
Richard mengerutkan keningnya, ia menjauhkan ponsel dari telinga, panggilan itu terputus.
Richard mencoba menghubungi Alicia kembali, beberapa kali.
"Ayo Alicia angkat, ini tidak lucu." Gumam Richard panik. Hatinya tak tenang. Suara mesin disana berguru berisik, apakah benar yang tadi ia denger di telepon? Alicia meminta tolong?.
Richard melepaskan helm proyek, dengan langkah panik ia menghampiri seseorang dan memberikan helm proyeknya.
"Katakan pada Justin dan semuanya. Aku ada urusan penting dan tidak tau kembali kapan."
"Tapi Mr.." ucap pria itu terhenti, Richard sudah bergegas pergi.
Richard menggerutu, mengapa jalan menuju mobil terasa sangat jauh.
"Alicia kau kenapa?" Pertanyaan itu ia lontarkan sendiri diantara kepanikannya, kini Richard sudah mulai berlari menggapai pintu mobilnya. Tanpa pikir panjang ia masuk kedalam mobil, menyalakan mobilnya.
"Apa yang kau lakukan!" Richard mengangkat wajahnya kedepan, baru saja ia akan menekan gas mobil tanpa melihat ada Justin yang sudah berdiri didepan kap mobil, menepuknya seakan menepuk bahu Richard, wajahnya tak kalah panik.
Richard yang merasa terhalangi mengklakson beberapa kali, ia membuka jendela mobilnya.
"Tidak bisa kah kau menyingkir!"
"Ada apa? Kenapa kau terburu-buru?" Tanya Justin bingung dan panik.
"Alicia meminta pertolongan, ia tak bisa dihubungi. Ayo lah kau menyingkir, sebelum aku menabrak mu!"
"Hei, hei, tenang! Aku ikut." Justin melihat sekitar, sekertarisnya sedang berusaha berlari kearahnya.
"Dasar kura-kura lambat." Gerutu Justin. Ia mengeluarkan kuncinya dan melemparkannya tepat pada kaki pria itu, membuat larinya terhenti.
"Bawa mobilku!" Teriak Justin. Lalu Justin masuk kedalam mobil Richard, membiarkan Richard seperti supirnya sendiri.
"Ayo kita ke Hotel." Richard berdecak mendengar perintah itu.
"Tanpa kau suruh pun aku akan kesana." Mobil pun melaju dengan kencang, sekencang yang Richard bisa.
"Tidak bisa kah lebih cepat dari ini?"
"Ini sudah sangat cepat, tidak bisa kau liat jalanan mulai padat?" Justin mendekatkan diri pada Richard, menekan klaksonnya beberapa kali.
"Kau gila?" Pekik Richard. Beberapa mobil protes dengan klakson mobilnya yang berisik.
"Anggap saja ini menandakan emergency, teruslah menyetir dengan cepat." Demi apapun Richard tidak ingin satu mobil lagi dengan Justin, ini benar-benar membahayakan.
"Tidak ada." Teriak Richard frustasi.
"Aku harus mencarinya." Justin menahan tangan Richard.
"Kau ingin kemana?"
"Aku akan mencarinya!"
"Kau tau tujuan mu kemana?" Tanya Justin gemas.
"Aku akan mencarinya sampai pelosok di New York, akan aku cari kemana pun. Aku akan menyuruh orang-orang ku untuk menggeledah New York."
"Jangan gila!" Teriak Justin berusaha menyadarkan.
"Yang kita butuhkan bukan kerja keras, tapi kerja cerdas. Tenang lah sedikit." Richard menarik nafasnya panjang, ia tak bisa tenang. Alicia sedang dalam bahaya.
"Aku tidak seharusnya membawa Alicia kesini." Richard meremas rambut nya sendiri.
"Penyesalan mu tidak ada gunanya." Komentar Justin miris.
"Kita akan menemukan titik Alicia terlebih dahulu. Ayo kekamar ku."
Tepat saat keluar dari kamar, sekertarisnya datang dengan deru nafas yang kencang, seakan habis maraton.
"Apa ada sesuatu?"
"Ya, Alicia diculik. Mintalah rekaman lift sampai pintu kamar Richard kepada petugas CCTV." Jawab Justin cepat.
"Apalagi yang kau tunggu! Cepat!" Teriak Justin. Ia gemas memiliki sekertaris tidak berguna seperti itu.
"Baik aku akan memintanya. Tapi ada baiknya kau melepaskan dulu helm proyek mu. Permisi." Justin membuka mulutnya, ia memegang kepalanya sendiri, memalukan! Ia masih mengenakan helm proyek.
"Sial!" Pekiknya. Sekertarisnya pun sudah pergi dari hadapannya.
-
Thank you,
DHEA
IG: Dheanvta