Wanita yang berdiri didepan sama tersenyum, Alicia tau dan pernah diposisi itu, ia harus selalu ramah dan bisa menjawab saat kakinya sudah pegal sekalipun.
"Kami sudah menyiapkan sir. Akan kami kirim melalui email hasil kinerja dari beberapa nama yang ada disini." Wanita itu berjalan menghampiri Richard, memberikan sebuah map berwarna merah.
Richard menerima map itu dan melihat daftar beberapa nama yang akan ia seleksi nantinya. Ia harus memeriksanya dengan detail, semuanya berharap terpilih karena gaji dan jabatan yang menjanjikan ada didepan mata mereka.
"Bagus. Aku akan memilihnya nanti."
"Apakah ada yang ingin tanyakan dari Franz Group?" Justin yang tak tertarik dengan urusan kantor hanya berusaha tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Semuanya sudah jelas. Aku harap proyek baru Aldrich ini akan berhasil, aku minta kerja kerasnya dari kalian semua." Ucap Justin. Entah apa yang ia ucapkan, ia hanya ingin cepat-cepat keluar dari ruangan ini. Aldrich, gabungan nama antar Alex dan Richard, biaya yang dikeluarkan kedua perusahaan ini tidaklah kecil. Mereka berharap proyek ini bisa berjalan dengan lancar dan berkembang pesat.
°°°
Guys baca Novelnya yang judulnya Show Me ya, yang chat story itu aku mau hapus aja, iseng-iseng kemarin aku buat wkwk, ternyata aku gak bisa bikin chat story kayak gituu.